LOGINLiora melangkah masuk ke dalam rumah.
Langkahnya tenang. Namun tatapannya dingin. Matanya menyapu sekeliling rumah megah itu—lantai marmer yang berkilau, lampu gantung besar yang menggantung anggun, dan setiap sudut yang tampak sempurna tanpa cela. Dulu… ia pernah bermimpi bisa kembali ke tempat ini. Merasakan kehangatan keluarga. Berkumpul kembali dengan kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Namun ternyata, ia di jemput hanya untuk mengantikan kakaknya masuk tahanan. Namun sekarang, tidak ada rasa bahagia. Tidak ada rasa kagum. Yang muncul justru kenangan. Kenangan yang tidak ingin ia ingat. — “Mami… aku tidak mau dipenjara… tolong aku…” Suara itu terdengar putus asa. Tubuh kecil itu bersujud di lantai dingin, memohon dengan sisa harapan yang hampir habis. Namun wanita di hadapannya hanya menatap dengan dingin. Tanpa belas kasihan. “Kami tidak pernah mengharapkanmu.” Suara itu tajam. Menusuk. “Aku bahkan sudah mencoba membunuhmu saat kau belum lahir. Tapi kau terlalu keras kepala untuk mati.” Hening sejenak. Tatapan itu semakin dingin. “Kau memang anak pembawa sial. Kau hampir membunuh kakakmu.” Senyum tipis terbentuk di bibir wanita itu. “Anggap saja ini… caramu menebus dosa.” "Aku janji tidak akan pernah muncul di hadapan kalian. Aku tidak akan pernah keluar dari desa. Aku akan tetap di sana selamanya. Tapi aku mohon, biarkan aku pergi." Bukannya rasa kasian yang ia dapatkan, justru tendangan keras yang menghantam dadanya. "Kau pikir, bisa bernegosiasi dengan kami." Suara berat itu milik Leon. Liora tahu, memohon tidak ada gunanya, ia pun memilih untuk lari. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Bibi Nina. Liora langsung menoleh ke belakang, ternyata di layar televisi, wajah wanita tua itu memenuhi layar berukuran 64 inch tersebut. Setelah itu, ia akhirnya menurut. Tanpa mengatakan apapun ke pada polisi yang menjemputnya. — Liora berkedip pelan. Kenangan itu menghilang. Namun rasa sesaknya… masih tertinggal. Ia kembali menatap ke depan. Ruang tengah itu luas. Dan mereka… sudah menunggu. Lely, Martin, Cynthia dan Lion. Seolah kedatangannya memang sudah direncanakan sejak awal. “Liora.” Suara Lely terdengar lembut. Terlalu lembut… dibandingkan dengan kata-kata yang pernah keluar dari mulutnya. Namun Liora hanya diam. Menatap wanita itu tanpa reaksi. “Mami senang kamu pulang.” Lely melangkah mendekat. Senyum hangat, tatapan penuh kasih. Sempurna. Terlalu sempurna… hingga terlihat palsu. Namun Liora tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di sana— diam. Dengan tatapan yang dingin. Dan tidak lagi percaya. Lely bisa merasakan perubahan sikap putrinya. Tidak ada lagi tatapan yang dulu, ingin di manja dan ingin selalu dekat dengannya. “Kamu terlihat baik-baik saja di sana.” Liora berhenti beberapa langkah dari wanita itu. Menatapnya. Apakah wanita itu tidak melihat tubuhnya sudah jauh lebih kurus? Senyum tipis terlihat jelas di bibir Liora. Mana mungkin wanita itu akan sadar. Karena dia sudah 12 tahun di buang ke desa bersama Bibi Nina. Di jemput kembali hanya untuk mengantikan kakaknya Cintya. Liora hanya membalas dengan senyum tipis. Perubahan kecil terlihat di wajah Lely. “Kenapa?” tanyanya pelan. Liora memiringkan kepala sedikit. “Kenapa apa?” Lely tampak ragu sejenak. Seolah tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu. "Mami merindukanmu." Lely mengembangkan tangannya lebar-lebar dan menunggu Liora masuk ke dalam pelukannya. Namun putri bungsunya itu hanya diam memandangnya. Lely kembali berjalan dan mendekat. Namun begitu ia sudah semakin dekat dengan Liora, gadis itu justru mundur. "Aku tidak ingin di peluk." Lely terdiam. Dia berpikir hubungannya dengan Liora akan membaik, jika ia memperlakukan anak bungsunya itu dengan baik? Liora melangkah sedikit lebih dekat. “Anda memintaku kembali ke sini,” ucapnya tenang. “Itu berarti… ada sesuatu yang kalian butuhkan.” Hening. Tidak ada yang langsung menjawab. "Baiklah, sepertinya tidak ada. Kalau begitu aku pamit." Liora bersiap untuk pergi. Bibi Nina mengirimkannya uang. Itu artinya, ia bisa kembali ke desa dengan uang itu. Ia sangat merindukan wanita baik itu. Di dalam tahanan, hanya bibi Nina yang membuat ia tetap bertahan. Tatapan Liora berpindah ke arah Cynthia. Gadis berusia 24 tahun itu berdiri di