Masuk“Selama ini kamu selalu mengira uang Martin akan melindungimu dari segala masalah. Kamu pikir, selama kamu membawa nama keluarga Martin, tidak akan ada seorang pun yang berani menyentuhmu. Sekarang, ketika semuanya berubah, kamu masih saja bertingkah seolah-olah kita tinggal menunggu seseorang datang untuk melayani kita!”Cynthia menggigit bibirnya dengan kesal.“Kalau begitu, Mami mau aku melakukan apa? Berlutut dan memohon kepada mereka?”“Setidaknya berhentilah mengeluh!”“Tidak! Aku tidak mau!”Cynthia menggeleng keras. Wajahnya menunjukkan penolakan yang begitu kuat, seolah-olah bekerja dan menerima akibat dari perbuatannya sendiri merupakan penghinaan yang tidak bisa ditoleransi.“Aku tidak mau meminta maaf kepada siapa pun! Aku juga tidak mau menerima keadaan ini! Seharusnya Kak Leon dan Kak Deon yang membantu kita. Mereka masih punya uang, punya pengaruh, dan punya kemampuan untuk mengeluarkan kita dari sini. Tetapi mereka justru membiarkan kita menderita!”Leli mengepalkan ta
Sementara itu, jauh dari kemewahan yang selama ini mereka nikmati, Cynthia dan Leli mulai kehilangan kesabaran di dalam tahanan.Hari-hari yang mereka jalani terasa semakin menyiksa. Tidak ada kamar nyaman, pakaian indah, makanan mewah, atau pelayan yang siap memenuhi setiap keinginan mereka. Yang ada hanyalah ruangan sederhana, jadwal yang harus dipatuhi, serta pekerjaan yang membuat tubuh mereka kelelahan.Lebih buruk lagi, orang-orang yang selama ini mereka anggap bisa diandalkan ternyata tidak memberikan bantuan seperti yang mereka harapkan.Cynthia duduk di tepi ranjang dengan wajah masam. Ia berkali-kali merapikan rambutnya yang berantakan, lalu mengusap pipinya dengan telapak tangan. Wajahnya terlihat kusam, jauh dari penampilan sempurna yang selalu dibanggakannya.Tiba-tiba, ia menoleh kepada Leli dengan mata menyala penuh kemarahan.“Bagaimana bisa Kak Leon dan Kak Deon memperlakukan kita seperti ini? Sebenarnya, mereka menganggap Mami sebagai ibu mereka atau bukan, sih?” ben
“Papi?” ulangnya, seolah-olah membutuhkan waktu untuk menyusun jawaban.“Iya, Papi.” Liora mengerutkan kening. “Bukankah Papi tahu aku pulang hari ini? Kenapa beliau tidak ikut menjemput?”Liora kembali memandang sekeliling, kali ini dengan kegelisahan yang mulai tumbuh.“Jangan-jangan Papi sedang sibuk di kantor?”Tidak seorang pun segera menjawab.Senyum Liora menghilang sepenuhnya.“Kak Leon, Kak Deon, kenapa kalian diam saja?”Leon menarik napas perlahan. Ia ingin menjawab, tetapi kata-kata itu terasa tertahan di tenggorokannya.Ada begitu banyak hal yang ingin ia ceritakan kepada adiknya. Tentang apa yang dilakukan Martin, tentang pengkhianatan Leli dan Cynthia, juga tentang bagaimana ayah mereka kini harus menghadapi akibat dari semua masalah tersebut.Namun, ia tidak mungkin mengungkapkan semuanya di tengah keramaian bandara.Bukan di tempat ini.Bukan ketika Liora baru saja pulang dengan wajah penuh kebahagiaan setelah menikmati bulan madunya.Leon akhirnya mengulurkan tangan
