MasukYuana sedang memperhatikan Arthur yang sedang sibuk membuatkan spaghetti untuk sarapan mereka dengan tatapan gelisah. "Mas, kita beneran gak perlu pergi ke kantor?" Tanya Yuana untuk kesekian kalinya. Takutnya Arthur hanya asal bicara saja. "Iya, berenar... Soalnya kita ada misi penting kali ini." Jawab Arthur yang semakin ambigu saja. "Misi penting apaan? Bukan misi yang aneh-aneh kan Mas?" Tanya Yuana curiga. Arthur hanya diam saja tidak menjawab, tangannya masih sibuk menyusun pasta spaghetti yang sudah matang di atas piring. "Mas... Kok gak dijawab sih? Gak ada hal yang aneh kan?" Tanya Yuana sekali lagi. "Ini kamu makan dulu saja, karena misi kita kali ini akan membutuhkan tenaga ekstra." Ucap Arthur sambil menyuapkan Spaghetti yang baru saja dia buat dan mau tidak mau Yuana membuka mulutnya dengan patuh. "Gimana? Enak kan? Habiskan ya sayang... Setelah ini kita juga akan menghabisi seseorang." Ujar Arthur tanpa disaring dulu kata-katanya membuat Yuan langsung ters
Pagi ini Yuana bangun kesiangan. Itu gara-gara tadi malam dia susah tidur karena kepikiran dengan omongannya Arthur. Omongan yang sudah mirip dengan pengakuan cinta. Kalau sudah begitu, wanita mana yang bakalan bisa tidur nyenyak? Terlebih lelaki itu adalah seorang Arthur Pradana, lelaki idaman wanita sejuta umat. Saking susah tidurnya, Yuana baru bisa tertidur tadi subuh. Akibatnya dia jadi bangun kesiangan, dan entah apa yang terjadi dirinya bangun dalam keadaan nungging, sudah mirip orang yang lagi sujud syukur. Mungkin di bawah alam sadarnya dirinya telah bersyukur mendapatkan suami macam Arthur, meski suaminya itu mood-nya suka naik turun macam roller coaster tapi punya suami Arthur itu bisa membuat semua wanita di dunia ini iri. "Astaga! Aku kesiangan! Duhh, gimana nih..??Mana kesiangannya pakek banget lagi! Itu si Angry Bird juga gak bangunin aku lagi. Eh, mending jangan! Ntar yang ada aku baper, tapi kalau gak ada yang bangun aku kesiangan juga... Ah bodoh ah! Dia juga man
"Aku pulang dulu Josh, istriku sendiri di rumah." Itulah yang diucapkan Arthur saat berpamitan dengan Joshua di cafe shop tadi. Tadinya Arthur berpikir jika saat ini Yuana akan kesepian di rumahnya, namun pikirannya ternyata salah. Baru saja dia melangkah memasuki rumah, sudah terdengar suara gaduh dari dalam sana. Dan alangkah terkejutnya dia karena di sana sudah ada Nabilla dan juga Kaidan yang duduk di lantai beralaskan karpet bersama Yuana. Mereka bertiga sedang bermain domino dengan begitu gembira hingga tidak ada yang sadar jika Arthur sudah pulang dan melihat mereka bertiga dengan tatapan shocknya. "Haha... Kamu kalah lagi Kai! Siniin muka kamu!" Seru Nabilla sambil tertawa puas melihat wajah cemberut Kaidan yang penuh dengan corengan bedak berwarna putih dan kini bertambah lagi karena dia kalah main lagi. "Haha... Ya ampun Bang, kamu sudah mirip badut yang suka joget-joget di pinggir jalan, pffttt, hahahaa...." Ledek Yuana sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat wa
Arthur benar-benar menemui Joshua sepulang kerja di cafe shop langganan mereka yang cukup jauh dari kantor cabangnya sekarang. Dan di sana Joshua sudah datang terlebih dahulu. Duduk di salah satu meja dekat dinding kaca yang mengarah ke luar. "Maaf Josh, kamu sudah menunggu lama ya? Sekarang aku tinggal lebih jauh dari pusat kota. Jadinya aku agak terlambat. Maaf." Ucap Arthur begitu datang dan duduk di hadapan Joshua. "Gak apa-apa, aku juga baru datang. Gimana kabar kamu?" Jawab Joshua sembari bertanya kabar sahabatnya itu. "Baik, kamu sendiri?" Jawab Arthur bertanya balik. "Huuff... Tidak begitu baik, sepertinya ada yang main-main di dalam tubuh Josh Hotel." Jawab Joshua sambil menghela napas. "Apa kamu sudah menyelidikinya?" Tanya Arthur. "Sudah tapi belum ada hasil apa-apa." Jawab Joshua sembari menggelengkan kepanya pelan. "Kalau begitu kebetulan sekali, coba kau lihat ini..." Ujar Arthur sambil meletakkan sebuah map coklat di atas meja tepat di hadapan Joshua. "D
Rania langsung beristirahat di ruangan divisi mereka begitu sampai di kantor, sementara Rama harus menemui Arthur untuk melaorkan hasil meeting mereka. Kenapa hanya Rama yang harus menghadap Arthur? Padahal projek kerjasama itu adalah tanggung jawab Rania. Bukan apa-apa, hanya saja Rama sudah cukup kasihan pada Rania yang terlalu lelah dan stress setelah menghadapi si pecundang Ruben. Jadi untuk masalah laporan, Rama saja sudah cukup. Tok, tok, tok...! "Masuk!" Sahut Arthur begitu mendengar suara ketukan pintu ruang kerjanya. Dan dengan wajah serius Rama pun masuk ke dalam sana. "Bagaimana hasilnya?" Tanya Kaidan yang kebetulan sudah berada di dalam ruangan Arthur sejak tadi. "Sesuai perkiraan Pak Kaidan, ada yang tidak beres dengan Manager Josh Hotel bernama Ruben itu." Jawab Rama sembari meletakkan bolpoin yang diberikan Kaidan sebelum dia berangkat meeting tadi di atas meja kerja Arthur. Dengan tatapannya, Arthur menyuruh Kaidan mengambil bolpoin tersebut. Seakan mengert
Sepanjang perjalanannya kembali ke kantor, Rania terus saja menggerutu di dalam mobil dan mengumpati mantan suaminya tadi tanpa henti. "Seharusnya kamu nggak usah nyegah aku buat nonjok mukanya yang songong itu! Aku dah bener-bener sebel tahu gak Ram?! Heran aku, kok bisa aku nikah ma dia dulu? Padahal itu laki gak ada bagus-bagusnya. Atau jangan-jangan aku kepelet ya dulu?" Ujar Rania ngedumel terus. "Astaga... Kamu mikirnya kejauhan Ran, mungkin kamu lagi apes aja dulu. Mending kamu tenangin diri aja dulu, dari tadi kamu terus mengumpat tanpa henti. Tidak bagus buat emosi kamu." Tutur Rama mencoba menenangkanny. Rama merupakan sosok yang penyabar dan penyayang, cerdas dan bisa diandalkan. Beda dengan Ruben yang arogan padahal tidak mempunyai kemampuan apa pun, licik dan culas. Maka dari itu Rania lebih merasa nyaman dan dilindungi ketika bersama Rama dibanding dulu ketika masih menjadi istrinya Ruben. "Tenang gimana? Kamu tahu sendiri kan gimana kerja kerasnya kita sama tem







