Masuk
"Sayang, ayo kita pulang."
Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora. Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya. Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud. Namun, ia hanya terdiam. Tatapannya perlahan beralih ke wanita tua yang berdiri di depan pintu. Selama dua belas tahun, Bibi Nina-lah yang merawatnya. Dua belas tahun yang lalu, saat Liora masih berusia lima tahun, ia tidak sengaja melakukan kesalahan terhadap kakaknya. Seluruh anggota keluarga marah dan berniat mengirimnya ke panti asuhan. Namun, Bibi Nina menjadi satu-satunya orang yang membelanya. Wanita yang telah merawat Liora sejak bayi itu memohon agar ia tidak dibuang. Ia bersedia membawa Liora ke desanya dan mendidiknya sendiri. Dan benar saja, Bibi Nina berhasil. Liora tumbuh menjadi siswa berprestasi. Ia telah lulus ujian sekolah dengan nilai tertinggi di negara itu, dan kini hanya tinggal menunggu pengumuman masuk universitas melalui jalur prestasi. Wajah wanita tua itu kini tampak sangat sedih. Isak tangisnya terdengar jelas, tak tertahan. Liora menatap ibunya, Nyonya Lely. "Aku tidak mau pulang. Aku mau tetap di sini bersama Bibi Nina." "Sayang, Bibi Nina juga ikut. Nanti beliau akan dijemput oleh sopir keluarga. Jadi kamu tidak perlu cemas. Semua barangmu juga akan dibawa," ujar Lely lembut, seraya mengusap rambut hitam Liora. Liora tersenyum dan mengangguk. Ia mempercayai sepenuhnya kata-kata wanita yang telah melahirkannya. Saat berpamitan, Bibi Nina tampak tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk Liora erat, seolah tak ingin melepaskannya. Liora tersenyum sambil mengusap air mata di wajah keriput itu. "Akhirnya kita bisa hidup enak, Bi. Nanti setelah kuliah, aku akan cari kerja paruh waktu. Di kota banyak pekerjaan, tidak seperti di desa. Aku ingin membiayai hidup Bibi." Tangis Bibi Nina semakin pecah. "Bibi tidak mau..." "Bibi sudah tua, tidak boleh bekerja terlalu keras lagi. Aku pulang dulu, ya. Nanti sopir Mami akan menjemput Bibi." Itulah kenangan terakhir Liora bersama Bibi Nina. Setelah hari itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan wanita yang telah merawatnya dengan penuh kasih. Padahal, mereka pernah berjanji akan membuat hidup Bibi Nina bahagia—memberinya kehidupan yang layak, tempat tinggal yang nyaman, dan hari tua yang tenang. Dua tahun berlalu . Liora berada di dalam tahanan. Tempat yang seharusnya mampu menghancurkan seseorang. Namun Liora… masih tetap bertahan di sana. Duduk di sudut sel sempit, bersandar pada dinding dingin yang kasar, dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya. Tangannya bergerak pelan. Menulis. Buku-buku dan peralatan tulis ini dikirim oleh bibi Nina. Wanita itu tahu bahwa Liora sangat suka menulis dan membaca. Coretan demi coretan memenuhi halaman itu—rumus, skema, angka, dan simbol yang tampak rumit. Tidak semua orang akan mengerti apa yang ia tulis. Liora berhenti. Menatap hasilnya beberapa detik. Lalu menutup buku itu perlahan. Langkah kaki terdengar dari lorong. Berat. Teratur. Namun Liora tidak menoleh. Seolah suara itu tidak ada hubungan dengan dirinya. Sampai akhirnya, pintu besi di depannya terbuka dengan bunyi gesekan yang nyaring. “Kau bebas.” Suara sipir terdengar datar. Tanpa emosi. Liora diam memandang wanita bertubuh tegap tersebut. Namun tubuhnya tidak bergerak. “Keluargamu sudah menunggu di luar.” Keluarga? Keluarga yang mana? Liora bahkan sampai lupa, jika masih memiliki keluarga. “Aku masih punya lima tahun lagi untuk tetap di sini,” ucapnya datar. “Hukumanku tujuh tahun.” Sipir itu mendengus pelan. Ketika melihat Liora yang tidak menunjukkan reaksi apa pun. Bukankah kebebasan, menjadi impian semua narapidana? “Kau berperilaku baik selama di dalam tahanan. Keluarga korban juga mencabut tuntutan.