LOGINAda perubahan kecil di mata Dion.
Hanya sesaat. Namun Liora melihatnya. Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan tenang di kursi belakang. Pintu tertutup. Mesin menyala. Mobil mulai bergerak. Liora menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela. Cahaya pagi masuk melalui kaca mobil. Matahari belum terlalu tinggi, namun cukup terang untuk memperlihatkan wajah kota yang sibuk. Jalanan sudah ramai, kendaraan berlalu-lalang, dan gedung-gedung tinggi berdiri angkuh di bawah langit yang cerah. Dulu, saat masih kecil, kota ini terasa sangat indah baginya. Terutama saat melihat bangunan-bangunan tinggi yang menjulang. Duduk di kursi penumpang sambil menatap keluar jendela… itu adalah kebiasaan yang ia sukai. Namun sekarang, semuanya terasa berbeda. Yang ia rindukan justru desa kecil… tempat ia hidup berdua dengan Bibi Nina. “Kebebasan…” gumamnya pelan. Senyumnya tipis, hampir tak terlihat. Kebebasan yang aku inginkan… hidup sederhana bersama Bibi Nina, batinnya. Mobil melaju mulus di jalan raya. Suasana di dalamnya sunyi. Hanya alunan musik pelan yang mengisi ruang. Liora tetap diam, menatap ke luar jendela. Gedung-gedung tinggi, jalanan padat, dan aktivitas pagi yang sibuk berlalu cepat di hadapannya. Namun semuanya terasa asing. Sudah dua tahun. Dan dunia… tidak pernah menunggunya. “Kau banyak berubah.” Suara Dion terdengar dari depan. Liora tidak langsung menoleh. “Aku berubah?” jawabnya singkat. Nada suaranya datar. Tanpa emosi. Dion terdiam. Tangannya tetap di atas kemudi, namun tatapannya sesekali jatuh ke kaca spion, memperhatikan Liora dari sana. Seolah mencoba membaca sesuatu yang tak bisa ia pahami. “Di sana…” ia berhenti sejenak, “apa hari-harimu baik?” Liora tersenyum tipis. Pertanyaan yang datang terlambat. “Kalau kalian tidak memasukkan aku ke tempat itu…” ucapnya pelan, lalu terhenti sejenak, “…aku tidak akan pernah tahu seberapa kejamnya—” Ia berhenti. Dion mengernyit, namun tidak menyela. “…keluargaku sendiri.” Hening. “Tidak apa,” lanjut Liora pelan. “Aku sudah banyak belajar di dalam sana.” Kalimat itu tajam. Langsung menusuk. Mobil kembali dipenuhi keheningan. Beberapa detik berlalu. “Liora.” Nada suara Dion berubah. Lebih serius. “Apa pun yang terjadi dulu—” “Aku tidak tertarik membahas masa lalu.” Liora memotong cepat. Dion terdiam. Untuk sesaat, ia kehilangan kata-kata. Liora kembali menatap ke luar jendela. “Langsung saja ke tujuan,” ucapnya tenang. “Kalian tidak mungkin menjemputku hanya untuk berbasa-basi.” Sunyi. “Mami dan papi ingin bertemu denganmu.” Akhirnya Dion berbicara. Liora hanya diam. “Mereka merindukanmu.” Liora menyandarkan kepalanya ke kursi. Menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali. “Liora,” suara Dion terdengar lagi, lebih rendah, “setidaknya… bersikaplah baik di dalam.” Kali ini, Liora menoleh. Menatapnya melalui pantulan kaca spion. “Seberapa baik?” tanyanya pelan. Dion diam sejenak, lalu menjawab, “Jadilah anak yang baik dan penurut.” Liora tersenyum. “Baik seperti dulu?” lanjutnya. “Atau cukup baik… untuk membuat mereka puas?” “Ya, seperti dulu,” jawab Dion, sedikit menoleh. Liora tertawa kecil. Dingin. “Sejauh apa kau mengenal aku?” ucapnya pelan. “Usia lima tahun… kalian sudah membuangku ke desa.” “Itu karena kesalahanmu yang hampir membuat Cynthia mati!” potong Dion cepat. Liora menatapnya tajam melalui kaca spion. “Saat itu aku lima tahun,” ucapnya tenang. “Cynthia sepuluh tahun.” Ia tersenyum miring. “Logikamu ke mana, Dion? Apa yang bisa dilakukan anak lima tahun?” Dion terdiam sesaat, lalu berkata, “Cynthia tidak mungkin bohong. Dia lemah… dan sering sakit.” Senyum Liora semakin tipis. Kenangan itu masih jelas. Hidungnya perih, dan rasanya sangat sakti. Ia mencoba untuk tidak bernapas, namun tidak bisa. Ia bernapas, yang masuk ke paru-paru justru air. Rasanya sangat sakti. Ia tenggelam dan berpikir akan mati. Jika Bibi Nina tidak datang tepat waktu… mungkin ia sudah mati saat itu. Namun yang diselamatkan— yang diprioritaskan— tetap Cynthia. Padahal Cynthia tidak mengalami