Share

Bab 3

Penulis: Hibatillah S.
last update Tanggal publikasi: 2024-03-17 14:30:17

"Bel..."

"Tauk ah, Ra. Dah malem ini nggak usah berisik. Aku mau tidur."

Gara naik ke atas tempat tidur. Ia menarik selimut Bella dengan sekali tarik.

"Aku pergi seharian dengan Ayah untuk mencari sekolah baru untuk kita. Setelah itu aku nganter Papamu ke bandara. Dia bilang mau ke luar negeri untuk urusan entah urusan apa yang diurus mafia sepertinya aku tidak tahu. Dan pulang-pulang kau marah begini denganku."

"Aku nggak marah. Terserah kamu aja deh. Mau kemana kek."

Gara diam.

"Ngapain diem aja?"

"Lagi mikir enaknya cewek modelan kamu ini diapain."

Bella melebarkan matanya.

"Emangnya kamu mau ngapain?"

"Ngapain aja boleh kan kamu istriku."

"Ih, sumpah kamu serem banget. Katanya nggak suka sama aku. Kenapa sekarang begini?"

"Cowok bisa aja kok Bel bercinta tanpa mencintai."

"Dih gila."

Cletak!

Lagi-lagi Gara menyentil jidat Bella.

"Aww..."

"Nggak usah punya pikiran macem-macem. Besok kita mulai sekolah lagi. Bangun yang pagi. Aku nggak mau menjadi alarmmu."

"Peluk boleh?" Tanya Bella dengan nada manja pada Gara.

"Aku tidak menyukaimu, jadi kenapa aku harus memelukmu?"

Bella merengut.

"Yaudah sih. Si paling sok tidak suka. Tapi doyan kalo ciuman."

Bella mulai mengungkit kejadian tadi pagi yang mana Gara benar-benar mencium Bella selayaknya suami-istri.

Kesal karena disindir Bella akhirnya Gala merebahkan diri di samping Bella. Ia menepuk tempat kosong di sampingnya. Menyuruh Bella mendekat. Padahal tadi niatnya Gara mau belajar dulu.

"Cuma peluk?" Tanya Gara ketika Bella sudah mendekat. Ia sengaja bertanya begitu untuk menggoda istrinya.

"Peluk aja kalo dapet udah seneng kok," jawab Bella polos.

Gara pun melingkarkan tangannya ke pinggang Bella. Mereka saling berhadapan.

"Kamu udah nggak marah kan?" Tanya Bella.

"Marah soal apa?" Gara malah bertanya balik.

"Ya soal pemfitnahan ini. Kan gara-gara kejadian ini kita jadi menikah. Kemarin kamu kelihatan marah."

"Kalau pun aku marah nggak merubah keadaan juga Bel. Yaudah sih. Udah terlanjur. Dijalani aja."

"Kira-kira siapa ya Ra yang tega jebak kita kayak gini?"

Gara memperhatikan Bella. Dalam jarak sedekat ini bohong jika ia tidak berdesir. Sebagai laki-laki normal berada satu ranjang dengan seorang gadis pasti membuat sedikit banyak perasaannya bergejolak.

"Nggak usah dipikirin. Cepet tidur. Kalo nggak tidur nanti kamu nyesel."

Bella menurut. Ia kadang memang sepolos itu.

***

Drap! Drap! Drap!

Bella menuruni tangga dengan buru-buru. Ada selembar handuk yang tersampir di pundaknya. Ia kalang kabut karena lagi-lagi terlambat bangun.

Sementara di bawah ia melihat Gara sudah rapi, duduk santai menikmati sarapannya.

"Yaakkk!!! Bibi kenapa aku tidak dibangunin sih?" Gerutu Bella.

"Kan Nona sekarang sudah punya suami. Bibi nggak enak kalau mau bangunin Nona."

Bella beralih melihat Gara. Ia tampak sudah selesai dengan sarapannya.

"Terus kenapa kamu nggak bangunin aku Ra?"

"Kan aku sudah bilang nggak mau jadi alarm kamu. Buruan siap-siap sana. Aku tunggu di depan."

"Haduhh... Iya deh iya. Bi, tolong bawakan bekal ya untuk sarapan."

Bibi Ina malah diam saja.

"Kenapa Bi?"

"Anu... Bibi belum sempat bikin sarapan ee Non. Gimana ya?"

"Terus Gara tadi sarapan apa?"

"Itu... Tuan Muda masak sendiri."

"Hah? Serius?" Bella tidak menyangka jika seorang Gara mau masak sendiri untuk sarapan. Serius Gara sekeren itu?

