Share

Bab 4: Hal Janggal

Penulis: HyFaa
last update Terakhir Diperbarui: 2023-04-13 14:43:21

"Kamu enggak kenapa-kenapa kan, Din?" Pertanyaan Amel memecah keheningan di antara mereka berdua, pasalnya memang sedari tadi Amel sudah merasa sangat penasaran. Namun, Dinda tak kunjung membuka suara, untuk dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

"Alhamdulillah, aku enggak kenapa-napa kok, tapi ibu kos aku, Mel." Jawaban yang diutarakan oleh Dinda barusan menggunakan nada bicara yang sangat lemah.

Hal itu tentu saja membuat Amel merasa sangat aneh, tetapi ia hanya bisa memastikan temannya itu lewat kaca spion motornya saja. 

Sebenarnya, ia terkejut dengan jawaban tadi, tetapi Amel memiliki inisiatif untuk tidak mengutarakan pertanyaan apa pun, sampai nanti Dinda sendiri yang bercerita.

 ******   

"Ibu kos ... udah enggak ada. Jujur aku kaget dan enggak nyangka banget, orang yang udah aku anggap kayak orangtua aku sendiri, justru pergi dengan begitu cepet," gumam Dinda, sangat menyiratkan kesedihan sekali.

Amel mendengarkan apa yang dituturkan oleh Dinda, dengan pandangan yang tetap fokus pada lalu lintas. Tak ada sahutan apa pun dari Amel, di sisi lain Dinda juga tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.

Di saat perjalanan untuk menuju ke indekos yang ditempati oleh Amel, di dalam pikiran Dinda selalu saja ada bayangan saat-saat di mana ia melihat sendiri bagaimana hantu tersebut berada tepat di depan kamar Tanti.

Membayangkan hal yang seperti itu lagi, mampu membuat Dinda langsung merinding dan segera menolehkan ke arah sekitar. 

"Kamu kenapa sih, Din? Ini udah sampai di kosan aku kok," ucap Amel, memberi tahu, saat dirinya mendapati wajah Dinda yang terlihat sangat tidak tenang.

"Aku takut, Mel, takut banget."

"Takut? Takut kenapa? Ibu kosan kamu enggak adanya karena apa sih?" tanya Amel, seraya turun dari motor dan mencabut kunci motor miliknya tersebut.

Terlihat wajah Dinda masih merasa ketakutan, dengan pandangan kedua mata yang terus saja menelisik ke segala penjuru. Amel yang mendapati temannya seperti itu, tentu saja ikut merasa sangat bingung.

Amel kasihan. Ia segera menggenggam tangan kanan Dinda dan berucap, "Udah yuk, kita langsung masuk ke kamar aku aja."

Tak ada penolakan dari Dinda, perempuan itu langsung menganggukkan kepalanya dan ikut melangkahkan kaki, sesuai dengan langkah kaki dari Amel.

Namun, sepanjang perjalanan untuk menuju ke kamar Amel, Dinda terus saja menatap ke arah sekitar. Ada rasa was-was dan juga khawatir akan apa yang ia temui nantinya.

"Yuk masuk!" ajak Amel, kala dirinya sudah terlebih dulu masuk ke dalam kamar indekosnya, sedangkan Dinda masih terdiam dan tidak bergerak sama sekali.

"Ih, Dinda! Kamu jangan kebanyakan bengong gini dong, aku jadinya takut sendiri sama kamu. Yuk masuk dulu, abis itu kamu boleh cerita tentang apa aja yang mau kamu ceritain." 

Dinda tersadar dari rasa takutnya itu. Masuk ke dalam kamar indekos Amel dengan mengucap salam terlebih dulu, setelah itu mengulas senyum.

"Kosan kamu nyaman ya, Mel," gumam Dinda, membuat Amel langsung menolehkan kepalanya dan langsung tersenyum.

"Iya, Alhamdulillah. Aku juga betah kok ngekos di sini. Apa kamu juga mau pindah kosan ke sini juga?"

"Enggak ah, sayang banget. Di sana aku udah bayar sampai buat tahun depan, udah gitu pemilik kosannya udah enggak ada, terus aku mau minta ganti ruginya ke siapa coba." Dinda mengembuskan napasnya pelan.

Kembali melihat ke arah sekitar, terbesit rasa ingin pindah tempat indekos, tetapi itu sangat tidak mungkin. Saat tengah melamun seperti itu, tiba-tiba saja Dinda mendapat suatu notifikasi yang entah dari siapa.

