Home / Romansa / Terpaksa Satu Atap / Bab 3. Awal Jumpa

Share

Bab 3. Awal Jumpa

Author: Shira Sirius
last update publish date: 2026-01-01 01:57:25

Sepuluh menit yang lalu Arthur yang sedang makan siang dengan Kaidan di salah satu cafe pamit pergi ke toilet.

Seorang pelayan tidak sengaja menumpahkan kopi di mejanya, untung saja itu adalah ice coffee dan tidak sampai mengenai pakain kerjanya.

Hanya saja ice coffee itu mengenai tangannya yang menjadi terasa sangat lengket di kulit, jadi dia memutuskan untuk pergi ke toilet untuk membersihkan tangannya.

Namun di saat dirinya keluar dari toilet tiba-tiba seorang wanita menarik lengan tangannya....

"Nah, ini pacar saya pak!" Kata Yuan sambil merangkul lengan tangan Arthur dengan tidak tahu malunya.

"Eh, bu..."

"Kamu lama banget sih sayang ke toiletnya..." Yuana langsung memotong ucapan Arthur.

"Kamu sal...."

"Ya ampun sayang.... Ujung lengan baju kamu agak basah."

Lagi-lagi Yuana memotong ucapan Arthur, sementara Arthur yang shock karena dipanggil sayang itu langsung melotot ke arah Yuana yang tersenyum manis sampai membuat Arthur pengen muntah saking enegnya.

"Please... Bantu aku dari om-om genit itu." Mohon Yuana sambil berbisik dengan mata yang dibuat semelas mungkin kepada Arthur.

Untungnya Arthur saat ini lagi mode baik, mungkin karena efek dipanggil 'sayang' tadi, ia pun langsung mengerti karena dia pikir Yuana lagi takut digodain om-om hidung belang.

"Ehm... Maaf sayang, tadi mules banget. Kamu nunggu lama ya?" Balas Arthur yang mulai mengikuti alur sandiwara yang dibuat Yuana. Meskipun dia geli sendiri sih, karena tiba-tiba harus manggil sayang ke orang asing.

Yuana yang balik dipanggil sayang oleh Arthur sempat terpaku sejenak.

Tiba-tiba dia jadi terpana saat mendengar suara bariton Arthur yang mengalir lembut. Apalagi dia baru sadar ternyata lelaki yang terpaksa dia tarik ke dalam sandiwaranya itu sangatlah tampan dengan tubuh tinggi yang ideal bak model.

"Astaga...! Mimpi apa aku tadi malam dipanggil sayang sama cowok secakep ini? Mana gak kalah ganteng sama Suga BTS, kyyaa...!" Suara jerit hati Yuana yang meronta-ronta pengen dikekep sama cowok setampan Arthur.

"Ah, eng...enggak kok, cuma..."

"Dia siapa? Om kamu?" Tanya Arthur sebelum Yuana menyelesaikan kalimatnya.

"Bukan! Gak mungkinlah dia om aku." Bantah Yuana cepat.

"Iya juga sih, gak mungkin dia Om kamu. Kamu cantik gini masak punya Om kayak gitu?" Ujar Arthur sambil merapikan anak rambut Yuana dan diselipkan ketelinganya.

Karena perlakuan mendadak Arthur itu membuat Yuana semakin salah tingkah dan membuat Pak Broto naik darah.

"Kayak gitu gimana maksud kamu?! Dasar anak muda gak tau sopan santun sama orang tua!" Hardik Pak Broto yang geram dengan perkataan Arthur tentangnya.

"Nah, Om sadar juga kalau sudah tua? Tapi masih saja godain gadis muda yang sudah punya pasangan." Balas Arthur yang mulai menampilkan kejulidannya.

"Sembarangan kalau ngomong! Maksud kamu saya genit gitu?" Seru Pak Broto tidak terima.

"Padahal saya gak bilang seperti itu lho... Tapi sepertinya Om yang sadar diri." Ujar Arthut santai dengan mulut pedasnya.

"Stop, stop, stop! Jangan ribut dong..." Yuana yang melihat keributan tak berujung itu akhirnya mulai melerai mereka.

"Kamu jangan marah-marah gitu dong sayang, nanti ganteng kamu hilang lho... Dia itu mantan bos aku dulu, kebetulan gak sengaja ketemu waktu aku nunggu kamu di sini." Ungkap Yuana pada Arthur.

