Share

Bab 2

Author: Liazta
last update publish date: 2026-04-24 14:52:29

Ada perubahan kecil di mata Dion.

Hanya sesaat.

Namun Liora melihatnya.

Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan tenang di kursi belakang.

Pintu tertutup.

Mesin menyala.

Mobil mulai bergerak.

Liora menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela.

Cahaya pagi masuk melalui kaca mobil. Matahari belum terlalu tinggi, namun cukup terang untuk memperlihatkan wajah kota yang sibuk. Jalanan sudah ramai, kendaraan berlalu-lalang, dan gedung-gedung tinggi berdiri angkuh di bawah langit yang cerah.

Dulu, saat masih kecil, kota ini terasa sangat indah baginya.

Terutama saat melihat bangunan-bangunan tinggi yang menjulang.

Duduk di kursi penumpang sambil menatap keluar jendela… itu adalah kebiasaan yang ia sukai.

Namun sekarang, semuanya terasa berbeda.

Yang ia rindukan justru desa kecil… tempat ia hidup berdua dengan Bibi Nina.

“Kebebasan…” gumamnya pelan.

Senyumnya tipis, hampir tak terlihat.

Kebebasan yang aku inginkan… hidup sederhana bersama Bibi Nina, batinnya.

Mobil melaju mulus di jalan raya.

Suasana di dalamnya sunyi.

Hanya alunan musik pelan yang mengisi ruang.

Liora tetap diam, menatap ke luar jendela.

Gedung-gedung tinggi, jalanan padat, dan aktivitas pagi yang sibuk berlalu cepat di hadapannya. Namun semuanya terasa asing.

Sudah dua tahun.

Dan dunia… tidak pernah menunggunya.

“Kau banyak berubah.”

Suara Dion terdengar dari depan.

Liora tidak langsung menoleh.

“Aku berubah?” jawabnya singkat.

Nada suaranya datar. Tanpa emosi.

Dion terdiam.

Tangannya tetap di atas kemudi, namun tatapannya sesekali jatuh ke kaca spion, memperhatikan Liora dari sana. Seolah mencoba membaca sesuatu yang tak bisa ia pahami.

“Di sana…” ia berhenti sejenak, “apa hari-harimu baik?”

Liora tersenyum tipis.

Pertanyaan yang datang terlambat.

“Kalau kalian tidak memasukkan aku ke tempat itu…” ucapnya pelan, lalu terhenti sejenak, “…aku tidak akan pernah tahu seberapa kejamnya—”

Ia berhenti.

Dion mengernyit, namun tidak menyela.

“…keluargaku sendiri.”

Hening.

“Tidak apa,” lanjut Liora pelan. “Aku sudah banyak belajar di dalam sana.”

Kalimat itu tajam. Langsung menusuk.

Mobil kembali dipenuhi keheningan.

Beberapa detik berlalu.

“Liora.”

Nada suara Dion berubah. Lebih serius.

“Apa pun yang terjadi dulu—”

“Aku tidak tertarik membahas masa lalu.”

Liora memotong cepat.

Dion terdiam.

Untuk sesaat, ia kehilangan kata-kata.

Liora kembali menatap ke luar jendela.

“Langsung saja ke tujuan,” ucapnya tenang. “Kalian tidak mungkin menjemputku hanya untuk berbasa-basi.”

Sunyi.

“Mami dan papi ingin bertemu denganmu.”

Akhirnya Dion berbicara.

Liora hanya diam.

“Mereka merindukanmu.”

Liora menyandarkan kepalanya ke kursi. Menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali.

“Liora,” suara Dion terdengar lagi, lebih rendah, “setidaknya… bersikaplah baik di dalam.”

Kali ini, Liora menoleh.

Menatapnya melalui pantulan kaca spion.

“Seberapa baik?” tanyanya pelan.

Dion diam sejenak, lalu menjawab,

“Jadilah anak yang baik dan penurut.”

Liora tersenyum.

“Baik seperti dulu?” lanjutnya. “Atau cukup baik… untuk membuat mereka puas?”

“Ya, seperti dulu,” jawab Dion, sedikit menoleh.

Liora tertawa kecil. Dingin.

“Sejauh apa kau mengenal aku?” ucapnya pelan.

“Usia lima tahun… kalian sudah membuangku ke desa.”

“Itu karena kesalahanmu yang hampir membuat Cynthia mati!” potong Dion cepat.

Liora menatapnya tajam melalui kaca spion.

“Saat itu aku lima tahun,” ucapnya tenang.

“Cynthia sepuluh tahun.”

Ia tersenyum miring.

“Logikamu ke mana, Dion? Apa yang bisa dilakukan anak lima tahun?”

Dion terdiam sesaat, lalu berkata,

“Cynthia tidak mungkin bohong. Dia lemah… dan sering sakit.”

Senyum Liora semakin tipis.

Kenangan itu masih jelas. Hidungnya perih, dan rasanya sangat sakti. Ia mencoba untuk tidak bernapas, namun tidak bisa. Ia bernapas, yang masuk ke paru-paru justru air. Rasanya sangat sakti. Ia tenggelam dan berpikir akan mati.

