LOGIN
“Keira, ayah ingin kamu menikah minggu depan.”
“Apa?” suaranya bergetar, tak percaya. Ia menatap ibunya yang berdiri kaku di depan jendela besar. Wanita itu berbalik perlahan, wajahnya tenang seperti biasa, tetapi matanya menyimpan badai yang hanya bisa dikenali oleh orang yang tumbuh dari rahimnya. “Ini keputusan ayahmu. Dan kamu tahu keadaan perusahaan. Jika kita tak bertindak sekarang, seluruh keluarga akan jatuh dan kamu akan kehilangan segalanya, Nak.” Segalanya. Kata itu menggema dalam kepalanya. Segalanya yang tidak pernah ia minta. Perusahaan yang diwariskan dengan darah dan kebohongan. Gelar komisaris muda yang disematkan bukan karena kemampuan, tapi karena garis keturunan. Keira menggigit bibirnya, mencoba menahan tanya dan marah yang berselimut satu: siapa pria itu? “Siapa dia?” bisiknya akhirnya. “Namanya Nero Adhitya.” Keira tidak pernah mendengar nama itu. Atau mungkin ia pernah, tapi otaknya menolak mengaitkannya dengan realita yang tengah dipaksakan padanya sekarang. Ia menelan ludah yang terasa lebih pahit dari kopi hitam. “Kenapa dia?” tanyanya pelan. Ibunya menghela napas. “Karena dia satu-satunya yang mau.” Kalimat itu menusuk lebih tajam dari sebelumnya. Satu-satunya yang mau menikahi Keira Valen? Apa dia barang sisa? Komoditas gagal? “Jadi ... aku barang lelang yang tak diinginkan siapa pun, selain dia?” Keira merasakan pahit di hatinya. Ibunya berkata dengan nada datar. “Kamu tidak mengerti, Keira. Ini hanya bukan tentang kamu. Lihat ayahmu, tidak bisa turun dari ranjang tanpa bantuan suster. Para investor juga siap menarik dana. Ini tentang ….” “menyelamatkan wajah Valen Corp di depan publik!” potong Keira cepat, dengan nada getir. Ia menyadari, tidak pernah ada ruang untuk dirinya di keluarga ini selain sebagai simbol dan strategi. *** Hari pernikahan datang lebih cepat dari harapan. Keira berdiri di depan cermin rias, mengenakan gaun putih satin dengan model off-shoulder, bagian dadanya dipenuhi payet lembut berkilauan. Wajahnya terpulas sempurna, namun tidak ada senyum yang tersisa. Bibirnya beku, dan matanya kosong. Pernikahan ini diadakan tertutup. Tidak ada pesta. Tidak ada gaung media. Tidak ada keluarga besar yang berbaris mengucap selamat. Hanya ada ruangan hotel mewah yang disulap seperti kapel. Dan seorang pria asing yang kini berdiri di ujung lorong pernikahan. Nero Adhitya. “Waktunya,” bisik ibunya, mendekat. Keira menarik napas panjang. Jantungnya berdetak pelan. Ia tahu, sekali melangkah, tak ada jalan mundur. Ini bukan film. Tak akan ada pangeran datang menyelamatkan. Hidupnya sudah ditentukan oleh orang lain sejak awal. Langkah kakinya menyusuri lorong seperti gema keputusasaan, hingga akhirnya berdiri di samping Nero, pria itu hanya menoleh sekilas. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Hanya anggukan kecil yang nyaris tak terlihat. Pendeta berdiri di antara mereka, membuka naskah. “Kita berkumpul di sini untuk menyatukan dua jiwa dalam ikatan suci pernikahan. Keira Valen, Nero Adhitya. Apakah kalian siap mengikat janji sebagai suami dan istri di hadapan Tuhan dan para saksi?” Keheningan menggantung. Keira menatap lantai. Tangan dinginnya menggenggam bunga buket yang bahkan bukan pilihannya sendiri. “Saya bersedia,” ucapnya pelan. Suaranya nyaris tidak terdengar, namun cukup bagi pendeta untuk melanjutkan. Nero mengucapkannya tak lama kemudian, “Saya bersedia.” Mereka berdua tidak menoleh. Tidak ada kontak mata. Tidak ada senyum. Pendeta mengangguk. “Dengan ini, saya menyatakan kalian sah sebagai suami dan istri. Semoga Tuhan memberkati rumah tangga kalian.” Nero tidak menyentuh Keira sedikit pun. Ia memutar tubuh, memberi jalan kepada Keira untuk turun dari altar. Seolah baru selesai menandatangani kontrak kerja. Di dalam mobil yang membawa mereka pulang, keheningan lebih menusuk daripada udara malam yang menempel di jendela. Keira duduk dengan tangan di pangkuan, memandang keluar, mencoba membuka percakapan, sekadar untuk mengusir kecanggungan. “Apakah rumahmu jauh dari sini?” tanyanya pelan. Nero tak menjawab. Keira melirik sekilas dan menghela napas. Cukup baginya mencoba sekali. Gadis itu menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Ada rasa dingin menyergap hatinya. Pria di sampingnya lebih dingin dari freezer. Mobil berhenti di depan rumah megah. Nero menahan pintu, membiarkan Keira masuk. Beberapa pelayan membungkuk sopan lalu pergi begitu saja tanpa ucapan selamat datang. Keira berdiri mematung, merasa seperti tamu tak diundang. Nero melewati lorong tanpa menoleh. Ia hanya berkata saat hendak naik ke lantai dua, “Kamar ini milikmu. Aku akan tidur di ruangan sebelah.” Keira menatap punggungnya, kaku. Itu adalah kalimat pertama yang ia dengar dari suaminya setelah resmi menjadi istri. Tanpa nama. Tanpa basa-basi dan emosi. Dia mematung di ambang pintu. Matanya menangkap susunan kelopak mawar merah membentuk hati di atas seprai putih bersih. Di tengahnya, tergeletak sepotong lingerie tipis berwarna merah marun, renda halus dan tali kecil dilipat rapi. Ia melangkah masuk. Tumit sepatunya tenggelam dalam karpet tebal. Matanya tak bisa lepas dari benda merah itu. Tangannya mengepal. Detik berikutnya, ia mencengkeram lingerie tersebut dan melemparkannya ke atas tempat tidur sekuat tenaga. “Pernikahan apa ini?” Tangannya gemetar akibat emosi dan napasnya berat. Sebuah tawa pendek, getir. Keira menertawakan hidupnya sendiri. “Bahkan dia tidak sudi menatapku. Tidak bicara atau menyentuh. Dan kalian sebut ini pernikahan?” Tubuh gadis itu meluruh ke lantai, bersandar pada tepian tempat tidur. Matanya mulai basah. “Dia bahkan tidak merasa perlu berbasa-basi di mobil.” Titik air mata telah berubah jadi banjir. Ia memeluk lututnya, membenamkan wajah ke lengannya penuh kesedihan. “Aku benci kalian semua ....” *** Keira duduk di depan meja, tumpukan berkas dan laptop terbuka di hadapannya. Rambutnya diikat asal, wajahnya tanpa makeup, dan gelas kopi ketiganya sudah hampir kosong. Pagi tadi, ia meminta beberapa laporan keuangan lama Valen Corp dikirimkan via email oleh staf akuntansi lama yang dulu dekat dengannya. Ia mengatakan ingin “menyusun portofolio keluarga”. Alasan yang cukup sopan untuk tidak menimbulkan tanya. Ia membuka dokumen berlabel "Laporan Arus Kas Konsolidasi - Kuartal IV", lalu membandingkannya dengan salinan yang lebih lama yang tersimpan dalam flashdisk pribadinya. Tanggal