LOGIN“Tolong bebaskan keponakan saya, Pak. Keponakan saya tidak bersalah. Ini pasti hanya salah paham.”
Suara Hadi bergetar ketika ia duduk di hadapan seorang polisi. Sejak menerima telepon dari Yura, pria paruh baya itu langsung bergegas ke kantor polisi tanpa sempat memikirkan apa pun selain keselamatan keponakannya.
Tangannya yang kasar akibat bertahun-tahun bekerja terlihat saling menggenggam erat di atas paha.
“Bukti-bukti sudah ada, Pak. Yura terbukti mencuri.”
“Mencuri?” Hadi mengangkat wajahnya.
“Iya.”
“Tidak mungkin.” Hadi menggeleng berkali-kali. “Keponakan saya tidak pernah mencuri. Sejak kecil dia anak yang baik. Kalau menemukan barang orang lain saja, dia pasti mengembalikannya.”
Polisi di hadapannya hanya menghela napas. “Saya mengerti Anda keluarga tersangka, tetapi kami bekerja berdasarkan bukti.”
“Lalu... bagaimana caranya agar Yura bisa bebas?”
Polisi itu membuka berkas di atas meja. “Untuk sementara, Anda bisa mengajukan penangguhan dengan jaminan.”
Hadi langsung sedikit membungkuk. “Berapa, Pak?”
“Seratus sebelas juta rupiah.”
“Apa?” Hadi spontan berdiri. Kursinya bahkan sampai bergeser dan menimbulkan suara berdecit.
“Seratus sebelas juta?”
“Betul.”
Wajah Hadi seketika pucat. Bagi polisi itu mungkin hanya angka. Namun bagi Hadi, seratus sebelas juta adalah uang yang sangat besar.
“Saya... saya tidak punya uang sebanyak itu, Pak.”
“Kalau tidak mampu, Anda bisa mengajukan angka yang lebih rendah.”
“Bisa?” Mata Hadi kembali berbinar.
Polisi itu tampak berpikir sejenak. “Paling rendah sembilan puluh sembilan juta.”
Hadi menelan ludah. “Pak... sembilan puluh sembilan juta juga terlalu besar.” Ia menundukkan kepala. “Saya harus mencari uang sebanyak itu di mana?”
“Rumah, tanah, kendaraan, atau perhiasan. Terserah Anda.”
Hadi mengangkat wajah dengan tatapan putus asa. “Tidak bisakah dicicil?”
“Tidak.”
“Kalau saya bayar sebagian dulu?”
“Tidak bisa.”
Hadi terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia memijat pelipisnya sambil mencoba berpikir. Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah rumah yang selama ini mereka tempati. Rumah peninggalan milik Yura.
Namun, rumah itu juga satu-satunya tempat mereka berlindung. Kalau rumah itu dijual, ia dan Salma harus tinggal di mana?
Tetapi ketika mengingat wajah Yura yang menangis dari balik jeruji, semua pertimbangan itu seolah tidak berarti.
“Apa saya boleh bertemu Yura?”
“Boleh.”
Hadi segera bangkit. “Tolong antarkan saya.”
Ruangan kunjungan terasa dingin. Hadi berjalan pelan ketika seorang petugas membawanya menuju tempat Yura ditahan. Begitu melihat keponakannya berdiri di balik jeruji, langkah Hadi terhenti.
Dadanya seketika terasa dihantam sesuatu. Yura terlihat sangat berbeda. Wajahnya pucat. Rambutnya berantakan. Matanya sembap dan pipinya tampak lebih tirus daripada terakhir kali Hadi melihatnya.
“Yura...”
Mendengar suara itu, Yura langsung menoleh.
“Paman...” Air mata yang sejak tadi ditahannya langsung jatuh.
Hadi mendekati jeruji besi, kemudian kedua tangannya mencengkeram jeruji itu.
“Kenapa kamu bisa masuk penjara, Nak?”
Yura mendekat. Tangannya terulur melalui celah jeruji dan menggenggam tangan Hadi.
