Share

Bab 3

Author: Liazta
last update publish date: 2026-04-24 14:53:25

Liora melangkah masuk ke dalam rumah.

Langkahnya tenang.

Namun tatapannya dingin.

Matanya menyapu sekeliling rumah megah itu—lantai marmer yang berkilau, lampu gantung besar yang menggantung anggun, dan setiap sudut yang tampak sempurna tanpa cela.

Dulu… ia pernah bermimpi bisa kembali ke tempat ini. Merasakan kehangatan keluarga. Berkumpul kembali dengan kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Namun ternyata, ia di jemput hanya untuk mengantikan kakaknya masuk tahanan.

Namun sekarang, tidak ada rasa bahagia.

Tidak ada rasa kagum.

Yang muncul justru kenangan.

Kenangan yang tidak ingin ia ingat.

—

“Mami… aku tidak mau dipenjara… tolong aku…”

Suara itu terdengar putus asa.

Tubuh kecil itu bersujud di lantai dingin, memohon dengan sisa harapan yang hampir habis.

Namun wanita di hadapannya hanya menatap dengan dingin.

Tanpa belas kasihan.

“Kami tidak pernah mengharapkanmu.”

Suara itu tajam.

Menusuk.

“Aku bahkan sudah mencoba membunuhmu saat kau belum lahir. Tapi kau terlalu keras kepala untuk mati.”

Hening sejenak.

Tatapan itu semakin dingin.

“Kau memang anak pembawa sial. Kau hampir membunuh kakakmu.”

Senyum tipis terbentuk di bibir wanita itu.

“Anggap saja ini… caramu menebus dosa.”

"Aku janji tidak akan pernah muncul di hadapan kalian. Aku tidak akan pernah keluar dari desa. Aku akan tetap di sana selamanya. Tapi aku mohon, biarkan aku pergi."

Bukannya rasa kasian yang ia dapatkan, justru tendangan keras yang menghantam dadanya.

"Kau pikir, bisa bernegosiasi dengan kami."

Suara berat itu milik Leon.

Liora tahu, memohon tidak ada gunanya, ia pun memilih untuk lari. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Bibi Nina. Liora langsung menoleh ke belakang, ternyata di layar televisi, wajah wanita tua itu memenuhi layar berukuran 64 inch tersebut.

Setelah itu, ia akhirnya menurut. Tanpa mengatakan apapun ke pada polisi yang menjemputnya.

—

Liora berkedip pelan.

Kenangan itu menghilang.

Namun rasa sesaknya… masih tertinggal.

Ia kembali menatap ke depan.

Ruang tengah itu luas.

Dan mereka… sudah menunggu.

Lely, Martin, Cynthia dan Lion.

Seolah kedatangannya memang sudah direncanakan sejak awal.

“Liora.”

Suara Lely terdengar lembut.

Terlalu lembut… dibandingkan dengan kata-kata yang pernah keluar dari mulutnya.

Namun Liora hanya diam.

Menatap wanita itu tanpa reaksi.

“Mami senang kamu pulang.”

Lely melangkah mendekat. Senyum hangat, tatapan penuh kasih.

Sempurna.

Terlalu sempurna… hingga terlihat palsu.

Namun Liora tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya berdiri di sana—

diam. Dengan tatapan yang dingin.

Dan tidak lagi percaya.

Lely bisa merasakan perubahan sikap putrinya. Tidak ada lagi tatapan yang dulu, ingin di manja dan ingin selalu dekat dengannya.

“Kamu terlihat baik-baik saja di sana.”

Liora berhenti beberapa langkah dari wanita itu.

Menatapnya.

Apakah wanita itu tidak melihat tubuhnya sudah jauh lebih kurus?

Senyum tipis terlihat jelas di bibir Liora. Mana mungkin wanita itu akan sadar. Karena dia sudah 12 tahun di buang ke desa bersama Bibi Nina. Di jemput kembali hanya untuk mengantikan kakaknya Cintya.

