แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Liazta
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-24 14:57:56

“Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”

Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”

Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke dalam mobil. Gerak mereka cepat dan terlatih, seolah membawa barang seperti itu adalah hal biasa.

Padahal bagi Liora…

itu seperti memindahkan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia masuk ke dalam mobil polisi dengan langkah tenang.

Pintu ditutup.

Mesin menyala.

Mobil mulai bergerak dengan pengawalan di depan dan belakang. Sirine berbunyi pelan, cukup untuk membuka jalan tanpa menarik terlalu banyak perhatian.

Liora duduk di kursi belakang.

Matanya menatap ke luar jendela.

Gedung-gedung tinggi, jalan yang ramai, orang-orang yang berjalan tanpa peduli—semuanya terasa… jauh.

Dan tanpa ia sadari, ingatannya mundur.

Dua tahun lalu.

Ia juga duduk di mobil seperti ini.

Namun saat itu, tangannya dingin.

Jantungnya berdebar ketakutan.

Dan tidak ada yang menatapnya dengan hormat seperti sekarang.

Ia bukan dikawal.

Ia… dibawa sebagai penjahat.

Senyum tipis muncul di bibirnya.

Pahit.

“Lucu ya…” gumamnya pelan.

Salah satu polisi yang duduk di depan sempat melirik lewat kaca spion. “Ada yang lucu, Nona?”

Liora menggeleng cepat, lalu tersenyum kecil. “Enggak… cuma baru pertama kali naik mobil polisi tanpa diborgol.”

Polisi itu terdiam sejenak, tampak canggung, lalu tertawa kecil. “Syukurlah yang sekarang tanpa itu.”

Liora ikut tersenyum.

Dan untuk beberapa detik, suasana di dalam mobil terasa… ringan.

—

Di bank, semuanya berjalan cepat.

Terlalu cepat.

Pintu khusus dibuka. Ia dipersilakan masuk ke ruangan yang tidak bisa diakses sembarang orang.

Pegawai bank menyambutnya dengan senyum profesional.

“Silakan duduk, Nona. Kami akan bantu prosesnya.”

Liora duduk, tangannya menyentuh meja dengan hati-hati, seolah takut merusaknya.

“Buka rekening itu… susah, ya?” tanyanya jujur.

Pegawai itu sempat terkejut, tapi tetap tersenyum. “Tidak, Nona. Sangat mudah.”

“Kalau uangnya banyak?” lanjut Liora polos.

“Justru lebih mudah,” jawab pegawai itu, sedikit menahan senyum.

Liora mengangguk-angguk pelan, seolah mencatat sesuatu yang penting.

Proses berjalan.

Tanda tangan.

Verifikasi.

Pemindahan dana.

Angka besar itu akhirnya muncul di layar.

Deretan digit yang panjang.

Terlalu panjang.

Liora menatapnya lama.

Matanya sedikit menyipit, seperti sedang menghitung… meskipun jelas ia tidak benar-benar menghitung.

“Ini… semuanya uangku?” tanyanya pelan.

“Iya, Nona.”

“Banyak sekali…”

Ia tidak terdengar senang.

Lebih seperti… tidak percaya.

Namun setelah beberapa detik, ia menarik napas pelan.

“Kalau aku ambil sedikit… boleh?”

“Tentu saja.”

Liora berpikir sebentar.

Lalu dengan santai berkata, “Seratus juta saja.”

Pegawai itu langsung mencatat tanpa komentar.

Bagi mereka, itu memang “sedikit”.

Namun bagi Liora—

itu jumlah yang dulu bahkan tidak bisa ia bayangkan.

"Oh iya, aku mau minta batu bata tiga buah."

"Untuk apa?" Tanya pegawai bank tersebut.

"Untuk memasukkan ke dalam tasku." Liora tersenyum dan melirik tas ransel miliknya.

Meskipun sedikit bingung, pegawai bank itu tetap menuruti permintaan Liora.

—

Setelah semuanya selesai, Liora tidak kembali ke rumah.

Tidak ada keinginan.

Tidak ada alasan.

Ia melangkah keluar bank sendirian, membawa tas berisi uang tunai itu.

Langkahnya ringan.

Arah tujuannya… tidak jelas.

Sampai matanya tertuju pada sebuah toko ponsel.