Jika Bibi Nina tidak datang tepat waktu… mungkin ia sudah mati saat itu.

Namun yang diselamatkan—

yang diprioritaskan—

tetap Cynthia.

Padahal Cynthia tidak mengalami apa-apa.

Justru Liora yang paling parah.

Bahkan mereka sampai lupa, bahwa Cynthia pandai berenang sejak umur 6 tahun. Sedangkan Liora, tidak ada seorangpun yang mengajarinya berenang

Paru-parunya terendam air. Napasnya hampir berhenti.

Tapi perawatan intensif… tidak pernah diberikan padanya.

“Dua belas tahun aku di desa,” lanjut Liora pelan.

“Kalian menjemputku saat aku berusia tujuh belas tahun.”

Ia tertawa kecil. Hambar.

“Aku hanya tinggal menunggu kelulusan untuk masuk universitas dan kemudian kuliah… tapi kalian menghancurkan semuanya.”

Dion terdiam. Tak mampu membalas.

“Sekarang kau bilang aku berubah… dan ingin aku kembali seperti dulu?”

Liora menatapnya dingin.

“Apa kau waras?”

Tidak ada jawaban.

Mobil melambat.

Gerbang besar terbuka perlahan.

Mobil masuk ke halaman luas.

Bangunan megah itu berdiri di hadapan mereka.

Mobil berhenti.

Liora tidak langsung turun.

Tangannya menyentuh gagang pintu—lalu berhenti.

“Dion.”

Pria itu tidak menoleh.

“Kalau ini tentang pengorbanan lagi…”

Liora tersenyum tipis.

“…kali ini harganya mahal.”

Ia membuka pintu.

Dan melangkah keluar—

tanpa menunggu jawaban.

Dion hanya diam, menatapnya melalui kaca spion.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   BAB 227

    Liora bangkit perlahan setelah menyelesaikan sungkemannya kepada Bibi Nina.Matanya masih berkaca-kaca, tetapi ada ketenangan yang terpancar dari wajahnya.Bibi Nina menggenggam kedua tangan Liora erat-erat.“Jadilah istri yang baik, tetapi jangan pernah lupa menjadi dirimu sendiri,” ucapnya lembut.Liora mengangguk.“Iya, Bi.”Xavier yang berdiri di sampingnya kemudian meraih tangan Liora dan menggenggamnya dengan hangat.Pemandangan itu kembali mengundang senyum dari para tamu.Namun, tidak bagi Leli.Wanita itu masih berdiri di tempatnya dengan wajah tegang.Dadanya naik turun menahan amarah.Ia merasa seluruh harga dirinya telah diinjak-injak.Bukan hanya karena tidak mendapatkan kesempatan untuk menerima sungkeman dari putrinya.Tetapi karena semua orang di ruangan itu seolah-olah sedang menunjukkan kepadanya bahwa tempat yang dahulu ia miliki di hati Liora telah lama hilang.Dan yang lebih menyakitkan, tempat itu kini ditempati Bibi Nina.Wanita yang selalu ia anggap rendah.Lel

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   BAB 226

    Setelah prosesi akad dan doa selesai, suasana ballroom kembali dipenuhi kehangatan. Para tamu memberikan tepuk tangan, sementara keluarga pengantin mulai bersiap mengikuti prosesi berikutnya.Namun, di antara ratusan tamu yang hadir, dua orang justru berdiri kaku dengan wajah tegang.Leli dan Cynthia.Keduanya masih belum mampu menerima kenyataan bahwa rencana yang mereka susun dengan begitu matang telah gagal total.Liora tidak hanya baik-baik saja.Ia justru tampil semakin memukau di hadapan semua orang.Tidak ada luka.Tidak ada borok.Tidak ada sedikit pun tanda bahwa racun yang seharusnya menghancurkan kecantikannya telah bekerja.Cynthia menggenggam jemarinya sendiri erat-erat.Bagaimana mungkin?Sementara Leli hanya mampu menatap ke arah Liora dengan dada yang terasa sesak.Namun, sebelum keduanya sempat memikirkan langkah berikutnya, suara pembawa acara kembali terdengar melalui pengeras suara.“Selanjutnya, kita akan memasuki prosesi sungkeman. Kami persilakan kedua mempelai

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   BAB 225

    Cynthia dan Leli berdiri kaku, dengan jantung berdebar-debar cepat.Apakah pernikahan itu baru saja menghancurkan sebuah rencananya?"Mami jangan cemas. Aku pastikan semuanya berjalan dengan benar." Cynthiya berkata dengan jantung berdebar cepat dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri.Setelah doa dipanjatkan, suara MC kembali terdengar melalui pengeras suara.“Selanjutnya, mari kita sambut kehadiran pengantin wanita untuk memasuki ruangan!”Suasana ballroom kembali berubah.Semua kepala serentak menoleh ke pintu utama.Di sudut barisan depan, Cynthia dan Leli saling bertukar pandang. Senyum licik perlahan muncul di bibir mereka."Mami, aku sudah tidak sabar?" Cynthia berbisik di telinga Leli. "Ya, mami ingin lihat bagaimana anak sial itu angkat kepala."Inilah saat yang mereka tunggu-tunggu.Cynthia bahkan merasakan jantungnya berdebar begitu keras hingga seolah hendak meledak dari dalam dada.Di kepalanya, skenario yang mereka susun telah berjalan begitu sempurna.Liora akan masuk

