로그인"Saya lebih suka menyebutnya sebagai subjek pengamanan, Pak Johan. Kata 'klien' terdengar terlalu manis dan personal untuk sebuah pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa."
Suara bariton yang berat dan dingin itu meluncur dari ambang pintu kayu mahoni yang kini terbuka lebar. Suara yang sangat familier. Suara yang sudah terkubur dalam-dalam di dasar ingatan Cindy selama sepuluh tahun terakhir. Suara yang dahulu selalu membisikkan kata cinta di telinganya di bawah gemerlap bintang, namun kini terdengar setajam pedang yang baru saja diasah untuk membunuh. Udara di dalam ruang rapat VIP itu seolah tersedot habis ke luar angkasa. Cindy mematung di kursinya. Jantungnya berhenti berdetak selama satu detik yang terasa seperti keabadian, sebelum akhirnya berpacu liar menghantam tulang rusuknya. Dari balik bayangan pintu, melangkah masuk sesosok pria berpostur tinggi tegap. Ia mengenakan seragam taktis serba hitam, kemeja berlengan panjang yang digulung hingga siku—mencetak jelas otot-otot lengannya yang padat—serta celana kargo gelap dan sepatu bot militer yang berderap mantap di atas lantai pualam. Wajahnya bersudut tegas, rahangnya mengeras sempurna dengan bayangan rahang yang membingkai ketampanan maskulinnya. Dan sepasang mata elang yang segelap malam itu ... menatap lurus ke depan, seolah menguliti siapa pun yang berani menghalanginya. Itu adalah Owen. 'Tidak mungkin,' batin Cindy menjerit histeris. Bumi seakan berhenti berputar. Tangan Cindy yang bertumpu di tepi meja bergetar hebat hingga buku-buku jarinya memutih. Kenangan dari satu dekade silam meledak tanpa ampun di dalam kepalanya bak proyektor rusak—hujan badai yang turun menderas, gaun pengantin putih yang ternoda genangan lumpur, dan punggung tegap pria ini yang bergetar saat Cindy membalikkan badan dan berlari meninggalkannya menangis sendirian di depan altar pernikahan. "Ah, tepat waktu seperti biasa, Komandan Owen!" Johan tersenyum lebar, menyambut kedatangan pria itu dengan antusias yang berlebihan. Bos penerbitan itu sama sekali tidak menyadari badai emosi yang tengah meluluhlantakkan penulis andalannya. "Cindy, perkenalkan, ini adalah Komandan Owen Mitchell dari Aegis Protection. Dia dan tim elitnya yang akan bertanggung jawab penuh atas keamananmu mulai detik ini." Owen melangkah mendekat ke meja rapat. Tatapannya akhirnya jatuh pada wajah Cindy yang sudah pucat pasi. Tidak ada kilat keterkejutan di mata pria itu. Tidak ada kerinduan, tidak ada sisa-sisa cinta, bahkan tidak ada amarah yang meledak-ledak. Yang ada hanyalah ruang hampa yang membekukan. Ia menatap Cindy seolah wanita itu hanyalah benda mati, sebuah manekin etalase yang tidak memiliki arti apa-apa. Tatapan kosong itu justru lebih menyakiti Cindy daripada sebuah tamparan fisik di wajah. "Selamat pagi, Nona Cindy," sapa Owen formal. Suaranya datar, tanpa intonasi sedikit pun. Ia bahkan tidak repot-repot mengulurkan tangan untuk berjabat. "Saya telah membaca berkas ancaman yang Anda terima pagi ini. Mulai hari ini, keselamatan Anda adalah prioritas utama agensi kami. Kami tidak akan membiarkan siapa pun, atau apa pun, menyentuh Anda tanpa seizin saya." "Owen ...," bisik Cindy parau, suaranya nyaris tidak terdengar di tengah deru napasnya sendiri. Tenggorokannya terasa seolah disumbat pecahan kaca. "Apa yang ... apa yang kamu lakukan di sini?" "Melakukan pekerjaan saya, Nona," potong Owen cepat dan presisi. Ia sengaja menekan kata 'Nona' untuk membangun tembok beton kasat mata di antara mereka. Josh, yang sejak tadi duduk di sebelah Cindy, menyipitkan matanya. Editor cerdas itu memiliki kepekaan insting yang tajam. Ia dengan cepat menangkap ketegangan yang sama sekali tidak wajar di antara penulis kesayangannya dan sang kepala pengawal. "Maaf, Komandan Owen," sela Josh dengan nada sopan namun mengandung selidik, berdiri sedikit menyamping seolah ingin menutupi tubuh Cindy dari pandangan intimidatif Owen. "Apakah sebelumnya kalian berdua sudah pernah saling mengenal?" Sebelum Cindy sempat mencari kebohongan untuk menjawab, Owen sudah lebih dulu merespons dengan wajah tanpa ekspresi. "Dunia ini sempit, Pak Josh. Saya pernah bertemu dengan Nona Cindy di masa lalu. Namun, Anda tidak perlu khawatir. Itu tidak ada hubungannya dengan tingkat profesionalitas saya. Bagi saya, beliau saat ini tidak lebih dari sekadar target operasi bernilai tinggi yang harus saya jaga agar tetap bernapas. Tidak kurang, tidak lebih." Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan sangat mudah itu, sesuatu di dalam pertahanan diri Cindy patah. Rasa bersalah yang selama ini ia pikul seperti batu raksasa di pundaknya, kini bercampur dengan rasa gengsi dan amarah yang mendidih. Jika Cindy bisa bertindak seolah sepuluh tahun kebersamaan mereka di masa lalu hanyalah debu yang tidak berharga, maka Cindy juga bisa bermain di permainan yang sama. "Saya tidak butuh pengawalan Anda," desis Cindy. Ia memaksakan dirinya untuk bangkit berdiri, menengadahkan dagu, dan menatap langsung ke dalam manik mata segelap malam milik pria itu. "Pak Johan, saya menolak rencana gila ini. Jika Bapak bersikeras menyewa pengawal, cari orang lain. Cari agensi lain dari luar kota! Saya menolak keras dijaga oleh pria ini!" Johan mengerutkan kening dalam-dalam, sisa kesabarannya menguap ke udara. "Cindy, hentikan sikap kekanak-kanakanmu! Aegis Protection adalah agensi keamanan swasta terbaik di negara ini. Mereka disewa oleh para menteri dan konglomerat! Kontrak sudah ditandatangani, uang muka miliaran rupiah sudah ditransfer pagi ini dan aku tidak akan membatalkannya hanya karena kau merasa 'tidak nyaman' dengan masa lalumu!" "Bapak tidak mengerti situasinya—" "Tidak, Nona Cindy yang tidak mengerti!" potong Owen. Kali ini suaranya sedikit dinaikkan, menggema memantul di dinding kaca ruangan, membungkam bantahan Cindy seketika. Pria itu melangkah maju memangkas jarak. Ia mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas meja mahoni, mengunci pandangan Cindy dari jarak yang sangat dekat. "Anda pikir ini adalah forum negosiasi?" desis Owen dingin. "Anda pikir pria sinting yang mengirimkan mawar busuk bersimbah darah dan memotret Anda dari dalam apartemen Anda sendiri peduli apakah Anda merasa 'nyaman' atau tidak?" Cindy terkesiap, mundur selangkah hingga punggungnya menabrak sandaran kursi. Fakta bahwa Owen mengetahui detail teror semalam membuktikan bahwa pria ini sudah mempelajari seluruh jejak hidupnya dengan sangat teliti sebelum melangkah masuk ke ruangan ini. "Penguntit itu tidak sedang bermain petak umpet, Nona," lanjut Owen dengan nada ancaman yang menakutkan. "Dia memiliki akses masuk ke area privat Anda. Dia memiliki obsesi mematikan. Dan saat ini, dia sedang mengintai setiap celah kelemahan Anda. Jika Anda ingin memecat saya, silakan bayar penalti pembatalan kontrak sepuluh kali lipat kepada agensi saya sekarang juga, dan bersiaplah menyambut tamu tak diundang Anda malam ini sendirian tanpa ada yang mendengar teriakan Anda." Keheningan yang mencekik kembali menguasai ruangan. Josh menghela napas panjang, menatap Cindy dengan pandangan memohon yang sulit ditolak. "Cindy, kurasa ... Komandan Owen benar. Kita tidak bisa mengambil risiko nyawa di sini. Biarkan dia melakukan pekerjaannya. Setidaknya sampai kita tahu siapa bajingan di balik semua teror ini." Cindy menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga mengecap rasa amis darah. Ia terjebak. Terkurung. Ia terjebak di antara ancaman seorang psikopat gila tanpa wajah yang mengincar nyawanya, dan kehadiran pria dari masa lalunya yang jelas-jelas berniat menyiksa kewarasannya. Di sudut ruangan, ia bisa melihat Johan yang sudah mengangguk puas. "Bagus. Kalau begitu sudah diputuskan secara sepihak," Johan menepuk tangannya sekali, mengakhiri perdebatan. "Komandan Owen, Anda memiliki otoritas mutlak atas keamanan operasional Cindy. Josh, mari kita kembali ke ruanganku untuk merumuskan siaran pers tentang penundaan peluncuran buku minggu depan tanpa menyinggung masalah ini. Cindy, kamu tetap di sini. Selesaikan protokol keamananmu dengan Komandan." Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Johan dan Josh melangkah keluar dari ruang rapat. Josh sempat menepuk bahu Cindy sekilas, memberinya senyum penguatan sebelum menghilang di balik pintu kayu yang kini tertutup rapat dengan bunyi "klik" yang mengisolasi. Tinggallah mereka berdua. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa sepuluh kali lebih berat dan panas. Cindy masih memeluk tubuhnya sendiri, menolak menatap Owen yang kini berdiri menjulang hanya satu meter darinya. "Kamu nggak bisa ngelakuin ini ke aku, Owen," bisik Cindy akhirnya. Ia menanggalkan bahasa formalnya, membiarkan pertahanannya runtuh dan membiarkan suaranya bergetar hebat menahan tangis. "Kamu tahu persis gimana hancurnya hidup kita sepuluh tahun lalu akibat keegoisanku. Kenapa kamu ambil pekerjaan ini? Kenapa kamu harus kembali ke hidupku saat aku udah berusaha mengubur semuanya?" Owen berjalan mendekat, perlahan namun pasti. Sepatu botnya bergerak tanpa suara, layaknya predator puncak yang menyudutkan mangsanya di ujung tebing. Ia berhenti tepat di hadapan Cindy. Aroma pinus segar, asap tembakau tipis dan bau logam dari tubuh pria itu merasuki indra penciuman Cindy, memutar memori masa lalu hingga membuat kepalanya pusing. "Kamu pikir aku dengan senang hati mau ada di sini?" Owen menunduk, berbisik tepat di depan wajah Cindy. Sorot matanya kini menajam, memancarkan amarah hitam yang sejak tadi ia bendung rapat-rapat. "Aku ada di sini karena bosmu yang gila harta itu memohon sambil menjilat di agensiku dan aku terima tawaran ini karena aku dibayar sangat mahal untuk memastikan kamu tidak mati konyol ... sebelum kamu sempat melunasi rasa sakit hatiku, Cindy." Mata Cindy memanas, satu tetes air mata lolos begitu saja membasahi pipinya yang mulus. Namun, Owen menatap air mata itu tanpa belas kasihan sedikit pun. Ia menegakkan tubuhnya kembali, kembali mengenakan topeng profesionalnya yang terbuat dari baja es. "Hapus air mata buaya Anda, Nona. Karena mulai detik ini, ritme napas Anda dan kebebasan Anda ada di bawah kendali saya sepenuhnya," ucap Owen mutlak. Pria itu menyeringai tipis, sebuah senyuman miring yang sama sekali tidak memiliki kehangatan. "Dan protokol pengamanan pertama saya: tidak ada lagi kata privasi, tidak ada lagi pintu yang terkunci di antara kita. Mulai malam ini, saya akan tidur di kamar Anda."Fajar menyingsing di ufuk timur daerah perbukitan, membentangkan hamparan langit pagi yang bersih dan berwarna jingga keemasan. Angin pegunungan yang sejuk berembus lembut, membawa harum embun pagi dan aroma menyegarkan dari ribuan kelopak bunga krisan putih yang menghiasi pelataran taman terbuka. Di atas hamparan rumput hijau yang tertata rapi, sebuah altar kayu bersahaja berdiri tegap di bawah naungan pohon beringin tua yang rindang, memancarkan atmosfer kedamaian yang murni tanpa kepalsuan. Tidak ada bentangan karpet merah mewah, tidak ada deretan lampu spotlight buatan, dan tidak ada kilatan kamera para jurnalis pers yang bising. Pesta pernikahan pagi ini sengaja diselenggarakan secara sangat tertutup dan intim, hanya dihadiri oleh belasan orang terdekat—kerabat keluarga, Myla, Ben, ibu Cindy serta beberapa sahabat yang setia menemani perjuangan mereka di masa-masa tersulit. Di dekat susunan kursi kayu tamu, Ben berdiri tegap dalam balutan setelan jas hitam kustom yang rap
Sinar matahari senja berwarna keemasan membias lembut menembus kaca jendela studio, memantulkan pendar hangat di atas sehelai gaun pengantin sederhana berwarna putih gading yang tergantung anggun di sudut ruangan. Gaun itu tidak bertabur permata mewah atau buatan rumah mode ternama, melainkan sebuah karya yang dijahit berdasarkan draf sketsa lama—sebuah sketsa yang pernah diukir jemari Cindy di atas lembaran kertas diari sepuluh tahun lalu, ketika ia masih menjadi mahasiswi muda yang memimpikan masa depan penuh kedamaian. Cindy berdiri beberapa langkah dari gaun tersebut, jemarinya mengusap pelan kain sutra halus di bagian kelimannya. Tekstur kain dingin itu terasa nyata di bawah kulitnya, menegaskan bahwa detik-detik ini bukanlah bagian dari halusinasi atau mimpi di tengah trauma. Di sampingnya, Myla sibuk merapikan lipatan renda di bagian lengan gaun dengan wajah yang berbinar terang, memoles setiap detail kecil dengan kehati-hatian yang penuh kehangatan. "Garis lengkungnya sa