“Aku nggak nyuri, Paman.” Suaranya pecah. “Aku benar-benar nggak nyuri.”
Hadi menahan napas.
“Aku dijebak.”
“Siapa yang menjebakmu?”
“Aku nggak tahu.” Yura mengusap air matanya dengan punggung tangan.
“Aku cuma pergi ke minimarket. Aku bahkan nggak tahu kalau ada arloji itu di dalam tasku. Tiba-tiba mereka memeriksa tasku dan menemukannya.”
“Tapi bagaimana arloji itu bisa masuk?”
“Aku nggak tahu, Paman.” Yura mulai terisak.
“Aku sudah menjelaskan semuanya, tapi tidak ada yang percaya.”
Hadi tidak sanggup lagi menahan kesedihannya. Ia memasukkan tangannya lebih jauh melalui jeruji dan mengusap kepala Yura.
“Paman percaya.”
Yura memejamkan mata.
“Paman percaya kamu.”
Tangis Yura pecah. Ia menundukkan kepala hingga dahinya hampir menyentuh tangan Hadi.
“Paman... aku takut.”
“Jangan takut.” Hadi menggigit bibirnya keras-keras.
“Aku nggak mau di sini.”
“Paman akan mengeluarkanmu.”
“Tapi katanya harus bayar uang jaminan.”
Hadi terdiam. Yura melihat perubahan wajah pamannya.
“Berapa, Paman?”
Hadi berusaha tersenyum. “Jangan pikirkan itu.”
“Berapa?”
Hadi menghela napas. “Sembilan puluh sembilan juta.”
Yura membeku. “Paman...”
“Paman akan mencari.”
“Jangan.” Yura langsung menggeleng.
“Jangan jual apa pun.”
“Yang penting kamu keluar.” Hadi tersenyum getir.
“Paman, aku bisa menunggu sampai sidang.”
“Tidak.” Nada suara Hadi tiba-tiba tegas. “Kamu tidak pantas berada di tempat seperti ini.”
Yura kembali menangis.
“Bagaimana dengan Nak Adrian? Dia tahu?”
Yura menggeleng. “Aku belum memberitahunya.”
“Kenapa?”
Yura menundukkan wajah. “Aku malu.”
“Malu?”
“Kalau dia tahu aku masuk penjara, belum tentu dia percaya aku tidak bersalah.”
“Dia suamimu.” Hadi menatap Yura beberapa detik.
Yura terdiam.
“Dia punya tanggung jawab terhadapmu.” Hadi mengusap pipi Yura. “Paman akan pergi ke rumahnya.”
“Jangan, Paman.”
“Kenapa?”
“Aku takut dia marah.”
Hadi menghela napas. “Kalau dia memang suamimu, seharusnya dia yang datang mencarimu.”
Yura tidak mampu menjawab.
“Bertahanlah.” Hadi menggenggam tangannya lebih erat.
Ia berusaha tersenyum meski matanya kembali berkaca-kaca.
“Paman akan membawa kamu pulang.”
***
Rumah Adrian.
“Nyonya.”
Jeni yang sedang berbaring santai di sofa bahkan tidak mengangkat wajah dari ponselnya.
“Ada seorang pria ingin bertemu dengan Tuan Adrian.”
“Siapa?”
“Dia mengaku sebagai pamannya Nyonya Yura.”
“Pamannya?” Jeni mendengus.
“Iya, Nyonya.”
“Suruh masuk.”
Beberapa menit kemudian, Hadi berdiri di ruang tengah rumah itu. Langkahnya terasa kaku. Ia memandang sekeliling. Rumah itu begitu besar, begitu mewah, sampai membuat dirinya merasa semakin kecil. Bajunya sederhana. Sandalnya bahkan sudah terlihat usang.
Sementara Jeni duduk santai di sofa mahal dengan seorang nail artist yang sedang menghias kukunya.
“Siang, Besan.” Hadi tersenyum canggung. Ia hendak duduk.
“Siapa yang menyuruhmu duduk?”
