Share

Bab 4

Penulis: Hibatillah S.
last update Tanggal publikasi: 2024-03-17 14:30:58

"Oh, Saraga! Hai...!"

Sagara menoleh dan saat itulah ia melihat Sabia. Gadis cantik dan pintar yang kemarin sempat meneleponnya.

"Hai," balas Gara singkat.

"Kok disini?"

"Sagara sekarang pindah ke sekolah kita Bia," Edo menjelaskan.

"Oh, kok nggak ngomong-ngomong dulu sih Ra? Tapi bagus deh kalo kamu sekarang di sekolah ini. Kita jadi bisa deketan. Ya kan Ra?"

Gara hanya tersenyum sekilas.

"Sabia ngarep banget sih bisa balikan. Daripada ngarep balikan sama Gara mending nerima cintaku aja deh Bi. Masak tiap nembak ditolak terus. Dah lima tahun loh aku suka sama kamu. Spek setia gini langka tau di jaman sekarang," ujar Revan.

"Hmm, bener tuh Bi. Kurang apa sih Revan. Kalo masalah ganteng nggak kalah ganteng kok sama Gara." Timpal Edo.

"Kurangnya Revan nggak pinter kayak Gara. Aku sukanya tipe cowok kayak Gara."

"Orang Gara aja belum tentu mau balikan kok. Ya kan Ra?" Tanya Revan.

"Apaan sih kalian. Udah bel masuk loh. Telat masuk kelas ntar kita. Aku nggak mau telat dihari pertama aku pindah sekolah."

"Ya udah ayo masuk dulu. Jam pertama pelajaran matematika, gurunya killer loh Ra," kata Edo memberitahu.

***

Jam istirahat tiba, seluruh siswa tumplek ke kantin. Saat Gara, Edo, dan Revan masuk kantin bisik-bisik siswa mulai terdengar.

"Eh, cowok ganteng yang pake kacamata itu siapa?" Terdengar bisikan seorang siswa yang bernama Rena.

"Kabarnya pindahan. Tadi aku lihat dia masuk ke kelas 12 IPA satu," jawab Arna.

"Serius? Itukan kelas unggulan. Ah, udah ganteng pinter, meleleh nggak tuh?" Alma terpesona melihat Gara.

Rena dan Arna yang asyik bergunjing itu terkikik.

"Eh, eh, lihat deh, kayaknya akrab banget ya sama Edo dan Revan. Dua cowok kece idaman itu." Rena menunjuk ke arah Edo dan Revan.

"Iya, ya, andaikan bisa dapetin salah satunya."

"Ah, ngehalu bisa dapet mereka. Cewek spek idaman mereka pasti bukan yang remahan renggang kek kita ginilah."

"Yee, kan aku bilang tadi cuma andaikan."

Duo cowok kece itu sekarang telah berubah menjadi trio cowok kece. Mereka tampak bingung mencari tempat duduk usai memesan makanan.

"Ra, duduk sini aja." Sabia melambaikan tangan. Mejanya memang terlihat kosong. Sementara yang lain sudah penuh.

"Wahh... Kebetulan nih bisa duduk sama Sabia. Rejeki nomplok. Jarang-jarang kan bisa makan siang bareng Sabia." Revan menjadi orang yang paling dulu duduk di meja Sabia.

"Apaan sih Van. Orang yang aku tawari tadi Gara kok main serobot aja."

Gara dan Edo ikut duduk. Mereka mengambil posisi di depan Sabia dan Revan. Terpisah oleh meja.

"Sesekali pandang aku dong Bi. Ingat, Gara itu cuma masalalu. Sedangkan aku itu masa depan kamu."

"Aduh Van, aku jadi pengen muntah deh dengernya."

Gara dan Edo hanya tersenyum melihat perjuangan Revan yang tak pernah lelah mengejar Sabia.

Saat sedang menikmati makanannya tiba-tiba Gara teringat dengan Bella. Ia celingukan. Tampaknya Bella tidak terlihat dimana pun.

"Apa Bella nggak ke kantin ya?" Batin Gara.

"Ra, cari siapa?" Tanya Sabia yang heran melihat gelagat Gara.

"Um, nggak kok. Cuma lagi cari tukang jual air mineral," jawab Gara beralasan.

"Aku pesenin ya." Sabia sudah hampir bangkit dari duduknya.

"Eh, Ga usah Bi. Timbang air minum bisa nanti lah kalau sambil balik ke kelas."

"Udah jangan nolak. Aku pesenin." Sabia benar-benar beranjak ke penjual air mineral tanpa bisa dicegah lagi.