Liora hanya membalas dengan senyum tipis.

Perubahan kecil terlihat di wajah Lely.

“Kenapa?” tanyanya pelan.

Liora memiringkan kepala sedikit.

“Kenapa apa?”

Lely tampak ragu sejenak.

Seolah tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu.

"Mami merindukanmu." Lely mengembangkan tangannya lebar-lebar dan menunggu Liora masuk ke dalam pelukannya.

Namun putri bungsunya itu hanya diam memandangnya.

Lely kembali berjalan dan mendekat. Namun begitu ia sudah semakin dekat dengan Liora, gadis itu justru mundur.

"Aku tidak ingin di peluk."

Lely terdiam. Dia berpikir hubungannya dengan Liora akan membaik, jika ia memperlakukan anak bungsunya itu dengan baik?

Liora melangkah sedikit lebih dekat.

“Anda memintaku kembali ke sini,” ucapnya tenang. “Itu berarti… ada sesuatu yang kalian butuhkan.”

Hening.

Tidak ada yang langsung menjawab.

"Baiklah, sepertinya tidak ada. Kalau begitu aku pamit."

Liora bersiap untuk pergi. Bibi Nina mengirimkannya uang. Itu artinya, ia bisa kembali ke desa dengan uang itu. Ia sangat merindukan wanita baik itu. Di dalam tahanan, hanya bibi Nina yang membuat ia tetap bertahan.

Tatapan Liora berpindah ke arah Cynthia.

Gadis berusia 24 tahun itu berdiri di samping Martin.

Wajahnya pucat.

Tangannya menggenggam lengan ayahnya erat, seolah mencari perlindungan.

Tubuhnya sedikit gemetar.

Air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya.

Liora menatapnya sekilas.

Lalu mengalihkan pandangannya.

Tidak ada simpati.

Tidak ada empati.

Hanya rasa kosong… dan sedikit jijik.

"Kamu mau ke mana sayang? Ini rumah kamu," kata Lely dengan sangat lembut.

Liora menggelengkan kepalanya. "Ini bukan rumah ku."

“Liora,” suara Martin terdengar lembut. Jauh lebih lembut dari yang pernah ia tunjukkan sebelumnya. “Bagaimana kabarmu?”

Liora tertawa pelan.

Pertanyaan yang sederhana.

Namun terdengar begitu asing.

“Selama dua tahun aku di dalam sana untuk mengantikan anak kesayanganmu, dan baru sekarang anda bertanya bagaimana kabarku?” ucapnya perlahan. Ia menatap Martin dengan tatapan geli.

“Tidak satu pun dari kalian datang menjenguk.”

Ia berhenti sejenak.

Tatapannya menyapu mereka satu per satu.

“Kalian juga tidak pernah mengirim pakaian hangat saat musim dingin.”

Senyumnya tipis.

“Dan sekarang… Anda bertanya bagaimana kabarku?”

Sunyi.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Tidak ada yang membantah.

Lely menarik napas pelan.

Lalu melangkah mendekat lagi.

“Kami tahu… kami banyak melakukan kesalahan,” ucapnya lembut. “Dan kami menyesal.”

Nada suaranya hati-hati.

Seolah takut menyentuh sesuatu yang rapuh.

“Kami sangat sibuk mengurus kesehatan Cintya. Namun sekarang, kami ingin memperbaikinya.”

Liora tidak bergerak.

Tidak mundur.

Namun juga tidak merespon.

Martin berdehem pelan, lalu melanjutkan.

"Besok pagi, jam 10, adalah acara pertunanganmu."

