Share

6. Tamu Bikin Pekara

Author: Banyu Biru
last update Last Updated: 2025-07-10 15:46:13

Hari ini, aku masih menikmati masa cuti. Kugunakan waktuku di halaman depan mengurus tanaman bunga ibu dengan sedikit emosi. Bagaimana tidak, jeda kecil yang harusnya bisa kunikmati bersama Damar, kini pupus hangus tanpa sisa.

Berdiam diri di kamar pun tak mungkin. Suara-suara haram dari kamar Meta, bukannya mereda tapi justru seakan ingin memancing.

Tak lama, mobil yang biasa digunakan Fatih untuk antar jemput bapak sudah pulang. Hari ini, Fatih harus mengantar bapak dan ibu ke kelurahan. Bapak biasa dengan aktifitas pekerjaannya sedang ibu harus ikut karena ada kunjungan istri petinggi kecamatan untuk cek kegiatan UMKM yang sedang di canangkan.

"Sudah pulang?" Tanyaku basa basi saat Fatih mendekat. Tangannya tampak membawa bungkusan plastik.

"Di suruh Bapak pulang. Biar bisa nemenin kamu!" Fatih melirikku sambil tersenyum lalu duduk di kursi teras. Aku segera mematikan kran air lalu ikut duduk di sisinya saat Fatih mengeluarkan tinwall dari dalam plastik.

"Apa tuh?" Tanyaku ingin tahu.

"Rujak nih, dari Bapak!" Seketika mataku melebar. Bapak memang paling tahu kesukaanku.

"Tumben, gak di kamar. Biasanya ngendon aja di kamar. Kenapa sekarang jadi nangkring di halaman?" Aku menatap Fatih dengan malas.

"Gak denger tuh?" Tunjukku ke dalam rumah. Seketika Fatih diam dan memasang telinga rapat-rapat ke tembok.

"Biasa aja. Mau coba?" Matanya mengerjap aneh.

"Idih. Ogah" Jawabku sambil memasukkan potongan buah ke dalam mulut setelah kucocolkan ke sambal rujak.

“Pedas nggak?” tanyanya sambil tersenyum kecil. Pipinya tampak kemerahan tertimpa cahaya matahari.

Aku mengangguk sambil membuang muka. Lama-lama melihatnya aku bisa tergoda, ya Tuhan. “Pedas... tapi enak.”

Fatih terkekeh pelan, lalu mengambil satu potong mangga muda untuk dirinya sendiri.

"Loh. Siang-siang udah makan rujak. Udah berapa bulan?" Aku dan Fatih menoleh bersamaan ke arah suara.

"Eh, Bu Dewi!" Aku menyapa Bu Dewi yang baru turun dari motornya lalu berjalan mendekat. Aku dan Fatih berdiri lalu bersalaman dengan Bu Dewi.

"Jadi. bener kamu hamil duluan?" Aku terdiam beberapa saat.

"Apa hubungannya makan rujak sama hamil, Bu?" Tanya Fatih dengan sopan.

"Adalah. Biasanya kalau hamil muda, pasti maunya yang asem-asem!" Kini Bu Dewi menatapku dengan pandangan sinis.

"Perasaan, setiap hari saya makan rujak deh, Bu! Suka di bawain Bapak dari kantor tuh!" Aku menjawab dengan mulut penuh.

"Ya udah saya balik dulu. Ini, nitip buat Meta!" Tanpa permisi, Bu Dewi meletakkan bungkusan makanan begitu saja lalu berbalik pergi.

"Cie..cie.. nitip rujak juga buat mantunya. Jangan-jangan mantunya tuh yang lagi hamil!" Sahutku sewot setelah Bu dewi tancap gas.

"Hus. Gak usah ikutan nyinyirin orang!" Fatih kembali duduk lalu merapikan bungkusan plastik millik Meta yang telah ku buka.

"Sana, serahin ke Meta!" Perintah Fatih tiba-tiba.

"Ogah!" Aku kembali duduk. Enak aja main suruh. Dipikirnya aku siapa?