Suara ketikan keyboard bergema teratur dan berirama di dalam studio kecil beratap kayu di lantai dua rumah baru Cindy. Ruangan itu dibanjiri sinar matahari pagi yang jernih, menerobos masuk lewat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah bukit hijau yang tenang. Aroma kopi hitam segar dan kertas kering membumbung halus di udara, menciptakan atmosfer kedamaian yang dulunya terasa seperti sebuah mimpi yang tak terjangkau. Di depan meja kayu jati yang kokoh, Cindy duduk dengan postur tegak. Jemarinya menari lincah di atas papan ketik tanpa ragu, tanpa sedikit pun jeda panik. Tidak ada lagi rasa takut yang mencekik tenggorokannya. Tidak ada lagi gema suara langkah kaki asing yang mencurigakan di luar pintu, tidak ada ancaman pembunuhan lewat pesan tersembunyi, dan tidak ada lagi bayang-bayang Josh yang mengawasi setiap kata yang ia tulis. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Cindy memegang pena dan mengetikkan kalimat-kalimatnya dengan kemerdekaan jiwa yang mutlak. Di
Beberapa waktu setelah seluruh badai hukum mereda, sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah-celah jendela kaca besar di sebuah klinik rehabilitasi swasta di pinggiran London. Angin sejuk yang membawa aroma tanah basah dan dedaunan berembus lembut, mengibarkan tirai putih tipis di dalam ruangan pemulihan. Di atas bangku kayu taman yang dikelilingi rindangnya pohon kamboja dan mawar putih, Myla duduk bersandar seraya menikmati hangatnya mentari menyentuh kulitnya. Luka-luka fisik di pergelangan tangan dan kakinya bekas kuncian rantai baja telah sembuh total, hanya menyisakan samar bekas kemerahan yang tak lagi terasa nyeri. Pemeriksaan paru-parunya pun menunjukkan hasil yang sempurna, jejak racun uap bensin sintetis yang sempat mengendap di saluran pernapasannya telah bersih sepenuhnya. Namun, penyembuhan trauma jiwa membutuhkan proses yang berjalan perlahan. Dalam minggu-minggu awal pasca-kejadian, Myla masih sering terbangun di tengah malam dengan napas terse
Tiga minggu setelah malam pembakaran di Vangard Tower, garis pita kuning kepolisian masih terpasang kaku melingkari pilar-pilar marmer di depan atrium utama. Gedung pencakar langit yang dulunya menjadi kiblat industri literatur itu kini tampak bagaikan monumen kelam yang membisu. Berdasarkan keputusan pengadilan niaga dan instruksi langsung dari Kejaksaan Agung, Vangard Publishing dinyatakan bangkrut secara permanen, seluruh izin operasionalnya dicabut tanpa sisa, dan seluruh aset fisiknya disita oleh negara untuk membayar ganti rugi kepada para korban manipulasi royalti. Kerajaan yang dibangun di atas penderitaan dan kebohongan itu kini resmi ditutup total, meninggalkan sejarah kelam yang tak akan pernah dilupakan. Sementara itu, di fasilitas tahanan medis berkeamanan tinggi di pinggiran kota, proses pemindahan Josh Yeman berlangsung di bawah pengawalan ketat dua regu personel Brimob. Pemeriksaan psikiatri forensik yang melibatkan tim dokter independen menyimpulkan bahwa sang ma
Raungan sirene puluhan armada pemadam kebakaran dan mobil patroli kepolisian saling membalas, membelah pekatnya udara malam di jantung kota. Cahaya lampu strobo merah dan biru memantul liar pada fasad kaca Vangard Tower yang megah, membiaskan bayangan-bayangan panik ribuan orang yang memadati pelataran luar. Gulungan asap hitam pekat yang berbau uap bensin tajam masih membumbung tinggi dari balik jendela-jendela Grand Ballroom yang pecah di lantai atas, merusak kemewahan gedung pencakar langit yang selama satu dekade menjadi simbol supremasi literatur tanah air. Para tamu undangan VIP—para elit bisnis, politisi senior, kritikus sastra, dan eksekutif papan atas yang tadinya melangkah masuk dengan gaun malam buatan perancang busana ternama dan tuksedo mahal—kini berdesakan berlarian keluar dalam keadaan acak-acakan. Beberapa wanita bergaun sutra tampak terbatuk-batuk dengan wajah yang ternoda jelaga hitam, sementara yang lain terjerembap di atas trotoar seraya memegangi dada mereka