"Ra, kok kamu pindah ke sini sih? Aku jadi nggak leluasa tahu deketin Sabia." Revan terlihat sewot. Ia merasa kehadiran Gara menjadi penghalang untuk mendapatkan Sabia.  Mana Sabia masih terlihat jelas masih ngejar-ngejar Gara.

"Nggak apa-apa. Biar bisa lebih deket aja dari rumah. Sekolah negeri kejauhan. Kalo pulang eskul sering kemalaman di jalan. Capek banget. Mana pas udah naik ke kelas 12 makin banyak les ini itu." Gara beralasan.

"Kalau tahu gitu kenapa nggak dari awal-awal aja pindah ke sini?" Edo bertanya.

"Ya, soalnya kan dari dulu aku pengen banget sekolah di SMA negeri. Awal-awal masih enjoy. Tapi makin kesini makin kerasa berat. Yaudah akhirnya memutuskan pindah mumpung baru kenaikan kelas."

"Hmm... Kirain pindah kesini karena biar deket sama Sabia," Tukas Revan dengan nada cemburu.

"Aku udah nggak ada hubungan apa-apa kan sama Sabia. Kamu tenang aja Van. Aku nggak bakal ganggu kamu buat dapetin Sabia kok."

"Hah? Serius?" Revan tak percaya Gara bisa berkata demikian. Pasalnya dulu siapa sih yang tidak tahu bagaimana bucinnya Gara dengan Sabia. Tiap hari gandeng renteng kayak odong-odong. Kemana-mana selalu berdua. Sampai ada istilah dimana ada Gara disitu ada Sabia.

"Ya, ngapain aku bohong sama temen sendiri sih?"

"Woke, cakep. Dukung aku dapetin Sabia ya Ra." Wajah Revan berubah sumringah.

"Siap," jawab Gara.

"Kalian ngomongin apa?" Sabia datang dan langsung meletakkan air mineral di depan Gara.

"Makasih Bi," ucap Gara singkat.

"Obrolan cowok. Cewek dilarang kepo. Ya nggak Ra?"

"Yoi."

Sabia tampak merengut kesal.

***

Gara: Bel, tunggu di luar gerbang aja ya. Soalnya macet nih di parkiran. 

Gara mengirim pesan pada istrinya.

Cting!

Tak berapa lama kemudian gawai Gara menerima satu pesan dari Bella. Gadis itu memberikan sriker jempol dengan kata "oke" singkat.

Gara sudah mengenakan seat belt. Ia mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parkir. Tapi sesampainya di depan gerbang ia justru terjebak macet.

Tok! Tok!

Kaca jendela Gara di ketuk. Gara menoleh. Ia melihat Sabia berdiri di samping mobilnya.

"Ada apa Bi?" Tanya Gara melalui jendela yang kacanya diturunkan.

"Ikut pulang dong Ra. Kan searah. Aku hari ini nggak dijemput."

"Tapi Ra..."

"Please ya Ra aku ikut kamu. Sekali aja. Masak kamu tega nolak aku."

Gara belum sempat beralasan apapun ketika tiba-tiba Sabia main nyelonong masuk mobil Gara. Hal pertama yang Sabia rasakan saat duduk di samping Gara adalah bau parfum strawberry yang khas seperti cewek. Bella jadi curiga. Ia ingin bertanya pada Gara, tapi Gara terlebih dahulu ngomong ke Sabia.

"Sabia, maaf bukan nggak mau nebengin kamu tapi hari ini aku nggak langsung pulang. Aku ada urusan lain. Lagian sekarang aku pindah rumah. Jadi kita nggak searah lagi." Gara harus mencari alasan agar Sabia tidak ikut mobilnya. Ia tidak bisa membayangkan andai Sabia bertemu dengan Bella.

"Kok gitu sih Ra? Kamu nggak kasian sama aku?"

"Ini bukan masalah kasian Bi. Tapi aku benar-benar nggak bisa kasih tebengan ke kamu. Lain kali aja deh ya. Kamu pulang bareng Revan aja gimana?"

"Hiks! Hiks! Hiks! Gara tega loh sama aku." Sabia memulai dramanya. Ia pura-pura menangis untuk meraih simpati Gara.

Tinn!!! Tinnnn!!!

