Share

Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam
Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam
Penulis: Liazta

Bab 1

Penulis: Liazta
last update Tanggal publikasi: 2026-04-24 14:51:24

"Sayang, ayo kita pulang."

Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora.

Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya.

Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud.

Namun, ia hanya terdiam. Tatapannya perlahan beralih ke wanita tua yang berdiri di depan pintu.

Selama dua belas tahun, Bibi Nina-lah yang merawatnya.

Dua belas tahun yang lalu, saat Liora masih berusia lima tahun, ia tidak sengaja melakukan kesalahan terhadap kakaknya. Seluruh anggota keluarga marah dan berniat mengirimnya ke panti asuhan.

Namun, Bibi Nina menjadi satu-satunya orang yang membelanya. Wanita yang telah merawat Liora sejak bayi itu memohon agar ia tidak dibuang. Ia bersedia membawa Liora ke desanya dan mendidiknya sendiri.

Dan benar saja, Bibi Nina berhasil. Liora tumbuh menjadi siswa berprestasi. Ia telah lulus ujian sekolah dengan nilai tertinggi di negara itu, dan kini hanya tinggal menunggu pengumuman masuk universitas melalui jalur prestasi.

Wajah wanita tua itu kini tampak sangat sedih. Isak tangisnya terdengar jelas, tak tertahan.

Liora menatap ibunya, Nyonya Lely.

"Aku tidak mau pulang. Aku mau tetap di sini bersama Bibi Nina."

"Sayang, Bibi Nina juga ikut. Nanti beliau akan dijemput oleh sopir keluarga. Jadi kamu tidak perlu cemas. Semua barangmu juga akan dibawa," ujar Lely lembut, seraya mengusap rambut hitam Liora.

Liora tersenyum dan mengangguk. Ia mempercayai sepenuhnya kata-kata wanita yang telah melahirkannya.

Saat berpamitan, Bibi Nina tampak tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk Liora erat, seolah tak ingin melepaskannya.

Liora tersenyum sambil mengusap air mata di wajah keriput itu.

"Akhirnya kita bisa hidup enak, Bi. Nanti setelah kuliah, aku akan cari kerja paruh waktu. Di kota banyak pekerjaan, tidak seperti di desa. Aku ingin membiayai hidup Bibi."

Tangis Bibi Nina semakin pecah.

"Bibi tidak mau..."

"Bibi sudah tua, tidak boleh bekerja terlalu keras lagi. Aku pulang dulu, ya. Nanti sopir Mami akan menjemput Bibi."

Itulah kenangan terakhir Liora bersama Bibi Nina.

Setelah hari itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan wanita yang telah merawatnya dengan penuh kasih.

Padahal, mereka pernah berjanji akan membuat hidup Bibi Nina bahagia—memberinya kehidupan yang layak, tempat tinggal yang nyaman, dan hari tua yang tenang.

Dua tahun berlalu .

Liora berada di dalam tahanan. Tempat yang seharusnya mampu menghancurkan seseorang.

Namun Liora… masih tetap bertahan di sana.

Duduk di sudut sel sempit, bersandar pada dinding dingin yang kasar, dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya.

Tangannya bergerak pelan.

Menulis.

Buku-buku dan peralatan tulis ini dikirim oleh bibi Nina. Wanita itu tahu bahwa Liora sangat suka menulis dan membaca.

Coretan demi coretan memenuhi halaman itu—rumus, skema, angka, dan simbol yang tampak rumit. Tidak semua orang akan mengerti apa yang ia tulis.

Liora berhenti.

Menatap hasilnya beberapa detik.

Lalu menutup buku itu perlahan.

Langkah kaki terdengar dari lorong.

Berat. Teratur.

Namun Liora tidak menoleh.

Seolah suara itu tidak ada hubungan dengan dirinya.

Sampai akhirnya, pintu besi di depannya terbuka dengan bunyi gesekan yang nyaring.

“Kau bebas.”

Suara sipir terdengar datar.

Tanpa emosi.

Liora diam memandang wanita bertubuh tegap tersebut. Namun tubuhnya tidak bergerak.

“Keluargamu sudah menunggu di luar.”

Keluarga?

Keluarga yang mana?

Liora bahkan sampai lupa, jika masih memiliki keluarga.