penerbitannya berbeda dua bulan dan isi datanya … mencurigakan. Keira menyipitkan mata. “Kenapa nominalnya berubah?” Ada selisih puluhan miliar dalam aliran masuk investasi. Tapi yang lebih mencurigakan, sumbernya justru berasal dari akun bernama PT Fortuna Prima. Nama yang asing baginya. “Fortuna Prima ya?” Ia mengetik cepat di pencarian G****e. Tidak ada hasil tentang perusahaan itu. Dibukanya dokumen tahun lalu. Di sana, nama yang sama muncul sebagai pemilik salah satu aset yang "diakuisisi" Valen Corp. Tapi Keira ingat betul, aset itu … dulunya milik mereka sendiri. “Apa ini?” Otaknya berputar dan menduga sesuatu. Keira mengetik pesan panjang untuk temannya yang bekerja di kantor audit. “Kau masih ingat laporan Valen Corp tahun lalu? Coba cek lagi soal Fortuna Prima. Ada yang janggal. Aku butuh second opinion.” Jari-jarinya mengetik cepat, penuh tekanan, tapi tiba-tiba berhenti. Pandangannya mengarah ke pintu kamar yang tertutup rapat. Ekspresinya tegang. “Apa dia tahu tentang ini?”Undangan kedua datang dengan detail yang lebih jelas.Tanggal. Waktu. Agenda.Namun ada satu perbedaan yang membuat Keira membaca ulang surel itu perlahan: pertemuan kali ini meminta komitmen arah, bukan sekadar diskusi.Garis tipis mulai terlihat.Rapat persiapan tidak panjang.Bukan karena kurangnya hal yang perlu dibahas, melainkan karena semua sudah tahu batas masing-masing.“Jika mereka meminta eksklusivitas?” tanya Rina.Keira tidak langsung menjawab. Ia memandang jendela sejenak, lalu berkata, “Kita dengar syarat lengkapnya dulu. Eksklusivitas tanpa keseimbangan bukan kemitraan.”Tidak ada yang menyela.Pertemuan berlangsung di ruang yang lebih terbuka.Cahaya masuk dari jendela besar. Tidak ada upaya menyembunyikan apa pun. Kali ini, pihak seberang berjumlah lebih banyak dan salah satunya adalah sosok yang jelas memiliki keputusan akhir.Ia memperkenalkan di
Tidak ada kabar selama tiga hari.Keira tidak menanyakannya. Ia juga tidak menunggu dengan gelisah.Hari-hari berjalan seperti biasa rapat mingguan, penyempurnaan sistem, satu klien kecil yang meminta penyesuaian mendadak. Semua ditangani tanpa drama. Tanpa rasa “ini penentu segalanya”.Justru di situlah ujiannya dimulai.Uji sunyi tidak datang dengan konflik terbuka. Ia datang dalam bentuk ketidakhadiran.Tidak ada panggilan lanjutan.Tidak ada email klarifikasi.Tidak ada sinyal.Dulu, kekosongan seperti ini akan menggerogoti Keira. Ia akan membaca ulang percakapan, mencari celah, meragukan setiap kalimat yang telah ia ucapkan.Sekarang, ia hanya mencatat diam juga bentuk respons.Pada hari keempat, masalah kecil muncul.Bukan krisis. Tapi cukup untuk menguji konsistensi yang sedang diamati pihak luar.Salah satu mitra lama terlambat memenuhi kewajiban. Dampaknya tidak besar