Terjawab

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 302

    Liora menikmati hidup barunya di kediaman Dominic. Rumah mewah ini, benar-benar menjadikannya seorang putri raja. Semua yang dia butuhkan, diurus oleh para pelayan. Pagi itu, koper-koper mereka bahkan sudah siap.“Kita berangkat sekarang, Sayang. Pesawat sudah menunggu di bandara.”Oo ooXavier memandang Liora sambil tersenyum, kemudian mengusap lembut puncak kepalanya.Liora justru memasang wajah sedikit cemberut.Sebenarnya, pergi ke luar negeri dan menikmati bulan madu bersama suaminya tentu terdengar menyenangkan.Namun ada satu hal yang membuatnya berat meninggalkan rumah.Ia baru saja merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia miliki.Kasih sayang seorang ibu.Dan kasih sayang itu ia dapatkan dari Martha.“Tapi aku masih ingin di sini.”Martha yang duduk di sofa langsung memicingkan mata.“Kenapa?”Liora menunduk malu.“Aku masih ingin bersama Mami.”Martha langsung tersenyum.“Liora, bulan madu itu adalah salah satu momen yang paling ditunggu pasangan yang b

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 301

    Martin duduk termenung di sofa ruang tamu.Tatapannya berkeliling, menyapu setiap sudut rumah yang kini terasa asing baginya.Rumah itu terlalu sunyi. Tidak ada suara Leli. Tidak ada suara Cynthia. Tidak ada sapaan cerita dari Liora. Bahkan kedua putranya juga mulai sibuk dengan urusan pekerjaannya. Tidak ada lagi kehangatan yang dahulu memenuhi tempat ini.Yang tersisa hanya kesunyian dan rasa bersalah yang semakin menekan dadanya.Air mata Martin jatuh.“Ini semua salahku…”Jika sejak awal ia tidak berlaku tidak adil kepada Liora, jika ia tidak terus memanjakan Cynthia, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.Tiba-tiba ponselnya berdering.Nomor tidak dikenal.Martin menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya.“Selamat siang, Tuan Martin. Saya dari kepolisian.”“Ya?”“Nyonya Leli dan Cynthia saat ini berada dalam tahanan kami.”Jantung Martin berdegup keras.“Kenapa?”“Kasus tabrak lari dua tahun lalu kembali dibuka.”Martin langsung membeku.Kasus itu?“Penyelidikan m

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 300

    Xavier sengaja tidak memberitahu Liora satu hal.Bahwa kasus-kasus tersebut kembali dibuka bukan semata-mata karena pihak kepolisian menemukan kejanggalan.Dialah yang sejak awal mencari bukti. Mengumpulkan berbagai informasi, menelusuri fakta-fakta yang selama ini terkubur, kemudian menyerahkannya kepada pihak yang berwenang.Tanpa bukti yang cukup kuat, kasus-kasus tersebut mungkin akan tetap dianggap selesai.Xavier tidak ingin Liora mengetahui hal itu. Ia tidak ingin istrinya merasa bahwa semua yang terjadi hanya karena campur tangannya.Ia hanya ingin Liora mendapatkan kembali sesuatu yang sejak awal memang menjadi haknya.Kebebasan.Nama baik.Dan kesempatan untuk menjalani hidup tanpa bayang-bayang masa lalu.“Kamu senang?”Liora menoleh.Senyum tipis muncul di wajahnya ketika mendengar pertanyaan Xavier.Namun senyum itu tidak sepenuhnya menggambarkan kebahagiaan.“Aku senang,” jawabnya pelan.Ia terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan.“Sejahat apa pun mereka, Leli tetap ib

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 299

    Xavier menggeleng pelan.“Kasus itu memang kembali dibuka karena pihak kepolisian menemukan banyak kejanggalan. Mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres, sehingga penyelidikan dilakukan kembali.”Wajah Liora seketika berubah.Ada secercah harapan yang muncul di matanya.“Jadi… keadilan itu benar-benar ada.”Senyum kecil terbit di bibirnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa mungkin saja kebenaran yang selama ini terkubur akhirnya akan muncul ke permukaan.Namun Xavier tidak ingin memberinya harapan terlalu jauh.“Hanya saja, kita belum tahu bagaimana kelanjutan kasusnya,” ujarnya tenang. “Pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan hakim.”Liora mengangguk perlahan.Ia memahami hal itu.Selama ini, ia hanya ingin satu hal.Kebenaran.Ia ingin semua orang tahu bahwa dirinya bukan pelaku tabrak lari seperti yang selama ini dipercayai.Liora kemudian teringat sesuatu.“Apakah Mami Leli juga terlibat karena dia membantu Cynthia menyembunyikan kasus itu dan memfitna