Mobil di belakang Gara sudah mengklakson tidak sabaran. Terpaksa Gara melajukan mobilnya. Ia sampai di depan gerbang. Dilihatnya Bella berdiri di pinggir jalan panas-panasan. Gara semakin bingung menghadapi situasi ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 112

    Dua pekan setelah kejadian pertempuran dengan para mafia itupun hari kelulusan di SMA swasta diumumkan. Hari itu Gara, Edo, dan Sabia resmi lulus bersama-sama."Gila! Akhirnya kita lulus juga ya Ra. Padahal kayak baru kemarin aja daftar di sekolah ini," ucap Edo bahagia."Itu perasaanmu aja kali Do," jawab Gara.Meskipun begitu ia juga merasa senang karena berhasil lulus dengan nilai terbaik."Waahhh... Kak Gara, Kak Edo, Kak Sabia tiba-tiba udah lulus aja. Selamat ya Kak," ucap Vano."Iya Kak. Selamat ya. Selamat berpisah setelah ini," imbuh Vanilla."Iya, titip Bella ya kalau aku udah nggak di sekolah ini.""Beres," sabut Vano sambil mengacungkan jempolnya."Selamat lulus untuk semuanya." Bella jadi orang yang paling akhir tiba. Ia membawa tiga buket besar di pelukannya sampai tampak kesusahan sekali saat dibawa."Loh, loh, repot-repot aja sih Bel," kata Edo. Ia langsung mengambil alih dua buket itu sebelum Bella menyerahkan. Memang dimanapun tingkah Edo benar-benar tidak masuk akal

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 111

    "Tiidddakkkk!!! Kembalikan kakiku menjadi normal seperti sempurna. Aku nggak mau jadi cacat seumur hidup!!!"Grep!Sonya menarik kerah dokter yang menanganinya."Buat kakiku normal lagi. Berapapun biayanya aku pasti akan bayar!"Dokter itu terlihat ketakutan."Tapi... ""Tapi apa? Kau dibayar untuk menyembuhkanku kan? Apa lagi yang kau tunggu. Sembuhkan kakiku atau aku akan menghabisimu dan seluruh keluargamu!" Ancam Sonya berang."Tapi ini sudah tidak bisa dipulihkan Nona. Cedera akibat peluru itu begitu fatal. Tulang kering Nona telah hancur dan itu akan menyebabkan Nona cacat seumur hidup," terang dokter itu."Aaarrgggghhh!!! Bukan itu yang ingin aku dengar!!!"Sonya mendorong tubuh dokter itu.Bbrakakk!!!Prraannngggg!!!Dokter itu jatuh menimpa alat-alat medis."Dokter tidak berguna. Untuk apa kau menerima uang dari keluarga Rudolf jika kinerjamu buruk sekali!""Nona, ini sudah di luar kemampuan manusia untuk menyembuhkan Nona. Terlalu mustahil untuk membuat cedera Nona pulih sep

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 110

    Gara dan Edo sedang berada di IGD untuk menerima perawatan medis."Gara!" Tiba-tiba Gara mendengar suara familiar yang menyebut namanya. Gara pun menoleh.Grep!Bella langsung memeluk Gara dengan eratnya."Kok lari-lari sih Bel. Ini rumah sakit loh," ucap Gara memperingatkan istrinya."Nggak perduli. Aku khawatir sama kamu."Gara tersenyum. Ia pun membalas pelukan istrinya. Melihat adegan suami istri yang saling pelukan itu Leo langsung pergi yang tak lama kemudian diikuti Pak Freddy. Padahal sejak tadi ia setia menemani Gara bersama dengan Pak Freddy. Tapi sekarang moodnya mendadak rusak.Rasa cinta itu memang tidak salah. Tapi mencintai istri orang justru benar-benar salah. Leo sadar akan hal itu. Jadi biar bagaimanapun Leo akan tetap mencintai Bella tanpa perlu merusak hubungannya dengan Gara. Leo sepenuhnya percaya yang ditakdirkan untuknya akan menemukan caranya untuk kembali pada Leo."Ra, bisa-bisanya kamu terlibat dalam pertempuran brutal para mafia begini.""Yang penting jang

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 109

    "Edo!" Gara mengguncang tubuh Edo dengan keras. Tapi tetap saja tidak ada respon apapun. Akhirnya Gara menyadari jika Edo tidak sedang bercanda. Ia sepertinya dalam kondisi yang serius. Gara cemas seketika."Bagaimana bocah? Sudah ingin menyerah?" Tanya salah seorang anggota mafia Black Dragon.Satu truk penuh anggota mafia Black Dragon telah datang. Gara benar-benar dalam kondisi kebingungan. Tanpa senjata yang memadai dia pasti akan dikalahkan dengan mudahnya."Kalau memang hari ini menjadi hari kematianku tak mengapa. Tapi sampai kematian itu benar-benar tiba aku menolak untuk menyerah!" Ucap Gara dengan lantang."Kau memang keras kepala seperti yang dikabarkan," ejek orang itu lagi.Gara tak menghiraukan. Ia memilih meraih shotgun yang tadi digunakan Edo, bersiap untuk menghadapi musuh-musuhnya.Semua orang juga bersiap untuk membunuh Gara. Dalam posisi sekarang Gara memang benar-benar terjepit di tengah-tengah musuh. Sementara musuh semakin berdatangan tapi Gara tak satupun mene

