INICIAR SESIÓNBeberapa detik berlalu.Namun, bagi orang-orang yang menunggu di ruang tamu, waktu terasa berjalan begitu lambat.Xavier menahan napas."John, bagaimana hasilnya?"John tidak langsung menjawab. Ia memeriksa kembali nama dan nomor peserta yang tertera di layar untuk memastikan tidak ada kesalahan.Kemudian, wajahnya berubah cerah."Bos, Nyonya Liora diterima!"Ruangan itu mendadak riuh."Apa?" Xavier menatap John tidak percaya. "Kamu serius?""Benar, Bos! Nama Nyonya Liora tercantum di daftar peserta yang dinyatakan lulus seleksi!"Untuk sesaat, Xavier hanya berdiri mematung.Kemudian, ia berbalik dan menatap istrinya dengan wajah yang sulit digambarkan. Raut tegang yang sejak tadi menghiasi wajahnya menghilang, digantikan oleh senyum lebar yang bahkan tidak mampu ia sembunyikan."Sayang!"Xavier segera menghampiri Liora dan berlutut di hadapannya, menggenggam kedua tangannya."Kamu diterima!"Liora menatap suaminya dengan mata membelalak."Aku... benar-benar diterima?""Ya! Kamu diter
Hari ini menjadi hari yang paling dinantikan oleh keluarga Dominic.Pengumuman penerimaan mahasiswa baru akhirnya tiba. Sejak pagi, suasana di mansion Dominic terasa berbeda. Hampir seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tamu, menunggu hasil seleksi yang akan menentukan langkah Liora selanjutnya.David Dominic duduk di sofa bersama istrinya, Marta. Di samping mereka ada Bibi Nina, yang sejak tadi tidak berhenti berdoa dalam hati. Leon dan Deon juga datang untuk memberikan dukungan kepada adik perempuan mereka.Sementara itu, John duduk di depan komputer, sibuk memeriksa situs resmi universitas.Xavier mondar-mandir di belakangnya."Sudah keluar belum?" tanyanya untuk kesekian kali.John mendongak, lalu menggeleng. "Belum, Bos."Xavier mengembuskan napas panjang. Ia kembali berjalan beberapa langkah sebelum berbalik dan menatap monitor komputer dengan wajah tegang.Liora yang duduk di sofa hanya bisa menahan senyum melihat tingkah suaminya."Sayang, kenapa kamu yang lebih gugup da
“Cynthia...” Leli meraih tangan putrinya. “Mami minta maaf.”Cynthia segera menarik tangannya.“Jangan!”Leli tersentak.“Aku tidak mau mendengar kata maaf Mami!”Air mata mengalir deras di wajah Cynthia.“Selama ini, setiap kali aku membuat masalah, Mami selalu bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mami selalu bilang bahwa Mami akan melindungiku. Mami bahkan berani berbohong kepada Papi Martin demi membelaku!”Ia terisak, lalu memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan.“Sekarang siapa yang akan melindungiku? Siapa yang akan mengeluarkanku dari sini? Verdy? Pria yang bahkan tidak mau mengakui bahwa aku anaknya?”Leli menunduk.Ia tidak memiliki jawaban.Cynthia perlahan merosot ke lantai. Kedua lututnya tertekuk, sementara tangannya menutupi wajah. Untuk pertama kalinya, ia menangis tanpa bisa mengendalikan dirinya.Bukan tangisan penuh amarah seperti ketika keinginannya ditolak.Bukan pula tangisan untuk memancing belas kasihan orang lain.Kali ini, ia benar-benar merasa keh
Selama ini, Cynthia selalu membayangkan bahwa suatu hari nanti ia bisa bertemu Verdy sebagai seorang ayah. Ia ingin pria itu mengakuinya, menyayanginya, dan memperlakukannya seperti anak kandung yang selama ini tidak pernah benar-benar memiliki tempat di hati Martin.Ia bahkan sempat membayangkan bahwa jika suatu saat hubungannya dengan Martin benar-benar berakhir, masih ada Verdy yang bisa menjadi sandaran hidupnya.Namun, semua bayangan itu hancur dalam sekejap.“Jadi...” Suara Cynthia terdengar begitu kecil. “Selama ini, Papi tidak pernah benar-benar menginginkanku?”Leli tidak menjawab.“Mami, jawab aku!”“Cynthia, Mami tidak tahu lagi harus berkata apa!”Cynthia tertawa pendek. Namun, tawa itu terdengar begitu getir hingga nyaris menyerupai tangisan.“Hebat sekali. Ternyata aku punya ayah kandung yang bahkan tidak mau mengakuiku.”Ia mengusap wajahnya kasar. Air mata mulai mengalir di pipinya.“Lalu untuk apa Mami selama ini mempertahankan hubungan dengannya? Untuk apa Mami membe