Begitu keluar dari pintu kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Liora langsung menoleh ke sana kemari. Matanya berbinar-binar, mencari wajah-wajah yang selama ini dirindukannya.Setelah lebih dari sebulan berada di Prancis bersama Xavier, akhirnya ia kembali menginjakkan kaki di Indonesia.Udara hangat, bahasa yang akrab terdengar di sekelilingnya, bahkan keramaian bandara terasa begitu menyenangkan.Namun, semua itu belum lengkap sebelum ia bertemu keluarganya.“Sayang, pelan-pelan. Koper kita tidak akan lari,” ujar Xavier sambil tersenyum melihat istrinya yang terus berjalan lebih cepat.Liora menoleh sekilas, lalu tertawa kecil.“Aku sudah tidak sabar bertemu mereka!”Xavier menggeleng geli. Ia menarik koper dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Liora erat-erat.“Sepertinya aku harus bersaing dengan keluargamu untuk mendapatkan perhatianmu.”“Memangnya selama ini kamu tidak puas mendapatkan perhatianku?” Liora mengangkat alis, sengaja menggoda su
Martin mengusap wajahnya, masih menyisakan tawa kecil."Ya Tuhan, Leli. Selama ini, sebenarnya apa yang kau pikirkan?"Deon mengangkat kedua tangannya."Entahlah, Pi. Mungkin Mami terlalu sibuk menikmati kisah cinta rahasianya sampai lupa mencari tahu apakah tokoh pria dalam kisah itu benar-benar tersedia."Martin kembali tertawa. Namun seperti wajahnya lebih terlihat jijik dan juga geli "Deon!""Apa, Pi? Aku tidak mengarang cerita. Aku hanya menyampaikan fakta.""Kau benar-benar tidak bisa serius sebentar saja.""Aku bisa serius, Pi." Deon mengangguk mantap. "Misalnya, aku serius menyarankan agar Papi tidak mengeluarkan uang untuk menyelamatkan mereka."Tawa Martin perlahan mereda.Dia menatap putranya, lalu mengangguk pelan."Tentu saja aku tidak akan melakukannya."Deon mengamati wajah ayahnya."Papi tidak merasa kasihan kepada Mami?"Martin terdiam cukup lama sebelum menjawab."Dulu, aku selalu merasa harus melindunginya. Apa pun kesalahannya, aku berusaha mencari alasan untuk me
Pagi itu, Martin duduk di dalam ruang kunjungan tahanan dengan wajah yang jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Meski berada di balik jeruji besi, dia tidak lagi menunjukkan kegelisahan seperti ketika pertama kali mengetahui perselingkuhan Leli dan kenyataan bahwa Cynthia bukan anak kandungnya. Luka itu masih ada. Pengkhianatan selama puluhan tahun bukan sesuatu yang bisa dilupakan hanya dalam beberapa hari. Namun, perlahan-lahan, Martin mulai menerima kenyataan bahwa hidupnya telah dibangun di atas kebohongan orang-orang yang paling dipercayainya. Pagi ini, Deon datang mengunjunginya. Begitu melihat putranya memasuki ruangan, Martin langsung mengangkat wajah. "Bagaimana keadaan perusahaan?" Itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya. Deon menarik kursi di hadapan ayahnya, lalu meletakkan beberapa dokumen yang dibawanya di atas meja. "Tenang, Pi. Perusahaan masih berjalan dengan baik. Para direktur sudah mengatur pembagian tugas selama Papi tidak berada
“Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke da
Ruangan itu masih dipenuhi sisa tangis Cynthia.Namun Liora sudah tidak lagi memperhatikan.Tatapannya beralih ke Martin.Tatapan itu dingin dan tenang.Seolah semua emosi tadi… tidak pernah menyentuhnya."Apa, kata Lely?" “Aku setuju.”Kalimat itu keluar begitu saja.Membuat semua orang terdiam.
"Tunangan?" "Iya sayang," jawab Lely lembut.“Ada sebuah keluarga." Martin diam sejenak. Berusaha menyusun kata -demi kata. "Ada keluarga yang sangat berpengaruh di kota ini.”Liora tidak menyela.Hanya menatapnya.“Hubungan dengan mereka akan membawa banyak keuntungan bagi keluarga kita.”Kalima
Liora melangkah masuk ke dalam rumah.Langkahnya tenang.Namun tatapannya dingin.Matanya menyapu sekeliling rumah megah itu—lantai marmer yang berkilau, lampu gantung besar yang menggantung anggun, dan setiap sudut yang tampak sempurna tanpa cela.Dulu… ia pernah bermimpi bisa kembali ke tempat in







