Share

BAB 17

Penulis: Rose
last update Tanggal publikasi: 2025-05-21 17:06:54

Melihat senyum jahil Daniel, Latisha justru makin ragu untuk menyusul Sagara ke atas. Terlebih saat membayangkan wajah datar dan dingin suaminya yang akhir-akhir ini terasa makin sulit ditebak.

“Kenapa? Takut dimarahin Mas Saga?” goda Daniel sambil menatap kakak iparnya dengan senyum lebar.

Latisha mendesah pelan dan menggeleng. “Bukan takut… tapi males,” jawabnya jujur tanpa basa-basi.

Daniel terkekeh. Ia tahu, hubungan kakak laki-lakinya dan Latisha memang jauh dari kata romantis seperti pasa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terpaksa Menikahi Atasanku   BAB 85

    "Nad, kabarin gue kalau ada perkembangan apa pun soal kasus itu, ya."Latisha meletakkan cangkir kopinya perlahan ke atas meja. Uap tipis masih mengepul, tetapi sejak tadi minuman itu nyaris tak disentuh. Tatapannya lebih sering menerobos keluar jendela kafe yang menghadap ke gedung-gedung perkantoran, salah satunya kantor tempat Sagara bekerja.Mereka sengaja memilih kafe yang letaknya tidak jauh dari sana. Bukan tanpa alasan. Latisha berharap, entah bagaimana caranya, ia bisa merasa sedikit lebih dekat dengan suaminya yang sejak beberapa hari terakhir sibuk mengurus persoalan sengketa tanah.Sayangnya, harapan itu hanya sebatas angan.Latisha tahu betul sifat Sagara. Jika pria itu memutuskan menangani suatu perkara, maka ia akan menanggung semuanya sendiri. Melibatkan istrinya adalah hal terakhir yang akan ia lakukan.Nadya mengembuskan napas pelan sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi."Sebenernya kasus ini nggak serumit yang kelihatannya, Cha," katanya tenang. "Semua bukti kepemi

  • Terpaksa Menikahi Atasanku   BAB 84

    "Kenapa nggak bilang?"Suara itu menghentikan langkah Latisha yang baru saja keluar dari lobi Gedung Kusumawardhana. Ia menoleh cepat."Mas..."Ada keterkejutan yang jelas di wajahnya saat mendapati Sagara berdiri beberapa meter darinya. Pria itu masih mengenakan kemeja kerja berwarna gelap dengan lengan yang digulung hingga siku. Rahangnya mengeras, tetapi bukan amarah yang paling menonjol dari sorot matanya—melainkan kekhawatiran.Sagara menghampiri tanpa banyak bicara. Jemarinya langsung menggenggam tangan Latisha."Kita pergi dulu dari sini."Latisha tidak melawan. Ia hanya mengangguk pelan, membiarkan dirinya dibawa menuju mobil yang terparkir di pelataran.Sepanjang perjalanan, kabin mobil dipenuhi keheningan. Hanya suara mesin dan embusan pendingin udara yang terdengar samar.Latisha beberapa kali melirik suaminya dari sudut mata. Wajah Sagara tetap datar, kedua tangannya menggenggam kemudi dengan erat. Ekspresinya sulit ditebak, dan justru itu yang membuat dada Latisha semakin

  • Terpaksa Menikahi Atasanku   BAB 83

    "Oh, ternyata ada kamu?" Suara bernada sinis itu memecah keheningan.Latisha menoleh perlahan.Seorang wanita berdiri beberapa langkah darinya. Rambutnya tertata rapi, gaun mahal yang dikenakannya membalut tubuh dengan sempurna. Tas bermerek tergantung anggun di lengannya, sementara tatapan matanya dipenuhi rasa merendahkan. Bibirnya melengkung tipis, lebih menyerupai senyum mengejek daripada sapaan.Wanita itu melangkah mendekat dengan dagu terangkat, seolah kehadirannya saja sudah cukup untuk menunjukkan siapa yang lebih berkuasa di tempat itu."Masih berani juga kamu menginjakkan kaki di sini?" tanyanya. "Atau... jangan-jangan kamu datang buat minta bantuan pada papamu?"Latisha memandangnya tanpa banyak ekspresi. Tatapannya datar, begitu tenang hingga membuat Rosa sedikit terganggu."Kalau memang saya datang untuk menemui beliau," jawab Latisha pelan, "rasanya saya tidak perlu meminta izin kepada siapa pun."Rosa terkekeh sinis."Kamu masih saja merasa punya hak di keluarga ini?"