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan— “Dan keluargamu… mengurus sisanya.” Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Liora. Liora tersenyum samar. Jika mereka bisa membebaskannya dengan uang, mengapa tidak melakukannya sejak dua tahun lalu? Mengapa membiarkannya menderita di tempat ini? Jika bukan karena ancaman itu, ia tidak akan pernah berakhir di balik jeruji besi. Tak banyak barang yang ia bawa. Hanya beberapa buku-buku hasil karyanya selama berada di dalam tahanan. Ia lalu mengganti pakaiannya dengan baju baru yang dikirim Bibi Nina dari desa. Dalam suratnya, Bibi Nina menulis bahwa ia sengaja mengirimkan pakaian itu, meskipun tidak tahu kapan Liora bisa memakainya. Ia juga menyelipkan makanan sederhana yang dulu sering Liora santap di desa… serta sejumlah uang yang tak seberapa. Liora menahan napas saat mengenakan pakaian itu. Baju murah, namun pas di tubuhnya yang kini jauh lebih kurus. Dadanya berdenyut nyeri. Setelah selesai, ia melangkah keluar dari sel. Langkahnya tenang. Terlalu tenang… untuk seseorang yang baru saja mendapatkan kebebasan. Lorong panjang itu sunyi. Hanya gema langkah kakinya yang terdengar. Pintu utama terbuka. Cahaya dari luar menyilaukan. Liora menyipitkan mata. Dan di sana— seseorang telah menunggu. Seorang pria bersandar santai di dekat mobil hitam mengilap. Dion. Kakak kandungnya. Ia tak banyak berubah. Masih rapi, tenang… dan terasa begitu jauh. Tatapannya jatuh pada Liora. Dion menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Bagaimana hari-harimu, apa sudah puas bermain-main?" "Apa menurut mu, didalam itu arena bermain?" Liora berkata sambil memandang Dion. Dion tidak menyangka Liora akan menjawab seperti ini. "Jika di dalam, tempat bermain, lalu kenapa kalian tidak membiarkan Cintya untuk masuk kedalam? Bahkan kalian sangat takut jika adik kesayangan mu yang lemah itu bisa mati di dalam sini." Wajah Dion merah padam mendengar ucapan Liora. "Kau!!" Liora kemudian tersenyum. “Lebih tenang di sana,” jawabnya pelan. “Tidak ada orang munafik, tidak ada orang tua berhati iblis dan saudara menjijikkan seperti kau.” Wajah Dion benar-benar menegang dan memerah. Namun ia tidak membalas. Ia hanya berkata satu kalimat, namun adiknya itu menjawab dengan sangat panjang. “Masuk,” katanya singkat, membuka pintu mobil. Liora tidak langsung bergerak. Tatapannya masih tertuju pada pria itu. “Kenapa sekarang?” tanyanya. Sederhana. Tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa lebih berat. Dion menghela napas pendek. “Papi dan Mami menunggumu.” Liora tertawa pelan. Suara itu rendah. Nyaris tidak terdengar. “Lucu.” Ia melangkah mendekat. “Dua tahun,” ucapnya. “Tidak ada kabar. Tidak ada kunjungan.” Ia berhenti tepat di depan Dion. Menatapnya lurus. “Aku pikir, keluarga ku sudah mati semua. Namun sekarang… tiba-tiba kalian muncul kembali dan menungguku?” Dion tidak langsung menjawab. Pria itu terlihat sedang berusaha untuk bersabar. Melihat diamnya… sudah cukup. Liora mengangguk pelan. Seolah mengerti. “Atau…” lanjutnya, suaranya tetap tenang, “kalian butuh sesuatu dariku lagi?”Selama ini, Leli menganggap sikap tersebut sebagai bukti bahwa Verdy sangat mencintainya dan ingin melindungi hubungan mereka.Ternyata, semua itu mungkin hanya alasan.