Ia berhenti.

Menatap kaca etalase.

Berbagai model ponsel dipajang rapi, mengkilap, terlihat mahal.

Tanpa banyak berpikir, ia masuk.

Seorang pegawai langsung menyambutnya. “Selamat datang, Kak. Mau cari ponsel seperti apa?”

Liora menatap deretan ponsel itu beberapa detik.

Lalu berkata jujur, “Yang paling bagus.”

Pegawai itu tersenyum, mengira ini candaan.

Namun melihat ekspresi Liora yang serius… ia langsung mengambil salah satu unit flagship.

“Ini yang terbaik saat ini, dek.”

Liora menerimanya.

Diputar.

Dibalik.

Menatap layarnya lama.

“Ini… bisa buat telepon?”

“Bisa, dek.”

“Pesan juga?”

“Bisa.”

“Cari alamat?”

“Bisa juga.”

Liora mengangguk puas. “Ya sudah, ini saja.”

Pegawai itu sempat terdiam.

Tidak ada pertanyaan tentang harga.

Tidak ada tawar-menawar.

Setelah pembayaran selesai, Liora tidak langsung pergi.

Ia malah menatap ponsel itu dengan bingung.

“Mas…” panggilnya pelan.

“Iya, dek?”

“Ajari aku pakainya.”

Pegawai itu sedikit terkejut, tapi langsung mengangguk. “Oh, tentu.”

Dan untuk beberapa menit ke depan, ia dengan sabar mengajari Liora—dari hal paling dasar.

Cara membuka layar.

Cara menyimpan nomor.

Cara menggunakan aplikasi.

Liora memperhatikan dengan serius.

Sesekali mengulang sendiri.

Kadang salah.

Kadang benar.

“Kalau mau pesan makanan… dari sini ya?” tanyanya sambil menunjuk layar.

“Iya, adek.”

“Kalau tersesat?”

“Bisa pakai ini, maps.”

Liora tersenyum kecil.

“Canggih…”

Nada suaranya terdengar tulus.

Bukan kagum berlebihan.

Lebih seperti anak kecil yang baru menemukan dunia baru.

—

Dari sana, ia berjalan lagi.

Tanpa tujuan yang pasti.

Di desa, ia tidak memiliki ponsel canggih. Bibi Nina hanya memiliki handphone yang jelek. Bahkan layarnya juga retak 1000.

Sampai akhirnya ia masuk ke sebuah kafe.

Tempat itu tidak terlalu ramai.

Cukup tenang.

Ia duduk di dekat jendela.

Seorang pelayan datang membawa menu.

Liora membukanya.

Diam beberapa detik.

Lalu bertanya, “Yang paling mahal… yang mana?”

Pelayan itu menunjuk dengan sopan.

“Yang ini adek.”

“Ya sudah, itu saja. Sama makanannya juga yang paling mahal.”

“Baik, dek.”

Setelah pelayan pergi, Liora menyandarkan tubuhnya.

Matanya memandang keluar.

Orang-orang lewat.

Mobil berlalu.

Dunia berjalan seperti biasa.

Sementara dia…

untuk pertama kalinya dalam waktu lama…

tidak dikejar apa pun.

Makanan datang.

Minuman datang.

Ia mencicipi perlahan.

Alisnya sedikit terangkat.

“Enak…”

Senyum kecil muncul.

Namun tidak bertahan lama.

Karena setelah itu—

yang tersisa hanya hening.

Kosong.

Ia mengambil ponselnya.

Menatap layar beberapa detik.

Lalu mengetik sebuah nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.

Bibi Nina.

nomor tidak aktif.

Senyumnya perlahan menghilang.

Dadanya terasa nyeri.

Pelan.

Namun nyata.

Jarinya masih menggenggam ponsel itu.

Lebih erat dari seharusnya.

Namun ia tidak menangis.

Menegakkan punggungnya.

Dan memaksa dirinya tetap tenang.

“Belum,” gumamnya pelan.

Ia belum boleh goyah.

Belum sekarang.