“Aku masih punya lima tahun lagi untuk tetap di sini,” ucapnya datar. “Hukumanku tujuh tahun.”

Sipir itu mendengus pelan. Ketika melihat Liora yang tidak menunjukkan reaksi apa pun.

Bukankah kebebasan, menjadi impian semua narapidana?

“Kau berperilaku baik selama di dalam tahanan. Keluarga korban juga mencabut tuntutan.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan—

“Dan keluargamu… mengurus sisanya.”

Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Liora.

Liora tersenyum samar.

Jika mereka bisa membebaskannya dengan uang, mengapa tidak melakukannya sejak dua tahun lalu? Mengapa membiarkannya menderita di tempat ini?

Jika bukan karena ancaman itu, ia tidak akan pernah berakhir di balik jeruji besi.

Tak banyak barang yang ia bawa. Hanya beberapa buku-buku hasil karyanya selama berada di dalam tahanan.

Ia lalu mengganti pakaiannya dengan baju baru yang dikirim Bibi Nina dari desa.

Dalam suratnya, Bibi Nina menulis bahwa ia sengaja mengirimkan pakaian itu, meskipun tidak tahu kapan Liora bisa memakainya. Ia juga menyelipkan makanan sederhana yang dulu sering Liora santap di desa… serta sejumlah uang yang tak seberapa.

Liora menahan napas saat mengenakan pakaian itu.

Baju murah, namun pas di tubuhnya yang kini jauh lebih kurus.

Dadanya berdenyut nyeri.

Setelah selesai, ia melangkah keluar dari sel.

Langkahnya tenang.

Terlalu tenang… untuk seseorang yang baru saja mendapatkan kebebasan.

Lorong panjang itu sunyi.

Hanya gema langkah kakinya yang terdengar.

Pintu utama terbuka.

Cahaya dari luar menyilaukan.

Liora menyipitkan mata.

Dan di sana—

seseorang telah menunggu.

Seorang pria bersandar santai di dekat mobil hitam mengilap.

Dion.

Kakak kandungnya.

Ia tak banyak berubah. Masih rapi, tenang… dan terasa begitu jauh.

Tatapannya jatuh pada Liora.

Dion menatapnya, lalu tersenyum tipis.

"Bagaimana hari-harimu, apa sudah puas bermain-main?"

"Apa menurut mu, didalam itu arena bermain?" Liora berkata sambil memandang Dion.

Dion tidak menyangka Liora akan menjawab seperti ini.

"Jika di dalam, tempat bermain, lalu kenapa kalian tidak membiarkan Cintya untuk masuk kedalam? Bahkan kalian sangat takut jika adik kesayangan mu yang lemah itu bisa mati di dalam sini."

Wajah Dion merah padam mendengar ucapan Liora.

"Kau!!"

Liora kemudian tersenyum.

“Lebih tenang di sana,” jawabnya pelan. “Tidak ada orang munafik, tidak ada orang tua berhati iblis dan saudara menjijikkan seperti kau.”

Wajah Dion benar-benar menegang dan memerah. Namun ia tidak membalas. Ia hanya berkata satu kalimat, namun adiknya itu menjawab dengan sangat panjang.

“Masuk,” katanya singkat, membuka pintu mobil.

Liora tidak langsung bergerak.

Tatapannya masih tertuju pada pria itu.

“Kenapa sekarang?” tanyanya.

Sederhana.

Tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa lebih berat.

Dion menghela napas pendek.

“Papi dan Mami menunggumu.”

Liora tertawa pelan.

Suara itu rendah.

Nyaris tidak terdengar.

“Lucu.”

Ia melangkah mendekat.

“Dua tahun,” ucapnya. “Tidak ada kabar. Tidak ada kunjungan.”

Ia berhenti tepat di depan Dion.

Menatapnya lurus.

“Aku pikir, keluarga ku sudah mati semua. Namun sekarang… tiba-tiba kalian muncul kembali dan menungguku?”

Dion tidak langsung menjawab. Pria itu terlihat sedang berusaha untuk bersabar.

Melihat diamnya… sudah cukup.

Liora mengangguk pelan.

Seolah mengerti.