  • Terpaksa Menikahi Atasanku   BAB 82

    Latisha memandang ke arah pintu yang baru saja ditutup Sagara. Dadanya dipenuhi kegelisahan. Semakin dipikirkan, semakin ia merasa ada sesuatu yang belum terungkap."Ma..." panggilnya pelan sambil menoleh kepada sang ibu. "Kayaknya aku harus ke kantor."Hana langsung mengernyit. "Ke kantor? Untuk apa, Cha?""Aku mau ketemu Papa.""Papa?" Hana tampak semakin bingung.Latisha mengangguk mantap."Setidaknya aku harus tahu kenapa mereka sampai mengusik bisnis Mas Sagara." Tatapannya berubah sendu. "Masalah ini awalnya berkaitan denganku dan keluarga kita. Mas Sagara seharusnya tidak ikut dilibatkan."Hana menghela napas panjang. Ia memahami apa yang sedang dipikirkan putrinya, tetapi sebagai seorang ibu, ia tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya."Kamu yakin ingin ke sana sekarang? Mama takut mereka justru memanfaatkan keadaan.""Aku nggak akan bertindak gegabah, Ma." Latisha menggenggam tangan ibunya. "Aku cuma ingin mendengar penjelasan Papa. Kalau memang ada sesuatu yang selama ini di

  • Terpaksa Menikahi Atasanku   BAB 81

    "Jujur sama saya," ucap Sagara pelan, matanya tak lepas menatap wajah istrinya. "Kamu sebenarnya sudah tahu permasalahan yang sedang terjadi, kan?"Latisha terdiam beberapa saat. Senyum tipis yang sejak tadi berusaha dipertahankannya perlahan memudar. Ia mengembuskan napas pelan, lalu mengangguk kecil."Iya," jawabnya lirih. "Aku sudah tahu."Tatapannya turun ke cangkir teh hangat di tangannya. Jemarinya mengusap pelan bibir cangkir, seolah mencari keberanian untuk melanjutkan kalimat berikutnya."Maafin aku ya, Mas..." suaranya nyaris berbisik. "Karena aku, kamu jadi ikut kena."Sagara langsung menggeleng tanpa ragu. Ia menggeser duduknya lebih dekat, lalu menggenggam tangan Latisha yang terasa dingin."Hei..." panggilnya lembut, menunggu hingga Latisha kembali menatapnya. "Ini bukan salah kamu, Sayang."Ia mengusap punggung tangan istrinya perlahan, berusaha menenangkan rasa bersalah yang jelas tergambar di wajah wanita itu."Yang salah adalah orang-orang yang sengaja menyebarkan fi

  • Terpaksa Menikahi Atasanku   BAB 80

    Latisha yang sedang menyusun beberapa potong kue tahu di atas piring segera menoleh saat mendengar suara pintu depan terbuka. Senyum hangat langsung mengembang di wajahnya, seolah menyambut kepulangan suaminya seperti hari-hari biasa."Mas, pulang..." sapanya lembut.Sagara menghentikan langkahnya sesaat. Jas yang masih melekat di tubuhnya belum sempat dilepas, sementara wajahnya menyimpan lelah yang begitu kentara. Ia membalas senyum Latisha dengan tipis, lalu mengangguk pelan."Iya."Latisha menghampirinya. Jemarinya dengan cekatan mengambil tas kerja dari tangan Sagara, lalu meletakkannya di atas sofa."Capek banget, ya?" tanyanya lirih sambil mendongak menatap wajah sang suami.Sagara kembali mengangguk singkat.Tatapan Latisha melembut. Tak perlu penjelasan panjang, ia sudah bisa membaca betapa berat hari yang dilalui pria itu. Garis lelah di wajahnya, mata yang sedikit memerah, hingga napas panjang yang beberapa kali terembus pelan sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuan

  • Terpaksa Menikahi Atasanku   BAB 21

    “Bagaimana progres proyek kita di Bali?” tanya Sagara tiba-tiba, tatapannya tajam menembus Latisha yang duduk di sebelah kirinya, tampak setengah mengantuk.Latisha terlonjak kecil, mencoba menegakkan punggung. Sepertinya Sagara sengaja melempar pertanyaan saat ia tak fokus.“Kita bisa mulai dari p

  • Terpaksa Menikahi Atasanku   BAB 19

    Latisha membalas senyum itu, meski samar. Ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah ibu mertuanya pagi ini, wajah ceria dan hangat itu berubah menjadi sedikit gelisah.“Kalau begitu, Ibu istirahat saja, biar Tisha yang masak makan siang, ya?” ucapnya lembut, tak tega melihat wajah pucat Rianti yang

  • Terpaksa Menikahi Atasanku   BAB 18

    "Apa alasan Mas menikah dengan Latisha?" tanya Daniel pelan, memecah keheningan pagi yang diliputi kabut tipis. Mereka duduk di teras belakang rumah, ditemani secangkir kopi hangat dan kicauan burung yang bersahutan dari kejauhan.Sagara menoleh perlahan, alisnya terangkat sedikit. “Apa maksudmu?”

  • Terpaksa Menikahi Atasanku   BAB 11

    "Pak Saga emang seotoriter itu, Mas?" tanya Latisha, memecah keheningan dalam perjalanan pulang.Seperti yang terjadi pagi tadi, rencana liburannya kembali gagal. Alih-alih menikmati waktu luang, kini ia harus menerima kenyataan: Sagara memintanya ikut ke Semarang. Memaksa, lebih tepatnya.Memangny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status