Karena memang merasa tidak terlalu penting, maka dari itu Dinda mengabaikan notifikasi itu dan memilih untuk berucap, "Kamu mau tau enggak, Mel, kenapa pemilik kosan yang aku tempati itu enggak ada?"

Tentu saja Amel langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias, tetapi baru saja Dinda akan membuka mulut untuk memulai bercerita, terdengar dering telepon dari ponsel milik Dinda.

"Siapa sih yang nelepon? Tumben banget deh ada yang nelepon aku." Dinda terkekeh, lalu ia segera mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam saku celana, lalu melihat nama yang tertera di layar.

Namun, alangkah terkejutnya Dinda, kala ia mendapati nama 'Bu Tanti' pada layar ponsel miliknya itu. 

Dinda tak dapat mengeluarkan satu patah kata pun, tetapi kedua mata Dinda langsung menatap ke arah Amel penuh dengan rasa takut yang tak dapat dijelaskan.

Amel yang bingung dengan Dinda, tentu tak dapat melakukan apa pun. Ia menatap wajah Dinda saja, dengan tatapan bertanya-tanya. Namun, semakin lama, dia takut dengan keadaan sahabatnya itu.

 "Dinda!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Teror Indekos Bekas Bunuh Diri    Bab 16: Merinding

    Dinda tersentak, napasnya tersengal seperti habis dikejar binatang buas. Lampu neon masih menyala stabil, kuning pucat, menerangi wajah Amel yang cemas di depannya. Bau anyir itu lenyap seketika, berganti aroma vanila dan kopi instan yang tadi malam tercium begitu menenangkan.“Mel … tadi aku mimpi buruk,” gumam Dinda, suaranya serak. Tubuhnya masih gemetar, sebab rasa takut itu benar-benar menghantui dirinya. “Aku cium bau darah lagi dan kamu matanya hitam pekat. Kamu juga tadi sempet bilang, kalau aku nggak bisa lari.”Amel langsung memeluk Dinda erat, tangannya mengusap punggung sahabatnya itu pelan-pelan. “Sst, itu cuma mimpi, Din. Kamu aman di sini sama aku. Aku juga nggak ke mana-mana. Lihat, mataku normal kan?” Ia mundur sedikit, menatap Dinda dengan mata cokelat hangat yang selalu membuat Dinda merasa pulang.Dinda menatap lama, mencari-cari celah kegelapan yang tadi ia lihat. Tak ada. Hanya pantulan lampu neon di kornea Amel. Ia mengangguk pelan, tapi jantungnya masih berdeg

  • Teror Indekos Bekas Bunuh Diri    bab 15: kos amel

    Dinda mengetuk pintu kamar nomor 7 dengan tangan yang masih gemetar, kardus berisi barang miliknya berada di sisi kanan, sementara tas ransel masih digendong oleh Bayu di belakangnya. Malam semakin larut, angin malam menyusup melalui koridor indekos Amel yang lebih ramai dibanding kosan lamanya Dinda."Mel, ini Dinda!" panggilnya lagi, suaranya sedikit lebih keras supaya terdengar sampai ke dalam.Pintu terbuka pelan, memperlihatkan wajah Amel yang mengantuk, rambutnya acak-acakan seperti baru bangun dari tidur yang nyenyak. Ia memakai kaus longgar dan celana pendek, mata sipitnya melebar saat melihat Dinda dan Bayu di depan pintu. "Din? Jam segini? Ada apa?"Bayu meletakkan tas ransel di depan pintu. "Aku anterin Dinda ke sini dulu, Mel. Dia nggak bisa terus ada di kosan lama. Ceritanya panjang, boleh enggak kalau Dinda di sini dulu?"Amel mengangguk cepat, lalu langsung menarik lengan Dinda untuk cepat masuk. "Masuk dulu, Din. Kamu keliatan pucat banget. Bayu, makasih ya udah ante

  • Teror Indekos Bekas Bunuh Diri    bab 14: merinding

    Dinda bersandar di pintu kamarnya yang baru saja dikunci rapat-rapat. Napasnya tersengal, dada naik-turun seakan baru saja berlari maraton. Di luar kamar, keheningan menyelimuti indekos yang hampir sepenuhnya gelap, sebab memang tidak ada penghuni di indekos tersebut, yang tersisa hanyalah Dinda seorang.Tak ada langkah kaki, juga tawa Lina. Hanya bau anyir yang perlahan-lahan mulai memudar, seolah ikut lenyap bersama sosok yang tadi menyamar sebagai kekasihnya—Bayu.Ponselnya bergetar pelan di genggaman tangan yang masih gemetar. Pesan masuk dari Bayu."Aku udah di depan gerbang, Sayang. Kamu di kamar 12, kan? Aku naik sekarang."Dinda mengetik dengan jari-jari yang masih bergetar, begitu juga hatinya berdegup kencang."CEPET, SAYANG. AKU TAKUT!"Pesan gagal terkirim, tiba-tiba sinyal menghilang, membuat Dinda kembali merasakan ketakutan luar biasa.Dinda menempelkan telinga ke pintu. Sunyi. Lalu, suara motor Bayu terdengar samar dari kejauhan mendekat ke gerbang depan. Ia menahan