“Atau…” lanjutnya, suaranya tetap tenang, “kalian butuh sesuatu dariku lagi?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Den'Baraka Putra Panjalu
dracin. bget,.......
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 321

    “Cepat pergi, Mami,” ujar Cynthia sambil mendorong pelan bahu ibunya. “Jangan biarkan Papi menunggu.”Leli merapikan rambutnya secara refleks. Meskipun hanya mengenakan pakaian tahanan, ia masih berusaha terlihat anggun.Dengan langkah cepat, ia mengikuti sipir menuju ruang kunjungan.Namun, begitu pintu ruang kunjungan terbuka, langkah Leli mendadak terhenti.Bukan Martin yang berdiri di sana.Seorang pria berjas hitam duduk tenang di balik meja.Leli mengenal pria itu.“Pengacara Kevin?”Senyumnya langsung kembali.“Oh, ternyata Anda.”Leli berjalan mendekat dengan wajah lega.“Syukurlah Anda datang. Saya sudah menunggu bantuan dari keluarga. Bagaimana keadaan Martin? Apakah dia sudah menemukan cara untuk mengeluarkan kami?”Pengacara Kevin menatapnya beberapa detik.Tidak ada senyum.Tidak ada sapaan hangat.Tatapannya justru membuat senyum Leli perlahan menghilang.“Nyonya Leli,” katanya tenang, “saya datang atas permintaan Tuan Martin.”“Martin?”Leli kembali tersenyum.“Benar. K

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 320

    Satu bulan berada di Prancis akhirnya membuat Liora mulai merindukan keluarganya di Indonesia.Pagi itu, ia duduk di sofa kamar hotel sambil memandangi foto-foto yang tersimpan di ponselnya. Ada foto bersama Xavier, foto Menara Eiffel, salju pertama yang begitu ia nantikan, hingga foto-foto kecil yang diam-diam diambil Xavier saat dirinya sedang tertawa.Namun entah mengapa, pagi ini semua foto itu justru membuatnya semakin ingin pulang.Xavier yang baru keluar dari kamar mandi memperhatikan perubahan ekspresi istrinya.Ia duduk di samping Liora dan menyentuh lembut kepalanya."Ada apa?"Liora mengembuskan napas pelan."Aku rindu Bibi Nina."Xavier tersenyum."Kalau begitu, telepon saja."Liora langsung mengangguk."Aku juga rindu Kak Leon, Kak Deon, dan Papi."Jarinya segera mencari nomor Bibi Nina.Panggilan baru berdering beberapa detik ketika suara wanita yang begitu akrab di telinganya terdengar dari seberang."Halo, Liora. Bagaimana keadaanmu di sana? Bulan madunya menyenangkan?

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 319

    Deon tidak mengatakan apa-apa.Ia hanya membiarkan ayahnya berbicara.Mungkin memang itu yang dibutuhkan Martin sekarang.Bukan nasihat.Bukan pembelaan.Hanya seseorang yang mau mendengarkan."Dia benar-benar menjadikan Papi bahan tertawaan selama dua puluh lima tahun."Martin mengusap matanya."Dan Papi bahkan tidak pernah tahu."Beberapa detik berlalu dalam keheningan.Kemudian Leon berkata hati-hati, "Kalau Papi ingin keluar dari sini, kami akan berusaha mencari jalan agar hukuman Papi bisa diringankan."Martin mengusap wajahnya yang masih basah oleh air mata. Setelah beberapa saat terdiam, tiba-tiba ia mengangkat kepala dan menatap kedua putranya dengan sangat serius."Kalau Papi bercerai dengan Mami kalian..." Martin berhenti sejenak. "Kalian ikut siapa?"Leon dan Deon saling pandang. Mereka tidak percaya bahwa Martin akan menanyakan hal ini.----Hening.Deon mengedipkan mata beberapa kali, seolah sedang memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.Kemudian sudut bibirnya perlaha

