Mag-log inMelvin masih memejamkan mata, mengabaikan Kanza yang menunggu jawaban atas apa yang telah di ucapkannya barusan.
“Tuan, tolong jawab. Tuan tahu darimana masalah saya itu?”
“Pilihanmu hanya dua. Menikah denganku sebagai pertanggung jawabanmu, atau menikah denganku dan kamu bisa kembali kuliah seperti dulu. Dan saya pastikan tidak akan ada lagi yang bisa mengusik kamu disana.”
“Apa Tuan ini seorang dukun?”
Melvin membuka matanya, menatap lurus pada Kanza dengan tatapan dingin.
Melihat itu, Kanza hanya bisa mengembuskan nafas kasar.
Sore itu terasa amat panjang bagi seorang Kanza, terlebih ada Melvin yang selalu menatap pada dirinya.
“Beri saya jawaban malam ini, dan besok pagi kamu bisa kembali bertemu dengan teman-temanmu di kampus.”
“Tapi saya belum ingin menikah, saya masih ingin mengejar cita-cita saya.” Cicitnya.
“Saya tidak akan menghalangi apapun yang menjadi cita-citamu itu.”
“Tuan berjanji?”
“Hm.”
“Baiklah kalau begitu.”
Melvin memicingkan mata, melirik Kanza yang tertunduk di seberang sana.
“Jadi?” tanya Melvin.
“Saya bersedia menikah dengan, Tuan.”
Melvin tersenyum, senyum yang mungkin hanya dirinya seorang yang dapat merasakannya.
Dan malam itu keduanya tertidur dengan begitu lelapnya.
**
Pagi-pagi sekali, Kanza menerima panggilan dari pak Joni. Dadanya begitu berdebar saat mendengarkan pak Joni berbicara.
“Baik. Terima kasih, Pak.”
Melvin menatap Kanza, ia dapat melihat raut bahagia itu walau dengan tetesan air mata.
Bahkan matanya terus mengikuti kemana Kanza melangkah.
“Tuan, terima kasih. Saya tahu ini semua pasti karena anda.” Ucapnya begitu tulus.
Dan karena rasa bahagia itu, Kanza berani menggenggam tangan Melvin begitu erat.
“Hm, pergilah.”
Dengan raut bahagia Kanza meninggalkan ruang rawat Melvin, bahkan sepanjang jalan ia tak henti bersenandung ria.
Bugh.
“Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja.”
“Hem.”
Mata Kanza menatap punggung seseorang yang baru saja menabraknya, “Orang aneh.”
Namun gadis itu tak mempermasalahkannya, ia dengan langkah riang meninggalkan rumah sakit dan bersiap untuk kuliah.
Setibanya di kampus, Kanza langsung disambut tatapan tak suka dari Tari yang berdiri di ujung koridoor.
Kanza mengabaikannya, ia berlalu menuju kelasnya pagi ini.
Disana sudah ada Nadia yang menunggu di depan kelas dengan wajah ceria.
“Kanza,” serunya begitu riang.
Bahkan semua anak kelas menyambut kembalinya Kanza dengan senyuman.
Di rumah sakit, Melvin sudah terlihat rapi. Menanggalkan pakaian pasien dan berganti dengan pakaian formalnya.
“Tuan, ini uang yang anda minta.”
Menatap amplop coklat yang terlihat begitu tebal, Melvin mengingat kembali sosok Kanza.
“Mana ponsel yang saya minta.”
Menerima sebuah ponsel yang kemudian ia satukan dengan amplop di sebuah keranjang.
“Bagaimana dengan informasi yang saya minta?”
“Segera anda terima, Tuan.”
Siang itu Melvin pergi, meninggalkan Kanza dengan sebuah surat.
Entah apa yang sedang terjadi, namun hari itu juga Melvin meninggalkan negaranya.
Sore harinya, seperti biasa Kanza kembali ke rumah sakit untuk menjaga Melvin disana.
Namun ketika masuk ke dalam kamar, ia tak menemukan keberadaan suami palsunya itu.
“Kemana ya?” gumamnya setelah mencari.
Kanza melihat sebuah keranjang asing di atas nakas, tangannya terulur dan mengambilnya dalam pangkuan.
“Apa ini?”
Matanya terbelalak melihat isi amplop yang ada dipegangnya.
Sebuah surat menarik mintanya, meletakkan kembali uang itu ke tempatnya.
‘Aku pergi, segera kembali dan kita akan menikah. Ingat kamu sekarang memiliki calon suami, jadi jaga sikap dan tingkahmu.’
Kanza mengendikkan bahu, ia tak ingin ambil pusing dengan kepergian Melvin ini. Sebaliknya ia merasa senang karena bisa kembali dengan semua rutinitasnya.
Ting.
Sebuah pesan masuk, namun bukan dari ponsel milik Kanza melainkan dari ponsel lain yang juga berada di keranjang tadi.
Hm?
‘Di depan ada supir yang sudah menunggumu. Ikut dengannya dengan patuh dan jangan banyak bertanya.’
