MasukKeira membuka matanya perlahan. Kamar yang baru ia tempati masih terasa asing, meski tertata rapi dan mewah. Cahaya pagi menyusup malu-malu dari sela tirai, mengusir sisa gelap. Ia menoleh ke sisi ranjang. Kosong. Rapi. Dingin. Seakan tak pernah ada seseorang yang tidur di sana semalam.
Seketika hatinya terasa hampa. Keira menatap langit-langit beberapa detik sebelum akhirnya bangkit, kaki menyentuh lantai kayu dingin. Perasaan itu terus menghantuinya lebih mirip penyewa kamar hotel daripada seorang istri. Langkahnya membawanya ke dapur. Aroma kopi menyeruak, pekat dan pahit. Di sana berdiri sosok asing yang kini sah menjadi suaminya. Nero, dengan kemeja santai, mengaduk cangkir tanpa ekspresi. “Pagi,” ucap Keira hati-hati. Nero menoleh singkat. “Pagi.” Hanya satu kata. Datar. Tanpa senyum. Suara yang sopan, tapi dingin seperti tembok marmer. Keira diam. Matanya mengikuti gerakan tangannya yang tenang saat meletakkan sendok di atas meja. “Kamu biasa buat kopi sendiri?” tanyanya, berusaha mencairkan suasana. Nero sekadar mengangguk, lalu berjalan ke ruang makan tanpa menambahkan sepatah kata pun. Keira menunduk, menahan napas. Rasanya seperti berbicara dengan dinding. Ia meremas sisi dress tidurnya. Pertanyaan itu kembali berputar di kepalanya ‘Kenapa pria itu menikahiku?’ *** Seharian itu, rumah megah yang mereka tempati hanya diisi langkah pelayan dan dengung pendingin ruangan. Sunyi, tapi penuh jarak. Sore harinya, Keira menemukan cahaya dari ruang kerja terbuka. Ia berdiri di ambang pintu, melihat Nero tenggelam di balik layar laptop besar. Jasnya tergantung di kursi, kemejanya sedikit kusut. Grafik saham menari di layar, seakan lebih layak diperhatikan daripada dirinya. “Sejak kapan kamu pulang?” tanyanya pelan. “Baru saja.” Jawabannya datar, mata tetap menatap monitor. Keira melangkah masuk, jantungnya berdebar. “Aku mau tanya sesuatu.” “Silakan.” “Kenapa kamu menikahiku, Nero?” Jemari Nero berhenti mengetik. Hening jatuh begitu saja. Hanya terdengar dengung AC. Ia menoleh perlahan, lalu kembali menatap layar. “Sudah kujawab.” “Tidak.” Keira maju selangkah, nadanya meninggi. “Waktu itu kamu bilang tidak keberatan. Itu bukan jawaban. Itu pengalihan.” Beberapa detik terasa begitu panjang. Akhirnya Nero menutup laptop dengan tenang. Ia menatap Keira, datar tapi sulit diterjemahkan. “Ayahmu memintaku. Dan ada sesuatu yang hanya bisa kudapat jika aku menjadi bagian dari keluargamu.” Darah Keira serasa berhenti. “Sesuatu?” ulangnya dengan suara bergetar. Nero menunduk. Tidak menjawab. Jemarinya mengetuk meja sekali, dua kali, lalu berhenti. Matanya kembali pada layar gelap, seolah percakapan sudah selesai. “Kamu akan tahu… pada waktunya.” Keira berdiri terpaku. Dalam dadanya, marah, sakit hati, dan penasaran bercampur jadi satu. Tapi ia menelan semuanya. Aku tidak akan jadi pion lagi. Ia berbalik. “Kalau begitu, aku akan cari tahu sendiri,” gumamnya, sebelum melangkah keluar dari ruangan. *** Malam itu, Keira duduk di tempat tidur dengan laptop di pangkuan. Matanya lelah, tapi pikirannya masih berputar. Kata-kata Nero terngiang-ngiang. Ada sesuatu yang hanya bisa kudapat… Ia mulai mengetik nama Nero Adhitya. Hasil pencarian membawanya ke artikel lama tentang keluarganya. Disebutkan perusahaan Adhitya pernah hampir bangkrut akibat skandal internal yang tak pernah terungkap ke publik. Sebuah nama muncul