LOGINAngga melajukan mobilnya menjauhi area parkir rumah sakit. Genggaman tangannya di setir terasa erat, jantungnya masih berdebar mengingat adegan pelukan darurat denganku tadi. Wajahku yang memerah, matanya yang terkejut... semua itu terbayang jelas oleh Angga.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama "Mamah Sonya" muncul di layar. Angga menarik napas panjang, senyum kecil tersungging di bibirnya. “Assalamualaikum Mah, ada apa?” tanya Angga, suaranya berusaha terdengar santai, meski pikirannya masih dipenuhi bayanganku. “Wa’alaikumsalam,” suara Bu Sonya, ibunda Angga, terdengar ceria. “Angga, Mamah mau bicara soal Putri” Ucap Bu Sonya Angga memperlambat laju mobilnya. “Iya, kenapa Mah? Ada apa dengan Putri?” tanyanya, nada suaranya berubah menjadi lebih serius. “Angga, Putri itu cantik, anggun, dan dia punya hati yang baik, ya. Mamah senang sekali melihat sikapnya tadi. Pantas kamu dulu tergila-gila sekali dengannya,” Ucap Bu Sonya menggoda Angga. Wajah Angga seketika memanas. Ia tertawa kecil, merasa malu. “Hehe, iya Mah. Putri memang cantik dan baik,” Ucap Angga memilih kata-kata yang aman, namun rasa bangga tak bisa disembunyikan. Bu Sonya mengubah nada suaranya menjadi lebih sungguh-sungguh. “Tapi, feeling Mamah bilang, kamu memang jodoh sama Putri, Ngga. Buktinya, Kamu dipertemukan kembali dengannya setelah sekian lama, dan dalam keadaan yang ‘memaksa’ kalian dekat. Walaupun Putri terpaksa menikah siri denganmu, itu mungkin awal dari takdir besar yang Allah berikan untuk kamu bisa bersamanya” Ucap Bu Sonya. Mendengar kata-kata itu, hati Angga menghangat. Sebuah harapan besar menyelinap. “Aamiin, semoga ya Mah. Angga senang sekali dengarnya Mamah ngomong seperti itu. Angga juga merasakan ada yang berbeda sejak bertemu dia lagi.” Ucap Angga “Nah, itu dia poinnya!” seru Bu Sonya, terdengar antusias. “Maka dari itu, Mamah ada sebuah permintaan, permintaan yang besar sekali sama kamu. Ini demi masa depan kamu.” Ucap Bu Sonya dengan serius. Dahi Angga mengerut. “Permintaan besar apa, Mah? Jangan yang aneh-aneh, ya!” Ucap Angga. Bu Sonya mengambil napas, lalu menyatakannya dengan lantang dan tegas. “Angga, Mamah mau kamu nikah Sah secara Hukum dan Agama dengan Putri. Bukan hanya nikah siri.” Angga terdiam, mencerna permintaan itu. Permintaan itu adalah impian terbesarnya, tapi juga mimpi buruk yang rumit. “Iya, Mah! Angga mau. Angga maunya juga begitu! Tapi bagaimana caranya? Angel pasti tidak akan pernah mau aku menikah Sah secara hukum juga dengan Putri! Itu bisa membatalkan semua perjanjian!” Angga mulai frustrasi. “Yah, kamu gak usah kasih tahu Angel lah kamu menikah Sah secara Hukum juga dengan Putri! Ini rahasia kita. Kita jalankan secara tertutup!” Ucap Bu Sonya “Tapi gimana caranya, Mah? Nikah sah itu butuh proses panjang, butuh surat, harus ada Wali! Putri anak yatim piatu, Mah, dia tidak punya siapa-siapa!” tanya Angga, memikirkan semua logistik yang rumit. Bu Sonya tersenyum penuh rahasia. “Putri anak yatim piatu, kan? Nah, di situ celahnya.” Angga masih bingung. “Maksudnya?” “Dengarkan baik-baik. Kamu bilang ke Angel, acara ijab qobul dan semua urusan administrasi biar kamu yang handle. Beri alasan bahwa kamu yang akan mengurus Wali Hakim untuk Putri, karena dia tidak punya wali nasab. Pokoknya, kamu harus bisa mengambil alih kendali penuh acara ijab qobulnya.” Ucap Bu Sonya menjelaskan seperti sedang menyusun strategi perang. “Angel itu kan tidak peduli detail. Dia hanya peduli drama dan status ‘istri sah’ di mata agama agar kamu bisa mempunyai anak dari Putri,” lanjut Bu Sonya. “Nanti, di hari H, Mamah yang akan urus sisanya. Mamah akan pastikan dokumen yang kamu tanda tangani adalah dokumen nikah sah secara KUA, bukan hanya surat