LOGINSepuluh menit yang lalu Arthur yang sedang makan siang dengan Kaidan di salah satu cafe pamit pergi ke toilet.
Seorang pelayan tidak sengaja menumpahkan kopi di mejanya, untung saja itu adalah ice coffee dan tidak sampai mengenai pakain kerjanya. Hanya saja ice coffee itu mengenai tangannya yang menjadi terasa sangat lengket di kulit, jadi dia memutuskan untuk pergi ke toilet untuk membersihkan tangannya. Namun di saat dirinya keluar dari toilet tiba-tiba seorang wanita menarik lengan tangannya.... "Nah, ini pacar saya pak!" Kata Yuan sambil merangkul lengan tangan Arthur dengan tidak tahu malunya. "Eh, bu..." "Kamu lama banget sih sayang ke toiletnya..." Yuana langsung memotong ucapan Arthur. "Kamu sal...." "Ya ampun sayang.... Ujung lengan baju kamu agak basah." Lagi-lagi Yuana memotong ucapan Arthur, sementara Arthur yang shock karena dipanggil sayang itu langsung melotot ke arah Yuana yang tersenyum manis sampai membuat Arthur pengen muntah saking enegnya. "Please... Bantu aku dari om-om genit itu." Mohon Yuana sambil berbisik dengan mata yang dibuat semelas mungkin kepada Arthur. Untungnya Arthur saat ini lagi mode baik, mungkin karena efek dipanggil 'sayang' tadi, ia pun langsung mengerti karena dia pikir Yuana lagi takut digodain om-om hidung belang. "Ehm... Maaf sayang, tadi mules banget. Kamu nunggu lama ya?" Balas Arthur yang mulai mengikuti alur sandiwara yang dibuat Yuana. Meskipun dia geli sendiri sih, karena tiba-tiba harus manggil sayang ke orang asing. Yuana yang balik dipanggil sayang oleh Arthur sempat terpaku sejenak. Tiba-tiba dia jadi terpana saat mendengar suara bariton Arthur yang mengalir lembut. Apalagi dia baru sadar ternyata lelaki yang terpaksa dia tarik ke dalam sandiwaranya itu sangatlah tampan dengan tubuh tinggi yang ideal bak model. "Astaga...! Mimpi apa aku tadi malam dipanggil sayang sama cowok secakep ini? Mana gak kalah ganteng sama Suga BTS, kyyaa...!" Suara jerit hati Yuana yang meronta-ronta pengen dikekep sama cowok setampan Arthur. "Ah, eng...enggak kok, cuma..." "Dia siapa? Om kamu?" Tanya Arthur sebelum Yuana menyelesaikan kalimatnya. "Bukan! Gak mungkinlah dia om aku." Bantah Yuana cepat. "Iya juga sih, gak mungkin dia Om kamu. Kamu cantik gini masak punya Om kayak gitu?" Ujar Arthur sambil merapikan anak rambut Yuana dan diselipkan ketelinganya. Karena perlakuan mendadak Arthur itu membuat Yuana semakin salah tingkah dan membuat Pak Broto naik darah. "Kayak gitu gimana maksud kamu?! Dasar anak muda gak tau sopan santun sama orang tua!" Hardik Pak Broto yang geram dengan perkataan Arthur tentangnya. "Nah, Om sadar juga kalau sudah tua? Tapi masih saja godain gadis muda yang sudah punya pasangan." Balas Arthur yang mulai menampilkan kejulidannya. "Sembarangan kalau ngomong! Maksud kamu saya genit gitu?" Seru Pak Broto tidak terima. "Padahal saya gak bilang seperti itu lho... Tapi sepertinya Om yang sadar diri." Ujar Arthut santai dengan mulut pedasnya. "Stop, stop, stop! Jangan ribut dong..." Yuana yang melihat keributan tak berujung itu akhirnya mulai melerai mereka. "Kamu jangan marah-marah gitu dong sayang, nanti ganteng kamu hilang lho... Dia itu mantan bos aku dulu, kebetulan gak sengaja ketemu waktu aku nunggu kamu di sini." Ungkap Yuana pada Arthur. "Nah, itu baru betul." Pak Broto menimpali sambil manggut-manggut. "Tapi dia pernah minta aku buat jadi istri ketiganya. Aku gak mau, mangkanya aku resign dari perusahaanya." Mendengar ucapan Yuana itu membuat Arthur dan