samping Martin. Wajahnya pucat. Tangannya menggenggam lengan ayahnya erat, seolah mencari perlindungan. Tubuhnya sedikit gemetar. Air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya. Liora menatapnya sekilas. Lalu mengalihkan pandangannya. Tidak ada simpati. Tidak ada empati. Hanya rasa kosong… dan sedikit jijik. "Kamu mau ke mana sayang? Ini rumah kamu," kata Lely dengan sangat lembut. Liora menggelengkan kepalanya. "Ini bukan rumah ku." “Liora,” suara Martin terdengar lembut. Jauh lebih lembut dari yang pernah ia tunjukkan sebelumnya. “Bagaimana kabarmu?” Liora tertawa pelan. Pertanyaan yang sederhana. Namun terdengar begitu asing. “Selama dua tahun aku di dalam sana untuk mengantikan anak kesayanganmu, dan baru sekarang anda bertanya bagaimana kabarku?” ucapnya perlahan. Ia menatap Martin dengan tatapan geli. “Tidak satu pun dari kalian datang menjenguk.” Ia berhenti sejenak. Tatapannya menyapu mereka satu per satu. “Kalian juga tidak pernah mengirim pakaian hangat saat musim dingin.” Senyumnya tipis. “Dan sekarang… Anda bertanya bagaimana kabarku?” Sunyi. Tidak ada yang langsung menjawab. Tidak ada yang membantah. Lely menarik napas pelan. Lalu melangkah mendekat lagi. “Kami tahu… kami banyak melakukan kesalahan,” ucapnya lembut. “Dan kami menyesal.” Nada suaranya hati-hati. Seolah takut menyentuh sesuatu yang rapuh. “Kami sangat sibuk mengurus kesehatan Cintya. Namun sekarang, kami ingin memperbaikinya.” Liora tidak bergerak. Tidak mundur. Namun juga tidak merespon. Martin berdehem pelan, lalu melanjutkan. "Besok pagi, jam 10, adalah acara pertunanganmu." Terjawab ---Sudah tiga hari Leli dan Cynthia menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat sabetan cambuk hukuman keluarga Dominic. Namun selama tiga hari itu pula, Martin tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di ruang rawat tersebut. Hanya Leon dan Deon yang bergantian datang menjenguk kondisi mereka."Kenapa papimu sama sekali tidak mau datang menjenguk Mami?!" ceroscos Leli dengan raut wajah berang menahan nyeri di punggungnya.Leon menatap ibunya dengan pandangan dingin nan lelah. "Papi tegaskan Mami bukan lagi istrinya. Surat gugatan perceraian kalian sudah resmi didaftarkan Papi ke pengadilan."Mendengar hal itu, Leli seketika menjerit panik. "T-tidak! Mami tidak sudi bercerai dari papimu!"Baru detik ini rasa penyesalan yang teramat sangat menghantam kesadaran Leli. Selama ini ia sudah kelewat terbiasa hidup bergelimang kemewahan. Bagaimanakah nasib kehidupannya kelak tanpa adanya 'donatur' setia seperti Martin—pria yang selama puluhan tahun selalu menuruti setiap kegilaan dan kehend
“Kamu yang menabrak orang itu, Cynthia. Kamu yang menyebabkan semuanya terjadi.” Suara Leon semakin tegas. “Jadi sekarang, kamu sendiri yang harus mempertanggungjawabkannya di hadapan hukum.”“T-tidak...” Cynthia menggeleng keras.Leon mengepalkan tangan.“Aku menyesal.”Cynthia menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.“Aku menyesal karena dulu ikut menutup mata. Aku menyesal pernah melindungimu dan membiarkan Liora menanggung kesalahan yang bukan miliknya.”“T-tidak! Aku tidak mau dipenjara!”Cynthia kembali menangis.Ia buru-buru merangkak ke arah Deon.“Kak Deon! Tolong aku! Aku takut!”Deon membeku.Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia bahkan tidak sanggup menatap mata Cynthia.“Belajarlah bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan.”“Kak...”“Dua tahun lalu, Liora harus membusuk di dalam penjara demi menanggung kesalahanmu.” Suara Deon bergetar, tetapi ia memaksa dirinya tetap tegas. “Sekarang... giliranmu menghadapi konsekuensinya.”Cynthia terisak semaki
Jari-jemari lentik Liora mulai merambat halus. Istri kecil Xavier itu menyusupkan tangannya ke balik kaus santai yang dikenakan suaminya, meraba perut berotot Xavier dengan sentuhan lembut nan hangat.Xavier seketika menahan napas, dadanya menegang menahan gejolak yang mendadak membakar tubuhnya. Napasnya kian tertahan ketika tangan mungil Liora merambat lebih tinggi, mengelus dada bidangnya yang terasa keras.Anehnya, Liora melakukan semua itu tanpa prasangka apa pun. Mulutnya tak henti-hentinya mengoceh riang, menceritakan kembali momen-momen berkesan saat pesta resepsi mereka tadi. Liora bahkan berbisik penuh ketakjuban—tak menyangka Mami mertuanya akan membela dirinya sehabis-habisan. Melihat raut wajah Leli dan Cynthia yang hancur berkeping-keping, Liora merasa lega. Ia yakin, setelah ini tidak akan ada lagi yang berani mengganggunya karena Mami mertuanya sangat galak dan protektif.Namun, Xavier sudah tidak bisa lagi fokus mendengarkan ocehan riang itu. Pria dewasa itu menarik l