Karena ia tahu—

apa pun yang akan datang setelah ini…

tidak akan lebih mudah dari yang sudah ia lewati.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 326

    "Jadi, kamu tidak mau datang ke Prancis lagi?""Bukan begitu!" Liora buru-buru menggeleng. "Aku mau datang lagi, tetapi jangan saat musim dingin. Ternyata musim salju tidak seindah di film-film."Dia menggosok kedua lengannya, seolah-olah kembali merasakan dinginnya udara di luar."Di film, orang-orang bisa berjalan di tengah salju sambil tersenyum cantik. Ada yang bermain salju, membuat manusia salju, bahkan berciuman dengan romantis. Sementara aku? Baru keluar sebentar saja sudah ingin cepat-cepat masuk ke dalam ruangan!"Xavier tertawa lepas."Jadi, kamu tidak merasa romantis saat berada di tengah salju?""Romantis dari mana? Aku sibuk menahan dingin!" Liora memprotes. "Kalau hidungku sampai membeku, apa kamu masih bisa mengatakan aku cantik?"Xavier mendekat, lalu mencubit pelan pipinya."Kamu tetap cantik."Liora langsung tersenyum."Benarkah?""Tentu saja. Hidungmu membeku pun kamu tetap istriku."Senyum Liora seketika menghilang."Xavier!"Pria itu tertawa sambil merangkul ping

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 325

    Pria itu membalas pelukannya tanpa berkata apa-apa lagi.Beberapa menit kemudian, suasana kembali ceria. Liora memeriksa daftar barang bawaan, memastikan tidak ada oleh-oleh yang tertinggal."Baiklah! Kita pulang besok!"Xavier mengangkat alis. "Besok? Kenapa tidak lusa saja? Kita bisa menikmati satu hari lagi di sini.""Karena semuanya sudah dikemas!" Liora menunjuk koper besar di depan mereka. "Oleh-oleh juga sudah siap. Kalau kita tinggal lebih lama, aku harus membongkar koper lagi. Merepotkan sekali."Xavier tertawa kecil. "Jadi, alasanmu pulang adalah karena tidak mau membongkar koper?""Bukan hanya itu!"Liora menghitung dengan jari."Aku rindu Bibi Nina. Aku juga rindu Kak Leon, Kak Deon, dan Papi. Sudah lama sekali aku tidak bertemu mereka."Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan mata berbinar, "Aku juga sudah membelikan oleh-oleh untuk semuanya. Aku ingin segera memberikannya!"Xavier tersenyum melihat antusiasme istrinya."Baiklah. Kita pulang besok.""Benarkah?""Ya.

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 324

    Xavier menangkap perubahan ekspresi itu. Dia segera mencium pipi istrinya sebelum Liora sempat menghindar."Xavier!" Liora spontan menutup pipinya. "Siapa yang mengizinkanmu menciumku?""Kamu istriku.""Itu bukan jawaban!""Kalau begitu, aku akan bertanya lebih dahulu lain kali." Xavier mengangguk serius. "Sayang, bolehkah aku mencium pipimu?"Liora menatapnya curiga. "Tidak boleh.""Baik."Xavier langsung mundur dan kembali merapikan pakaian.Liora terdiam.Lho?Biasanya pria itu akan mencari cara untuk membujuknya. Kenapa sekarang malah menurut?Dia melirik Xavier diam-diam. Pria itu tampak begitu tenang, bahkan sibuk memeriksa barang-barang yang belum dimasukkan ke dalam koper.Liora akhirnya tidak tahan."Kamu benar-benar tidak akan menciumku lagi?"Xavier menoleh. "Bukankah kamu melarangku?""Aku..."Liora menggigit bibirnya, tidak tahu harus menjawab apa.Xavier menahan tawa. "Jadi, sebenarnya kamu mau dicium atau tidak?""Tidak mau!""Baiklah."Pria itu kembali membelakanginya.

