Beranda / Romansa / Terpaksa Satu Atap / Bab 57. Bicara Serius

Share

Bab 57. Bicara Serius

Penulis: Shira Sirius
last update Tanggal publikasi: 2026-03-18 21:46:15

Gara-gara Arthur yang ngibrit begitu saja, mood Yuana jadi tidak bagus. Padahal tadi niatnya mau diajak ngobrol serius. Suaminya itu selain Kang Perintah juga Kang Ngeles. Ada saja alasannya.

Kini dengan wajah ditekuk Yuana duduk di ruang keluarga sambil mengutak atik remote TV, menggonta ganti chanel siaran dengan asal seakan semua tayangan di sana tidak ada yang menarik baginya.

Tiba-tiba dia berdiri dari duduknya sambil menghentakkan kakinya dan melangkah menuju dapur. Di bukanya kabin
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 59. Yuana Panik

    "Mas Ar sedari tadi pagi mogok buat sarapan. Setiap melihat ke arahku langsung melengos. Jelas siapa yang gak marah jika wajah rupawannya kena tonjok? Dan kini perasaanku jadi gak enak. Ah bodoh ah!! Meski tadinya gak berniat nonjok matanya, tapi tetap saja aku yang salah." Gerutu Yuana yang sejak tadi hanya mondar-mandir di depan pintu ruangan Arthur. Dari tadi tangannya hanya menggantung ketika hendak mengetuk pintu ruangan itu. Namun setelah memikirkannya dia cepat atau lambat memang harus bertemu dan bicara dengab Arthur. Setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, Yuana memberanikan diri buat mengetuk pintu. Tok, tok, tok...! "Masuk!" Terdengar suara bariton Arthur menyahut dari dalam sana. Dengan perlahan, Yuana pun membuka pintu tersebut. Mengintip sejenak sebelum masuk dengan langkah kaki perlahan layaknya slow motion. Hening... Di tempat duduknya Arthur terlihat sibuk dengan tumpukan dokumen di atas mejanya dan mengabaikan Yuana yang kini ber

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 58. Di Balik Kaca Mata Hitam Arthur

    Pagi itu para karyawan wanita tidak henti-hentinya menatap wajah rupawan Arthur yang semakin tampan dengan kaca mata hitamnya. Hari Senin yang biasanya terlihat suram bagi karyawan wanita untuk mengawali hari, kini menjadi secercah cahaya hanya sekedar melihat wajah sang CEO mereka yang semakin menggoda. Hanya dengan menambahkan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, membuat aura manly sang CEO muda itu semakin kuat. Bahkan para wanita di sana tidak mengedipkan matanya sama sekali saat menatapnya. Namun ada alasan dibalik kaca mata hitam Arthur itu. Dia bukannya ingin bergaya, terlihat keren atau pun mau memikat setiap lawan jenis yang berpapasan dengannya. Melainkan dia memang harus memakainya demi menyelamatkan citra wibawanya di hadapan para karyawannya. "Ar, tumben kali kamu pakai kaca mata hitam sampai ke dalam kantor? Sampai di sini pun gak dilepasin juga. Emangnya nyaman baca dokumen kerja dengan memakai kaca mata hitam? Jangan bilang kamu lagi sakit mata.

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 57. Bicara Serius

    Gara-gara Arthur yang ngibrit begitu saja, mood Yuana jadi tidak bagus. Padahal tadi niatnya mau diajak ngobrol serius. Suaminya itu selain Kang Perintah juga Kang Ngeles. Ada saja alasannya. Kini dengan wajah ditekuk Yuana duduk di ruang keluarga sambil mengutak atik remote TV, menggonta ganti chanel siaran dengan asal seakan semua tayangan di sana tidak ada yang menarik baginya. Tiba-tiba dia berdiri dari duduknya sambil menghentakkan kakinya dan melangkah menuju dapur. Di bukanya kabinet dapur bagian atas dan mengambil sebotol sirup rasa melon yang mereknya selalu muncul di iklan Ramadhan setiap tahunnya. Menuangkannya di sebuah gelas besar menambahkan es batu dan potongan jeruk lemon yang baru ia ambil dari kulkas lalu menyiramnya dengan air dingin. Es sirup melon dengan kesegaran lemon buatan Yuana pun sudah siap. Cuaca panas ditambah hati yang kesal sangat cocok jika didinginkan dengan segelas minuman dingin. Namun ketika ia hendak meneguknya sebuah tangan yang lebih be

