로그인Laura menatap wajah sosok yang tidak sengaja dia tabrak tadi dan merasa wajahnya menghangat. Pipinya yang tadinya pucat pun mulai merona merah. Deg deg deg. "Maaf eh maaf... saya terburu buru" ujar Laura cepat dan segera berlari ke tangga yang menuju ke lantai 2.
James melepaskan pelukannya pada gadis yang tadi menabraknya dan menatap kepergian gadis itu dengan bengong. Dia merasa jantungnya berdebar debar saat menatap wajah gadis tadi. Raut wajah yang tidak biasa, sepertinya dalam 3 tahun ini belum pernah bertemu dengan gadis itu. Mahasiswi baru? Tapi penampilannya terlalu elegan dan matang untuk seorang mahasiswi, sepertinya bukan. James masih berpikir dan berbicara dalam hatinya.
"Wooiiii!!!" seru Deon sahabatnya dari belakang mengagetkan James.
"Iihh ngapain sih kamu bikin kaget aja!" ujar James sambil pura pura memukul kepala Deon.
"Lha abisnya bengong di tengah lobi sendirian. Ngapain coba? Oya bahan buat presentasi besok sudah dapet belum James?"
"Udah kok. Ini ada di tasku. Hari ini kayaknya kelas Patologi Umum masih kosong ya? Pak Bambang masih dirawat di RS kabarnya."kata James sambil berjalan menuju gedung V1 tempat mata kuliah jam berikutnya.
"Mungkin kosong sih. Tapi mendingan kita tunggu di kelas aja deh, lagian kan kudu ngisi absen. Habis kelas kamu mau kemana Bro?jawab Deon sambil mencari tempat duduk di ruangan 101.
James masih memikirkan gadis yang tadi menabraknya dan tidak begitu memperhatikan perkataan Deon.
"Waduh dikacangin nih..." seru Deon agak kesal karena James tidak menjawab pertanyaannya lagi.
"Ehh sori sori Bro." ujar James tak enak hati pada Deon. "Jadi tadi aku ditabrak cewek di lobi, cakep banget lho kayak model blasteran. Bukan mahasiswi FKH deh."
"Kamu kenalan gak sama dia? Namanya siapa? Siapa tau bisa dikecengin daripada kamu jadi jomblo abadi..." goda Deon menyindir sahabatnya yang masih betah menjomblo dari awal masuk kuliah sampai semester 6. Padahal kalo soal tampang gak ada kurangnya si James ini. Tapi setiap ada cewek yang pedekate tidak pernah direspon.
"Gak sempet, dianya buru buru kabur ke lantai 2. Ya kalo jodoh gak kemana juga Deon. Aku selama ini jomblo kan karena gak ada waktu buat pacaran, iya kali kayak Mas Dany yang betah kuliah 8 tahun tiap hari kerjaannya pacaran mulu." jawab James membela diri sambil mencatut nama seniornya yang tak kunjung lulus kuliah.
"Selamat pagi semuanya!"
Sesosok wanita masuk ke ruang kuliah 101 dan menyapa mahasiswa. Ruang kuliah langsung sunyi yang tadinya ramai seperti pasar. Siapakah dia?
Deg. Jantung James seperti terpukul tepat di intinya ketika melihat paras cantik di hadapannya. "Dia gadis tadi pagi yang menabrakku di lobi" batin James seraya mengerutkan alisnya dan menata detak jantungnya yang mendadak aritmia.
Laura mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kelas seraya menilai raut wajah mahasiswa yang akan dia ajar pagi ini. Perasaan demam panggung itu sudah tak pernah dia rasakan semenjak berulang kali harus melakukan presentasi penelitian ilmiah di hadapan dosen penguji kelas internasional. Mentalnya sungguh sekeras baja, sangat tidak cocok dengan penampilannya yang kalem cantik dan sungguh menipu mata, biasanya wanita cantik otaknya kurang cerdas. Tapi ini berbeda, dia Gwendolyn Laura Carson.