Tangan Hadi yang hampir menyentuh sofa langsung berhenti di udara. Jeni menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
“Aku tidak mau kemiskinanmu mengotori sofaku.”
Wajah Hadi memerah. Ia perlahan berdiri kembali.
“Maaf.” Tangannya mengepal di sisi tubuh. Bukan karena takut. Melainkan karena menahan sakit hati. Ia datang ke rumah ini bukan untuk dirinya sendiri. Ia datang demi Yura.
“Mau apa kau kemari?”
Hadi menarik napas dalam-dalam. “Saya datang untuk meminta bantuan.”
Jeni terkekeh. “Sudah kuduga.” Ia kembali melihat kukunya. “Orang miskin seperti kalian memang hanya datang ketika membutuhkan uang.”
Hadi menunduk. “Yura sedang dipenjara.”
“Lalu?” Jeni hanya mengangkat alis.
“Dia dituduh mencuri, tetapi Yura mengatakan dia dijebak.”
“Wanita itu memang pembawa masalah.”
Hadi mengepalkan tangan semakin kuat. “Saya membutuhkan sembilan puluh sembilan juta untuk uang jaminannya.”
Jeni langsung tertawa. “Semua orang miskin yang datang ke sini pasti selalu punya permintaan luar biasa.”
“Tolong bantu Yura.”
“Kenapa aku harus membantu?”
“Dia menantu Anda.”
“Menantu?” Jeni mendengus. “Menjadi menantu bukan berarti aku harus membayar semua masalahnya.”
Hadi maju selangkah. “Saya tidak meminta Anda memberikan uang itu. Saya hanya memohon agar Anda meminjamkannya.”
“Tidak.” Jawaban itu begitu cepat.
Hadi terdiam sejenak. “Yura akan mengembalikannya.”
“Dengan apa?” Jeni menatap sinis.
“Dia saja tidak punya uang.”
Hadi mengatupkan rahang. “Anda orang kaya. Sembilan puluh sembilan juta tidak akan membuat Anda jatuh miskin.”
Jeni meletakkan ponselnya dengan keras di atas meja.
“Uangku adalah uangku. Bukan uang untuk keponakanmu.”
“Dia bukan orang asing.”
“Bagiku, dia tetap orang asing.”
Hadi menatap Jeni dengan mata berkaca-kaca.
“Anda tega membiarkan menantu sendiri mendekam di penjara?”
“Kenapa aku harus peduli?”
Hadi terdiam. Harga dirinya sudah diinjak-injak. Namun, ia tetap bertahan. Demi Yura. Ia bahkan hampir berlutut.
“Tolong.” Suara Hadi bergetar. “Saya mohon.”
Jeni memalingkan wajah, tangannya menunjuk ke arah pintu.
“Keluar.”
Hadi menatapnya beberapa detik. Tidak ada belas kasihan di wajah wanita itu. Akhirnya Hadi menundukkan kepala.
“Baik.” Ia berbalik. Langkahnya terasa begitu berat.
***
Begitu keluar dari rumah, Hadi mengusap wajahnya kasar. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Ia tidak pernah menyangka dirinya akan mengemis demi keselamatan seorang anak yang selama ini ia besarkan.
Namun, bahkan setelah merendahkan harga dirinya, ia tetap tidak mendapatkan apa-apa. Hadi berjalan tanpa tujuan di halaman luas itu. Sampai matanya menangkap sosok Adrian. Pria itu duduk di bawah pohon rindang sambil membaca buku.
Tenang.
Santai.
Seolah dunia tidak sedang menghukum istrinya. Hadi langsung berjalan menghampirinya.
“Nak!”
Adrian mengangkat wajah. “Ada apa?”
Hadi berdiri di hadapannya dengan napas memburu. “Yura di penjara.”
Adrian menutup bukunya perlahan. “Aku tahu.”
“Kamu tahu?”
“Iya.”
Hadi menatapnya tidak percaya. “Kalau begitu, kenapa kamu tidak datang?”
Adrian diam.
“Dia istrimu!”
Hadi mulai meninggikan suara.