Leli kembali ke kamar tahanan dengan langkah gontai. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan seluruh tubuhnya terasa lemas seolah-olah ia baru saja kehilangan tenaga untuk sekadar berdiri.Begitu melihat ibunya masuk, Cynthia langsung bangkit dari tempat duduknya.“Mami! Bagaimana? Papi bilang apa? Kapan dia akan membebaskan kita dari sini?”Namun, Leli tidak menjawab.Ia hanya berjalan menuju dinding, menyandarkan punggungnya, lalu perlahan merosot hingga duduk di lantai.“Mami?” Cynthia mengerutkan kening. “Kenapa diam saja? Papi bilang apa?”Leli menundukkan kepala. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.Semuanya telah berakhir.Pernikahannya dengan Martin berada di ambang kehancuran. Hubungannya dengan Verdy ternyata hanyalah kebohongan yang ia pelihara selama puluhan tahun. Kini, ia bahkan tidak memiliki siapa pun yang bersedia mengulurkan tangan untuk membantunya.Lalu, bagaimana ia harus menjelaskan semuanya kepada Cynthia?“Mami!” Cynthia mengguncang bahunya.
Verdy mengembuskan napas panjang. Ia sudah muak dengan tangisan dan tuntutan Leli yang seolah-olah menganggap dirinya bertanggung jawab atas semua masalah perempuan itu.“Leli, dengarkan baik-baik. Aku tidak mau terseret dalam masalah keluargamu. Mulai sekarang, jangan pernah menghubungiku lagi.”Leli membeku.“Verdy, apa maksudmu?”“Apa yang kukatakan sudah cukup jelas. Hubungan kita berakhir sampai di sini. Aku tidak ingin ada masalah dengan istriku maupun anak-anakku hanya karena hubungan kita di masa lalu.”“Tapi, Verdy—”“Dan satu hal lagi.” Suara Verdy terdengar semakin dingin. “Tentang Cynthia, aku tidak akan mengakuinya sebagai putriku. Jangan pernah membawanya ke hadapanku dan meminta pertanggungjawaban dariku.”Dunia Leli seakan runtuh untuk kedua kalinya.Ia masih bisa menerima kenyataan bahwa Verdy memiliki istri dan empat orang anak. Ia bahkan berusaha menelan kenyataan bahwa selama ini dirinya hanya dimanfaatkan. Namun, ketika pria itu menolak mengakui Cynthia, hatinya s
Ruangan itu masih dipenuhi sisa tangis Cynthia.Namun Liora sudah tidak lagi memperhatikan.Tatapannya beralih ke Martin.Tatapan itu dingin dan tenang.Seolah semua emosi tadi… tidak pernah menyentuhnya."Apa, kata Lely?" “Aku setuju.”Kalimat itu keluar begitu saja.Membuat semua orang terdiam.
"Tunangan?" "Iya sayang," jawab Lely lembut.“Ada sebuah keluarga." Martin diam sejenak. Berusaha menyusun kata -demi kata. "Ada keluarga yang sangat berpengaruh di kota ini.”Liora tidak menyela.Hanya menatapnya.“Hubungan dengan mereka akan membawa banyak keuntungan bagi keluarga kita.”Kalima
Liora melangkah masuk ke dalam rumah.Langkahnya tenang.Namun tatapannya dingin.Matanya menyapu sekeliling rumah megah itu—lantai marmer yang berkilau, lampu gantung besar yang menggantung anggun, dan setiap sudut yang tampak sempurna tanpa cela.Dulu… ia pernah bermimpi bisa kembali ke tempat in
Ada perubahan kecil di mata Dion.Hanya sesaat.Namun Liora melihatnya.Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan tenang di kursi belakang.Pintu tertutup.Mesin menyala.Mobil mulai bergerak.Liora menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela.Cahaya pagi masuk melalui k