nikah siri.” Ucap Bu Sonya. Angga menelan ludah. Rencana ini sangat berani, penuh risiko, tapi juga menjanjikan kebahagiaan sejati. “Tugasmu hanya satu, Ngga! Pinjam KTP dan Kartu Keluarga nya Putri!” Bu Sonya menekankan. “Tapi Mah,, Angel pasti curiga kalau aku minta itu tiba-tiba.” Ucap Angga “Kamu jangan bilang ke Angel. Kamu Minta dengan Putri saja baik-baik. Bilang saja untuk keperluan administrasi kantor atau asuransi atau apapun itu! Pokoknya kau harus dapat! Setelah itu, serahkan KTP dan Kartu Keluarga nya ke Mamah. Mamah akan menyuruh orang untuk mengurus semua surat nikah ke KUA. Mereka akan bekerja cepat.” Ucap Bu Sonya. Angga menghela napas panjang. Kebohongan ini terasa berat, apalagi melibatkan KUA dan dokumen resmi. “Angga akan coba, Mah. Angga akan berusaha mendapatkan KTP dan Kartu Keluarga Putri.” Ucap Angga “Itu baru anak Mamah!” Bu Sonya berseru senang. “Yasudah kamu masih dijalan kan. Hati-hati dijalan ya, cepat sampai rumah lalu istirahat” Ucap Bu Sonya. “Iya, Mah. Terima kasih banyak atas ide dan bantuan Mamah. Bye Mah, Assalamualaikum” Ucap Angga lalu mematikan telepon nya. “Bye Angga. Wa’alaikumsalam,” tutup Bu Sonya. Angga kembali melajukan mobilnya. Tangannya meremas setir dengan tegang. Di satu sisi, ia merasa bersalah harus berbohong kepada Angel yang lebih besar tentang dokumen pernikahan. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa mengabaikan harapan untuk menikahiku secara sah, menjadikannya miliknya yang seutuhnya, di mata Tuhan dan hukum negara. Bersambung…Di sore hari yang tenang, Pak Wahyu tiba di rumahnya. Senyum lebar tak lepas dari wajahnya, ia masih geli mengingat tingkah laku putranya dan reaksi polos menantunya, Putri.Bu Sonya, yang sedang duduk di teras, segera menghampiri suaminya. "Papah! Kok senyum-senyum sendiri begitu? Ada apa? Mimpi indah di jalan, ya?" tanyanya sambil menyeka keringat di dahinya.Pak Wahyu tertawa kecil sambil melepas jasnya. "Bukan mimpi, Mah. Itu loh, anakmu itu. Angga. Semenjak ada Putri di dekatnya, auranya beda banget. Rasanya kantor jadi lebih hidup."Mata Bu Sonya langsung berbinar. "Oh ya? Papah habis bertemu mereka di kantor?""Iya, tadi Papah ke kantor. Awalnya, asisten Papah bilang Angga membawa sepupunya untuk bekerja di bagian Keuangan. Papah kan bingung, Angga tidak pernah punya sepupu sedekat itu. Tapi saat tahu namanya ternyata Putri, yah Papah langsung samperin dong! Kasih semangat untuk dia.""Putri! Kerja di kantor kita?" Bu Sonya benar-benar terkejut, suaranya naik satu oktaf.
Kami tiba di sebuah restoran mewah yang terletak di dalam mal, tepat di samping gedung perusahaan. Suasananya elegan, dengan alunan musik jazz lembut yang menambah kesan eksklusif. Setelah memesan hidangan terbaik dari rekomendasi pelayan, kami menunggu."Put," Pak Wahyu memulai, menatapku dengan tatapan hangat, "bagaimana hari-harimu di kantor? Ada kesan apa sejauh ini?"Aku tersenyum tulus. "Aku masih banyak sekali belajar, Pah. Tapi semua staf di sana baik-baik dan sangat membantuku. Aku merasa sangat... diterima. Pokoknya aku senang sekali."Pak Wahyu mengangguk, sorot matanya menunjukkan kelegaan. "Syukurlah kalau kamu senang. Tapi, Papah masih kepikiran. Apa kamu tidak kesusahan langsung masuk ke bagian Keuangan? Itu kan tekanan kerjanya tinggi, Put. Kalau kamu merasa terlalu melelahkan, jangan sungkan bilang. Papah bisa atur posisi kamu. Mau jadi Manajer? Atau Direktur? Mau Papah siapkan kursi CEO saja biar kamu lebih nyaman? Atau...""Gak usah, Pah," potongku cepat, sed