"Perkenalkan saya Profesor Gwendolyn Laura Carson, kalian boleh memanggil saya Bu Laura atau Prof. Laura. Mulai hari ini hingga akhir semester 6, saya akan mengajar Patologi Umum menggantikan Profesor Bambang Gunawan. Salam kenal semuanya. Apa ada yang ingin ditanyakan? Saya persilakan."
Kelas sepi sunyi senyap.
Ada satu mahasiswa yang mengangkat tangannya. "Ya silakan." kata Laura.
"Apa Bu Laura masih single?"tanya Deon yang sontak membuat kelas ber huuuuuuuu serentak.
Laura tertawa pelan seraya menggeleng gelengkan kepala seolah tak habis pikir pertanyaan ajaib yang dia terima pertama kali memberi kuliah hari ini. "Saya masih single Dek. Tapi pertanyaan pribadi yang lain saya tidak akan jawab selanjutnya. Oke kalo tidak ada pertanyaan lain kita mulai saja kuliah kita pagi ini tentang kondisi patologis peredaran darah. Materi kuliah bisa di d******d di web FKH bab Patologi Umum seri 3."
Sepasang mata yang menatap tak bergeming sejak Laura masuk ke kelas membuat jantung Laura sedikit berdebar aneh, tapi dia menutupi perasaan gelisah itu dengan memberikan presentasi kuliah dengan lugas dan diselingi interaksi tanya jawab dengan mahasiswanya hingga akhirnya kelas berakhir. Laura membubarkan kelas tepat 1jam setelah dia mulai. Mahasiswanya pun bergegas keluar dari ruang kuliah 101.
Ada satu mahasiswa terakhir belum beranjak dari ruang kuliah 101 yang menurut Laura paling tampan di kelas itu. Pria yang tadi pagi dia tabrak di lobi. Laura membereskan barang bawaannya di meja dosen. Sebuah tangan terulur di hadapannya...
"Perkenalkan Profesor. Nama saya James Peter Indrajaya, anda bisa memanggil saya James." Yang empunya tangan menatap langsung ke mata Laura dengan serius. Wajah laki laki itu sungguh tampan tanpa cela, sekilas mirip bintang drakor favorit Laura yaitu Park Seo Joon, handsome Oppa nya.
Laura menjabat tangan yang hangat dan kuat itu. "Hai James. Salam kenal." Tangannya masih digenggam erat hingga dia berdehem dan James melepaskan jabatan tangannya.
"Maaf tadi pagi, saya menabrakmu di lobi. Hujan pagi ini sungguh lebat, payungku tertinggal di rumah." Laura berusaha tersenyum dengan tenang sementara rasanya seperti ada kupu kupu beterbangan di dalam perutnya.
James pun tersenyum dan berkata "Iya, buruk sekali berlarian di waktu hujan deras tanpa payung Profesor Laura. Baiklah, saya tidak akan mengganggu waktu anda yang berharga. Silakan duluan."
"Oke James. Sampai jumpa." Laura berlalu sambil melambaikan tangan kanannya.
James mengamati Laura yang menghilang dari pintu ruang kuliah 101. Dia merasa ada yang berbeda dengan perasaannya saat melihat senyuman Profesornya. Damage senyuman itu seperti bom atom Nagasaki Hiroshima, kuat dan meluluh lantakkan ketenangan jiwanya.