"Udah. Nggak usah pusing. Buruan siap-siap. Nih, aku dah siapin bekel sarapan buat kamu. Tapi besok-besok buat sendiri. Nggak boleh terlalu manja dan apa-apa Bi Ina." Gara meninggalkan satu kotak bekal di atas meja.

"Ihh... So sweet. Diem-diem perhatian rupanya suamiku."

Bibi Ina terkikik sendiri melihat kelakuan Bella. Ah, Bibi Ina jadi keinget pas masih muda dulu.

"Sepuluh menit ya Bel. Kalo lebih dari sepuluh menit bakal aku tinggal."

"Ah, oke, oke. Aku siap-siap sekarang."

Lima belas menit kemudian Bella turun. Ia langsung masuk mobil. Kedatangannya terlihat riweuh. Ia meletakkan bekal yang diberikan Gara di dasbor. Kemudian melemparkan tasnya ke jok belakang.

"Aku bilang sepuluh menit ya Bel. Dan kamu baru datang setelah lima belas menit." Gara mulai melajukan mobilnya.

"Aku belum sempat catok rambut loh Ra. Kamu udah nggak sabaran aja." Bella memoleskan lipstik warna pink ke bibirnya. Selain itu Bella juga menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya. Aroma strawberry langsung menguar di dalam mobil.

"Kamu mau sekolah apa mau ke kondangan sih rempong banget dandan."

"Yee... Namanya juga cewek. Kamu kayak nggak tau aja. Aduh, Ra. Aku haus banget. Mana tadi lupa nggak bawa air minum. Nepi ke minimarket bentar dong beli minum."

Gara yang sedang fokus menyetir berdecak kesal.

"Udah mau terlambat kita Ra. Ambil di tasku aja deh."

"Ohh... Sweet boy. Thanks Ra."

Bella meraih botol minum dari tas Gara. Sebelumnya ia sempat mengecup pipi Gara sebagai tanda terimakasih.

"Ada untungnya juga kamu yang jadi suamiku. Ternyata kamu orangnya rajin dan disiplin. Pantes ya di sekolah kamu banyak dikejar-kejar cewek." Bella memimum air itu.

"Kamu yang untung, aku yang buntung dapet istri suka telat bangun, manja, kek bocah."

"Ihh, jahat banget si Ra."

Gara tidak menjawab karena sekarang mereka sudah sampai di depan gerbang SMA swasta yang cukup elit. Kualitas sekolahnya hampir sama dengan sekolah Gara dan Bella yang kemarin. Hanya saja yang kemarin itu SMA negeri.

Gara memarkirkan mobilnya. Segera Bella sudah siap turun. Tasnya ia sandang, ia mengambil kotak bekal yang tadi di letakkan di dasbor.

"Aku turun dulu ya Ra."

Grep!

Gara menahan tangan Bella.

"Tunggu!" Gara malah menarik tubuh Bella mendekat. Ia mencium bibir Bella cukup lama. Bella yang tidak menyangka akan dicium Gara hanya bisa diam dan pasrah.

"Jangan dandan berlebihan," ucap Gara begitu melepaskan ciumannya. Rupanya Gara sengaja menghapus lipstik di bibir Bella. Tapi caranya sungguh tidak terduga.

"Tapi kalau begini kayak orang tipes Ra."

"Nurut sama suami."

"Hiss... Iya, iya suamiku sayang. Turun dulu ya. Bye..."

Gara membiarkan Bella turun lebih dulu. Ia melihat punggung istrinya terus menjauh dari area parkir. Sampi Bella benar-benar hilang dari pandangan Gara baru menyusul keluar.

"Lho, Gara? Kamu Sagara kan?" Seseorang langsung menyapa Gara begitu laki-laki itu keluar dari mobil.

"Eh, Edo, Revan, apa kabar bro?"

Rupanya yang menyapa Gara adalah teman akrabnya saat di SMP dulu.

"Ngapain bro disini?" Tanya Edo.

"Sekarang aku memang pindah ke sekolah ini."

Gara sengaja memilih sekolah ini dengan alasan banyak teman-teman SMPnya yang bersekolah di sini. Dengan begitu Gara akan mudah akrab dengan lingkungan baru.

"Lhahh... Nggak betah kan kamu di SMA negeri itu. Udah aku bilang dari dulu sekolah bareng kita aja. Ngeyel sok paling pengen di SMA negeri. Sekarang cabut sendiri kan dari SMA negeri."

Gara hanya terkekeh mendengar celotehan Edo. Andai teman-teman lamanya tahu apa yang terjadi di SMA negeri itu.

"Oh, Saraga! Hai...!"