  • Teror Indekos Bekas Bunuh Diri    Bab 13: Bingung

    Baru saja Dinda akan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar, ponsel yang saat ini masih berada di genggaman tangannya berdering dan tentu saja tanpa membuang waktu, Dinda segera mengangkat panggilan tersebut.Panggilan dari sang kekasih, yang memang sedari tadi sudah ditunggu kabarnya oleh Dinda."Sayang, kenapa dari tadi aku hubungin kamu enggak bisa terus? Kamu lagi ada di mana sih?" tanya Dinda, dengan wajah yang menunjukkan raut muka sebal, meskipun tidak dapat terlihat oleh sang kekasih."Aku loh dari tadi ada di kosan kamu, muter-muter aku, Sayang nyari di mana kamar kamu, tapi enggak ketemu sama sekali," sahut Bayu, juga dengan raut wajah yang bingung.Pasalnya, saat ini ia sungguh-sungguh merasa bingung, Sedari tadi ia mengitari penjuru kos guna menemui sang kekasih yang berada di dalam kamar, tetapi tidak ada sama sekali."Ngomong apa sih, Sayang. Kok bisa enggak ketemu sama kamar aku.""Beneran sayang, sekarang aja aku deh yang keluar ya dari kamar, biar bisa ketemu sa

  • Teror Indekos Bekas Bunuh Diri    Bab 12: Kekecewaan

    Setelah mengatakan hal itu, hantu Lina langsung pergi begitu saja, membuat Dinda yang tadinya merasa takut, justru semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi."Din, ke mana perginya hantu itu?" tanya Amel, yang langsung mendekat ke arah Dinda.Respon dari hanya gelengan kepala saja, seraya mengangkat kedua bahu, pertanda jika dirinya tidak tahu ke mana perginya Lina."Ya udah, yuk sekarang kita bawa barang-barang kamu ke depan dan sementara kamu ke kosan aku aja dulu," ajak Amel, tetapi langsung dijawab gelengan kepala oleh Dinda."Kayaknya aku milih tetap di sini aja deh, Mel, aku rasa ada sesuatu yang harus aku cari tahu kebenarannya bagaimana," ucap Dinda, membuat Amel langsung mengerutkan kening, heran.Amel menatap kedua mata Dinda dengan cukup serius, mencari jawaban dari ucapan Dinda tadi. "Kenapa, Mel? Kamu ngira kalau aku bercanda?"Amel mengangguk. "Aku beneran, mau di sini aja. Aku mau cari tahu apa yang terjadi di sini, sampai-sampai Lina bisa mengakhiri hidupn

  • Teror Indekos Bekas Bunuh Diri    Bab 11: Ada apa sebenarnya?

    Benar saja apa yang dikatakan oleh Dinda, karena ketika ia nekat untuk membuka gorden indekos kamarnya, justru ia mendapati wajah pucat yang menyeramkan, hanya dipisahkan oleh kaca jendela saja.Saat itu juga Dinda langsung menutup gorden yang masih berada di genggaman tangannya itu. Dinda terduduk lemas, ia menetralkan degup jantung yang saat itu benar-benar sudah tidak karuan.Amel yang sedari tadi hanya mengamati gerak-gerik Dinda, sudah dapat menebak jika di depan indekos temannya itu masih ada hantu tersebut.Rasa takut yang juga menyelimuti diri Amel sedari tadi membuatnya tidak memiliki keberanian untuk mendekat ke arah Dinda.Dua orang perempuan yang tengah berada dalam satu ruangan, kini sibuk dengan diri masing-masing."Kenapa juga sih semuanya seperti ini?" gumam Dinda, dengan suara yang bergetar lirih, tetapi Amel masih dapat mendengar apa yang dikeluhkan oleh sahabatnya tersebut."Din, kamu ke sini dong. Aku takut kalau kita jauh-jauhan kayak gini," pinta Amel, seraya meng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status