Pak Broto melotot secara bersamaan. Pak Broto langsung gelegapan karena aibnya terungkap, sementara Arthur kaget karena gak habis pikir masih ada aja orang modelan Pak Broto seperti itu. "Ohh... Jadi anda itu bukannya genit tapi hidung belang sampai-sampai gangguin pacar orang padahal sudah punya dua istri. Benar-benar ya anda ini Om-om hidung belang!" Mendengar perkataan Arthur yang lumayan keras sehingga banyak orang yang mendengar dan memperhatikan mereka sambil bisik-bisik, membuat Pak Broto marah sekaligus malu. Saking malunya akhirnya dia memilih untuk kabur dan pergi melarikan diri dari mereka berdua untuk menghindari tatapan jijik orang-orang di sana. "A-awas ka-kalian..!!" Serunya sambil nunjuk-nunjuk ke arah Arthur dan Yuana sebelum Pak Broto lari terbirit-birit dengan perut buncitnya yang terlihat naik turun saat berlari. "Lho..lho... Kok malah kabur? Woyy om..!!" Teriak Arthur memanggil Pak Broto namun yang dipanggil langsung mempercepat jalannya tanpa menoleh sedikitpun. "Sudah pergi." Kata Arthur pada Yuana yang masih bergelayut manja di lengan kokoh Arthur. Mungkin terlalu nyaman kali ya... "Huuft... Akhirnya... Makasih ya sayang, udah nolongin. Ups! Kelepasan, hehe..." Dasar Yuana kadang suka lupa diri kalau berhadapan dengan pria tampan. Tapi sayang gak ada yang nyantol satu pun ke dia. "Gak masalah." Jawab Arthur datar sambil melepaskan kaitan tangan Yuana yang melingkar di lengannya. "Eh maaf, terlalu nyaman." Ujar Yuana sambil cengar cengir kayak orang cacingan. "Hmm..." Arthur hanya berdehem saja, lalu berbalik ingin pergi namun langkahnya lansung ditahan oleh Yuana. "Tunggu dulu!" Seru Yuana. "Ada apa lagi?" Tanya Arthur sembari mengerutkan dahinya menatap Yuana. "I-itu... Jangan keburu pergi, takutnya si 'Getong Air' itu... Ah, maksud aku orang tadi masih di sekitaran sini." Ujar Yuana beralasan. "Kalau nanti kita ketahuan langsung pisah jalan begitu saja, bisa-bisa sandiwara kita ketahuan. Jadi lebih baik Mas Ganteng... Eh, maksud aku kamu mending di sini dulu sebentar." Lanjut Yuana dengan memaksakan mengeluarkan jurus modusnya. Hal itu membuat Arthur memicingkan matanya seakan mengetahui hal tersembunyi dibalik otak licik Yuana. "Saya sudah melihat dari balik jendela kaca itu, om genit tafi sudah keluar dan masuk kedalam mobilnya. Sekarang dia sudah benar-benar pergi. Jadi... Permisi." Sahut Arthur sembari menunjuk ke arah jendela kaca cafe yang langsung mengarah ke luar dan ia pun langsung pergi begitu saja meninggalkan Yuana yang tidak bisa menghentika langkah Arthur lagi. "Eh, tung...gu... Yaelah, gitu doang trus pergi? Padahal kan belum nanya namanya, alamatnya, nomor HP nya. Minimal kenalan kek. Padahal aku dah berharap lho... Tapi gak papa deh, lumayan udah ngegandeng cowok cakep meski cuma lima menit, dipanggil sayang pula. Berasa punya cowok beneran hehe..." Ujar Yuan-Yuan bermonolog sambil cengar cengir sendiri kayak orang stress. Tak lama sebuah notifikasi pesan berbunyi dari HPnya saat Yuana ingin melangkah pergi dari sana. Nomor tidak dikenal tapi isi dari pesan itu membuat Yuana jingkrak-jingkrak kegirangan. Pasalnya itu pesan undangan wawancara dari perusahaan tempat Angela bekerja untuk dirinya. "Yes! Akhirnya dapat undangan wawancara besok. Kasih tau Angela ah..." Yuana langsung mengirimkan pesan untuk Angela, memberitahukan bahwa dirinya akan wawancara dikantornya besok. Namun belum sampai satu menit pesan itu dikirim, sebuah telepon masuk dari Angela. "Hallo my bestie..." Yuana