“Dia sedang ketakutan di dalam sana!”
“Aku akan mengurusnya.”
“Kapan?”
Adrian mengangkat alis. “Aku sudah meminta pengacaraku.”
Hadi menggeleng. “Tidak ada pengacaramu yang datang.”
Adrian terdiam sesaat. “Aku akan mengurusnya.”
Hadi menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca.
“Nak, aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian.”
Ia mengusap air matanya. “Tapi Yura itu anak yang baik.”
Adrian tidak menjawab.
“Dia tidak pernah macam-macam.” Hadi meraih lengan Adrian. “Tolong bebaskan dia.”
Adrian menatap tangan Hadi yang mencengkeram lengannya, kemudian ia melepaskannya perlahan.
“Pulanglah.”
Hadi menatapnya penuh harap.
“Aku akan mengirim pengacaraku.” Senyum tipis muncul di wajah Adrian. “Yura akan bebas.”
“Benarkah?” Mata Hadi langsung berbinar.
“Ya.”
Hadi menghela napas lega. “Terima kasih, Nak.”
Ia menepuk bahu Adrian. “Semoga Tuhan membalas kebaikanmu.”
Hadi kemudian pergi. Namun begitu pria itu menjauh, senyum Adrian lenyap. Ia kembali membuka bukunya. Tatapannya dingin. Tidak ada pengacara yang akan datang. Tidak ada uang jaminan yang akan dibayarkan.
Karena semua itu memang tidak pernah ia niatkan. Justru dialah orang yang mengatur agar Yura masuk penjara.
***
Malam itu, Hadi pulang dengan wajah muram. Sofia yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh.
“Bagaimana Yura?”
Hadi tidak menjawab. Ia duduk di kursi dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Sofia mendekat.
“Mas?”
“Kalau Yura belum dibebaskan, aku akan menjual rumah.”
“Apa?” Sofia langsung membelalakkan mata.
“Rumah ini akan aku jual.”
“Untuk apa?”
“Untuk membebaskan Yura.”
Sofia langsung menggeleng. “Tidak!”
“Yura sedang dipenjara.”
“Dia sudah menikah!” Sofia berdiri.
“Kenapa kita yang harus mengurusnya?”
Hadi menatap istrinya. “Karena dia keponakanku.”
“Dia tanggung jawab suaminya.”
“Suaminya tidak datang!” Hadi akhirnya membentak.
Sofia terdiam. Hadi menarik napas panjang, kemudian suaranya turun.
“Rumah ini pun sebenarnya bukan milik kita.”
“Mas...” Sofia langsung pucat.
“Rumah ini milik Yura.”
“Jangan keras-keras.”
“Bahkan uang damai atas kematian orang tuanya dulu sudah kita gunakan.”
“Jangan bicara begitu.” Sofia menutup mulut Hadi dengan tangannya.
Hadi menepis tangannya.
“Kita memakai uang itu untuk pengobatan Amira dan kebutuhan keluarga.”
“Itu dulu!”
“Dan sekarang Yura membutuhkan kita.”
Sofia menggeleng keras. “Tidak. Aku tidak mau rumah ini dijual.”
Hadi menatapnya kecewa. “Kalau bukan rumah ini, lalu apa?”
Sofia diam. Hadi tertawa getir.
“Kita tidak punya apa-apa lagi.” Ia berdiri. “Aku tidak akan membiarkan Yura sendirian.”
***
Dua minggu berlalu. Namun Yura masih berada di balik jeruji. Tidak ada Adrian. Tidak ada pengacara. Tidak ada uang jaminan. Sementara itu, Hadi semakin tertekan. Ia bahkan sudah mulai mencari pembeli rumah secara diam-diam.
Di sebuah ruangan kantor yang luas, Andreas duduk di balik meja. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Tiba-tiba asistennya datang tergesa-gesa.
“Pak Andreas.”
“Ada apa?”
“Lihat ini.” Asisten itu meletakkan ponselnya di atas meja.
Andreas mengangkat wajah. Di layar, sebuah video sedang diputar. Video Yura. Judulnya membuat dada Andreas terasa sesak.