apa-apa. Justru Liora yang paling parah. Bahkan mereka sampai lupa, bahwa Cynthia pandai berenang sejak umur 6 tahun. Sedangkan Liora, tidak ada seorangpun yang mengajarinya berenang Paru-parunya terendam air. Napasnya hampir berhenti. Tapi perawatan intensif… tidak pernah diberikan padanya. “Dua belas tahun aku di desa,” lanjut Liora pelan. “Kalian menjemputku saat aku berusia tujuh belas tahun.” Ia tertawa kecil. Hambar. “Aku hanya tinggal menunggu kelulusan untuk masuk universitas dan kemudian kuliah… tapi kalian menghancurkan semuanya.” Dion terdiam. Tak mampu membalas. “Sekarang kau bilang aku berubah… dan ingin aku kembali seperti dulu?” Liora menatapnya dingin. “Apa kau waras?” Tidak ada jawaban. Mobil melambat. Gerbang besar terbuka perlahan. Mobil masuk ke halaman luas. Bangunan megah itu berdiri di hadapan mereka. Mobil berhenti. Liora tidak langsung turun. Tangannya menyentuh gagang pintu—lalu berhenti. “Dion.” Pria itu tidak menoleh. “Kalau ini tentang pengorbanan lagi…” Liora tersenyum tipis. “…kali ini harganya mahal.” Ia membuka pintu. Dan melangkah keluar— tanpa menunggu jawaban. Dion hanya diam, menatapnya melalui kaca spion.Selama ini, Leli menganggap sikap tersebut sebagai bukti bahwa Verdy sangat mencintainya dan ingin melindungi hubungan mereka.Ternyata, semua itu mungkin hanya alasan.“Selama bertahun-tahun,” lanjut Marlina, “Anda tidak pernah berhenti memberikan uang kepada suami saya. Uang yang seharusnya bisa Anda gunakan untuk diri sendiri justru Anda serahkan kepadanya.”Wajah Leli memucat.“Jangan bilang begitu. Saya memberikan uang itu karena saya mencintainya.”“Dan saya berterima kasih untuk itu.”Leli membelalakkan mata.“Apa?”“Terima kasih karena Anda sudah membantu keluarga kami melewati masa-masa sulit. Bisnis keluarga kami pernah mengalami kehancuran. Namun, berkat uang yang diberikan untuk Verdy, keadaan kami perlahan membaik. Sekarang kehidupan kami sudah jauh lebih baik.”Marlina berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada ringan.“Jadi, sekali lagi, terima kasih, Nyonya Leli.”Tubuh Leli terasa lemas.Ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Selama ini, ia
Setelah berulang kali mencoba mencari cara untuk menghubunginya, Leli akhirnya mendapatkan kesempatan menelepon Verdy, pria yang selama puluhan tahun menjadi kekasih gelapnya.Kerinduan yang terpendam membuatnya tidak sabar menunggu. Lebih dari itu, Leli ingin mengadukan semua masalah yang sedang dihadapinya. Ia berharap Verdy segera turun tangan untuk membebaskannya dan Cynthia dari kesulitan yang mereka alami.Bukankah selama ini pria itu selalu mengatakan bahwa dirinya mencintainya?Leli yakin Verdy tidak akan tinggal diam melihatnya menderita.Nomor yang dihubunginya akhirnya tersambung.“Halo?”Namun, suara yang terdengar dari seberang bukanlah suara laki-laki yang begitu dikenalnya, melainkan suara seorang perempuan.Leli mengerutkan kening. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu memeriksa nomor yang tertera di layar. Setelah memastikan bahwa nomor itu benar, ia kembali menempelkannya ke telinga.“Halo, maaf. Apa benar ini nomor telepon Verdy?”“Benar. Anda siapa? Ada perlu
Liora mengangguk pelan. Ia tidak terkejut mendengar keputusan itu. Setelah semua kebohongan dan perselingkuhan yang terungkap, pernikahan Martin dan Leli memang sulit dipertahankan.Namun, tiba-tiba sebuah nama melintas di benaknya.“Aku juga melihat Tante Devi sangat perhatian kepada Papi.”Martin langsung terbatuk kecil.Wajahnya memerah, bahkan sampai ke telinga.“Kenapa tiba-tiba membicarakan Devi?” protesnya. “Kami hanya rekan bisnis.”Liora menatap ayahnya dengan wajah polos.“Memangnya aku mengatakan apa-apa?”“Kamu jelas-jelas sedang menggoda Papi!”“Aku hanya mengatakan bahwa Tante Devi perhatian. Itu fakta, kan?”Martin membuka mulut, tetapi tidak segera menemukan jawaban.Xavier akhirnya tertawa kecil melihat tingkah mertuanya. Liora memang memiliki bakat untuk membuat orang lain kehilangan kata-kata hanya dengan beberapa kalimat sederhana.“Pokoknya, hubungan kami hanya sebatas rekan bisnis,” tegas Martin, berusaha mengembalikan wibawanya.Liora mengangguk patuh.“Baiklah,