langsung menyambut telpon dari Angela dengan suara girang. Sementara sejak tadi dia tidak menyadari jika ada seseorang yang bersembunyi di balik tembok toilet sedang memfoto bahkan merekamnya sejak dirinya dan Arthur melakukan sandiwara cinta tadi. ****** Hari sudah beranjak sore namun Arthur masih sibuk dengan laptopnya di ruang kerja kantornya. Sementara kejadian di cafe tadi pagi sudah dilupakannya seolah tertelan oleh banyaknya tumpukan dokumen di atas meja kerjanya. Dengan artian, dia mungkin sudah melupakan pertemuannya dengan Yuana tadi. Padahal Yuana masih terngiang wajah Arthur hingga saat ini. Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka membuatnya terhenyak dan menegakkan punggungnya yang tadi setengah membungkuk. "Kamu gak bisa ketuk pintu dulu Kai? Bikin kaget saja!" Tanyanya sarkas pada Kaidan yang nyelonong masuk begitu saja. "Sudah ku ketuk, tapi kamu tidak mendengar." Jawab Kaidan. "Sorry, aku terlalu fokus. Ada apa?" Sahut Arthur. "Aku sudah menemukan orang yang cocok untuk mengisi kekosongan divisi desaign. Coba kamu lihat desain-desain yang dia buat, bukankah ini sangat cocok dengan projek iklan perusahaan kali ini?" Ucap Kaidan sambil menyodorkan gambar desain iklan pada Arthur. Arthur pun manggut-manggut setuju sambil melihat-lihat desain iklan milik Yuana yang Kaidan putar melalui Notebook yanh ia bawa tanpa memeriksa CV milik siapa itu. "Oke, segera hubungi untuk wawancara besok lusa." Perintah Arthur. "Kalau itu, sudah aku lakukan sedari tadi Bos." Jawab Kaidan sambil tersenyum bangga akan kecekatan dirinya. "Bagus." Balas Athur datar sambil menyerahkan kembali notenook itu dan CV milik Yuana yang tidak ia lihat sama sekali pada Kaidan "Pak Bos gak mau lihat dulu siapa orangnya? Siapa tau minat, cantik lho orangnya..." Tanya Kaidan sambil menaik turunkan kedua alisnya. "Buat kamu aja!" Jawab Arthur sengit. "Yakin? Gak bakal nyesel..?? Goda Kaidan sembari mengulum senyumnya. "Nggak!!" Seru Arthur kesal karena Kaidan tiba-tiba jadi sangat menyebalkan. "Awas kalau kamu embat! Gaji aku harus kamu naikin dua kali lipat!" Tantang Kaidan. "Nggak akan!" Jawab Arthur tegas, karena dia yakin kalau itu gak akan terjadi. Sementara Kaidan hanya menyebikkan bibirnya tanda mengejek karena pada dasarnya Kaidan sudah melihat kejadian luar biasa yang terjadi di depan toilet cafe tadi. "Sepertinya bakalan ada kejadian seru nih setelah ini, hihihi..." Batin Kaidan sambil terkikik sendiri dan melihat hasil jepretannya di ponselnya tadi.Pagi itu para karyawan wanita tidak henti-hentinya menatap wajah rupawan Arthur yang semakin tampan dengan kaca mata hitamnya. Hari Senin yang biasanya terlihat suram bagi karyawan wanita untuk mengawali hari, kini menjadi secercah cahaya hanya sekedar melihat wajah sang CEO mereka yang semakin menggoda. Hanya dengan menambahkan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, membuat aura manly sang CEO muda itu semakin kuat. Bahkan para wanita di sana tidak mengedipkan matanya sama sekali saat menatapnya. Namun ada alasan dibalik kaca mata hitam Arthur itu. Dia bukannya ingin bergaya, terlihat keren atau pun mau memikat setiap lawan jenis yang berpapasan dengannya. Melainkan dia memang harus memakainya demi menyelamatkan citra wibawanya di hadapan para karyawannya. "Ar, tumben kali kamu pakai kaca mata hitam sampai ke dalam kantor? Sampai di sini pun gak dilepasin juga. Emangnya nyaman baca dokumen kerja dengan memakai kaca mata hitam? Jangan bilang kamu lagi sakit mata.
