LOGINTidak ada yang menjawab.Dua orang pengawal menahannya agar tidak melarikan diri.Cynthia yang berdiri tidak jauh darinya langsung mundur beberapa langkah.Tubuhnya gemetar hebat. Mengapa bisa seperti ini? Mengapa semua rencana yang telah disiapkan dengan sangat matang, jadi berantakan dan juga gagal? Bukankah orang yang telah dibayarnya mengatakan berhasil dan melihat secara langsung Liora meminum racun yang telah disiapkan? Dan lalu sekarang kenapa justru mereka yang harus merasakan dipermalukan di depan umum seperti ini?“Nyonya Martha...”Suaranya hampir tidak terdengar.“Jangan... jangan lakukan ini. Aku, maminya Liora, kita besanan.”Martha hanya menoleh sekilas.Tatapannya dingin.“Sekarang baru mengatakan bahwa kau ibu kandung Liora. Bukankah tadi suaramu sangat keras menceritakan fitnah untuk menantuku? Peraturan keluarga Dominic tidak mengenal pengecualian hanya karena seseorang sedang menangis.”Cynthia membeku.“Tidak...”Ia menatap Leli. Kemudian menatap para pengawal.
Senyum dingin perlahan terukir di wajah anggun Martha.Ia mengangkat satu tangan.Gerakannya begitu sederhana, bahkan nyaris lembut. Namun, seluruh pengawal pribadi keluarga Dominic langsung memahami perintah tersebut.“Siapkan cambuk sekarang.”Suara Martha terdengar tenang.Justru ketenangan itulah yang membuat seluruh ballroom seakan membeku.Tidak ada yang berani tertawa.Tidak ada yang berani berbisik terlalu keras.Bahkan para tamu yang sejak tadi menonton keributan itu kini menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.Di atas pelaminan, Liora mematung.Matanya berkaca-kaca.Ia menatap wanita yang baru pertama kali ditemuinya hari itu.Martha.Ibu dari pria yang kini menjadi suaminya.Ibu mertuanya.Wanita itu bahkan belum mengenalnya dengan baik. Mereka belum pernah berbincang sebelumnya. Namun, tanpa ragu sedikit pun, Martha berdiri paling depan untuk membelanya.Bukan sekadar membela.Martha bahkan berani berhadapan langsung dengan ibu kandung Liora di depan sel
Para petugas keamanan baru saja hendak memegang dan menyeret Leli, Cynthia, serta Rian keluar dari ballroom ketika sebuah suara wanita yang tenang, tetapi penuh tekanan, tiba-tiba menghentikan langkah mereka.“Tunggu. Jangan bawa mereka keluar dulu.”Sesosok wanita paruh baya melangkah mendekat. Ia tampak begitu cantik dan terawat. Kulit wajahnya kencang tanpa cela, sementara setiap gerakannya memancarkan keanggunan dan kelas yang sulit diabaikan.Di sampingnya berjalan seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan garis wajah tampan yang sangat mirip dengan Xavier.Para petugas keamanan seketika melepaskan pegangan mereka dan menunduk hormat.“Ternyata Anda, Nyonya Leli,” sapa wanita itu dengan suara lembut dan tata bahasa yang begitu halus khas kalangan atas. “Saya Martha. Dan ini suami saya, David Dominic—papinya Xavier.”Begitu mengetahui bahwa wanita di hadapannya adalah ibu kandung Xavier, Leli langsung mengembangkan senyum lebar.Dalam benaknya, rasa percaya diri kembali membum
Melihat situasi yang berjalan jauh dari skenario gilanya, kepanikan mendadak merayapi dada Cynthia. Namun, sebagai master manipulasi, ia dengan cepat mengontrol ekspresi wajahnya agar kepanikan itu tak kentara di mata publik.Dengan hembusan napas halus dan mata bergetar penuh rasa prihatin, Cynthia melangkah maju, memeluk bahu Leli yang masih membeku syok."Mami... tenang ya, Mi," bisik Cynthia dengan nada suara yang teramat lembut, seolah-olah ia adalah malaikat penolong di tengah kegelapan.Cynthia lalu berbalik menatap Martin. Wajahnya dipasang serapi mungkin—perpaduan antara kepedihan, kepatuhan, dan rasa cinta seorang anak yang ingin menyelamatkan keutuhan orang tuanya."Papi..." panggil Cynthia dengan nada memelas yang dirancang untuk mengetuk simpati siapa pun yang mendengar. "Tolong jangan emosi dulu, Pi. Mami melakukan ini semua cuma karena cemburu dan merasa diabaikan oleh Papi. Mami itu sangat mencintai Papi... Pria ini cuma luapan emosi sesaat Mami agar Papi mau memperhat