Sagara menoleh dan saat itulah ia melihat Sabia. Gadis cantik dan pintar yang kemarin sempat meneleponnya. Kira-kira siapa Sabia ini sebenarnya?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 124

    Bella duduk dengan menyilangkan kedua kakinya pada sebuah sofa di markas Hell Devil. Wajahnya gelisah. Seperti tengah menunggu sesuatu.Ceklek!Kenop pintu berputar. Bella langsung berdiri demi melihat Pak Freddy dan anggota mafia Hell Devil muncul di depan pintu."Bagaimana? Apakah Leo ditemukan?" Tanya Bella.Semua anggota mafia Hell Devil menunduk dalam. Tidak berani melihat ke arah Bella. Demi melihat gelagat itu Bella langsung paham bahwa mata-mata sekaligus hacker paling berbakat milik mafia Hell Devil itu tidak ditemukan."Maaf Nona, kami kehilangan jejaknya setelah mengikuti ceceran darah Leo sampai ke tengah jalan tempat terakhir kali dia tergeletak. Kami sudah memeriksa seluruh ramah sakit di tempat itu. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada pasien baru dengan ciri-ciri seperti Leo," terang Pak Freddy."Jika kita tidak bisa menemukan Leo di rumah sakit artinya Leo masih hidup. Seseorang telah membawanya. Masalahnya siapa yang membawa Leo? Aku takut Leo jatuh ke tangan musuh.""Itul

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 123

    Rombongan mafia Hell Devil tiba di tempat ponsel Leo jatuh. Mereka turun ke jurang dan bersusah payah mengambil ponsel itu.Wajah Pak Freddy menunjukkan guratan tak bersahabat."Periksa kemungkinan Leo ada di dasar jurang!" Perintahnya. Dua orang lagi turun menggunakan tali untuk menyisir dasar jurang. Sekitar setengah jam mereka mengubek-ubek jurang yang tidak lebar itu. Hingga akhirnya salah seorang mengabarkan tidak ada jejak manusia ditemukan disana seperti ranting yang patah terinjak ataupun rumput yang roboh ketika dilalui seseorang."Leo tidak ada di bawah," ucap orang itu.Wajah Pak Freddy langsung kusut."Ponselnya rusak Pak," anggota mafia Hell Devil yang turun untuk mengambil ponsel Leo sudah naik kembali. Ia menyerahkan ponsel itu pada Pak Freddy."Baik, masalah ponsel masih bisa kita atasi di markas nanti. Sekarang yang terpenting cari keberadaan Leo. Cari petunjuk apapun yang mungkin bisa membawa kita kepadanya," perintah Pak Freddy."Baik Pak!" Anggota mafia Hell Devil

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 122

    Sesaat setelah Leo pergi dari ruang bawah tanah Rosna memanggil preman-preman yang berjaga di depan rumah sakit melalui panggilan telepon."APA SAJA YANG KAU LAKUKAN BANGSAT???!!!"Preman itu tampak tak paham."SEORANG PEMUDA TAK DIKENAL BERHASIL MASUK KE RUANG BAWAH TANAH. CEPAT TEMUKAN BOCAH KEPARAT ITU SEBELUM AKU MENCINCANG HABIS TUBUH KALIAN!!!""Ha? Ba-baik Nyonya Rosna. Kami akan menemukan bocah itu. Pasti, Nona jangan khawatir."Preman itu langsung mengajak satu rekannya untuk pergi menyisir wilayah sekitaran rumah sakit jiwa. Sementara rekan-rekannya yang lain tetap tinggal di sekitaran rumah sakit untuk melanjutkan berjaga-jaga.Percarian para preman itu berujung pada penemuan Leo yang sedang menelepon di atas bukit. Mereka naik ke atas bukit dengan mengendap-endap tanpa menimbulkan sedikit pun suara. Tepat saat mereka telah tiba di belakang Leo mereka menghantam kepala bocah itu menggunakan potongan besi yang tadi di punggut dari tempat pembuangan sampah rumah sakit.***"H

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 121

    "Ya, Nata meninggal karena skenario pembunuhan.""Siapa orang yang membunuhnya?"Rosna mendongak untuk melihat wajah Leo."Dia... Dia... Adalah... Aku!"Leo membelalakkan matanya tidak percaya."Pengakuan apa ini? Tidak! Tidak mungkin rasanya Rosna yang membunuh Natasya. Harusnya Tuan Rendy yang membunuhnya. Rasanya ini sungguh tidak benar. Ini di luar ekspektasiku," batin Leo."Hahahaha...! Dia... Mati karena aku. Aku yang membunuhnya. Aku yang menabraknya di depan anaknya. Malam itu dia sekarat! Hahahaha... Hahahaha...!!!"Tawa Rosna menggema di seluruh ruangan. Benar-benar seperti perempuan yang sudah gila. Leo mundur. Ia menyimpan ponselnya dan memakai maskernya lagi. Ini merasakan perasaan bahwa perempuan ini tak benar."Kau percaya? Hahahaha...!!!" Rosna masih tertawa lepas. Tawa yang sangat mirip orang-orang yang pikirannya sedang terganggu.Lalu detik berikutnya ekspresi Rosna berubah 180 derajat. Wanita itu berubah sendu. Ekspresinya menyayat hati. Ia ketakutan, juga merasa