Sayangnya ketenangan itu tak bertahan lama.

Suara deru mobil kembali terdengar dan masuk ke halaman rumah. Dua pria turun dengan wajah serius, mengenakan jaket dan celana jeans. Keduanya tampak asing. Yang satu tinggi dengan kacamata hitam, yang satu lagi lebih pendek namun bertubuh kekar.

Aku menoleh pada Fatih, ia langsung berdiri.

“Mau ke mana?” tanyaku.

“Mereka mencariku,” jawabnya pelan. “Aku ke sana sebentar ya!"

Fatih berjalan cepat menyambut dua orang itu dan langsung mengajak mereka menjauh dari halaman rumah. Mereka bertiga berdiri di dekat pohon mangga tetangga, dekat pagar.

Aku masih tenang, sampai...

“Eh, itu siapa?” suara Meta tiba-tiba muncul dari balik pintu, lalu berjalan keluar teras dengan langkah terburu-buru. Di belakangnya, Damar ikut menyusul, sambil memakai kaos oblongnya.

“Fatih kayaknya kenal deket tuh,” gumam Damar curiga.

Meta menyipitkan mata ke arah tiga pria itu, lalu melirikku tajam. “Jangan-jangan itu debt collector?”

Aku mengernyit. “Debt collector?”

“Iya! Penagih utang! Mukanya sangar begitu! Jangan-jangan, dia banyak utang di kampungnya sana. Gila, bisa-bisanya sopir kayak dia ngasih mahar segitu pas nikah sama kamu, Fir.” Meta masih menatap mereka bertiga tanpa berkedip.

Damar menimpali cepat, “Kamu yakin, Fir, itu mahar murni dari hasil kerja halal? Jangan-jangan hasil ngutang atau hasil ngrampok!"

Darahku naik seketika. “Tuh mulut gak punya rem ya.. Jangan asal ngomong!”

Tapi, entah kenapa... benakku mulai goyah. Aku memang tak pernah tanya secara detail soal uang mahar yang Fatih berikan saat akad.

Aku melirik ke arah Fatih lagi. Ekspresinya serius, sesekali menunduk, sesekali mengangguk. Salah satu dari dua pria itu bahkan membuka map di tangan dan memperlihatkan sesuatu pada Fatih.

“Fir, kamu pikirin deh. Jangan sampai kamu kena tipu,” ujar Meta, suaranya kali ini lebih pelan namun menusuk. “Bisa jadi kita semua dalam bahaya kalau orang itu ternyata buronan atau penipu."

"Ah, Gak ngaruh! Udah pernah di tipu. Udah pengalaman!" sahutku cepat. Mereka berdua menatapku lalu terdiam serba salah.

"Nih, rujak dari mertuamu. Sana makan di dalam. Keburu ngiler nanti anakmu!" Lanjutku gemas. Entah kenapa, aku suka bicara kasar pada mereka berdua sekarang.

Meta menerima plastik yang kusodorkan lalu berdecak meninggalkanku yang diikuti Damar.

Aku menggigit bibir. Tangan ini menggenggam sendok rujak, tapi rasanya tak sanggup lagi melanjutkan makan. Lidahku mendadak kelu, jantungku mulai berdebar aneh.

Ada sesuatu yang disembunyikan Fatih.

Aku berdiri dari dudukku, tak tahan lagi melihat percakapan yang terlalu jauh dari telingaku. Fatih masih bersama dua pria itu, tapi ada yang berubah. Ekspresinya mendadak tegang—dan saat pria berkemeja abu itu menyodorkan selembar kertas, aku sempat melihat Fatih terdiam membeku.

Kemudian, Fatih menoleh padaku. Tatapan kami bertemu. Sekilas saja. Dan dalam tatapan itu, aku tahu—ada sesuatu yang tak pernah ia ceritakan. Sesuatu yang besar. Tak berapa lama, dua laki-laki itu berpamitan dan kembali pergi dengan mobilnya.

Langkah Fatih mulai mendekat. Aku menelan ludah dengan susah payah.