Gara-gara Arthur yang ngibrit begitu saja, mood Yuana jadi tidak bagus. Padahal tadi niatnya mau diajak ngobrol serius. Suaminya itu selain Kang Perintah juga Kang Ngeles. Ada saja alasannya. Kini dengan wajah ditekuk Yuana duduk di ruang keluarga sambil mengutak atik remote TV, menggonta ganti chanel siaran dengan asal seakan semua tayangan di sana tidak ada yang menarik baginya. Tiba-tiba dia berdiri dari duduknya sambil menghentakkan kakinya dan melangkah menuju dapur. Di bukanya kabinet dapur bagian atas dan mengambil sebotol sirup rasa melon yang mereknya selalu muncul di iklan Ramadhan setiap tahunnya. Menuangkannya di sebuah gelas besar menambahkan es batu dan potongan jeruk lemon yang baru ia ambil dari kulkas lalu menyiramnya dengan air dingin. Es sirup melon dengan kesegaran lemon buatan Yuana pun sudah siap. Cuaca panas ditambah hati yang kesal sangat cocok jika didinginkan dengan segelas minuman dingin. Namun ketika ia hendak meneguknya sebuah tangan yang lebih be
Yuana berdiri di depan kedai Rawon, menunggu Arthur menyelesaikan pembayaran setelah mereka selesai makan. Begitu selesai Arthur segera menghampiri Yuana dan mereka pun bersama menuju ke tempat parkir motor. Namun belum sempat mereka mengenakan helm, sebuah suara yang tidak asing menyapa mereka berdua. "Pak Arthur...? Yuana...??" Sontak mereka berdua terpaku sejenak dengan sapaan tersebut. Dan alangkah terkejutnya mereka setelah mendapati Rama dan Rania sedang menatap penuh tanya. "Aduhh!! Mati aku! Kenapa sial banget ketemu mereka berdua di sini? Ini nih yang aku takutkan jika jalan berdua sama Mas Ar, berasa kayak ABG yang kepergok pacaran diam-diam." Batin Yuana bergejolak. "Eh Rania, Rama... Kok kalian bisa di sini?" Itu adalah pertanyaan bodoh yang tidak seharusnya ditanyakan oleh Yuana. "Bodoh, bodoh, bodoj!! Ngapain juga aku tanya kayak gitu? Jelaslah mereka ke sini mau makan, iya kali mau pacaran?! Eh, bisa jadi tuh." Rutuk Yuana dalam hatinya. "Kami berdua mau ma
POV Arthur Sepanjang jalan Yuana menggerutu, menuduhku sedang modus ingin dipeluk saja. Salah sendiri dia tidak pegangan dengan benar saat dibonceng? Makanya aku sengaja melajukan motor ini dengan kecepatan agak tinggi. Alhasil dia berteriak dan spontan memelukku pingganggu. Dari kaca spion motor aku melihat wajahnya yang lucu saat cemberut dan bibirnya tak henti-hentinya mengomel. Sungguh mirip gadis kecil yang sedang merajuk. Aku sampai tidak bisa menyembunyikan senyumku. Untung saja dia tidak bisa melihatnya, kalau tidak dia pasti semakin memakiku. Sesekali dia menggeplak pundak gue agar sedikit menurunkan kecepatan, namun aku tidak menghiraukannya. Entah mengapa ini sangatlah seru dan aku menikmati ini, meski dia sudah beberapa kali mengumpat dan memaki, aku tidak pernah merasa sakit hati dan marah. Justru cara dia marah itu terlihat lucu dan imut di mataku. Ah... Mungkin gue sudah gila, anda saja Kaidan melihatnya, pasti dia sudah menertawakanku atau bahkan mengejekku. A
POV YuanaMami Lidia akhirnya pulang juga ke rumahnya setelah merasakan masakan Mas Arthur saat makan malam tadi. Tadinya beliau mau menginep kalau tidak teringat jika besok pagi dia ada pertemuan sosialita, alhasil Mami memutuskan untuk pulang malam ini juga. Dan aku sangat bersyukur sekali akan hal itu. Bukan berarti aku tidak suka jika Mami mertua nginep di rumah kami. Tapi jika Mami benar-benar menginap di sini, bisa-bisa kelangsungan hidupku dan Mas Arthur akan terancam. Aku dan Mas Arthur hanyalah pasangan kontrak yang selama ini tidur di kamar terpisah. Bagaimana jika Mami tahu hal itu dan mempertanyakannya? Jawaban apa yang musti kami berikan? Terlebih Mami bukanlah orang tua yang mudah dibohongi dengan sebuah alasan sepele dan tidak masuk akal. Mungkin hari ini kami berdua masih bisa tertolong dengan jadwal pertemuan sosialita Mami, tapi kedepannya apakah aku dan Mas Arthur akan seberuntung ini? Terlebih lagi Mami sudah menyinggung soal momongan. Bagaimana bisa punya anak
"Terkadang ada wanita yang tidak menyadari jika dirinya sedang hamil, dan justru suaminya yang berperilaku seperti wanita hamil, ngidam misalnya... " Lanjutnya sambil melirik ke arah Arthur yang baru saja menghabiskan asinan Bandungnya untuk kedua kalinya. "Gimana kalau kita antar kamu periksa ke dokter, siapa tahu kamu beneran..." "Nggak perlu Mi... Yuan beneran tidak hamil Mi, ini saja sedang datang bulan." Potong Yuan buru-buru agar mertuanya itu tidak terus-terusan berharap padanya. Mendengar itu wajah Mami Lidia langsung berubah muram. "Yahh... Padahal tadi Mami sudah berharap banget. Arthur, ini pasti kamu yang kurang tokcer!" Gertak Mami Lidia yang malah menyalahkan anaknya sendiri. "Kok Mami malah nyalahin aku sih?" Sahut Arthur tidak terima. Dirinya saja belum sempat melakukan yang enak-enak dengan Yuana, malah dituduh tidak tokcer. Mencoba saja belum, bagaimana bisa tahu? "Ya pokoknya kamu yang salah! Mami jadi meragukan keperkasaan kamu!" Ujar Maminya sambil meli