"Departemen of Pathology Science berada di lantai tiga dan Departemen of Parasitology terletak di lantai dua. Selamat bergabung dengan tim pengajar di kampus kami, Profesor James dan Profesor Laura!" Mister Ferdinand Lancester menjabat tangan pasangan suami istri itu bergantian."Terima kasih, Sir. Kehormatan bagi kami untuk menjadi bagian dari University of Western Australia," balas James disertai senyuman bangga.Kemudian dia dan Laura mengunjungi kantor tempat kerja mereka masing-masing baik di lantai dua maupun tiga gedung kampus megah itu secara bergantian. Kampus yang menjadi tempat mereka mengajar sangat bagus. Ruang dosen nyaman dilengkapi rak buku dengan literatur yang up to date, furniture berkelas baik sofa untuk tamu maupun seperangkat meja dosen.Laboratoriumnya pun megah dengan peralatan praktikum lengkap dan canggih. Sampai-sampai Laura begitu antusias, tak sabar untuk mulai mengajar di tempat baru itu.Di ruang kantor dosen Pathology, James memeluk Laura. Mereka salin
Pagi itu di mansion milik Leeray sekeluarga yang berada di pinggiran kota Perth. Anak-anak James dan Laura bersama anak kembar Leeray dan Deasy sudah siap untuk berangkat sekolah."Mom, Dad, apa kalian jadi wawancara dosen baru di kampus UWA?" tanya Jacob sambil menghabiskan sarapan di piringnya."Yap, kamu benar, Jake. Mungkin kita baru bisa bertemu sore nanti. Bersekolah yang rajin kalian semua ya!" pesan Laura penuh perhatian. Leeray pun berkata ke adik bungsunya, "James, bawalah satu mobil di garasi untuk ke kampus. Kalian jangan naik kendaraan umum, terlalu merepotkan. Jangan sungkan, okay?" "Makasih, Bang. Nanti aku akan bawa mobil AUDI biru metalik itu saja!" jawab James. Kakak sulungnya sangat kaya raya setelah berpindah kewarga negaraan ke Australia dan mengelola mall besar di pusat kota Perth.Si kecil Keira pun bertanya ke ayahnya, "Dad, apa audisi bintang kecil untuk jewelry itu sudah ada kabar?""Ohh ... untung kamu nanya, Kei. Iya, sore ini kamu pakai baju yang bagus y
"Baiklah, saya menunggu kiriman salinan rekaman CCTV halte bus depan kampus yang tadi Anda sebutkan, Mister James Indrajaya. Permisi!" pamit Mister Garreth Holmes sebelum meninggalkan mansion milik Leeray.Setelah mobil sedan Porsche hitam itu melesat meninggalkan pintu gerbang, Leeray pun berkata kepada adik bungsunya, "Apa kau yakin Philip bisa mendapatkan salinan rekaman CCTV itu, James?" "Ya, kalau belum dirusak oleh pihak Jeremy Thompson seharusnya aman, Bang. Dia berjanji segera meminta salinan rekaman yang kami butuhkan ke pihak yang berwenang besok pagi!" jawab James seraya melangkah masuk ke dalam rumah.Suasana hening karena anak-anak telah tidur di kamar masing-masing karena Midori, Poseidon, dan Leon besok bersekolah. Sedangkan, anak-anak Laura juga harus mendaftar sekolah di Perth dengan sekolah yang sama. Deasy dan Laura duduk di meja makan untuk makan malam yang terlambat. Para suami mereka menyusul duduk di samping pasangan masing-masing. Mereka masih membicarakan ha
"Mom, lihat! Sepertinya Keira bisa ikut audisi ini deh," seru Jacob sembari menunjuk sebuah pengumuman yang ditampilkan di layar promosi elektronik dalam lift Absolute Pyramide Block Mall.Laura sontak menoleh ke sisi kiri tempat dia berdiri. Memang ada pengumuman audisi bintang cilik untuk menjadi brand ambassador sebuah perusahaan yang bergerak di perhiasan logam mulia."Arthayuda Jewelry? Wow, apa Keira mau coba?" tanya Laura kepada putri kecilnya. "Hmm ... mau, Mommy. Sepertinya asyik difoto dan dimake-up cantik seperti Mommy!" celetuk Keira polos. Bagi bocah imut blasteran Australia-oriental itu wanita tercantik di dunia adalah ibunya.James pun menimpali, "Okay. Biar Daddy foto ya pengumumannya, biar tahu kapan audisi dan persyaratannya detail!" Dia mengambil sebuah foto dengan kamera ponselnya.Maka Leeray yang menjadi pemilik mall tersebut berkata, "Acara audisinya di atrium lantai lobi mall ini lusa. Kalau kamu mau daftarin Keira, buruan James. Syaratnya hanya mengirim foto