berulang kali Marina Adhitya. Keira menahan napas. Nama itu terasa tak asing. Ia membuka arsip lama milik ayahnya dokumen rapat, daftar mitra, surat-surat yang mulai menguning. Jemarinya menyusuri lembaran kertas dengan hati-hati. Di antara tumpukan itu, ia menemukannya lagi. Nama yang sama. Marina Adhitya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ingatannya samar, pernah mendengar nama itu di percakapan orang tuanya. Ada benang merah yang belum jelas, tapi instingnya berkata: ini bukan kebetulan. Keira menuliskan nama itu di selembar kertas kecil, menatapnya lama. Pernikahan ini bukan hanya tentang aku. Ada rahasia lain di baliknya. Ketukan ringan terdengar di pintu. Keira buru-buru menutup laptop. Nero berdiri di ambang pintu, kini dengan kaus abu-abu dan celana santai. “Aku tidak akan ganggu tidurmu. Aku hanya ingin bilang… besok kita makan malam dengan ayahmu.” Keira mengangguk pelan. “Baik.” Sebelum pergi, Nero sempat menatap wajahnya beberapa detik. Tatapan itu bukan sekadar dingin. Ada sesuatu di baliknya misteri, rahasia, atau luka yang ia sembunyikan. Keira tidak tahu pasti, tapi dadanya terasa sesak. Saat pintu tertutup, Keira berbisik pada dirinya sendiri, penuh tekad “Aku akan cari tahu siapa kamu sebenarnya, Nero Adhitya. Dan ketika saat itu tiba… aku akan menentukan siapa musuhku yang sesungguhnya.”Setelah surel itu terkirim, Keira tidak merasakan kelegaan yang meledak-ledak. Yang datang justru rasa hening yang lebih luas seperti ruangan yang akhirnya memiliki cukup udara.Hari-hari berikutnya kembali berjalan tanpa tanda khusus. Tidak ada perubahan sikap dari pihak luar. Tidak ada sinyal cepat yang bisa ditafsirkan sebagai kemenangan atau penolakan. Keira tidak mencari makna di antara baris-baris kosong itu. Ia memilih hadir sepenuhnya pada apa yang ada di hadapannya.Di kantor, ritme tetap terjaga. Tim bekerja tanpa bayang-bayang keputusan yang menggantung. Itu bukan karena mereka tidak peduli, melainkan karena Keira tidak membiarkan masa depan mengganggu hari ini.Ia menyadari sesuatu yang penting: keputusan yang sehat tidak menciptakan kegelisahan berantai. Ia menciptakan kejelasan, meski hasil akhirnya belum diketahui.Suatu siang, Rina menghampirinya dengan satu pertanyaan sederhana. “Kalau mereka menolak versi kita
Keira memberi dirinya dua hari.Bukan untuk menghitung ulang tawaran, melainkan untuk menjauh sebentar dari kebisingan makna yang menempel pada kata kesempatan. Ia tahu, keputusan yang tepat jarang lahir dari tekanan untuk cepat ia lahir dari jarak yang cukup.Hari pertama ia habiskan dengan bekerja seperti biasa.Tidak ada diskusi tentang pertemuan terakhir. Tidak ada spekulasi. Ia membiarkan tim bergerak dalam ritme yang sudah mereka bangun. Ia hanya mengamati: apakah sistem ini masih berjalan tanpa dirinya mendorong dari belakang.Jawabannya ya.Dan itu menenangkan sekaligus menggelisahkan.Hari kedua, Keira mengambil cuti setengah hari.Ia berjalan sendiri, menyusuri ruas kota yang jarang ia lewati. Kedai kecil. Taman sempit. Bangku tua di sudut yang luput dari renovasi. Ia duduk di sana lama, membiarkan pikirannya berputar tanpa diarahkan.Ia menyadari sesuatu yang pelan tapi jujur ia tidak takut gagal. Yan