"Nah, itu baru betul." Pak Broto menimpali sambil manggut-manggut.

"Tapi dia pernah minta aku buat jadi istri ketiganya. Aku gak mau, mangkanya aku resign dari perusahaanya." Mendengar ucapan Yuana itu membuat Arthur dan Pak Broto melotot secara bersamaan.

Pak Broto langsung gelegapan karena aibnya terungkap, sementara Arthur kaget karena gak habis pikir masih ada aja orang modelan Pak Broto seperti itu.

"Ohh... Jadi anda itu bukannya genit tapi hidung belang sampai-sampai gangguin pacar orang padahal sudah punya dua istri. Benar-benar ya anda ini Om-om hidung belang!" Mendengar perkataan Arthur yang lumayan keras sehingga banyak orang yang mendengar dan memperhatikan mereka sambil bisik-bisik, membuat Pak Broto marah sekaligus malu.

Saking malunya akhirnya dia memilih untuk kabur dan pergi melarikan diri dari mereka berdua untuk menghindari tatapan jijik orang-orang di sana.

"A-awas ka-kalian..!!" Serunya sambil nunjuk-nunjuk ke arah Arthur dan Yuana sebelum Pak Broto lari terbirit-birit dengan perut buncitnya yang terlihat naik turun saat berlari.

"Lho..lho... Kok malah kabur? Woyy om..!!" Teriak Arthur memanggil Pak Broto namun yang dipanggil langsung mempercepat jalannya tanpa menoleh sedikitpun.

"Sudah pergi." Kata Arthur pada Yuana yang masih bergelayut manja di lengan kokoh Arthur. Mungkin terlalu nyaman kali ya...

"Huuft... Akhirnya... Makasih ya sayang, udah nolongin. Ups! Kelepasan, hehe..." Dasar Yuana kadang suka lupa diri kalau berhadapan dengan pria tampan. Tapi sayang gak ada yang nyantol satu pun ke dia.

"Gak masalah." Jawab Arthur datar sambil melepaskan kaitan tangan Yuana yang melingkar di lengannya.

"Eh maaf, terlalu nyaman." Ujar Yuana sambil cengar cengir kayak orang cacingan.

"Hmm..." Arthur hanya berdehem saja, lalu berbalik ingin pergi namun langkahnya lansung ditahan oleh Yuana.

"Tunggu dulu!" Seru Yuana.

"Ada apa lagi?" Tanya Arthur sembari mengerutkan dahinya menatap Yuana.

"I-itu... Jangan keburu pergi, takutnya si 'Getong Air' itu... Ah, maksud aku orang tadi masih di sekitaran sini." Ujar Yuana beralasan.

"Kalau nanti kita ketahuan langsung pisah jalan begitu saja, bisa-bisa sandiwara kita ketahuan. Jadi lebih baik Mas Ganteng... Eh, maksud aku kamu mending di sini dulu sebentar." Lanjut Yuana dengan memaksakan mengeluarkan jurus modusnya.

Hal itu membuat Arthur memicingkan matanya seakan mengetahui hal tersembunyi dibalik otak licik Yuana.

"Saya sudah melihat dari balik jendela kaca itu, om genit tafi sudah keluar dan masuk kedalam mobilnya. Sekarang dia sudah benar-benar pergi. Jadi... Permisi." Sahut Arthur sembari menunjuk ke arah jendela kaca cafe yang langsung mengarah ke luar dan ia pun langsung pergi begitu saja meninggalkan Yuana yang tidak bisa menghentika langkah Arthur lagi.

"Eh, tung...gu... Yaelah, gitu doang trus pergi? Padahal kan belum nanya namanya, alamatnya, nomor HP nya. Minimal kenalan kek. Padahal aku dah berharap lho... Tapi gak papa deh, lumayan udah ngegandeng cowok cakep meski cuma lima menit, dipanggil sayang pula. Berasa punya cowok beneran hehe..." Ujar Yuan-Yuan bermonolog sambil cengar cengir sendiri kayak orang stress.

Tak lama sebuah notifikasi pesan berbunyi dari HPnya saat Yuana ingin melangkah pergi dari sana. Nomor tidak dikenal tapi isi dari pesan itu membuat Yuana jingkrak-jingkrak kegirangan. Pasalnya itu pesan undangan wawancara dari perusahaan tempat Angela bekerja untuk dirinya.