Fatih berhenti tepat di depanku. Napasnya terdengar berat. Lalu ia berkata pelan—terlalu pelan, tapi cukup menusuk, “Safira... kita harus bicara. Sekarang.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Menikahi Sopir Bapak   243. Akhir Haru

    Beberapa bulan penuh dengan hati-haro yang lelah, kini terbayarkan. Aku berdiri menikmati pemandangan Jakarta siang ini melalui jendela kaca sambil sesekali menghirup kopi hitamku yang masih hangat. Sejak Kakek menginformasikan keinginan Paman untuk rehat, aku mulai menyusun cara agar aku tak perlu bolak balik Jakarta dan Surabaya. Dan untung saja, Fatih memang mendukung keinginanku. Dan kini, di sinilah aku berada. Di ruanganku sendiri. Bukan lagi sebagai sekretaris Fatih tapi sebagai pemimpin Wiratmaja Group. Memang bukan hal yang mudah karena harus ada beberapa perubahan yang harus aku urus tapi selama ada Pramudya sebagai pengacara keluarga, semua bisa aku lalui dengan mudah. Semua perijinan diselesaikan Pramudya dengan cepat. Dari perubahan domisili perusahaan, pembaruan akta juga pemindahan dokumen, aset dan perijinan operasional. Sedikit rumit dan melelahkan, tapi sangat menyenangkan dan memuaskan. Apalagi, Fatih menginginkan Wiratmaja Group berada satu gedung dengan Al Fa

  • Terpaksa Menikahi Sopir Bapak   242. Status Baru

    Setelah ashar, kami kembali memenuhi ruang tengah. Beberapa waktu tak bertemu Kakek, membuat kami rindu. Lebih-lebih ingin sekali mendengar cerita Tante Arini yang kini telah bermukim di Surabaya. "Kamu harus siap-siap Safira. Kemungkinan Pamanmu akan mundur dari Wiratmaja. Itu artinya iamu harus maju untuk memimpin perusahaanmu sendiri!" Aku yang duduk di sebelah Kakek hanya bisa menatap Kakek dengan bingung. Maju untuk pegang Wiratmaja? Apakah itu artinya, aku harus di sana? Sementara Fatih di sini? Aku melirik Fatih yang juga sedang melirikku. Hanya saja dia mengangguk samar. Tak ingin membahasnya sekarang. "Dari mana Kakek tahu?" Tanyaku ingin kejelasan. Kakek menyesap teh hangatnya perlahan lalu kembali menatapku lembut. "Mereka sudah membicarakannya. Pamanmu juga Tantemu. Ya, mungkin saja mereka ingin menjalani rumah tangga dengan cara mereka. Jauh dari hingar bingar kota!" Aku mengangguk. Sepertinya aku harus mulai membicarakannya dengan Fatih, secepatnya. Baru saja ak

  • Terpaksa Menikahi Sopir Bapak   241. Mulai Berproses

    Beberapa minggu ini, kami sibuk dengan urusan masing,masing. Seperti Bayu, yang sesekali harus ijin karena urusan perceraiannya. Kupikir kedatangan Diana malam itu, akan mengubah keputusan Bayu tapi ternyata, sidang tetap berjalan. Dan Diana tak pernah lagi datang ke rumah sejak hari itu. Sedang Fatih. mulai fokus dengan pekerjaannya, menangani proyek-proyek Al Fath yang mulai berjalan bersamaan. Kadang, aku harus menemaninya dalam momen-momen tertentu. Meski kadang, aku juga harus sibuk dengan urusan Wiratmaja Group. Untungnya, Isna dan Bram kembali bergabung setelah satu minggu libur dengan pernikahannya di kampung Majalengka. "Anak-anak gimana, Ma?" Fatih bertanya setelah sekian kali. Maklum, kami meninggalkan mereka sejak pagi karena meeting mendadak tentang tindak lanjut proyek rusunawa di luar Jawa. "Aman. Barusan Isna kasih kabar. Dipta juga udah pulang sekolah. Katanya sih, lagi main sama Buyutnya!" jawabku menjelaskan sambil menyiapkan berkas selanjutnya. "Syukurlah. Ka