Kecupan hangat di kening itu membuat Liora perlahan memejamkan mata.Untuk beberapa detik, ia hanya diam dalam pelukan Xavier.Dada bidang pria itu terasa kokoh di dekat tubuhnya. Kehangatan dari pelukan tersebut perlahan meredakan kegugupan yang sejak tadi menguasai dirinya. Anehnya, berada sedekat ini dengan Xavier tidak lagi membuatnya ingin menjauh.Justru sebaliknya.Liora merasa aman.Sangat aman.Xavier pun tidak terburu-buru.Ia hanya membiarkan istrinya berada dalam pelukannya, seolah-olah ingin memberinya kesempatan untuk terbiasa dengan kedekatan mereka.Namun ketika Liora akhirnya mengangkat wajah, mata mereka bertemu.Dan seketika suasana berubah.Xavier merenggangkan pelukannya sedikit.Cukup untuk melihat wajah Liora dengan jelas.Tatapan pria itu tertahan lama di sana.Rambut lembut yang membingkai wajah Liora, pipinya yang masih bersemu merah, serta sepasang mata bening yang kini menatapnya dengan gugup.Xavier sampai lupa bernapas sesaat.“Kenapa menatapku seperti it
Malam kian larut.Setelah pesta resepsi megah yang berlangsung berjam-jam akhirnya usai, Xavier membawa Liora ke penthouse pribadinya.Kamar utama di lantai paling atas telah disiapkan dengan begitu indah. Lilin aromaterapi berjajar di beberapa sudut ruangan, menyebarkan aroma lembut yang menenangkan. Kelopak mawar merah ditaburkan membentuk pola sederhana di atas tempat tidur king size.Namun, semua kemewahan itu justru membuat Liora semakin salah tingkah.Setelah membersihkan diri dan mengganti gaun mewahnya dengan piyama sutra longgar berwarna krem, gadis berusia sembilan belas tahun itu berdiri di depan meja rias sambil pura-pura sibuk merapikan rambut.Padahal sejak tadi, rambutnya sudah berkali-kali ia sisir dengan jemarinya.Pipi Liora memerah.Mulai malam ini, ia dan Xavier benar-benar akan berbagi kamar sebagai suami istri.Jantungnya berdetak begitu cepat sampai-sampai ia merasa Xavier mungkin bisa mendengarnya.Di belakangnya, pintu kamar mandi terbuka.Xavier keluar dengan
Malam kian larut.Setelah pesta resepsi megah yang berlangsung berjam-jam akhirnya usai, Xavier membawa Liora ke penthouse pribadinya.Kamar utama di lantai paling atas telah disiapkan dengan begitu indah. Lilin aromaterapi berjajar di beberapa sudut ruangan, menyebarkan aroma lembut yang menenangkan. Kelopak mawar merah ditaburkan membentuk pola sederhana di atas tempat tidur king size.Namun, semua kemewahan itu justru membuat Liora semakin salah tingkah.Setelah membersihkan diri dan mengganti gaun mewahnya dengan piyama sutra longgar berwarna krem, gadis berusia sembilan belas tahun itu berdiri di depan meja rias sambil pura-pura sibuk merapikan rambut.Padahal sejak tadi, rambutnya sudah berkali-kali ia sisir dengan jemarinya.Pipi Liora memerah.Mulai malam ini, ia dan Xavier benar-benar akan berbagi kamar sebagai suami istri.Jantungnya berdetak begitu cepat sampai-sampai ia merasa Xavier mungkin bisa mendengarnya.Di belakangnya, pintu kamar mandi terbuka.Xavier keluar dengan
Seketika itu juga, hawa di dalam mobil mendadak turun drastis menjadi sedingin es.Xavier melirik spion tengah dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. "Jika kau tertawa sekali lagi, bonus tahunanmu akan aku potong habis!"Satu kalimat ancaman itu meluncur dengan nada sangat datar, namun efeknya
Malam itu, rumah keluarga Martin berubah total.Lampu-lampu kristal menyala terang, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan. Karpet merah terbentang dari gerbang hingga pintu utama. Mobil-mobil mewah berdatangan tanpa henti, menurunkan tamu-tamu dengan pakaian elegan dan senyum penuh kepentingan
Udara sore itu terasa berat ketika Liora melangkah keluar dari kafe.Ia tidak langsung pulang.Sejak keluar dari bank, ia tampak waspada membawa tasnya. Tas ini berisi buku-buku, uang dan batu bata. Jelas terasa cukup berat.Langkahnya tenang menyusuri trotoar di depan kafe. Tangannya menggenggam e
“Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke da