“Selama bertahun-tahun,” lanjut Marlina, “Anda tidak pernah berhenti memberikan uang kepada suami saya. Uang yang seharusnya bisa Anda gunakan untuk diri sendiri justru Anda serahkan kepadanya.”Wajah Leli memucat.“Jangan bilang begitu. Saya memberikan uang itu karena saya mencintainya.”“Dan saya berterima kasih untuk itu.”Leli membelalakkan mata.“Apa?”“Terima kasih karena Anda sudah membantu keluarga kami melewati masa-masa sulit. Bisnis keluarga kami pernah mengalami kehancuran. Namun, berkat uang yang diberikan untuk Verdy, keadaan kami perlahan membaik. Sekarang kehidupan kami sudah jauh lebih baik.”Marlina berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada ringan.“Jadi, sekali lagi, terima kasih, Nyonya Leli.”Tubuh Leli terasa lemas.Ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Selama ini, ia
Setelah berulang kali mencoba mencari cara untuk menghubunginya, Leli akhirnya mendapatkan kesempatan menelepon Verdy, pria yang selama puluhan tahun menjadi kekasih gelapnya.Kerinduan yang terpendam membuatnya tidak sabar menunggu. Lebih dari itu, Leli ingin mengadukan semua masalah yang sedang dihadapinya. Ia berharap Verdy segera turun tangan untuk membebaskannya dan Cynthia dari kesulitan yang mereka alami.Bukankah selama ini pria itu selalu mengatakan bahwa dirinya mencintainya?Leli yakin Verdy tidak akan tinggal diam melihatnya menderita.Nomor yang dihubunginya akhirnya tersambung.“Halo?”Namun, suara yang terdengar dari seberang bukanlah suara laki-laki yang begitu dikenalnya, melainkan suara seorang perempuan.Leli mengerutkan kening. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu memeriksa nomor yang tertera di layar. Setelah memastikan bahwa nomor itu benar, ia kembali menempelkannya ke telinga.“Halo, maaf. Apa benar ini nomor telepon Verdy?”“Benar. Anda siapa? Ada perlu
Liora mengangguk pelan. Ia tidak terkejut mendengar keputusan itu. Setelah semua kebohongan dan perselingkuhan yang terungkap, pernikahan Martin dan Leli memang sulit dipertahankan.Namun, tiba-tiba sebuah nama melintas di benaknya.“Aku juga melihat Tante Devi sangat perhatian kepada Papi.”Martin langsung terbatuk kecil.Wajahnya memerah, bahkan sampai ke telinga.“Kenapa tiba-tiba membicarakan Devi?” protesnya. “Kami hanya rekan bisnis.”Liora menatap ayahnya dengan wajah polos.“Memangnya aku mengatakan apa-apa?”“Kamu jelas-jelas sedang menggoda Papi!”“Aku hanya mengatakan bahwa Tante Devi perhatian. Itu fakta, kan?”Martin membuka mulut, tetapi tidak segera menemukan jawaban.Xavier akhirnya tertawa kecil melihat tingkah mertuanya. Liora memang memiliki bakat untuk membuat orang lain kehilangan kata-kata hanya dengan beberapa kalimat sederhana.“Pokoknya, hubungan kami hanya sebatas rekan bisnis,” tegas Martin, berusaha mengembalikan wibawanya.Liora mengangguk patuh.“Baiklah,
Xavier benar-benar menepati janjinya. Begitu urusannya dengan klien penting selesai, pria itu langsung menuju rumah Bibi Nina untuk menemui Liora.“Sayang.”Suara lembut Xavier terdengar begitu ia memasuki rumah. Pria itu menghampiri istrinya, lalu duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan Liora.Liora tersenyum menatap suaminya. “Kamu tidak kembali ke kantor?”Xavier menggeleng. “Tidak. Aku sudah menyelesaikan urusanku. Lagi pula, dalam keadaan seperti ini, aku ingin menemanimu.”Liora membalas genggaman tangan suaminya. Ada kehangatan yang selalu membuatnya merasa tenang setiap kali Xavier berada di dekatnya.“Aku ingin mengunjungi Papi di rumah tahanan,” ujar Liora kemudian.Xavier mengangguk tanpa ragu. “Ayo. Kita berangkat sekarang.”“Awalnya Kak Leon dan Kak Deon juga ingin ikut. Namun, mereka masih punya urusan yang harus diselesaikan di kantor.” Liora menghela napas kecil. “Tidak apa-apa. Sekarang ada kamu yang menemaniku.”“Aku akan selalu menemanimu,” jawab Xavier.Liora