  • Terpaksa Menikahi Sopir Bapak   240. Keputusan Terbaik

    Beberapa hari berlalu. kupikir semua akan bak-bsik saja seperti biasa. Bayu mungkin terluka tapi bisa saja dia mengambil langkah lain yang aku dan Fatih tak tahu. Toh, itu memang area kekuasaan Bayu. Aku dan Fatih tak bisa ikut terlalu jauh, meskipun apa yang Diana lakukan melibatkan aku dan Fatih. Aku sedang di ruang tengah bersama Fatih dan anak-anak yang ditemani oleh Isna. Dipta seperti biasa, selalu fokus dengan menggambarnya sementara Raina, kini suka sekali mengamati kakaknya sambil sesekali menggumam. Sesekali, aku dan Fatih terlibat pembicaraan dengan Isna. Menanyakan tentang kesiapannya menikah dengan Bram dalam waktu dekat ini. Hingga Ketukan pintu terdengar. Fatih berdiri lebih dulu saat aku menatapnya dengan heran. Beberapa saat kemudian, Fatih kembali masuk dengan Pramudya. Laki-laki itu masih rapi dengan kemeja kerja dan jas yang digantung di lengan. "Hai, anak-anak” Sapa Pramudya saat melihat anak-anak. "Ada apa nih, tumben datang dengan tas kerja?" Fatih

  • Terpaksa Menikahi Sopir Bapak   239. Malam setelah Keributan

    Malam ini lebih tenang. Begitu sunyi sampai bunyi ketukan jariku di permukaan cangkir terdengar jelas. "Anak-anak sudah tidur?" tanya Bayu memecah keheningan. "Sudah. Di kamar sama Isna!" jawab Fatih pendek. Bayu menunduk sesaat lalu kembali menatao kami bergantian. suaranya pecah saat mulai bicara. “Maaf… Safira. Fatih!" Bayu menghela nafas sejenak. “Aku… bener-bener nggak nyangka kalau Diana… sampai segitunya. Aku pikir… dia perempuan baik. Lembut. Pandai ngomong. Perhatian… ya ampun, aku bodoh banget.” Aku menggeleng pelan, meraih tisu lalu menyodorkannya ke Bayu. “Kamu nggak bodoh, Bayu… kamu cuma… jatuh cinta sama orang yang salah.” Ia tertawa hambar, mengambil tisu itu dan mengusap matanya. “Tambah sakit dengernya.” Fatih menyandarkan punggungnya, lalu menarik napas panjang. “Aku juga nggak nyangka. Aku kaget banget dia masih nyimpen semua itu. Padahal aku cuma nolong dia waktu itu… itu pun karena dia kelihatan benar-benar putus asa.” Bayu mengangkat wajah. “Fatih, aku n

  • Terpaksa Menikahi Sopir Bapak   238. Pengakuan yang Membuat Luka

    Ruangan yang tadinya hanya dipenuhi aroma tumisan bawang mendadak berubah menjadi ruang vakum. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Hanya detak jantung yang memukul-mukul gendang kuping. Diana berdiri di hadapanku—wajahnya memerah, napasnya memburu, matanya berkaca-kaca bukan karena sedih… tapi karena marah, kecewa, dan… cinta yang salah tempat. “Aku bilang… aku cinta sama Fatih!” ujarnya lagi, lebih keras, seolah ingin menegaskan bahwa ia tidak sedang terganggu atau salah ucap. “Dari dulu! Sejak pertama kerja bareng! Sejak sebelum kamu, Safira! Dan kamu… dengan mudahnya dapat dia—seolah aku nggak ada!” Aku terpaku. Kata-kata itu seperti tamparan dingin di wajahku. Bayu, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, terlihat seperti baru saja ditikam. Matanya membesar, napasnya serak ketika mencoba bicara. “Diana… kamu—kamu ngomong apa barusan?” Diana menoleh cepat ke arah suaminya, seperti baru sadar bahwa Bayu juga ada di sana. Namun bukannya menyesal atau meralat, ia justru te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status