Angel berada di sebuah restoran all-day dining mewah di hotel tempat ia dan Kevin menginap di Singapura. Cahaya lembut masuk dari jendela besar, menyoroti senyum ceria Angel saat Kevin bercerita. Mereka duduk berhadapan, menikmati makan siang yang ringan.Dari kejauhan, di sudut lounge yang lebih tenang, Sis Linda, teman arisan Bu Sonya, memicingkan mata sambil menyesap kopi.“Ini bukannya menantunya Sis Sonya, si Angel itu?” Batin Sis Linda, tatapannya lekat pada pasangan itu. Angel mengenakan dress musim panas yang anggun, dan pria di hadapannya – Kevin – memegang tangannya di atas meja sambil tertawa.“Ya Tuhan, tapi dia sama siapa? Ko mesra sekali! Mereka saling sentuh seperti sepasang kekasih! Itu sepertinya bukan Angga, deh. Angga kan tinggi besar, yang ini lebih... atletis dan terawat rapi,” Batin Sis Linda, syok campur penasaran.Instingnya sebagai seorang anggota arisan kelas atas langsung beraksi. Informasi ini emas.Dengan gerakan cepat namun terselubung, Sis Linda men
Pukul 04.00 subuh, alarm di ponsel Angga berdering nyaring, memecah keheningan kamar.Angga Menghela napas, mematikan alarm, lalu mencium puncak kepalaku dengan lembut "Sayang... Bangun, yuk. Waktunya mandi sebelum Subuh." Ucap Angga.Aku hanya bergumam dan menarik selimut hingga menutupi wajah. "Emmm, bentar lagi, Mas. Lima menit... please..." ucapku Suara serak, merengekAngga Tertawa kecil, menarik sedikit selimutku "Tidak ada bentar lagi. Ayo bangun, Sayangku." Ucap Angga Dicubitnya hidungku pelan, membuatku refleks mengaduh.Aku Membuka mata sebentar, lalu memejamkan lagi"Aduh! Sakit, Mas. Aku masih capek banget, sungguh. Kamu duluan aja, nanti aku menyusul." ucapku.Angga Terdengar geli "Eh, kan yang harusnya kecapean itu aku! Gimana sih!" Ucap Angga tersenyum kecilMendengar godaan itu, mataku langsung terbuka lebar. Wajahnya yang menyebalkan itu berada tepat di depanku."Enak aja kamu, ya, kalau ngomong! Sembarangan!" Ucapku Mendorong mukanya pelan, dengan nada kes
Setelah ritual mandi yang menyegarkan, aku keluar dari kamar mandi. Aroma sedap langsung menyeruak, menggelitik hidung dan membangunkan selera makanku yang baru saja tertidur. Aku mengikuti jejak aroma itu, menemukan Angga sedang sibuk di dapur, dengan sentuhan terakhir pada masakannya. "Mas, wangi sekali," ujarku, suaraku sedikit tercekat oleh aroma yang menggoda. Angga menoleh, senyum manis tersungging di bibirnya saat melihatku."Sudah rapi rupanya, Tuan Putri," godanya, kemudian mengambil sedikit makanan dengan sendok. "Cobain deh, coba kurang apa?." Ia menyuapiku dengan lembut.Aku mengecapnya perlahan, membiarkan setiap rasa menari di lidah. "Hmm, Mas... ini enak sekali! Tidak kurang apa-apa, pas banget. Sumpah, ini paling enak yang pernah aku makan. Bagaimana bisa kamu memasak seenak ini?" Aku menatapnya penuh kekaguman.Angga terkekeh pelan, pipinya sedikit memerah. "Mama yang ngajarin. Kata Mama, walaupun laki-laki, harus bisa masak. Biar nanti bisa bahagiain istri," uc
Di Mobil Angga, Perjalanan Pulang Aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata sejenak menikmati keheningan setelah hiruk pikuk kantor. Namun, pandanganku jatuh ke kakiku sendiri. Ada lecet kecil di bagian tumit, bekas gesekan sepatu kerja seharian. Aku meringis pelan saat menyentuhnya. "Kaki kamu kenapa, Put?" Suara berat Angga terdengar. Rupanya dia menyadari gerak-gerikku dari sudut matanya saat menyetir. Aku menoleh, tersenyum tipis. "Oh, ini, Mas. Kaki aku agak sedikit lecet. Tapi gapapa kok, lecet biasa aja." Ucapku Angga mengerem perlahan di lampu merah. Alih-alih melihat lampu, matanya justru menatap kakiku, lalu kembali ke wajahku dengan tatapan serius. "Bukan 'gapapa.' Lecet itu luka, dan luka itu harus diobati. Ambil P3K di dashboard depanmu, obati sekarang." Nada bicaranya tegas, tidak menerima penolakan. "nanti aja di rumah. Ini cuma lecet kecil, beneran deh. Lagian, aku enggak bisa mengobati sambil mobil jalan begini," kataku, berusaha mengali