Setelah makan siang selesai, Bibi Nina mulai membereskan meja bersama para asisten rumah tangga. Liora hendak membantunya, tetapi wanita itu langsung menyuruhnya duduk.“Kamu duduk saja. Baru pulang jauh-jauh, masa langsung disuruh bekerja?”“Tapi, Bi, aku bisa membantu.”“Tidak perlu. Temani kakak-kakak mu saja.”Liora akhirnya menurut. Dia kembali ke ruang keluarga bersama kedua kakaknya.Awalnya, percakapan mereka masih santai. Deon sempat melontarkan satu atau dua lelucon, tetapi kali ini Leon tidak menanggapinya dengan tawa seperti tadi.Pria itu justru menatap Liora cukup lama.“Liora, ada sesuatu yang harus kita bicarakan.”Senyum di wajah Liora perlahan memudar.Dia mengamati ekspresi Leon, lalu beralih kepada Deon yang kini duduk lebih tenang dari biasanya.“Ada apa, Kak?”Leon menarik napas sebelum menjawab.“Ini tentang Papi.”Liora langsung menegakkan punggungnya. Dia ingin mendengar penjelasan lengkap dari keluarganya, bukan sekadar membaca pesan singkat atau menerima jaw
“Bi, nanti coba, ya. Aku ingin melihatnya.” “Sekarang?” “Iya!” Deon langsung menyela, “Kalau begitu, aku juga ingin melihatnya. Siapa tahu setelah ini Bibi Nina terlihat seperti artis terkenal.” Bibi Nina menatapnya tajam. “Kamu mau makan siang atau mau Bibi usir?” Deon segera mengangkat kedua tangan. “Baik, baik. Aku diam.” Leon tertawa kecil, sementara Liora merangkul Bibi Nina dengan wajah puas. Beberapa saat kemudian, Liora menyampaikan sesuatu yang sejak tadi sudah ingin dikatakannya. “Bi, musim panas nanti ikut aku ke Prancis, ya.” Bibi Nina mengerjap. “Ke Prancis?” Liora mengangguk penuh semangat. “Iya! Aku ingin mengajak Bibi jalan-jalan ke sana. Nanti kita mengunjungi tempat-tempat yang belum sempat aku datangi. Aku juga ingin menunjukkan tempat-tempat indah yang kemarin aku ceritakan.” Bibi Nina tersenyum, tetapi keraguan terlihat di wajahnya. “Bibi ini sudah tidak muda lagi, Liora. Perjalanan sejauh itu melelahkan. Belum lagi cuaca di sana.” “Aku sudah memi
Ruangan itu masih dipenuhi sisa tangis Cynthia.Namun Liora sudah tidak lagi memperhatikan.Tatapannya beralih ke Martin.Tatapan itu dingin dan tenang.Seolah semua emosi tadi… tidak pernah menyentuhnya."Apa, kata Lely?" “Aku setuju.”Kalimat itu keluar begitu saja.Membuat semua orang terdiam.
"Tunangan?" "Iya sayang," jawab Lely lembut.“Ada sebuah keluarga." Martin diam sejenak. Berusaha menyusun kata -demi kata. "Ada keluarga yang sangat berpengaruh di kota ini.”Liora tidak menyela.Hanya menatapnya.“Hubungan dengan mereka akan membawa banyak keuntungan bagi keluarga kita.”Kalima
Liora melangkah masuk ke dalam rumah.Langkahnya tenang.Namun tatapannya dingin.Matanya menyapu sekeliling rumah megah itu—lantai marmer yang berkilau, lampu gantung besar yang menggantung anggun, dan setiap sudut yang tampak sempurna tanpa cela.Dulu… ia pernah bermimpi bisa kembali ke tempat in
Ada perubahan kecil di mata Dion.Hanya sesaat.Namun Liora melihatnya.Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan tenang di kursi belakang.Pintu tertutup.Mesin menyala.Mobil mulai bergerak.Liora menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela.Cahaya pagi masuk melalui k