"Yes! Akhirnya dapat undangan wawancara besok. Kasih tau Angela ah..." Yuana langsung mengirimkan pesan untuk Angela, memberitahukan bahwa dirinya akan wawancara dikantornya besok. Namun belum sampai satu menit pesan itu dikirim, sebuah telepon masuk dari Angela.

"Hallo my bestie..." Yuana langsung menyambut telpon dari Angela dengan suara girang. Sementara sejak tadi dia tidak menyadari jika ada seseorang yang bersembunyi di balik tembok toilet sedang memfoto bahkan merekamnya sejak dirinya dan Arthur melakukan sandiwara cinta tadi.

******

Hari sudah beranjak sore namun Arthur masih sibuk dengan laptopnya di ruang kerja kantornya.

Sementara kejadian di cafe tadi pagi sudah dilupakannya seolah tertelan oleh banyaknya tumpukan dokumen di atas meja kerjanya. Dengan artian, dia mungkin sudah melupakan pertemuannya dengan Yuana tadi. Padahal Yuana masih terngiang wajah Arthur hingga saat ini.

Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka membuatnya terhenyak dan menegakkan punggungnya yang tadi setengah membungkuk.

"Kamu gak bisa ketuk pintu dulu Kai? Bikin kaget saja!" Tanyanya sarkas pada Kaidan yang nyelonong masuk begitu saja.

"Sudah ku ketuk, tapi kamu tidak mendengar." Jawab Kaidan.

"Sorry, aku terlalu fokus. Ada apa?" Sahut Arthur.

"Aku sudah menemukan orang yang cocok untuk mengisi kekosongan divisi desaign. Coba kamu lihat desain-desain yang dia buat, bukankah ini sangat cocok dengan projek iklan perusahaan kali ini?" Ucap Kaidan sambil menyodorkan gambar desain iklan pada Arthur.

Arthur pun manggut-manggut setuju sambil melihat-lihat desain iklan milik Yuana yang Kaidan putar melalui Notebook yanh ia bawa tanpa memeriksa CV milik siapa itu.

"Oke, segera hubungi untuk wawancara besok lusa." Perintah Arthur.

"Kalau itu, sudah aku lakukan sedari tadi Bos." Jawab Kaidan sambil tersenyum bangga akan kecekatan dirinya.

"Bagus." Balas Athur datar sambil menyerahkan kembali notenook itu dan CV milik Yuana yang tidak ia lihat sama sekali pada Kaidan

"Pak Bos gak mau lihat dulu siapa orangnya? Siapa tau minat, cantik lho orangnya..." Tanya Kaidan sambil menaik turunkan kedua alisnya.

"Buat kamu aja!" Jawab Arthur sengit.

"Yakin? Gak bakal nyesel..?? Goda Kaidan sembari mengulum senyumnya.

"Nggak!!" Seru Arthur kesal karena Kaidan tiba-tiba jadi sangat menyebalkan.

"Awas kalau kamu embat! Gaji aku harus kamu naikin dua kali lipat!" Tantang Kaidan.

"Nggak akan!" Jawab Arthur tegas, karena dia yakin kalau itu gak akan terjadi. Sementara Kaidan hanya menyebikkan bibirnya tanda mengejek karena pada dasarnya Kaidan sudah melihat kejadian luar biasa yang terjadi di depan toilet cafe tadi.

"Sepertinya bakalan ada kejadian seru nih setelah ini, hihihi..." Batin Kaidan sambil terkikik sendiri dan melihat hasil jepretannya di ponselnya tadi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 78. Adu Domba

    Tidak seperti biasanya, Maya datang ke kampus sendirian tanpa Yudha yang biasa mengantar jemputnya. Tentu saja dia masih malu untuk bertatap muka dengan Yudha karena kejadian memalukan kemarin. Makanya sebisa mungkin dia menghindari bertemu dengan Yudha di kampus, meski dalam hatinya dia sedikit menyesal telah mengabakan ketulusan Yudha padanya. Selama ini Maya menilai jika keluarga Yudha dari kalangan biasa-biasa saja, tidak miskin dan tidak kaya mengingat kehidupan mereka di kampung dibilang sederhana. Tidak tahunya keluarganya adalah induk semang Real Estatae paliing elit di daerah sekitar kampus mereka. "Maya…¡!" Seru Desy, salah satu teman Maya yang hobby-nya menjilat. "Ya ampun Des... Bikin kaget aja kamu!" Ujar Maya yang langsung sadar dari lamunannya. "Hahh... Aku cari kemana-mana ternyata kamu sudah ada di kelas." Kata Desy yang terlihat sedikit ngos-ngosan napasnya. "Cari aku?? Ada apa?" Tanya Maya jadi agak parno dan was-was sendiri. "Btw... Kamu datang ke kampu

