Masuk“Saya hanya ingin Duke Muda bertanggung jawab!” raung Helena sembari memukul-mukul dadanya sendiri. “Jika keadaan sudah menjadi seperti ini, bagaimana dengan citra saya di mata masyarakat?!” Ia lantas menutupi wajahnya yang basah oleh air mata, sementara tangisannya sama sekali tak menyurut. “Kau sendiri yang merusak citramu, kenapa sekarang menyalahkanku?! Akulah yang seharusnya melayangkan protes, Helena!” Cedric mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Jika saja Helena seorang laki-laki, ia pasti sudah memukuli wanita itu hingga babak belur sejak tadi. “Duke Muda!” potong Alfred dengan nada suara yang dingin dan kaku. Ia kemudian melepas mantelnya dan menyelimutkannya ke tubuh Helena. “Saya rasa Nona Helena benar,” ujar Alfred, menatap sang komandan dengan tatapan menuduh yang terpampang amat jelas. “Maksudmu, kau sungguh percaya bahwa aku melecehkannya meski sudah ada saksi mata?” tukas Cedric cepat. Nadanya meniinggi tajam. Ia memijit pangkal hidungnya yang berdenyut frustrasi.
Cedric, yang melihat sihir hitam teramat pekat, bersiap menyambar gagang pedangnya. Siapa pun orangnya—bahkan jika ia seorang Saintess sekalipun—penyihir hitam adalah ancaman mutlak yang wajib dibasmi. Tingkat bahayanya jauh melampaui ancaman vampir. Seratus tahun lalu, ketika penyihir hitam terakhir muncul, dampaknya teramat mengerikan; wabah mematikan nyaris merenggut separuh populasi kekaisaran, dan baru dalam kurun waktu lima puluh tahun belakangan kekaisaran benar-benar bersih dari wabah tersebut. Berbeda dengan vampir yang memiliki garis keturunan layaknya manusia, penyihir hitam biasanya bangkit secara acak tatkala benih dendam yang besar berhasil menguasai dan meracuni jiwa seseorang. “Kau penyihir hitam, Helena!” bentak Cedric tajam. Namun secara mendadak, aura gelap yang menguar dari tubuh gadis itu lenyap begitu saja tanpa bekas—seolah tertelan bumi. Tekanan udara yang semula terasa pekat dan membakar mendadak kembali normal. Helena kembali bertransformasi menjadi so
Helena menatap Cedric dengan penuh curiga, namun ucapan pria itu tak bisa dipungkiri terdengar amat masuk akal. Sebelumnya, ia memang menyatukan ekstrak bunga eldervine tanaman langka yang membekukan aliran mana dan bisa melumpuhkan jaringan saraf ke dalam air suci yang ia suguhkan pada sang duke muda. Helena menggeleng keras “Kau cuma berusaha mempengaruhiku, kan?” Namun, Cedric justru meraih sejumput surai hitam Helena lalu memelintirnya perlahan dengan gestur menggoda. “Apa aku terlihat sebegitu buruknya?” tantang Cedric dengan nada rendah. Helena menahan napasnya yang mendadak terasa berat. Cedric di bawah kunciannya, dengan dada tegap yang terekspos, sungguh tampak terlampau memikat. Surai marunnya yang sedikit berantakan dan netra hazel pria itu sukses membuat dadanya berdesir hebat. Sangat berbeda dengan Lucio yang selalu terburu-buru, bersama Cedric, Helena merasa rela menghabiskan waktu lebih lama demi menikmati tiap detik sebelum melangkah ke acara inti. Denhan be
Hailey membaringkan tubuh Ruby di salah satu ranjang ruang kesehatan akademi. Gadis berambut merah muda itu terbaring lemas dengan paras dan bibir yang memucat bagai mayat. Sherina dengan sigap menyambar botol kaca berisi ramuan berwarna merah muda dari lemari penyimpanan obat, mencabut sumpal kayunya, lalu mencekokkan cairan itu ke mulut Ruby. “Apa itu?” tanya Hailey penasaran. “Ramuan pemulih darah,” sahut Sherina santai. Ia lalu merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah botol kaca mungil seukuran ibu jari. Cairan di dalamnya tampak lebih pekat dibanding ramuan pertama. Sherina kembali membuka mulut Ruby dan meneteskan tepat dua tetes ke dalam kerongkongannya. Dahi Hailey makin berkerut heran. “Lalu… kalau yang itu apa?” “Ini cairan penekan ingatan hasil eksperimenku.” Sherina berdiri, mengamati reaksi Ruby dengan cermat. “Ini pengujian pertama pada manusia, jadi aku belum bisa menjamin tingkat keberhasilannya secara penuh. Tapi kuharap ini sanggup menghapus ingatan Ru
“Cedric harus tahu soal ini, Hailey.” Hailey seketika menggeleng kuat-kuat dengan raut wajah memohon. “Dia akan membunuhku!” “Tidak. Kurasa dia tidak akan melakukan itu.” Sherina punya sudut pandang lain. Jika Cedric benar-benar berniat membunuh Hailey, itu sudah terjadi sejak lama saat ia pertama kali melaporkan identitas asli gadis itu sebagai vampir. Namun, tindakan Cedric yang alih-alih menangkap Hailey justru melindunginya, membuktikan bahwa apa pun yang dilakukan Hailey pasti akan ditutupi. Entah atas dasar dorongan asmara atau alasan lain, Sherina tak peduli. Satu hal yang pasti: Cedric harus tahu kondisi Hailey saat ini yang tak lagi bisa dibiarkan tanpa pengawasan. “Dia sendiri yang mengatakannya padaku! Jika aku sampai membuat masalah, dia yang akan menghabisiku dengan tangannya sendiri!” Tengkuk Hailey mendadak meremang. Ia masih terbayang jelas bagaimana pria itu mengeksekusi vampir lain dengan pedangnya—memisahkan kepala dan badan dalam satu tebasan kilat. Hailey m
“Sekarang bagaimana cara membereskan kekacauan ini?” Sherina bertanya pada Hailey yang menoleh dengan separuh parasnya dipenuhi noda darah. Sherina datang ke hutan ini bukan tanpa alasan. Saat berjalan di koridor sebelumnya, ia tak sengaja mendengar percakapan dua pengawal akademi. Salah satu dari mereka tertawa sembari memamerkan koin emas hasil suapan seorang siswi untuk mengerjai siswi lain, lalu berencana pergi ke rumah bordil—tanpa tahu keputusannya akan berujung fatal. Semula Sherina tak acuh. Namun begitu kembali ke kamar dan mendapati dua ranjang yang kosong, ia langsung paham siapa yang dimaksud para pengawal dungu itu. Jika benar maka Ruby sungguh tertimpa kesialan karena nekat memicu masalah dengan sosok vampir yang sedang dilanda kelaparan hebat. “Apa dia mati?” tanya Sherina, menahan langkahnya dalam jarak aman. Ia belum berani mendekat untuk memeriksa Ruby karena Hailey tampak belum berniat melepaskan tangkapannya. Salah melangkah sedikit saja, Sherina tahu diriny







