Se connecterBurhan kembali ke rumah dalam keadaan linglung, fikirannya masih tentang bertemu dengan Kanza di jalan itu.
Lisa yang melihat suami nya pulang berinisiatif membuatkan nya kopi hitam, membawanya ke dalam ruang kerja tempat suaminya kini berada“Dad, aku buatkan kopi.”Namun Burhan hanya diam, matanya bergerak tak tentu arah seperti sedang memastikan sesuatu.“Dad, ada apa?” panik Lisa.“Dia ada di kota ini. Dia kembali,” ucap BurhanPagi yang sangat cerah untuk Kanza memulai harinya di negara yang telah lama ia tinggalkan.Penampilannya begitu formal namun sangat elegan, tampak sangat mahal.“Udah siap melawan dunia, hehe.”tawanya di akhir di depan cermin besar.Kanza keluar, ia berdiri di meja makan. Mengecek kembali semau bawaan yang akan di bawa bersamanya.Dan hal terakhir yang di perhatikannya adalah kotak bekal.“Hari pertama, lebih baik menyendiri.”Mengambil kotak bekal dan keluar dari apartemennya.Melvin dan Endi bersiap di ruang meeting, ada Hendra juga Raka yang ikut serta disana.“Pah, siapa yang mau papa masukkan ke dalam Perusahaan sampai semua harus di kumpulkan?”tanya Raka berbisik.“Nanti kamu pasti tahu.”balas Hendra berbisik, menarik perhatian Melvin yang sedang tadi menatap keduanya.Semua orang sudah berkumpul, termasuk jajaran direksi juga para pemegang saham.Hendra membuka mettin
Mendengar gertakan suaminya membuat hati Kanza sakit, niat hati pulang untuk bisa bersama suaminya tapi malah ini yang di dapatnya.Kanza masih diam mematung di tempatnya, berat ia ingin melangkah keluar namun apa yang di yakininya membuat semua terasa runyam.“Memang benar ternyata.”diam, memberi jeda.Melvin begitu tegang mendengar suara istrinya, begitu juga dengan Endi yang ikut tegang.“Pernikahan tanpa landasan cinta hanya akan saling menyiksa.” Setelah mengatakan itu, Kanza menarik kopernya pergi keluar dari dalam rumah. Dengan kasar menghapus air matanya, ia mantap meninggalkan rumah yang di rindukannya itu.“Lo gila ya!”bentak Endi.Melvin hanya diam, ia sama sekali tidak bereaksi melihat istrinya keluar dari rumah.Endi keluar dengan tergesa-gesa, mencari sekeliling berusaha menemukan Kanza yang mungkin belum jauh perginya.En yang panik lebih memilih menghubungi om dan tantenya, menceritakan semua yang terjadi hari ini hingga kepergian Kanza secara tiba-tiba.“Akh! Yang ni
Kanza sibuk menyiapkan segala keperluan yang akan dibawanya pulang, setiap hal kecil benar-benar menjadi perhatiannya.Arumi tersenyum, ia sesekali menghapus jejak air mata yang jatuh tanpa permisi itu.“Udah, jangan sampai dia lihat kamu yang sedih ini.”ujar Hendra mengusap hangat bahu istrinya.“Masuk, bantu dia. Lihatlah betapa kerepotannya anak itu,”tawanya di akhir kalimat.Arumi masuk, tangannya dengan cekatan melipat semua pakaian dan menatanya ke dalam koper.Sesekali Kanza memeluknya, mengecup sekilas pipi wanita yang beberapa tahun ini terus menemaninya.“Kira-kira Ghea masih ingat aku nggak ya , Ma?”“Tentu saja ingat, dan jangan lupa sebentar lagi dia bakal jadi kakak.”“Dan aku tidak lupa dengan itu,”mengangkat tinggi bungkusan bergambar wajah bayi dengan warna biru laut.Arumi tersenyum, merebut dan memasukkannya ke dalam koper.“Makan, mandi. Kita harus
