LOGINGara dan Edo sedang berada di IGD untuk menerima perawatan medis."Gara!" Tiba-tiba Gara mendengar suara familiar yang menyebut namanya. Gara pun menoleh.Grep!Bella langsung memeluk Gara dengan eratnya."Kok lari-lari sih Bel. Ini rumah sakit loh," ucap Gara memperingatkan istrinya."Nggak perduli. Aku khawatir sama kamu."Gara tersenyum. Ia pun membalas pelukan istrinya. Melihat adegan suami istri yang saling pelukan itu Leo langsung pergi yang tak lama kemudian diikuti Pak Freddy. Padahal sejak tadi ia setia menemani Gara bersama dengan Pak Freddy. Tapi sekarang moodnya mendadak rusak.Rasa cinta itu memang tidak salah. Tapi mencintai istri orang justru benar-benar salah. Leo sadar akan hal itu. Jadi biar bagaimanapun Leo akan tetap mencintai Bella tanpa perlu merusak hubungannya dengan Gara. Leo sepenuhnya percaya yang ditakdirkan untuknya akan menemukan caranya untuk kembali pada Leo."Ra, bisa-bisanya kamu terlibat dalam pertempuran brutal para mafia begini.""Yang penting jang
"Edo!" Gara mengguncang tubuh Edo dengan keras. Tapi tetap saja tidak ada respon apapun. Akhirnya Gara menyadari jika Edo tidak sedang bercanda. Ia sepertinya dalam kondisi yang serius. Gara cemas seketika."Bagaimana bocah? Sudah ingin menyerah?" Tanya salah seorang anggota mafia Black Dragon.Satu truk penuh anggota mafia Black Dragon telah datang. Gara benar-benar dalam kondisi kebingungan. Tanpa senjata yang memadai dia pasti akan dikalahkan dengan mudahnya."Kalau memang hari ini menjadi hari kematianku tak mengapa. Tapi sampai kematian itu benar-benar tiba aku menolak untuk menyerah!" Ucap Gara dengan lantang."Kau memang keras kepala seperti yang dikabarkan," ejek orang itu lagi.Gara tak menghiraukan. Ia memilih meraih shotgun yang tadi digunakan Edo, bersiap untuk menghadapi musuh-musuhnya.Semua orang juga bersiap untuk membunuh Gara. Dalam posisi sekarang Gara memang benar-benar terjepit di tengah-tengah musuh. Sementara musuh semakin berdatangan tapi Gara tak satupun mene
"Ra, bangun Ra!" Edo menggoyangkan bahu Gara setelah beberapa saat lamanya bocah itu diam saja tak bergerak. Sepertinya Gara sempat pingsan setelah senggolan keras tadi. Beruntungnya ia terlindungi oleh airbag. Kalau tidak mungkin kepalanya bisa saja pecah mengahantam kemudi."Apa kita udah ada di alam baka Do?" Tanya Gara sambil mengusap kepalanya yang pening."Wkwk... Ngelawak kamu Ra?" Edo malah tertawa."Kita masih di dunia, tapi kalau bentar lagi nggak tau deh."Edo berkata demikian karena ia menyadari ada satu mobil lagi yang datang dari arah berlawanan. Dari mobil yang baru saja datang itu keluar orang-orang bertubuh besar dengan menyandang shotgun di tangannya.Gara melirik dari kaca spion. Lalu memeriksa peluru pistolnya yang tinggal dua butir saja."Sial! Ini tidak cukup," kata Gara."Hei, mau kemana?" Tanya Edo menarik lengan baju Gara saat bocah itu akan keluar dari mobil."Menghadapi musuh tentu saja," jawab Gara."Kita bisa mati konyol dengan lawan yang tidak berimbang R
Aksi kejar mengejar antara mobil Gara dengan mobil hitam di belakangnya tanpak sengit. Pasalnya saat Gara membawa mobilnya melesat cepat diantara kendaraan-kendaraan lain mobil pengejar itu juga pandai mengikuti aksi Gara."Siapa sih Ra mereka?" Tanya Edo. Ia sudah berpengalaman erat-erat takut kalau-kalau Gara oleng dikit terus menghantam pembatas jalan atau menabrak kendaraan lain."Sepertinya para anak buah papa mertuamu," jawab Gara sebisa mungkin tetap fokus pada jalanan yang padat ini."Aku bahkan belum diakui sebagai menantunya tau, anaknya aku bawa kawin lari," kata Edo.Gara melirik mobil di belakangnya yang semakin dekat jaraknya."Dasar menantu durhaka," ejek Gara.Edo tidak menjawab lagi. Ia takut obrolannya justru membuat konsentrasi Gara pecah.Ttinnnn!!! Tiiiiinnnnnnn!!!Gara menekan klakson tidak sabaran menyuruh mobil-mobil lain menyingkir."Sial! Sial! Minggir!" Gerutu Gara.Di depan Gara justru ada mobil sivel dengan sebuah kertas menempel di bagian kaca belakang. T
