ANMELDENMartin duduk tegap di kursi kebesarannya. Ia menyalakan laptop, lalu mulai membaca lembar demi lembar draf kontrak kerja sama berskala besar yang rencananya akan dikirimkan kepada Dominic Group milik Xavier.Meskipun kondisi keuangan perusahaannya saat ini sedang berada di titik kritis, Martin menolak keras untuk sekadar mengandalkan belas kasihan.Ia berusaha mempertahankan sedikit harga dirinya yang masih tersisa. Jika mengingat seperti apa dirinya dulu, rasanya sangat memalukan. Ia bahkan tidak malu untuk mengemis kontrak kerja sama, atas perintah Leli. Pria paruh baya itu tidak ingin mengorbankan profesionalisme atau memanfaatkan status Xavier sebagai calon menantunya tanpa melalui proses seleksi ketat dari tim legal terlebih dahulu. Baginya, akan sangat memalukan jika ia menjual hubungan kekeluargaan demi mendapatkan tender sebesar itu.Di tengah kesibukannya memeriksa draf dokumen, gerakan jemari Martin di atas keyboard tiba-tiba terhenti.Pikirannya melayang kepada putri bungs
Genggaman tangan Xavier pada jemari mungil Liora membuat riuh bisik-bisik para calon mahasiswi di pelataran kampus seketika mereda. Dengan penuh kelembutan, sang taipan menuntun calon istrinya masuk ke dalam Maybach hitam mewah yang telah menunggu di depan gedung.Pintu mobil segera ditutup rapat oleh pengawal, mengisolasi mereka berdua dari tatapan kagum ratusan pasang mata di luar sana.Begitu mobil melaju mulus membelah jalanan, Xavier melepaskan jasnya dan menyingsingkan lengan kemeja putih hingga ke siku. Pria tegap itu kemudian merengkuh tubuh mungil Liora, membawanya bersandar nyaman di dada bidangnya sembari mengusap lembut rambut gadis itu.“Bagaimana ujiannya tadi, hm?” tanya Xavier. Suara baritonnya mengalun hangat di dekat telinga Liora.Liora menengadah. Sepasang mata jernihnya berbinar penuh semangat.“Lancar sekali, Xavier! Soal-soalnya mirip dengan yang aku pelajari selama di rumah. Aku yakin seratus persen nilaiku pasti bagus!”Xavier menyunggingkan senyum tipis yang
Mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh Leon perlahan memasuki area pelataran parkir Universitas nomor satu di Indonesia. Di dalam mobil, suasana riuh rendah oleh ocehan Dion dan Leon yang sejak tadi tak henti-hentinya memberikan petunjuk dan semangat untuk adik bungsu kesayangan mereka."Ingat ya, Dek... Kerjakan yang mudah dulu. Jangan buru-buru, waktu ujiannya panjang kok," tutur Leon seraya mematikan mesin mobil dan menoleh ke belakang."Benar kata Kak Leon. Kalau ada soal yang membingungkan, pakai insting saja. Jangan sampai stres," tambah Dion seraya mengacak pelan puncak kepala Liora dengan gemas.Liora mengangguk-angguk anggun dengan senyum manis terukir di bibirnya. Wajahnya yang segar berbalut kemeja putih dan rok hitam membuat penampilannya terlihat begitu memesona namun tetap anggun dan polos.Ketiganya melangkah keluar dari mobil menuju gedung fakultas tempat ujian dilaksanakan. Kehadiran mereka bertiga seketika menarik perhatian dari ratusan calon mahasiswa baru yang mem
"Betul sekali, Kak Leon lebih bisa dipercaya," timpal Dion menyeringai tipis.Wajah Leli seketika memerah padam karena amarah melihat kedua putra kandungnya justru membela Liora. "Harus Mami yang simpan! Mami ini ibunya!"Liora memandang wajah mereka satu per satu, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan polos. "Aku... daripada ke Mami, sebenarnya lebih percaya ke Kak Leon sih. Soalnya Kak Leon terlihat lebih jujur. Atau Kak Dion juga boleh, walaupun kadang menjengkelkan, tapi Kak Dion baik dan jujur."Pukulan telak itu membuat raut wajah Leon dan Dion seketika semringah bangga."Nah, benar kan!" sahut Dion tertawa puas. "Kami laki-laki tidak akan memakainya untuk pamer. Dan kami juga tidak sedang butuh uang mendesak untuk menjualnya diam-diam. Kalau diberikan ke Mami... wah, rawan sekali! Sama saja seperti investasi bodong—uang masuk tidak akan pernah kembali! Diberikan ke Papi juga kasihan, lihat tuh raut wajah Papi."Martin yang disindir sama sekali tidak marah. Pria paruh