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 323

    "Kalau bukan karena Martin, aku sudah lama menikah dengan Verdy. Kita sudah lama berkumpul bersama. Mami tidak perlu sembunyi-sembunyi bertemu dengan papi Verdy." Leli bahkan tidak merasa malu mengingat bagaimana dia berulang kali bertemu Verdy secara diam-diam. Setiap kali ada reuni dengan teman-teman sekolah, dia selalu mencari kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama pria itu.Mereka menginap di hotel, bepergian, dan menikmati liburan bersama.Pada saat yang sama, Martin sibuk mengurus perusahaan, bekerja keras demi masa depan keluarganya, dan mempercayai istrinya tanpa sedikit pun curiga.Bagi Leli, kesibukan suaminya justru menjadi kesempatan untuk berselingkuh.Bagi Cynthia, ketulusan Martin adalah keuntungan yang bisa terus dia nikmati.Dan ketika semuanya terbongkar, tak satu pun dari mereka benar-benar memikirkan luka yang telah ditinggalkan pada pria itu."Mami, kapan kita menghubungi Papi Verdy?" tanya Cynthia tidak sabar. "Jangan sampai dia terlambat menolong kita."Le

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 322

    Leli kembali ke kamar tahanannya dengan langkah gontai. Wajahnya pucat, sementara kedua tangannya terus bergetar.Bagaimana Martin bisa mengetahui semuanya?Bukankah ia sudah sangat hati-hati?@Namun, sekarang semuanya terbongkar.Begitu pintu kamar tahanan terbuka, Cynthia langsung menghampiri ibunya. Dia mencengkeram lengan Leli dengan kedua tangan, seolah-olah wanita itu membawa kabar yang bisa mengubah nasib mereka."Bagaimana, Mami? Apa Papi akan mengeluarkan kita dari sini?"Leli hanya menunduk.Cynthia mengernyit kesal melihat ibunya tidak segera menjawab."Kenapa diam saja? Apa pengacara Papi sudah datang? Dia pasti akan membantu kita, kan?"Leli tetap membisu. Bibirnya bergetar, tetapi tak satu pun kata keluar."Mami!" Cynthia mengguncang lengannya. "Bicaralah! Aku sudah muak berada di tempat ini. Apa Papi berhasil memanipulasi bukti-bukti itu supaya hukumanku diringankan?"Leli memejamkan mata. Pertanyaan putrinya justru membuat dadanya semakin sesak.Bahkan dalam keadaan se

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 321

    “Cepat pergi, Mami,” ujar Cynthia sambil mendorong pelan bahu ibunya. “Jangan biarkan Papi menunggu.”Leli merapikan rambutnya secara refleks. Meskipun hanya mengenakan pakaian tahanan, ia masih berusaha terlihat anggun.Dengan langkah cepat, ia mengikuti sipir menuju ruang kunjungan.Namun, begitu pintu ruang kunjungan terbuka, langkah Leli mendadak terhenti.Bukan Martin yang berdiri di sana.Seorang pria berjas hitam duduk tenang di balik meja.Leli mengenal pria itu.“Pengacara Kevin?”Senyumnya langsung kembali.“Oh, ternyata Anda.”Leli berjalan mendekat dengan wajah lega.“Syukurlah Anda datang. Saya sudah menunggu bantuan dari keluarga. Bagaimana keadaan Martin? Apakah dia sudah menemukan cara untuk mengeluarkan kami?”Pengacara Kevin menatapnya beberapa detik.Tidak ada senyum.Tidak ada sapaan hangat.Tatapannya justru membuat senyum Leli perlahan menghilang.“Nyonya Leli,” katanya tenang, “saya datang atas permintaan Tuan Martin.”“Martin?”Leli kembali tersenyum.“Benar. K

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 3

    Liora melangkah masuk ke dalam rumah.Langkahnya tenang.Namun tatapannya dingin.Matanya menyapu sekeliling rumah megah itu—lantai marmer yang berkilau, lampu gantung besar yang menggantung anggun, dan setiap sudut yang tampak sempurna tanpa cela.Dulu… ia pernah bermimpi bisa kembali ke tempat in

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 2

    Ada perubahan kecil di mata Dion.Hanya sesaat.Namun Liora melihatnya.Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan tenang di kursi belakang.Pintu tertutup.Mesin menyala.Mobil mulai bergerak.Liora menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela.Cahaya pagi masuk melalui k

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 1

    "Sayang, ayo kita pulang."Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora.Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya.Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud.Namun,

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 35

    Seketika itu juga, hawa di dalam mobil mendadak turun drastis menjadi sedingin es.Xavier melirik spion tengah dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. "Jika kau tertawa sekali lagi, bonus tahunanmu akan aku potong habis!"Satu kalimat ancaman itu meluncur dengan nada sangat datar, namun efeknya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status