Sepulang sekolah, Midori, Poseidon, dan Leon segera mencari anak-anak James-Laura di kamar tidur tamu lalu mereka pun mengobrol bersama di ruang bermain yang luas dan nyaman."Jadi apa benar kalian akan pindah sekolah ke Perth?" tanya Leon yang sebenarnya berkedudukan sebagai paman keempat anak-anak itu. Hanya saja dia adalah putra keempat berbeda ibu dari Leeray, Michael, dan James. Usia Leon sepantaran dengan para keponakannya itu, kecuali Keira yang lahir paling bontot."Iya, kata mom and dad, kami tidak bisa bersekolah di Sydney untuk sementara sampai entah kapan. Ada pria jahat yang membuat semua warga Sydney membenci keluarga kami!" jawab Jacob mewakili saudara-saudarinya."Hmm ... itu bukan hal yang baik. Kasihan sekali kalian!" tukas Midori turut bersimpati.Poseidon pun berkata, "Jadi kapan kalian akan mendaftar ke sekolah?" Joshua menjawab, "Mungkin besok pagi, tadi kami disuruh beristirahat oleh Bibi Deasy. Memang penerbangan dengan helikopter sangat menegangkan, aku sulit
"Jake, Josh, Keira!" seru Midori yang baru saja selesai bersiap-siap di kamar tidurnya sebelum berangkat ke sekolah. Gadis kecil berusia sembilan tahun itu berkepang dua dan memanggul sebuah ransel bergambar Little Ponny warna biru muda.Poseidon, saudara kembarnya sudah terlebih dahulu selesai mandi tadi dan bercengkerama dengan sepupu-sepupu mereka. Ada Leon juga yang terlihat necis dalam seragam sekolah berdasi sama seperti Midori dan Poseidon."Anak-anak, temu kangennya ditunda nanti sepulang sekolah ya? Kalian sarapan dulu bersama-sama di meja makan!" ujar Deasy mengatur kerumunan kumpul bocah keturunan klan Indrajaya tersebut."Yaah ... Mommy, apa kami tidak boleh membolos sehari saja?" protes Midori karena terlalu bersemangat bertemu kembali dengan para sepupunya yang jarang dia temui sehari-hari.Deasy tersenyum seraya berkata, "Tidak. Nanti sepulang sekolah, Jacob, Joshua, dan Keira masih akan ada di rumah kita. Bahkan, mereka akan bersekolah di sekolah yang sama dengan kalia
"My birthday wishlist is ... aku hanya ingin selamanya kau ada di sisiku, Cinta Sejatiku, My Laura," ucap James menatap sepasang mata biru saphire yang berkaca-kaca itu.Perkataan James itu seolah membuat hatinya mengharu biru, cinta James sangat besar untuknya. Kini dia percaya apa kata pu
Tiga mobil berurutan masuk ke basement Royal Heritage. Laura dengan cekatan memarkir HRV merahnya di sebelah Fortuner putih milik James. Sedangkan Reynold memarkir Honda Civic hitamnya di sisi lain HRV merah milik Laura. Mobil mereka masih sama sejak dulu. Hari masih sore sekitar pukul 17.
"Love of my life you've hurt me""You've broken my heart and now you leave me""Love of my life can't you see""Bring it back bring it back, don't take it away from me because you don't know what it means to me" Reynold menyanyikan penggalan lagu milik "Queen" itu sambil menatap k
Keberadaan James dan Reynold banyak membantu Laura dalam merawat kedua bayi tampannya. Kedua pria muda itu sangat bertanggungjawab dalam merawat Jacob dan Joshua. Mereka memandikan, mendandani, dan menggendong bayi-bayi itu di waktu mereka tidak mengerjakan tugas kampus. Selebihnya memang Laura y