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 318

    Satu minggu telah berlalu sejak Martin mengetahui kenyataan pahit tentang mantan istrinya.Tiga puluh tahun pernikahan.Dua puluh lima tahun pengkhianatan.Angka-angka itu terus berputar di kepalanya seperti pisau yang tak pernah berhenti mengiris luka.Sejak mengetahui semuanya, Martin berubah drastis. Pria yang biasanya selalu menjaga penampilannya kini lebih sering duduk termenung dengan wajah pucat. Makan pun hampir tidak pernah disentuh.Nasi yang biasanya terasa biasa saja kini seperti duri yang tersangkut di tenggorokannya.Martin meletakkan sendoknya, lalu menundukkan kepala."Di mana letak kekuranganku sampai kau tega melakukan ini kepadaku, Leli?"Suaranya bergetar."Selama puluhan tahun... apa yang kurang dariku?"Tidak ada jawaban.Hanya keheningan kamar tahanan yang semakin menyesakkan."Aku membesarkan anak hasil pengkhianatan kalian dengan tanganku sendiri..."Air mata menggenang di pelupuk mata Martin."Aku menyayanginya. Aku membanggakannya. Aku bahkan menjadikan dia

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 317

    Tatapan Liora melembut mendalam. Rona menggoda di wajahnya berubah menjadi binar keharuan yang hangat."Xavier...""Hm?""Terima kasih, ya."Xavier menatapnya lekat. "Untuk apa?""Untuk segalanya. Sudah membawaku ke Paris, mewujudkan impianku..." Liora kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap butiran salju yang terus menari. "Dulu... aku cuma bisa memimpikan Paris dari lembaran majalah atau layar kaca. Aku tidak pernah membayangkan suatu hari nanti aku bisa duduk santai di kafe cantik seperti ini, menikmati cokelat panas sambil memandangi salju..."Ia kembali menoleh pada Xavier, tersenyum begitu tulus. "Apalagi menikmatinya bersama pria luar biasa yang menjadi suamiku."Xavier tidak langsung menyahut. Ia mengulurkan telapak tangannya yang hangat di atas meja. Liora menatap uluran tangan itu sejenak, lalu menyambutnya, membiarkan jemari mereka saling bertaut erat. Xavier mengusap lembut punggung tangan istrinya menggunakan ibu jari."Kalau begitu, ini baru awal. Janga

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 316

    Liora duduk nyaman di balik kaca besar sebuah kafe berkonsep klasik di sudut kota Paris.Di luar, hamparan salju tipis perlahan menutupi lanskap kota. Atap-atap bangunan berarsitektur gaya Eropa tampak memutih anggun, sementara para pejalan kaki melintas dengan mantel tebal. Suara halus kendaraan yang merayap di jalanan basah menambah syahdunya suasana musim dingin.Liora menopang dagunya dengan sebelah tangan. Sepasang mata beningnya tak henti-hentinya memancar bahagia saat memandangi butiran es yang berjatuhan."Indah sekali..." gumamnya lirih, napasnya membentuk uap tipis di permukaan kaca yang dingin.Di hadapannya, secangkir cokelat panas kental masih menguapkan aroma manis yang menggugah selera. Di samping cangkir tersebut, sepotong croissant rasa cokelat yang renyah telah dinikmatinya sedikit demi sedikit.Xavier duduk tenang di seberang meja. Namun alih-alih menyesap pemandangan Paris yang tersohor itu, sepasang mata tajam milik pria itu justru sepenuhnya terkunci pada paras m

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 6

    “Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke da

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 5

    Ruangan itu masih dipenuhi sisa tangis Cynthia.Namun Liora sudah tidak lagi memperhatikan.Tatapannya beralih ke Martin.Tatapan itu dingin dan tenang.Seolah semua emosi tadi… tidak pernah menyentuhnya."Apa, kata Lely?" “Aku setuju.”Kalimat itu keluar begitu saja.Membuat semua orang terdiam.

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 4

    "Tunangan?" "Iya sayang," jawab Lely lembut.“Ada sebuah keluarga." Martin diam sejenak. Berusaha menyusun kata -demi kata. "Ada keluarga yang sangat berpengaruh di kota ini.”Liora tidak menyela.Hanya menatapnya.“Hubungan dengan mereka akan membawa banyak keuntungan bagi keluarga kita.”Kalima

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 3

    Liora melangkah masuk ke dalam rumah.Langkahnya tenang.Namun tatapannya dingin.Matanya menyapu sekeliling rumah megah itu—lantai marmer yang berkilau, lampu gantung besar yang menggantung anggun, dan setiap sudut yang tampak sempurna tanpa cela.Dulu… ia pernah bermimpi bisa kembali ke tempat in

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status