SEORANG WANITA TERTANGKAP MENCURI ARLOJI DI MINIMARKET.
Andreas langsung menghentikan pekerjaannya.
“Besarkan.”
Asisten memperbesar video. Andreas menatap layar dengan saksama. Ia melihat Yura berdiri di depan rak minimarket. Kemudian seorang pria muncul dari belakang.
Andreas menyipitkan mata. “Putar lagi.”
Video diputar. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Andreas tiba-tiba mengangkat tangan.
“Stop.”
Video berhenti.
“Bagian itu.”
“Yang mana, Pak?”
“Pria di belakang Yura.”
Asisten memperbesar gambar. Andreas mendekatkan tubuhnya ke layar. Matanya berubah tajam. Rahangnya mulai mengeras. Arloji itu. Ia mengenalinya, itu bukan arloji sembarangan, itu arloji milik Adrian hadiah pemberian darinya yang khusus ia pesan dari desainer jam tangan ternama. Andreas menatap layar sekali lagi.
“Kenapa arloji Adrian bisa ada di dalam tas Yura?”
Tidak ada jawaban, tetapi untuk pertama kalinya, sebuah kecurigaan besar muncul di kepalanya dan kecurigaan itu mengarah kepada satu orang, Adrian.
“Ini terlalu berlebihan.” Yura menatap Adrian dengan ragu. Ia masih mengira semua ucapan pria itu hanyalah basa-basi.“Kamu adalah istriku, Yura. Apa pun yang menjadi milikku, sekarang juga menjadi milikmu.”Yura mengembuskan napas panjang. Perubahan sikap Adrian membuatnya bingung. Dulu, pria itu begitu dingin kepadanya. Kini, Adrian justru memperlakukannya seolah-olah ia adalah seseorang yang sangat berharga. Ia merasa semua ini terlalu instan.“Ayo, kita masuk.”“Iya.”Adrian membawa Yura berkeliling vila dan menunjukkan berbagai fasilitas di kediaman pribadinya. Setelah melewati ruang keluarga yang luas dan taman belakang, mereka tiba di sebuah kolam renang yang dibangun tepat di tepi tebing.Yura langsung berhenti melangkah.Lantai kolam itu terbuat dari kaca transparan. Airnya begitu jernih sehingga dasar kolam dan pemandangan laut di bawah tebing tampak jelas dari atas. Birunya laut terbentang tanpa batas, tetapi keindahan itu tidak mampu mengusir rasa ngeri yang menjalar di tu
Yura kembali menyantap makanannya sambil berkedip beberapa kali. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.“Kenapa diam?”“Iya,” Yura menatap pria itu dengan gugup.“Iya apa?” Adrian membalas tatapan Yura dengan tatapan teduh.Yura menarik napas panjang. “Kamu benar-benar ingin memperbaiki pernikahan kita?”Adrian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.“Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?”“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” raut wajah Adrian terlihat serius.Yura menggeleng. Namun, di dalam hatinya masih ada keraguan. Luka akibat pengkhianatan Malik belum benar-benar sembuh. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru meninggalkan trauma yang membuatnya sulit untuk percaya pada laki-laki.“Aku harap kamu mau membuka lembaran baru dalam pernikahan kita,” ujar Adrian. “Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.”Yura hanya diam tidak tahu bagaimana harus menanggapi permintaan Adrian.“Aku tidak memintamu langsun