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 77. Gibah

    Yudha baru saja turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di parkiran kampus, namun belum sempat menutup pintu mobilnya kembali seseorang sudah memanggil namanya. "Yudha..!!" Seru Nabilla sambil berlari kecil menghampiri Yudha. "Baru datang Dha?" Sapa Nabillla. "Iya, kamu sendiri baru datang juga?" Balas Yudha. "Iya, baru aja aku turun dari ojol terus lihat kamu turun dari mobil." Angguk Nabilla sambil menjawab. "Kamu naik ojol Bill? Mobil kamu kemana?" Tanya Yudha yang heran tumben-tumbennya Nabilla pergi ke kampus naik ojol. "Lagi di bengkel Dha, mogok!" Jawabnya sambil meringis. "Ya ampun Billa... Kenapa gak bilang ke aku sih? Tau gitu aku bisa barengin kamu tadi." Ujar Yudha yang membuat Nabilla heran, ternyata Yudha emang sebaik itu. Sayang, kebaikan Yudha tidak terlihat di mata Maya. Mungkin mata Maya rabun sampai tidak bisa melihat ada pria sebaik Yudha dan rela menyakitinya demi bisa bersama lelaki licik seperti Ruben. "Ya... Ada pepatah mengatakan j

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 76. Otak Kai Minta Dirukiyah

    Seperti biasanya Arthur berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini. Kali ini dia memasak sup jagung telur oriental yang hangat dilengkapi sandwich isi daging dan keju. Arthur juga menyiapkan segelas jus jeruk manis untuk Yuana dan segelas susu hangat untuknya sendiri. Sementara Yuana sejak tadi tidak terlihat batang hidungnya. Biasanya dia sudah bersih-bersih rumah di pagi hari bersamaan dengan Artgur yang sibuk memasak. Namun sampai Arthur hampir selesai menyajikan sarapan mereka, Yuana masih belum keluar juga dari kamarnya. "Yuana kok masih belum turun juga sih? Masa belum selesai mandi? Atau jangan-jangan malah molor lagi?" Gumam Arthur yang menunggu istrinya turun untuk sarapan. Hingga semuanya selesai tersaji, Arthur melepaskan apronnya dan berteriak dari bawah tangga memanggil istrinya. "Sayaaang... Sarapannya sudah siap! Ayo sarapan!" Teriak Arthur sambil melihat ke arah atas lantai dua. "Bentar Mas... Ini juga mau turun!" Sahut Yuana berteriak dari dalam kama

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 75. Joging Dapat Hoki

    Hari ini Arthur bangun pagi-pagi sekali bukan untuk menyiapkan sarapan, melainkan untuk joging pagi. Mumpung hari Minggu. Namun Arthur tidak ingin pergi sendiri, ia juga akan menyeret istrinya untuk bangun pagi-pagi dan mengajaknya joging pagi hari itu. Tapi Yuana malah merengek gak mau ikut dan memilih untuk bergelung di dalam selimutnya yang hangat. "Sayang, ayo cepetan bangun! Ikut Mas joging pagi." Ajak Arthur sembari menggoyang-goyangkan tubuh Yuana agar cepat bangun. "Ugh... Aku masih ngantuk, Mas pergi aja sediri." Jawab Yuana dengan suara seraknya dan malah membungkus tubuhnya lagi di dalam selimut. "Ya ampun sayang.... Kok malah tidur lagi sih? Kamu harus olahraga sekarang, gerakin tubuh. Dari kemarin kamu makan terlalu banyak, habis itu cuma goleran dan guling-guling aja, kalau kamu gak olahraga pencernaan kamu bisa terganggu lho..!" Kata Arthur menasehati. "Tapi aku males Mas... Aku masih ngantuk!" Sahut Yuana sambil merem. "Ya sudah kalau gitu, padahal tadinya Ma