Undangan kedua datang dengan detail yang lebih jelas.Tanggal. Waktu. Agenda.Namun ada satu perbedaan yang membuat Keira membaca ulang surel itu perlahan: pertemuan kali ini meminta komitmen arah, bukan sekadar diskusi.Garis tipis mulai terlihat.Rapat persiapan tidak panjang.Bukan karena kurangnya hal yang perlu dibahas, melainkan karena semua sudah tahu batas masing-masing.“Jika mereka meminta eksklusivitas?” tanya Rina.Keira tidak langsung menjawab. Ia memandang jendela sejenak, lalu berkata, “Kita dengar syarat lengkapnya dulu. Eksklusivitas tanpa keseimbangan bukan kemitraan.”Tidak ada yang menyela.Pertemuan berlangsung di ruang yang lebih terbuka.Cahaya masuk dari jendela besar. Tidak ada upaya menyembunyikan apa pun. Kali ini, pihak seberang berjumlah lebih banyak dan salah satunya adalah sosok yang jelas memiliki keputusan akhir.Ia memperkenalkan di
Tidak ada kabar selama tiga hari.Keira tidak menanyakannya. Ia juga tidak menunggu dengan gelisah.Hari-hari berjalan seperti biasa rapat mingguan, penyempurnaan sistem, satu klien kecil yang meminta penyesuaian mendadak. Semua ditangani tanpa drama. Tanpa rasa “ini penentu segalanya”.Justru di situlah ujiannya dimulai.Uji sunyi tidak datang dengan konflik terbuka. Ia datang dalam bentuk ketidakhadiran.Tidak ada panggilan lanjutan.Tidak ada email klarifikasi.Tidak ada sinyal.Dulu, kekosongan seperti ini akan menggerogoti Keira. Ia akan membaca ulang percakapan, mencari celah, meragukan setiap kalimat yang telah ia ucapkan.Sekarang, ia hanya mencatat diam juga bentuk respons.Pada hari keempat, masalah kecil muncul.Bukan krisis. Tapi cukup untuk menguji konsistensi yang sedang diamati pihak luar.Salah satu mitra lama terlambat memenuhi kewajiban. Dampaknya tidak besar
Undangan itu datang tanpa embel-embel dramatis.Bukan presentasi besar. Bukan sorotan media.Hanya satu surel singkat dengan subjek yang nyaris datarPertemuan awal. Diskusi kelayakan. Tertutup.Keira membacanya dua kali. Bukan karena ragu memahami, melainkan karena ia mengenali nada itu. Nada pihak yang tidak ingin berjanji, tapi juga tidak lagi sekadar mengamati.Ini ambang.Rapat internal berjalan lebih hening dari biasanya.Bukan tegang melainkan penuh pertimbangan.“Kita belum tahu arah mereka,” kata Rina. “Ini bisa jadi pembuka, atau sekadar uji konsistensi.”Keira mengangguk. “Karena itu kita datang tanpa menawarkan apa pun.”Semua menoleh.“Kita dengarkan dulu,” lanjut Keira. “Jika mereka ingin sesuatu, biarkan mereka yang menyebutkannya.”Tidak ada keberatan. Tidak ada adrenalin berlebih.Tim ini sudah belajar diam yang tepat sering kali lebih kuat daripada p
Tumbuh pelan sering disalahartikan sebagai diam. Padahal di dalamnya, ada perubahan yang bekerja tanpa suara menguat, merapikan, dan membentuk arah dengan kesabaran yang jarang disorot.Keira mulai merasakan pertumbuhan itu bukan dari angka, melainkan dari cara tim berfungsi. Keputusan tidak lagi selalu naik ke mejanya. Masalah diselesaikan di tempatnya muncul. Percakapan menjadi lebih langsung, tanpa lapisan kehati-hatian berlebihan.Ia mengamati itu dengan tenang.Tidak mencampuri. Tidak mengklaim.Pertumbuhan juga terasa di dalam dirinya.Keira tidak lagi bangun dengan daftar panjang hal yang harus dibuktikan. Ia memulai hari dengan satu pertanyaan sederhana apa yang perlu dijaga hari ini?Kadang jawabannya teknis. Kadang emosional.Dan ia belajar bahwa keduanya sama penting.Satu minggu berjalan tanpa kejutan besar.Tidak ada lonjakan. Tidak ada penurunan. Namun ada stabilitas yang mulai terasa kons