"Bella!" Bu Anjar menghampiri Bella ke kelas."Ya, Bu," jawab Bella dengan ramah."Ikut Ibu sebentar yok.""Kemana Bu?" Tanya Bella."Ikut aja. Cuma sebentar kok." Bu Anjar tersenyum."Oh, baik Bu." Bella menurut saja.Rupanya Bu Anjar mengajak Bella naik mobil ke sebuah kafe yang tidak jauh dari sekolah. Sesampainya di sana Bu Anjar juga memesankan Bella makanan dan minuman. Guru itu ingin berbicara dengan suasana yang lebih rileks agar nantinya Bella tidak begitu terkejut dengan hal yang ingin Bu Anjar sampaikan."Bu, mau bicara apa sih sama Bella kok kita sampai harus keluar sekolah segala?""Bicara sedikit penting," jawab Bu Anjar dengan wajah jenaka yang membuat Bella tersenyum."Bella, kalau Ibu bicara agak pribadi boleh nggak?" Tanya Bu Anjar ketika pramusaji selesai menghidangkan pesanan mereka."Nggak apa-apa kok Bu. Bella tidak keberatan."Bu Anjar tersenyum lagi. Guru itu menghela nafasnya sebelum memulai bicara."Bella merasa tidak ada yang berubah dari tubuh Bella?" Tanya
"Gimana?" Tanya Edo begitu Gara masuk kelas. Tau nggak sekarang Edo pindah duduk dengan Sabia. Padahal sebelumnya Edo duduk dengan Gara."Beres," jawab Gara. "Aku diijinkan ikut ujian. Tapi Bella diskorsing sih sampai dua mingu ke depan.""Huuffttt... Nggak apa-apa deh Ra. Yang penting nggak dikeluarkan dari sekolah. Ya kali mau drop out di detik-detik terakhir sebelum ujian. Rugi dong," cerocos Edo."Kamu tuh ati-ati. Nggak usah gandeng renteng. Nanti jadi perkara pula," kata Gara mengingatkan Edo."Kamu cemburu kalo kita gandeng renteng?" Selidik Edo dengan nada bercanda."Cih, siapa juga yang cemburu?" Tanya Gara tak terima dibilang cemburu dengan mantan."Ya kalo nggak cemburu kenapa juga kamu ngomong gitu Ra?" Tanya Edo balik."Siapa tahu kan kamu ketimpa masalah kayak aku.""Kita main cantik kok Ra. Nggak bakal ketauan." Edo cengengesan."Main cantik tapi kebobolan," celetuk Gara."Haiisshh, nggak usah ngomong gitu. Kalau kedengaran Sabia, dia bisa ngambek seharian sama aku.""C
Hari-hari berlalu begitu saja. Tanpa terasa sudah hampir tujuh bulan kepergian Revan. Sejak saat itu persidangan kasus Revan terus saja di lakukan. Namun hari ini ada berita yang tak mengenakkan yang datang dari Edo."Ra, dimana?" Tanya Edo melalui sambungan telepon."Di rumah.""Aku sudah dari rumahmu
"Ck, yang lalu biarlah berlalu Do. Nggak usah diungkit-ungkit lagi," jawab Gara."Hai, Sabia. Apa kabar?" Tanya Bella dengan wajah sumringah. Yang ditanya justru berwajah masam. Gadis itu sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan dari Bella."Tegak!" Sabia menarik tangan Bella dengan kasar."Lepas!" Be
"Nggak usah nanggepin netizen julid. Buang-buang energi tau," ucap Gara."Tapi mereka nyebelin loh Ra. Seolah-olah banget aku ini kayak pengganggu di antara kalian.""Nggak usah diperduliin. Ayo aku anter ke kelas."Selama perjalanan menuju kelas Bella masih mendengar bisik-bisik tak enak."Modal muka g
Ceklek!Gara membuka pintu depan dan langsung mendapati istrinya sedang duduk di sofa dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Selamat malam, Tuan Muda Sagara Rihanda," sapa Bella dengan senyuman sinis."Kamu belum tidur? Ini udah malam loh Bel," ucap Gara mengalihkan pembicaraan. Bella pun tak per