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 298

    Leon dan Deon tidak diperbolehkan melangkah masuk ke dalam ruang interogasi. Kedua pria itu hanya bisa duduk termenung di kursi tunggu koridor kantor polisi dengan jantung yang berdegup kencang nan cemas."Menurutmu... apa yang membuat keluarga kita hancur lebur seperti ini?" gumam Leon lirih, matanya menatap kosong ke arah lantai.Deon menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ada beban rasa bersalah yang teramat berat menindih dadanya."Kesalahannya ada pada kita sendiri," sahut Deon dengan suara serak. "Kita yang terlalu jahat dan zalim pada Liora. Kita tahu kebenaran di masa lalu, tapi kita justru memilih menutup mata. Kita menganggap keputusan Papi dan Mami adalah hal yang paling benar. Padahal... justru keputusan menzalimi Liora itulah yang menjadi awal hancurnya keluarga kita."Leon mengangguk pelan, menyetujui penyesalan adiknya. "Dan menurutmu... siapa penyebab utama dari seluruh kehancuran ini?""Mami," jawab Deon tanpa ragu."Bukan Cynthia?"Leon menggelengkan

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 297

    Penyidik tidak membantah.Ia hanya mengambil sebuah laptop di atas meja.“Kalau begitu, mari kita dengarkan apa yang dikatakan wanita ini.”Sebuah rekaman diputar.Suara seorang narapidana perempuan terdengar jelas memenuhi ruangan.“Saya dibayar oleh Nona Cynthia.”Cynthia langsung membeku.“Dia meminta saya menyiksa Liora di dalam penjara.”Wajah Cynthia semakin pucat.“Dia membayar saya setiap kali saya melakukannya. Bahkan dia memberikan uang tambahan dan meminta saya membuat Liora mengalami luka parah agar wanita itu cacat.”“Tidak!”Cynthia langsung berteriak.“Itu bohong!”Penyidik menghentikan rekaman.“Masih mau mengatakan tidak mengenalnya?”Cynthia terdiam.Keringat dingin mengalir di pelipisnya.Penyidik kemudian menggeser beberapa lembar dokumen ke hadapannya.“Ini catatan transaksi.”Cynthia menatap dokumen tersebut.Nama pemilik rekening.Nomor rekening.Tanggal transaksi.Jumlah transfer.Semuanya tercatat dengan jelas.“Nona Cynthia, transaksi ini dilakukan secara ber

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 5

    Ruangan itu masih dipenuhi sisa tangis Cynthia.Namun Liora sudah tidak lagi memperhatikan.Tatapannya beralih ke Martin.Tatapan itu dingin dan tenang.Seolah semua emosi tadi… tidak pernah menyentuhnya."Apa, kata Lely?" “Aku setuju.”Kalimat itu keluar begitu saja.Membuat semua orang terdiam.

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 4

    "Tunangan?" "Iya sayang," jawab Lely lembut.“Ada sebuah keluarga." Martin diam sejenak. Berusaha menyusun kata -demi kata. "Ada keluarga yang sangat berpengaruh di kota ini.”Liora tidak menyela.Hanya menatapnya.“Hubungan dengan mereka akan membawa banyak keuntungan bagi keluarga kita.”Kalima

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 2

    Ada perubahan kecil di mata Dion.Hanya sesaat.Namun Liora melihatnya.Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan tenang di kursi belakang.Pintu tertutup.Mesin menyala.Mobil mulai bergerak.Liora menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela.Cahaya pagi masuk melalui k

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 1

    "Sayang, ayo kita pulang."Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora.Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya.Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud.Namun,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status