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   BAB 224

    Xavier duduk tegap di hadapan meja akad nikah.Di seberangnya, Martin telah mengambil tempat sebagai wali nikah. Wajah pria paruh baya itu tampak tegang. Matanya berkaca-kaca, seolah-olah ia sedang berusaha sekuat tenaga menahan gelombang emosi yang sejak tadi memenuhi dadanya.Penghulu mengangkat mikrofon.“Pak Martin, Saudara Xavier, apakah sudah siap?”Suasana ballroom yang sebelumnya dipenuhi bisik-bisik seketika berubah hening.Inilah saat yang paling sakral.“Sudah, Pak Penghulu.” Martin perlahan mengulurkan tangannya.“Sudah,” jawab Xavier mantap seraya menyambut uluran tangan ayah mertuanya tersebut.Begitu kedua telapak tangan mereka bertaut, jemari Martin justru bergetar hebat.Ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.Dahulu, ketika pikirannya masih dibutakan oleh manipulasi Leli, Martin selalu menganggap hari pernikahan Liora sebagai hari yang paling ia nantikan.Hari ketika akhirnya ia bisa melepaskan gadis yang selama ini dianggapnya sebagai beban.Hari ketika putr

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 223

    Leli merasa seperti baru saja ditampar di depan seluruh tamu undangan.Kenapa dia?!Kenapa Devi?!Napasnya mulai memburu.Tangannya mengepal erat.Wajahnya memerah menahan amarah.Selama ini ia menganggap Devi sebagai rival yang bisa diinjak-injak. Namun malam ini, tanpa perlu mengucapkan satu kata pun, posisi Devi telah membuatnya terlihat seperti seseorang yang lebih dihargai daripada dirinya.Dan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada penghinaan terbuka.Leli ingin berteriak.Ingin menghampiri Martin.Ingin menuntut penjelasan.Namun matanya menangkap barisan pengawal pribadi Xavier yang berdiri tegap di sekitar panggung.Tatapan mereka dingin.Tubuh mereka kokoh.Tidak ada seorang pun yang tampak bisa diajak bermain-main.Leli tahu betul reputasi keluarga Xavier.Jika ia membuat keributan malam ini, tidak ada yang akan membelanya.Ia akhirnya menelan kemarahannya bulat-bulat.Tetapi di dalam hatinya, kebencian itu justru semakin menggila.Baik.Kalau kalian semua ingin memperm

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 222

    Namun rasa panas menjalar dari dadanya hingga ke wajah.Api cemburu seolah disulut dalam sekejap.Kenapa dia masih bisa terlihat secantik itu?! Leli menggemeretakkan gigi. Tangannya mengepal di sisi tubuh.Jika dibandingkan Devi, Leli jelas tidak ada apa-apanya.Namun, kemudian sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya.Ia teringat sesuatu.Rian.Pria sewaan bertubuh tegap dan berwajah tampan yang sengaja ia bayar untuk datang ke resepsi ini.Leli sudah menyiapkan semuanya.Ia ingin Martin melihatnya berjalan berdampingan dengan pria yang jauh lebih muda. Ia ingin suaminya itu terbakar cemburu. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya masih diinginkan.Dan, ia akan memastikan Martin melihatnya."Lihat saja nanti, Martin. Jangan kira mengabaikan ku seperti ini, kau bisa hidup tenang," gumamnya pelan.Namun, sebelum Leli sempat kembali menikmati khayalannya, tiba-tiba terdengar riuh tepuk tangan dari arah pintu utama.Bisikan kagum langsung menyebar di antara para tamu.“Pengantin pria sud

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 1

    "Sayang, ayo kita pulang."Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora.Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya.Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud.Namun,

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 48

    ​Liora melangkah kembali ke ruang makan dengan penampilan yang jauh lebih segar. Gaun berpotongan anggun pemberian Dion semalam kini melekat pas di tubuhnya. Liora sengaja memakainya pagi ini bukan karena ia mendadak menyayangi kakaknya, melainkan sebagai bentuk apresiasi atas kepedulian Dion yang

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 35

    Seketika itu juga, hawa di dalam mobil mendadak turun drastis menjadi sedingin es.Xavier melirik spion tengah dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. "Jika kau tertawa sekali lagi, bonus tahunanmu akan aku potong habis!"Satu kalimat ancaman itu meluncur dengan nada sangat datar, namun efeknya

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 23

    Pagi-pagi sekali Liora sudah bangun.Langit bahkan masih sedikit gelap ketika gadis itu membuka mata.Kebiasaan itu sudah melekat sejak lama. Sejak tinggal di desa bersama Bibi Nina. Dan semakin tertanam ketika ia berada di dalam tahanan.Di sana— terlambat bangun satu menit saja bisa menjadi masal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status