Xavier benar-benar menepati janjinya. Begitu urusannya dengan klien penting selesai, pria itu langsung menuju rumah Bibi Nina untuk menemui Liora.“Sayang.”Suara lembut Xavier terdengar begitu ia memasuki rumah. Pria itu menghampiri istrinya, lalu duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan Liora.Liora tersenyum menatap suaminya. “Kamu tidak kembali ke kantor?”Xavier menggeleng. “Tidak. Aku sudah menyelesaikan urusanku. Lagi pula, dalam keadaan seperti ini, aku ingin menemanimu.”Liora membalas genggaman tangan suaminya. Ada kehangatan yang selalu membuatnya merasa tenang setiap kali Xavier berada di dekatnya.“Aku ingin mengunjungi Papi di rumah tahanan,” ujar Liora kemudian.Xavier mengangguk tanpa ragu. “Ayo. Kita berangkat sekarang.”“Awalnya Kak Leon dan Kak Deon juga ingin ikut. Namun, mereka masih punya urusan yang harus diselesaikan di kantor.” Liora menghela napas kecil. “Tidak apa-apa. Sekarang ada kamu yang menemaniku.”“Aku akan selalu menemanimu,” jawab Xavier.Liora
Setelah makan siang selesai, Bibi Nina mulai membereskan meja bersama para asisten rumah tangga. Liora hendak membantunya, tetapi wanita itu langsung menyuruhnya duduk.“Kamu duduk saja. Baru pulang jauh-jauh, masa langsung disuruh bekerja?”“Tapi, Bi, aku bisa membantu.”“Tidak perlu. Temani kakak-kakak mu saja.”Liora akhirnya menurut. Dia kembali ke ruang keluarga bersama kedua kakaknya.Awalnya, percakapan mereka masih santai. Deon sempat melontarkan satu atau dua lelucon, tetapi kali ini Leon tidak menanggapinya dengan tawa seperti tadi.Pria itu justru menatap Liora cukup lama.“Liora, ada sesuatu yang harus kita bicarakan.”Senyum di wajah Liora perlahan memudar.Dia mengamati ekspresi Leon, lalu beralih kepada Deon yang kini duduk lebih tenang dari biasanya.“Ada apa, Kak?”Leon menarik napas sebelum menjawab.“Ini tentang Papi.”Liora langsung menegakkan punggungnya. Dia ingin mendengar penjelasan lengkap dari keluarganya, bukan sekadar membaca pesan singkat atau menerima jaw
“Bi, nanti coba, ya. Aku ingin melihatnya.” “Sekarang?” “Iya!” Deon langsung menyela, “Kalau begitu, aku juga ingin melihatnya. Siapa tahu setelah ini Bibi Nina terlihat seperti artis terkenal.” Bibi Nina menatapnya tajam. “Kamu mau makan siang atau mau Bibi usir?” Deon segera mengangkat kedua tangan. “Baik, baik. Aku diam.” Leon tertawa kecil, sementara Liora merangkul Bibi Nina dengan wajah puas. Beberapa saat kemudian, Liora menyampaikan sesuatu yang sejak tadi sudah ingin dikatakannya. “Bi, musim panas nanti ikut aku ke Prancis, ya.” Bibi Nina mengerjap. “Ke Prancis?” Liora mengangguk penuh semangat. “Iya! Aku ingin mengajak Bibi jalan-jalan ke sana. Nanti kita mengunjungi tempat-tempat yang belum sempat aku datangi. Aku juga ingin menunjukkan tempat-tempat indah yang kemarin aku ceritakan.” Bibi Nina tersenyum, tetapi keraguan terlihat di wajahnya. “Bibi ini sudah tidak muda lagi, Liora. Perjalanan sejauh itu melelahkan. Belum lagi cuaca di sana.” “Aku sudah memi
Seketika itu juga, hawa di dalam mobil mendadak turun drastis menjadi sedingin es.Xavier melirik spion tengah dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. "Jika kau tertawa sekali lagi, bonus tahunanmu akan aku potong habis!"Satu kalimat ancaman itu meluncur dengan nada sangat datar, namun efeknya
Malam itu, rumah keluarga Martin berubah total.Lampu-lampu kristal menyala terang, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan. Karpet merah terbentang dari gerbang hingga pintu utama. Mobil-mobil mewah berdatangan tanpa henti, menurunkan tamu-tamu dengan pakaian elegan dan senyum penuh kepentingan
Udara sore itu terasa berat ketika Liora melangkah keluar dari kafe.Ia tidak langsung pulang.Sejak keluar dari bank, ia tampak waspada membawa tasnya. Tas ini berisi buku-buku, uang dan batu bata. Jelas terasa cukup berat.Langkahnya tenang menyusuri trotoar di depan kafe. Tangannya menggenggam e
“Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke da