Leli mendadak terpaku. Awalnya ia berniat membuat seluruh tamu tahu akan "kebusukan" Martin, namun mengapa justru dirinya sendiri yang kini tersudut dan menjadi bahan cemoohan orang-orang?Dari pelaminan, Liora terdiam mematung menatap sosok ibu kandungnya yang sibuk mempertontonkan kemesraan murahan bersama pria sewaan. Pandangannya perlahan beralih ke arah Martin. Rasa kasihan dan iba menyayat hatinya melihat sang ayah dipojokkan dan dipermalukan secara terbuka di hari bahagianya.Xavier yang berdiri di samping Liora menggenggam erat jemari mungil istrinya, mengusapnya lembut dengan ibu jari untuk menyalurkan ketenangan."Aku tidak menyangka... ibumu berani berbuat sekotor ini di depan umum," bisik Xavier dengan nada dingin yang sarat akan kekecewaan mendalam.Meskipun Xavier sudah memprediksi bahwa Leli akan bertindak gila, tetap saja ia terkejut melihat kenekatannya. Sebagai seorang pria, Xavier tahu betul bahwa saat ini harga diri Martin sebagai kepala keluarga telah diinjak-inja
John berdiri tepat di belakang Xavier, menundukkan kepalanya sedikit lalu berbisik pelan."Bos, apa Anda tidak ingin membuka kedok Nyonya Leli dan Nona Cynthia di sini?" tanya John dengan raut wajah serius.Xavier menggelengkan kepalanya pelan. Manik mata elangnya menatap lembut ke arah Liora yang sedang tersenyum manis menyapa para tamu di sampingnya."Ini adalah pesta pernikahanku dan Liora," sahut Xavier dingin namun tegas. "Aku tidak mau hari bahagia kami rusak hanya karena sampah seperti mereka. Semuanya sudah kuatur pada waktu yang tepat."John mengangguk paham. "Baik, Bos." Sebagai orang yang sangat mengenal Xavier, ia tahu betul betapa terukurnya jalan pikiran bos besarnya itu.Begitu John mundur beberapa langkah, Xavier menggeser duduknya makin rapat ke arah Liora. Dikelilingi kemewahan panggung pelaminan, wajah yang biasanya selalu dihiasi tatapan dingin nan membekukan itu kini tampak begitu hangat dan penuh pendar kebahagiaan.Xavier meraih jemari mungil Liora, menggenggamn
Liora melangkah kembali ke ruang makan dengan penampilan yang jauh lebih segar. Gaun berpotongan anggun pemberian Dion semalam kini melekat pas di tubuhnya. Liora sengaja memakainya pagi ini bukan karena ia mendadak menyayangi kakaknya, melainkan sebagai bentuk apresiasi atas kepedulian Dion yang
Seketika itu juga, hawa di dalam mobil mendadak turun drastis menjadi sedingin es.Xavier melirik spion tengah dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. "Jika kau tertawa sekali lagi, bonus tahunanmu akan aku potong habis!"Satu kalimat ancaman itu meluncur dengan nada sangat datar, namun efeknya
Ada perubahan kecil di mata Dion.Hanya sesaat.Namun Liora melihatnya.Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan tenang di kursi belakang.Pintu tertutup.Mesin menyala.Mobil mulai bergerak.Liora menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela.Cahaya pagi masuk melalui k
"Sayang, ayo kita pulang."Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora.Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya.Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud.Namun,