Pagi yang cerah menyambut kediaman keluarga Martin. Suasana hati Liora tampak sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Begitu kelopak matanya terbuka, seketika warna merah muda bersemu hangat di kedua pipi mulusnya. Jemari mungilnya perlahan terangkat, menyentuh bibirnya lembut.Jejak hangat kecupan Xavier semalam seolah masih tertinggal di sana, membakar dadanya dengan desiran manis yang membuat jantungnya berdebar kencang.Ternyata benar... rasa galau, gelisah, dan suasana hati yang buruk selama beberapa hari terakhir murni karena rasa rindu yang terlampau besar pada sang calon suami. Dan kini, begitu Xavier kembali, seluruh beban dan kegelisahan itu sirna tanpa sisa.Liora segera mandi dan bersiap-siap dengan riang. Hari ini adalah hari penting—ia akan pergi ke kampus untuk mengikuti tes seleksi masuk perguruan tinggi. Semua berkas dan dokumen pendaftarannya sudah dibereskan dengan sangat rapi oleh kedua kakak laki-lakinya, Dion dan Leon.Wajah Liora pagi ini terlihat begitu segar
Leli membeku di tempatnya. Kalimat "pengadilan" yang keluar dari mulut Martin seolah menjadi petir di siang bolong yang meremukkan seluruh pertahanannya.Martin menatap Leli dengan mata memerah menahan amarah yang telah membendung belasan tahun. Napasnya memburu, dadanya kembang-kempis menahan gejolak emosi yang hampir membuat dadanya meledak."Jika kamu memang sudah tidak bisa berubah dan tetap merasa kurang... kita cerai saja, Leli!" seru Martin dengan suara bariton yang bergetar penuh kepahitan. "Mungkin aku memang pria bodoh yang tidak layak menjadi suamimu!"Leli menahan napas, bibir bermerahkan warna cabai itu mendadak menggeletar panik. "M-Martin... kamu bicara apa—""Dengar, Leli!" potong Martin seraya menunjuk wajah istrinya. "Selama berpuluh-puluh tahun, setiap bulan kamu menguras kartu kredit dan rekening pribadiku minimal 500 juta rupiah. Cynthia? Anak kesayanganmu itu melahap 200 hingga 400 juta rupiah tiap bulannya! Kalian berdua dengan entengnya menghamburkan sampai 1 m
Xavier memandang Liora beberapa saat tanpa berbicara.Sorot matanya tenang. Namun tajam. Seolah sedang mencoba membaca isi kepala gadis di depannya.“Jadi,” ucapnya pelan, “apa kau benar-benar siap menjadi istriku?”Xavier bertanya sekali lagi, hanya untuk memastikan.“Iya.”Jawaban Liora singkat.
“Dan pria yang tidak tahu cara berterima kasih,” balas Liora datar.Beberapa tamu mulai saling berpandangan. Tidak ada yang menyangka seorang gadis muda berani berbicara dengan Xavier Dominic, tanpa ada rasa takut. Tatapan mata gadis itu juga tajam, seakan ia sedang menantang. Apakah gadis malang
Malam itu, rumah keluarga Martin berubah total.Lampu-lampu kristal menyala terang, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan. Karpet merah terbentang dari gerbang hingga pintu utama. Mobil-mobil mewah berdatangan tanpa henti, menurunkan tamu-tamu dengan pakaian elegan dan senyum penuh kepentingan
Udara sore itu terasa berat ketika Liora melangkah keluar dari kafe.Ia tidak langsung pulang.Sejak keluar dari bank, ia tampak waspada membawa tasnya. Tas ini berisi buku-buku, uang dan batu bata. Jelas terasa cukup berat.Langkahnya tenang menyusuri trotoar di depan kafe. Tangannya menggenggam e