Yura langsung mencengkeram belahan kimono yang menutupi dadanya. Teguran Adrian terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Saya dan Pak Andreas tidak melakukan sesuatu yang terlarang.” Yura berusaha membela diri. Ia tidak ingin Adrian memandangnya sebagai wanita murahan.“Berduaan dengan lelaki yang bukan suamimu adalah perbuatan terlarang, Yura.”“Tapi Pak Andreas adalah saudara Anda.” Yura menatap Adrian cemas. Ia tidak ingin suaminya berpikir macam-macam tentang dirinya dan Andreas.Rahang Adrian mengeras. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa kesal yang semakin menguasai dirinya.“Lima menit. Ganti pakaianmu, lalu kita pulang.”“Saya pamit ke Pak Andreas dulu.”“Suamimu itu aku atau Andreas?”Yura menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, Andreas sudah membantunya ketika tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya.“Iya. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.” Yura berbalik masuk ke apartemen, Adrian dan Gresyuan mengikutinya.Begitu tiba di ruang depan, A
“Apa maksudmu?” Adrian bertanya dengan santai, seolah-olah tidak memahami tuduhan yang baru saja dilontarkan Andreas.Andreas justru berjalan semakin mendekat. “Jangan pura-pura bodoh.” Tangannya menunjuk jam di tangan Adrian.“Arloji itu hanya ada satu di dunia. Aku memesannya khusus dari desainer ternama untuk hadiah ulang tahunmu. Aku sendiri yang memilihnya, jadi jangan bilang aku salah mengenalinya.”Adrian melirik arloji yang ada di tangannya. Andreas tidak mungkin salah, arloji itu memang hadiah darinya. Namun wajah Adrian tetap tenang.“Lalu?”“Aku tahu kau yang menjebak Yura dan membuatnya masuk penjara.” Suara Andreas bergetar menahan amarah.Andreas mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. “Kau mau lihat siapa yang memberitahuku?”Adrian melirik layar. Foto seorang pria muncul di sana membuat wajah Adrian seketika berubah.“Dia sudah bicara,” ujar Andreas dingin. “Orang suruhanmu sudah mengakui semuanya. Jadi berhenti berkelit.”Adrian menyandarkan tubuhnya ke
“Di tahan di mana Yura?”“Di Kapolsek xxx.”Mendengar jawaban itu, Andreas langsung mengambil ponsel di atas meja kerja. Tanpa membuang waktu, ia bergegas keluar dari kantor sembari menghubungi pengacaranya.Sesampainya di parkiran, Andreas masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan kasar. Mobil melaju meninggalkan gedung dengan kecepatan tinggi.Tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Andreas benar-benar marah.Adrian adalah saudara kembarnya. Ia tahu betul adiknya sedang marah, kecewa, bahkan terluka karena kecelakaan yang membuat hidupnya berubah. Namun, semua itu bukan alasan untuk menghancurkan hidup orang lain. Terlebih lagi Yura adalah istrinya sendiri.“Kejam sekali kau, Adrian,” gumam Andreas geram.Ia semakin menginjak pedal gas. “Aku tahu kau membencinya, tapi bukan seperti ini caranya.”***“Yura!”Suara seorang sipir terdengar dari balik jeruji. Yura yang sedang duduk bersama Imelda langsung mengangkat kepala.“Saya, Pak?” Ia berd
“Tolong bebaskan keponakan saya, Pak. Keponakan saya tidak bersalah. Ini pasti hanya salah paham.”Suara Hadi bergetar ketika ia duduk di hadapan seorang polisi. Sejak menerima telepon dari Yura, pria paruh baya itu langsung bergegas ke kantor polisi tanpa sempat memikirkan apa pun selain keselamatan keponakannya.Tangannya yang kasar akibat bertahun-tahun bekerja terlihat saling menggenggam erat di atas paha.“Bukti-bukti sudah ada, Pak. Yura terbukti mencuri.”“Mencuri?” Hadi mengangkat wajahnya.“Iya.”“Tidak mungkin.” Hadi menggeleng berkali-kali. “Keponakan saya tidak pernah mencuri. Sejak kecil dia anak yang baik. Kalau menemukan barang orang lain saja, dia pasti mengembalikannya.”Polisi di hadapannya hanya menghela napas. “Saya mengerti Anda keluarga tersangka, tetapi kami bekerja berdasarkan bukti.”“Lalu... bagaimana caranya agar Yura bisa bebas?”Polisi itu membuka berkas di atas meja. “Untuk sementara, Anda bisa mengajukan penangguhan dengan jaminan.”Hadi langsung sedikit