Melvin mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, jika saja ia tidak melihat istrinya yang sedang berjuang dengan kesadarannya mungkin ia akan keluar dan meluapkan semua emosinya.Ia kini hanya diam, menggenggam tangan istrinya penuh rasa sesal.“En,” panggilnya.“Ada apa?”“Cari tahu tentang Burhan. Selidiki tentang semua data Kanza dari sebelum dia di kota ini.”Endi terkejut, sungguh tugas yang sangat berat hingga harus mengorek kehidupan seseorang sebelum bertemu dengannya.“Baik.” hanya itu yang bisa di sampaikan.Endi pun berpamitan dan segera undur diri dari rumah sakit, ia tak ingin membuang waktu lama dan kehilangan pelaku kekerasan ini.“Kumpulkan semua anak buah dan tim IT di markas.” ucapnya di sambungan telepon dengan sangat tegas.Di lantai bawah, Lisa dan ibunya sibuk membersihkan kantong belanja sambil membahas kondisi Kanza saat ditinggalkan.“Haha
Burhan mendapati banyak kantong belanja yang berserakan di lantai ruang tamu, semua nya kosong. Belum lagi rumah nampak kosong, seperti tak berpenghuni.“Lisa! Sella!” teriaknya.Dua wanita itu masih asik di depan cermin dengan baju-baju yang baru saja mereka beli. Tawa terus menghiasi wajah mereka, sangat berseri penuh dengan kegembiraan.Brak!Plak!Tanpa aba-aba Burhan masuk dan menampar keras pipi istri nya hingga jatuh tersungkur.“Dad,” protes Sella yang membantu ibunya bangkit.“Dimana kalian letakkan telinga kalian itu!” teriaknya.“Ada apa, Dad? Kenapa marah-marah.” bujuk Lisa pada suaminya.Burhan menepis kasar tangan istrinya dari atas dadanya. Hampir saja terjatuh jika saja Sella tidak menahan tubuh ibunya.“Dad, jangan kasar dong.”“Diam!” bentaknya.“Turun, bereskan semua kekacauan yang kalian buat.” memejamkan matanya na
Kanza sudah terpojok, sedang Lisa dan Sella terus tersenyum menyeringai.“Nggak akan ada yang bisa nolongin lo disini,” seru Sella.Kanza menangis, tanpa suara dan tak bisa bergerakan. Hanya bisa diam, menatap pada dua wanita yang terus memukulinya tanpa perasaan.Mencoba melindungi dirinya, namun apa lah daya ia tetap saja kalah pada mereka berdua.“Lo selamanya hanya akan jadi samsak buat gue dan keluarga gue.”“Ayo sayang kita keluar, udaranya sudah mulai pengap disini.” ajak Lisa dengan begitu sumringah.Keluar dari salon dengan wajah berseri, keduanya melanjutkan shopping tanpa memikirkan keadaan Kanza yang di tinggalkan disana.Di dalam ruang pijat, Arumi menyadari jika kepergian menantunya sudah terlalu lama. Ia menatap pada jarum jam, “Sudah lebih dari tiga puluh menit.”“Biar saya bantu cek, Nyonya.” ucap salah seorang pelayan salon.Dengan ramah Arumi mengucapka
Semenjak hari itu hubungan Kanza dan Melvin kembali renggang. Melvin yang sibuk dengan pekerjaannya yang bahkan setiap harinya pulang larut malam, begitu juga dengan Kanza yang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya.Keduanya seakan tengah menikmati dunia masing-masing.Namun pagi ini berbeda, Arumi yang mendapat laporan dari kepala pelayan di rumah Melvin segera mendatangi kediaman putranya.Dan benar saja, Arumi dapat merasakan aura di rumah itu begitu mistis. Tidak lagi hangat seperti terakhir kali ia berkunjung.Dan sekarang, disinilah mereka berkumpul.Ruang tengah kediaman Melvin Surendra.“Siapa yang bisa kasih mama penjelasan?”Keduanya diam, tak ada satupun yang berani mengeluarkan kata-kata.Kanza hanya bisa menundukkan kepalanya, ia kebingungan jika harus menjelaskan situasinya saat ini.“Udahlah, Mah. Jangan ikut campur urusan rumah tangga kami.”“Kamu! Berani sekali?”Arumi meng
Burhan kembali ke rumah dalam keadaan linglung, fikirannya masih tentang bertemu dengan Kanza di jalan itu.Lisa yang melihat suami nya pulang berinisiatif membuatkan nya kopi hitam, membawanya ke dalam ruang kerja tempat suaminya kini berada“Dad, aku buatkan kopi.”Namun Burhan hanya diam, matanya bergerak tak tentu arah seperti sedang memastikan sesuatu.“Dad, ada apa?” panik Lisa.“Dia ada di kota ini. Dia kembali,” ucap Burhan dengan tatapan tajam.“Siapa?” Namun Burhan kembali diam, raut wajahnya terlihat begitu tegang.Lisa mengguncang bahu suaminya, berusaha menyadarkan sang suami dari gumaman tak jelasnya.“Dad, ada apa? Siapa yang kembali? Jangan buat orang penasaran dong.”“Kanza ada di kota ini.”Duar!Niat hati menghindarinya, namun siapa sangka alam malah berbalik mempertemukan mereka.Lisa membeku, ia tak menyangka jika keponakan yang lam
Sella mengamuk, semua barang yang ada di dalam kamarnya hancur berantakan tak tersisa.Kamar itu sudah seperti kapal pecah yang sudah tak berpenghuni puluhan tahun.Lisa yang mendengar suara keributan itu panik dan segera masuk ke dalam kamar putrinya.“Astaga anak mommy,” serunya.Lisa masuk dengan hati-hati, sesekali ia melihat pecahan kaca sebelum menginjakkan kakinya.“Ada apa? Kenapa marah-marah begini?” merapikan rambut putrinya yang berantakan.Sella duduk di bibir ranjang, mengatur nafas yang sejak tadi memburu tak karuan.“Kenapa sampai sekarang aku juga belum dapat keputusan daddy soal butik itu?”“Sayang, sabar dulu ya. Kondisinya tidak memungkinkan untuk kita mengeluarkan uang sebanyak itu.”“Aku nggak perduli, Mom. Yang aku mau butik itu sudah harus atas nama aku hari ini.” teriaknya.Burhan yang sejak tadi menyendiri di ruang kerjanya mendengar suara-suara gadu