Kanza sibuk menyiapkan segala keperluan yang akan dibawanya pulang, setiap hal kecil benar-benar menjadi perhatiannya.Arumi tersenyum, ia sesekali menghapus jejak air mata yang jatuh tanpa permisi itu.“Udah, jangan sampai dia lihat kamu yang sedih ini.”ujar Hendra mengusap hangat bahu istrinya.“Masuk, bantu dia. Lihatlah betapa kerepotannya anak itu,”tawanya di akhir kalimat.Arumi masuk, tangannya dengan cekatan melipat semua pakaian dan menatanya ke dalam koper.Sesekali Kanza memeluknya, mengecup sekilas pipi wanita yang beberapa tahun ini terus menemaninya.“Kira-kira Ghea masih ingat aku nggak ya , Ma?”“Tentu saja ingat, dan jangan lupa sebentar lagi dia bakal jadi kakak.”“Dan aku tidak lupa dengan itu,”mengangkat tinggi bungkusan bergambar wajah bayi dengan warna biru laut.Arumi tersenyum, merebut dan memasukkannya ke dalam koper.“Makan, mandi. Kita harus bersiap penerbangan malam.”Dan tidak butuh waktu lama, kini ketiganya duduk di dalam pesawat yang siap lepas landas m
Tiga tahun berlalu,Melvin semakin melambungkan namanya baik di dalam maupun luar negeri. Pekerjaan di kantor semakin membuatnya sibuk hingga terkadang lupa dengan sekitar. Semenjak kepergian Kanza ke luar negeri, Helen di alihkan tugas untuk berada di Perusahaan hingga suatu ketika Zeta ketahuan hamil dan tidak bisa lagi mengantar jemput putrinya, Ghea. Helen senang dengan pekerjaan barunya, gaji sama namun beban pekerjaan berbeda. Ghea kini sudah menginjak kelas 2 sekolah dasar, gadis kecil itu sudah lebih terbuka dengan orang sekitarnya. Setelah melalui beberapa terapi akhirnya si kecil berani membuka diri pada sekitar, seperti hari ini gadis itu sedang tertawa dengan beberapa teman sekelasnya. “Harusnya nona melihat ini, semua berkat ide nona.”gumamnya dalam hati menatap pada Ghea di depan sana. - Di kantor, Melvin sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya. Belum berkas yang sudah berserakan di sofa ruangannya. Endi y
Kepalanya berkunang-kunang, berkali-kali menggelengkan kepala berusaha mencari kesadarannya.“Nona.”“Nona.”“Nonaaaaaa.”Teriakan yang hamper tidak terdengar, hingga sebuah tangan menepuk pundaknya dengan keras.“KEJAR !” teriaknya.Namun sayangnya kali ini langkah Helen kalah cepat. Tanpa disadarinya, semua rekaman cctv itu sudah terhapus oleh anak buah Burhan.Dan tak satupun dari pengejaran itu yang membuahkan hasil. Hanya sesal yang kini memakan ego Helen.“Nona, kami menemukan satu rekaman yang tidak sempat mereka hapus.”Bagai angin segar, Helen segera bangkit merebut flashdisk dari tangan anak buahnya. Dengan tergesa-gesa ia memasangkan di ponselnya.Rekaman itu hanya menampakkan saat Sella juga Lisa keluar dari Salon, namun hanya punggung yang nampak pada rekaman tersebut. Selebihnya rekaman saat tubuh Kanza di angkat pergi meninggalkan salon.“Brengsek!” umpat Helen marah.Tak jauh beda dengan Helen, Endi juga begitu tegang menatap deretan layar di depannya.“Temukan, sekeci
Melvin Surendra, terpaksa membatalkan rapat pentingnya karena sebuah masalah yang terjadi di kampus milik keluarganya.Sosok pria jangkung berjalan mantap di koridor kampus. Kehadirannya menarik banyak perhatian orang-orang di sana. Aura karismatik memancar kuat dari tubuh tegapnya yang dibalut set
Jemarinya bertaut, saling meremas demi mendapat sebuah ketenangan. Namun rasanya tidak lah mungkin, dinginnya pendingin tak sedingin tubuh Kanza saat ini.Kanza duduk begitu gugup di ruang rektor kampusnya, keringat mulai membasahi wajah serta tangannya.“Kanza Athalia Rozenka, apa benar yang sudah
“Menikah denganku.”Sepanjang malam Kanza benar-benar tak bisa memejamkan matanya, permintaan Melvin seakan terus berdengung di pikiran juga telinganya.Hingga pagi menjelang, Kanza masih tak bisa memejamkan mata.“Jadinya nggak tidur kan,” gumamanya s
Melvin perlahan membuka matanya, ia mulai membiasakan matanya dengan cahaya.Tenggorokannya benar-benar kering, ia begitu kehausan.Berkali-kali ia meminta minum, namun Kanza yang takut malah berdiri jauh dari tempat Melvin berada.“Air, haus sekali,” gumamnya terbata-bata.Dengan perasaan was-was,