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 108

    "Ra, bangun Ra!" Edo menggoyangkan bahu Gara setelah beberapa saat lamanya bocah itu diam saja tak bergerak. Sepertinya Gara sempat pingsan setelah senggolan keras tadi. Beruntungnya ia terlindungi oleh airbag. Kalau tidak mungkin kepalanya bisa saja pecah mengahantam kemudi."Apa kita udah ada di alam baka Do?" Tanya Gara sambil mengusap kepalanya yang pening."Wkwk... Ngelawak kamu Ra?" Edo malah tertawa."Kita masih di dunia, tapi kalau bentar lagi nggak tau deh."Edo berkata demikian karena ia menyadari ada satu mobil lagi yang datang dari arah berlawanan. Dari mobil yang baru saja datang itu keluar orang-orang bertubuh besar dengan menyandang shotgun di tangannya.Gara melirik dari kaca spion. Lalu memeriksa peluru pistolnya yang tinggal dua butir saja."Sial! Ini tidak cukup," kata Gara."Hei, mau kemana?" Tanya Edo menarik lengan baju Gara saat bocah itu akan keluar dari mobil."Menghadapi musuh tentu saja," jawab Gara."Kita bisa mati konyol dengan lawan yang tidak berimbang R

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 107

    Aksi kejar mengejar antara mobil Gara dengan mobil hitam di belakangnya tanpak sengit. Pasalnya saat Gara membawa mobilnya melesat cepat diantara kendaraan-kendaraan lain mobil pengejar itu juga pandai mengikuti aksi Gara."Siapa sih Ra mereka?" Tanya Edo. Ia sudah berpengalaman erat-erat takut kalau-kalau Gara oleng dikit terus menghantam pembatas jalan atau menabrak kendaraan lain."Sepertinya para anak buah papa mertuamu," jawab Gara sebisa mungkin tetap fokus pada jalanan yang padat ini."Aku bahkan belum diakui sebagai menantunya tau, anaknya aku bawa kawin lari," kata Edo.Gara melirik mobil di belakangnya yang semakin dekat jaraknya."Dasar menantu durhaka," ejek Gara.Edo tidak menjawab lagi. Ia takut obrolannya justru membuat konsentrasi Gara pecah.Ttinnnn!!! Tiiiiinnnnnnn!!!Gara menekan klakson tidak sabaran menyuruh mobil-mobil lain menyingkir."Sial! Sial! Minggir!" Gerutu Gara.Di depan Gara justru ada mobil sivel dengan sebuah kertas menempel di bagian kaca belakang. T

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 103

    "Udah?" Tanya Gara begitu Bella kembali ke ruang Kepsek."Udah," jawab Bella singkat."Terus, Bu Anjar mana?""Masih di belakang."Setelah percakapan itu suasana di dalam ruang Pak Kepsek menjadi hening. Mereka menunggu Bu Anjar membawa bukti yang mungkin bisa meringankan beban sanksi Bella dan Gara.Akh

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 102

    SMA swasta pagi ini benar-benar gempar dengan berita pengakuan Gara di acara dance kompetition bahwa laki-laki yang memiliki banyak penggemar itu telah menikah dengan Bella.Kini Gara dan Bella duduk ruang kepala sekolah berhadapan dengan kepala sekolah beserta empat wakilnya."Jadi, tolong jelaskan b

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 101

    "Kamu keren banget hari ini," puji Edo pada istrinya karena perempuan itu berani mengatakan hal sebenarnya di acara dance competition."Eh???" Sabia mendadak jadi blushing. Nggak biasa-biasanya Edo memuji dirinya."Beneran?" Tanya Sabia malu-malu."Bener." Edo berlutut di depan Sabia yang sedang duduk

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 100

    "CUKUP!!!" Teriakan keras itu membungkam mulut semua orang seketika."Gara?" Tanya Sabia yang sejak tadi diam saja di kursi penonton.Gara naik ke atas panggung. Ia berhenti di depan Bella."Ra..." Air mata Bella sudah tumpah. Trofi dan hadian di tangannya terlepas begitu saja. Saat ini hal yang ingin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status