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 56. Ketahuan

    Yuana berdiri di depan kedai Rawon, menunggu Arthur menyelesaikan pembayaran setelah mereka selesai makan. Begitu selesai Arthur segera menghampiri Yuana dan mereka pun bersama menuju ke tempat parkir motor. Namun belum sempat mereka mengenakan helm, sebuah suara yang tidak asing menyapa mereka berdua. "Pak Arthur...? Yuana...??" Sontak mereka berdua terpaku sejenak dengan sapaan tersebut. Dan alangkah terkejutnya mereka setelah mendapati Rama dan Rania sedang menatap penuh tanya. "Aduhh!! Mati aku! Kenapa sial banget ketemu mereka berdua di sini? Ini nih yang aku takutkan jika jalan berdua sama Mas Ar, berasa kayak ABG yang kepergok pacaran diam-diam." Batin Yuana bergejolak. "Eh Rania, Rama... Kok kalian bisa di sini?" Itu adalah pertanyaan bodoh yang tidak seharusnya ditanyakan oleh Yuana. "Bodoh, bodoh, bodoj!! Ngapain juga aku tanya kayak gitu? Jelaslah mereka ke sini mau makan, iya kali mau pacaran?! Eh, bisa jadi tuh." Rutuk Yuana dalam hatinya. "Kami berdua mau ma

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 55. Perasaan Apa Ini?

    POV Arthur Sepanjang jalan Yuana menggerutu, menuduhku sedang modus ingin dipeluk saja. Salah sendiri dia tidak pegangan dengan benar saat dibonceng? Makanya aku sengaja melajukan motor ini dengan kecepatan agak tinggi. Alhasil dia berteriak dan spontan memelukku pingganggu. Dari kaca spion motor aku melihat wajahnya yang lucu saat cemberut dan bibirnya tak henti-hentinya mengomel. Sungguh mirip gadis kecil yang sedang merajuk. Aku sampai tidak bisa menyembunyikan senyumku. Untung saja dia tidak bisa melihatnya, kalau tidak dia pasti semakin memakiku. Sesekali dia menggeplak pundak gue agar sedikit menurunkan kecepatan, namun aku tidak menghiraukannya. Entah mengapa ini sangatlah seru dan aku menikmati ini, meski dia sudah beberapa kali mengumpat dan memaki, aku tidak pernah merasa sakit hati dan marah. Justru cara dia marah itu terlihat lucu dan imut di mataku. Ah... Mungkin gue sudah gila, anda saja Kaidan melihatnya, pasti dia sudah menertawakanku atau bahkan mengejekku. A

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 54. Boncengan

    POV YuanaMami Lidia akhirnya pulang juga ke rumahnya setelah merasakan masakan Mas Arthur saat makan malam tadi. Tadinya beliau mau menginep kalau tidak teringat jika besok pagi dia ada pertemuan sosialita, alhasil Mami memutuskan untuk pulang malam ini juga. Dan aku sangat bersyukur sekali akan hal itu. Bukan berarti aku tidak suka jika Mami mertua nginep di rumah kami. Tapi jika Mami benar-benar menginap di sini, bisa-bisa kelangsungan hidupku dan Mas Arthur akan terancam. Aku dan Mas Arthur hanyalah pasangan kontrak yang selama ini tidur di kamar terpisah. Bagaimana jika Mami tahu hal itu dan mempertanyakannya? Jawaban apa yang musti kami berikan? Terlebih Mami bukanlah orang tua yang mudah dibohongi dengan sebuah alasan sepele dan tidak masuk akal. Mungkin hari ini kami berdua masih bisa tertolong dengan jadwal pertemuan sosialita Mami, tapi kedepannya apakah aku dan Mas Arthur akan seberuntung ini? Terlebih lagi Mami sudah menyinggung soal momongan. Bagaimana bisa punya anak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status