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 120

    Leo menaiki lift yang membawanya turun ke ruang bawah tanah. Keluar dari lift Leo langsung menemukan sebuah pintu besi yang di kunci dengan sistem. Kali ini Leo tak perlu menggunakan kemampuan merentasnya untuk membobol kata sandi pintu ini.Ia cukup memasukkan kata sandi yang tadi sudah di berikan oleh temannya Ahnan."Dandelion merah," gumam Leo sembari memasukkan kata sandi ke layar monitor kecil itu.Klik!Kunci pintu terdengar terbuka.Ssreeeeekkkk!!!Pintu otomatis langsung berbuka. Pemandangan pertama yang Leo tangkap dengan matanya adalah seorang wanita berbadan kurus tengah meringkuk membelakangi pintu.Tuk!Tuk!Tuk!Langkah kaki Leo menggema ketika ia memasuki ruangan itu. Rosna tetap tak bergeming sama sekali. Entah dia tidur atau tidak Leo tidak tahu karena wanita itu benar-benar tidak terlihat wajahnya.Grep!Leo terkejut luar biasa saat Rosna berbalik dengan cepat dan memegang tangan Leo."Siapa kamu?" Tanya Rosna."Aku Ahnan," jawab Leo berbohong."Bohong!" Teriak Rosn

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 119

    "Nona, usia kehamilan Nona adalah 11 minggu. Kondisinya cukup sehat. Tapi mengingat usia Nona masih di bawah umur ini akan meningkatkan resiko kematian ibu maupun janinnya. Sebaiknya Nona melakukan pemeriksaan rutin. Juga segera ke rumah sakit jika merasakan ketidaknormalan yang terjadi selama kehamilan," terang Dokter Linda yang memeriksa Bella hari ini."Baik Dok." Bella bangun dari tempat tidur sembari membenahi pakaiannya."Oh, iya, Nona apakah suami Nona tidak ikut mengantarkan Nona?" Tanya Dokter Linda."Hehehe nggak Dok. Suaminya itu anak saya. Sekarang masih ada di Paris untuk kuliah," jawab ibunya Gara.Tadinya Dokter Linda pikir ibunya Gara adalah ibunya Bella. Karena periksa kehamilan hanya ditemani oleh Ibunya pikiran Dokter Linda sampai kemana-mana.Seperti kebanyakan kasus siswa hamil di luar nikah. Dokter Linda awalnya menduga Bella bagian dari segelintir bocah-bocah yang salah pergaulan dan berujung kehamilan yang tidak diinginkan. Rupanya ia telah salah sangka. Sehing

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 57

    Berhari-hari berikutnya Edo terlihat murung. Sepertinya ia tengah menimang suatu keputusan terberat di dalam hidupnya."Apakah tidak apa-apa jika aku mengorbankan Gara demi mendapatkan Bella?"Edo bertanya pada dirinya sendiri melalui pantulan cermin di dalam toilet sekolah yang sepi saat jam mata pel

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 56

    "Edo, aku mau ngomong sama kamu." Sabia menghadang Edo saat laki-laki itu berjalan sendirian hendak pulang."Bicara apa Bi?" Tanya Edo. "Kita bicara di sini saja."Sabia menggeleng."Aku tidak bisa bicara hal penting di tempat yang ramai. Kita ke mobilmu aja."Sabia berjalan lebih dahulu menuju mobil Ed

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 55

    "Ra, kamu kenapa nggak dateng nolongin aku? Lihat Ra, Bella ngelukai aku." Sabia langsung mengadu pada Gara begitu Gara masuk ke kelas. Ia berharap Gara akan bersimpati padanya lalu berbalik membenci Bella. Sungguh suatu rencana yang licik."Ngelukai gimana Bi?" Gara memutuskan untuk berpura-pura tid

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 54

    "Loh, Do, buku paket bahasa Inggrisku ketinggalan di mobil. Aku balik ke mobil dulu ya. Titip tas.""Heleh, modus mau liat Bella lagi pasti.""Beneran Do.""Yaudah deh, mana tas kamu. Sini aku bawain ke kelas.""Thanks Do. Kamu baik banget."Gara memberikan tasnya pada Edo kemudian berlari kembali ke par

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status