Undangan itu datang tanpa embel-embel dramatis.Bukan presentasi besar. Bukan sorotan media.Hanya satu surel singkat dengan subjek yang nyaris datarPertemuan awal. Diskusi kelayakan. Tertutup.Keira membacanya dua kali. Bukan karena ragu memahami, melainkan karena ia mengenali nada itu. Nada pihak yang tidak ingin berjanji, tapi juga tidak lagi sekadar mengamati.Ini ambang.Rapat internal berjalan lebih hening dari biasanya.Bukan tegang melainkan penuh pertimbangan.“Kita belum tahu arah mereka,” kata Rina. “Ini bisa jadi pembuka, atau sekadar uji konsistensi.”Keira mengangguk. “Karena itu kita datang tanpa menawarkan apa pun.”Semua menoleh.“Kita dengarkan dulu,” lanjut Keira. “Jika mereka ingin sesuatu, biarkan mereka yang menyebutkannya.”Tidak ada keberatan. Tidak ada adrenalin berlebih.Tim ini sudah belajar diam yang tepat sering kali lebih kuat daripada p
Tumbuh pelan sering disalahartikan sebagai diam. Padahal di dalamnya, ada perubahan yang bekerja tanpa suara menguat, merapikan, dan membentuk arah dengan kesabaran yang jarang disorot.Keira mulai merasakan pertumbuhan itu bukan dari angka, melainkan dari cara tim berfungsi. Keputusan tidak lagi selalu naik ke mejanya. Masalah diselesaikan di tempatnya muncul. Percakapan menjadi lebih langsung, tanpa lapisan kehati-hatian berlebihan.Ia mengamati itu dengan tenang.Tidak mencampuri. Tidak mengklaim.Pertumbuhan juga terasa di dalam dirinya.Keira tidak lagi bangun dengan daftar panjang hal yang harus dibuktikan. Ia memulai hari dengan satu pertanyaan sederhana apa yang perlu dijaga hari ini?Kadang jawabannya teknis. Kadang emosional.Dan ia belajar bahwa keduanya sama penting.Satu minggu berjalan tanpa kejutan besar.Tidak ada lonjakan. Tidak ada penurunan. Namun ada stabilitas yang mulai terasa kons
Membangun dari nol tidak pernah benar-benar berarti kosong. Ia berarti memilih ulang apa yang dibawa, apa yang ditinggalkan, dan apa yang sengaja tidak diulang.Keira memulai minggu itu dengan papan rencana yang lebih sederhana. Tidak ada target ambisius. Tidak ada proyeksi yang memerlukan pembenaran panjang. Hanya tiga fokus utama, ditulis dengan spidol hitam, tanpa hiasan.“Ini cukup?” tanya Rina, menatap daftar itu.“Untuk sekarang,” jawab Keira. “Lebih dari itu hanya akan jadi kebisingan.”Langkah pertama terasa paling sunyi.Tidak ada sorotan. Tidak ada validasi eksternal. Keira dan tim bekerja seperti orang-orang yang tahu mereka tidak sedang dipantau dan justru karena itu, mereka lebih jujur.Mereka memperbaiki proses yang selama ini ditoleransi meski melelahkan. Mereka menyederhanakan alur yang terlalu bergantung pada satu orang. Keira memastikan satu hal: tidak ada sistem yang hanya bisa berjalan jika ia hadir.
Dampak tidak datang sebagai ledakan. Ia merembes pelan, pasti, dan menyentuh bagian yang tidak bisa dihindari.Hari pertama setelah penolakan terasa biasa saja. Email tetap masuk. Telepon tetap berdering. Tidak ada tanda bahwa satu jalur besar baru saja ditutup.Namun Keira tahu dampak sejati selalu datang setelah keheningan awal.Hari kedua, penyesuaian dimulai.Satu proyek harus dijadwal ulang. Satu rencana ekspansi dikecilkan skalanya. Tidak ada kepanikan, tapi setiap perubahan membawa beban tambahan yang harus ditata ulang.Rina membawa daftar revisi ke ruangannya. “Ini masih bisa jalan. Lebih pelan.”Keira mengangguk. “Pelan tidak apa-apa. Tersesat yang berbahaya.”Mereka bekerja dalam diam. Tidak ada keluhan. Tidak ada drama.Hari ketiga, dampak mulai terasa di luar lingkaran dekat.Beberapa pihak menarik diri tanpa penjelasan. Nama Keira tidak lagi muncul di beberapa percakapan strategis. Bukan k