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 74. Untungnya Punya Suami Tajir

    Bu Ana datang bersama dua orang satpam untuk mengusir Ruben hari itu juga dari sana setelah diberi waktu untuk berkemas. Sementara Yudha sudah meninggalkan tempat itu setelah bu Ana datang. Mungkin dia tidak akan menginjakkan tempat itu lagi setelah ini, tempat yang membuat dirinya menelan kekecewaan dan amarah karena sebuah penghianatan. Mungkin setelah ini kamar 109 akan menjadi kamar yang di-backlist oleh Yudha seumur hidupnya. Tadi Ruben sempat memaki dan mengumpat namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena diancam akan melaporkannya kepada polisi jika membuat keributan lebih dari itu. Bagaimana pun juga dia sudah melakukan kesalahan, karena telah memasukkan seorang wanita yang tidak mempunyai hubungan resmi dengannya dan melakukan perbuatan asusila. Sebenarnya pihak Real Estate berhak melaporkannya kepada polisi namun Yudha masih berbuat baik mengingat hubungan lamanya dengan Maya. Bukan! bukan karena dia masih mencintai wanita itu, bahkan sampai saat ini pun Yudha masih

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 73. Akhirnya Yudha Tahu

    "Hai istriku... Mau ikutan nonton live drama gak?" Tanya Arthur pada Yuana yang kini sedang selonjoran sambil nonton drakor di laptopnya.. "Live drama apaan? Ini juga lagi nonton drakor Mas." Tanya Yuana balik karena tidak paham dengan ucapan Arthur yang terdengar ambigu itu. "Yang kamu tonton itu kan ceritanya fiktif, kalau yang ini asli. Itu lho sayang.... Drama yang judulnya 'Aku Tertangkap Di Kamar Pria Lain'... Mumpung lagi rame nih sekarang, yuk!" Jawab Arthur yang membuat Yuana mengerutkan dahinya. Dan setelah sadar apa yang dimaksud Arthur, Yuana langsung berteriak dengan nada kesal. "Maasss!!! Kamu itu ya! Yang bener aja kita nontonin Yudha yang lagi mergoki pacarnya selingkuh? Mana tega aku lihat wajah kecewanya nanti. Lagian pasti sangat menjijikkan melihat dua orang beda kelamin yang lagi kumpul kebo! Gak mau! Jijik aku Mas!" Tolak Yuana mentah-mentah. "Yaahh... Sayang banget dong kalau gitu, padahal pasti seru lho..." Ujar Arthur dengan nada melas. "Astaga Mas, k

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 49. Spa Day

    Sesuai janji, weekend ini Yuana mentraktir teman-teman kerjanya untuk pergi ke Spa. Semua teman sedivinya akan ikut kecuali Rama dan Rania yang sudah menolak dari awal. Sementara Arthur, untung saja dia tidak ikut dengan mereka, bisa runyam urusannya. Berkat bantuan Bu Anna yang mengenal tukang uru

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 48. Kalut

    Dengan pikiran yang berkecamuk, Yudha berjalan melewati koridor gedung fakultasnya hingga ke kelasnya. Pertanyaan dari Nabilla sangatlah mengganggu pikirannya. Apakah dia benar-benar mencintai Maya? Yudha sendiri juga tidak tahu. Menurutnya Maya adalah perempuan baik yang perlu dia jaga sebagai ke

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 47. Penasaran

    Yuana kembali ke ruangannya dengan wajah lesu dan langkah yang setengah diseret. "Lho, Yuan? Kamu dari mana saja? Tadi pas aku dateng cuma nemu tas kamu aja di mejamu." Tanya Angela yang baru saja melihat masuk ke ruang divisi mereka. "Oh, dari pantry, bikin kopi." Jawab Yuana seraya kembali du

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 45. Nasi Goreng Seafood Arthur

    Pagi berikutnya Nabilla benar-benar datang ke rumah Yuana dan Arthur."Ngapain kamu pagi-pagi datang ke rumah orang?!" Tanya Arthur dengan sengitnya pada Nabilla yang kini sudah duduk di meja makan."Aku ke sini diundang kok sama Kak Yuana." Jawab Nabilla dengan santainya."Yuana kemarin cuma basa-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status