Share

30. Rencana Bercinta

last update publish date: 2026-06-02 23:00:16

Keesokan paginya, suasana rumah itu terasa berbeda—lebih tenang di permukaan, tapi menyimpan ketegangan yang tidak terlihat.

Kia terbangun lebih dulu. Tubuhnya masih terasa lelah, tapi pikirannya jauh lebih berat dari sekadar kelelahan fisik.

Ucapan Beni semalam terus terngiang di kepalanya, seperti gema yang tak mau hilang.

Ia menoleh ke samping. Hakim masih tertidur pulas, napasnya kecil dan teratur. Melihat putranya, hati Kia sedikit menghangat. Setidaknya, ada satu hal di hidupnya yang mas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
anak dan ibu sama sama SUPER TOXIC
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terpaksa jadi Pelakor, Ibu Mertua Kejam   53. Pria yang Berbeda

    Selesai berbelanja, Beni kembali ke apartemen dengan dua kantong besar berisi bahan makanan, susu, buah-buahan, serta beberapa perlengkapan bayi yang menurutnya mungkin akan dibutuhkan Kia. Saat pintu apartemen dibuka, aroma teh hangat masih tercium samar.Suasana begitu tenang.Beni tersenyum tipis ketika mendengar suara dengkuran kecil dari dalam kamar. Ia berjalan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Ternyata prediksinya benar. Kia tertidur di atas ranjang sambil memeluk Hakim. Wajah wanita itu tampak jauh lebih damai dibanding beberapa hari terakhir. Meski masih terlihat lelah, setidaknya kini tidak ada lagi kerutan cemas yang menghiasi dahinya.Beni menghela napas pelan."Kasihan sekali kamu, Cantik," gumamnya lirih.Ia menutup pintu kamar kembali, lalu menuju dapur. Dengan cekatan ia mulai menyusun semua belanjaan ke dalam kulkas dan lemari penyimpanan. Sesekali ia melihat daftar kebutuhan di ponselnya, memastikan tidak ada yang terlewat.Tak lama kemudian, suara langkah kaki

  • Terpaksa jadi Pelakor, Ibu Mertua Kejam   52. Apartemen

    "Kamu baru melahirkan beberapa bulan lalu. Kamu mengurus bayi tanpa bantuan siapapun, termasuk Adrian. Kamu juga sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan di rumah itu. Jangan memikul semua kesalahan sendirian. Suamimu yang tak pernah bersyukur."Kia terdiam. Ucapan Beni semuanya benar. Harusnya ia sedih karena perbuatan sang Suami, tapi nyatanya, hatinya malah merasa sedikit lega."Sini, Om bawa Hakim ke dalam. Kamu minum dulu tehnya." Beni menggendong Hakim dengan pelam dan hati-hati, lalu ia bawa masuk ke kamar yang sudah ia siapkan. Kia menyusul sambil membawa tas.Wanita itu memperhatikan keadaan kamar dengan nuansa coklat susu dan hitam yang sangat rapi."Ini kamar Om?" tanya Kia."Iya, biasanya saya tidur di sini kalau lagi males pulang ke rumah atau jika ada rapat di daerah sini. Maaf kalau apartemennya gak terlalu besar. Hanya ada dua kamar.""Harusnya saya yang merasa sungkan." Kia menunduk malu. Beni menghampiri Kia, lalu mengusap pucuk kepala wanita itu dengan kele

  • Terpaksa jadi Pelakor, Ibu Mertua Kejam   51. Sebuah Keputusan

    "Kamu terlalu berlebihan Kia. Lagian, semua ini terjadi karena kamu juga turut andil. Sebagai pria normal, seorang suami, aku tidak mendapatkan hakku sebagai suami. Kamu gak mau kusentuh sama sekali, sejak kamu kembali ke rumah ini. Usia Hakim juga sudah dua bulan dan kamu sudah selesai nifas. Jadi...""Rasanya itu hanya alasan untuk menutupi kebusukan kalian!" Kia menatap Mirna dan Adrian dengan nyalang."Maaf, Mbak Kia ... saya sebenarnya..." "Kamu bisa diam, Mirna? Ini urusanku. Kamu masuk ke dalam sana!" Mirna langsung berbalik."Mbak Mirna, celana dalam kamu jangan lupa diambil!" Kia menunjuk lantai dengan matanya. Lantai di mana celana dalam Mirna tergeletak mengenaskan."Kukira kamu upgrade level perempuan, tapi malah memilih lebih hina!""Kia, jaga ucapan kamu!" Adrian tak terima dengan ucapan Kia."Sudahlah, Mas, ceraikan saja aku. Kamu jadi bisa bebas dengan Mirna. Aku juga udah gak mau sama laki-laki kayak kamu! Ah, kalau kamu gak mau ceraikan aku, maka aku aja yang gugat!

  • Terpaksa jadi Pelakor, Ibu Mertua Kejam   50. Celana Dalam

    "Kia, kenapa?" Beni melampaikan telapak tangannya di depan wajah Kia. Wanita itu tersentak dengan wajah merah. Beni sampai mengernyit tak paham."Kamu sakit?" pria dewasa itu meletakkan punggung tangannya di kening Kia. "Tidak demam," gumamnya."Oh, gak papa, Om. Saya cuma ... cuma agak mules aja. Saya ke kamar mandi dulu ya, Om." Kia bergegas berjalan menuju kamar mandi karena malu.Beni membawa semangkuk mi yang telah dibuatkan oleh Kia, kembali duduk di ruang tengah. Pria itu tersenyum sambil memperhatikan pintu kamar Adrian yang masih saja tertutup rapat. Ia tahu, Mirna sang ART tidak akan berani keluar kamar jika ia masih duduk di sana.Mi rebus habis. Air mineral dingin pun sudah tiga gelas habis ia teguk. Jam dinding sudah berada di angka tiga, tapi Beni masih belum beranjak dari tempatnya. Ia ingin memberikan pelajaran pada Adrian dan juga Mirna bahwa yang mereka lakukan itu salah.Mirna tersentak saat adzan subuh. Pelan-pelan ia turun dari rajang Adrian sambil merapikan baj

  • Terpaksa jadi Pelakor, Ibu Mertua Kejam   49. Ciuman

    Beni tersenyum saat melihat Mirna pembantunya masuk ke kamar Adrian pada jam sebelas malam, dengan cara mengendap-endap. Tentu saja ia tak mau melawatkan momen. Kejadian itu ia foto, juga rekam lewat video.Beni menatap kamar Kia yang lampunya sudah padam sejak jam sembilan malam. Namun, tiba-tiba pintu kamar Kia terbuka. Hakim terbangun dan menangis."Kia, ada apa?" tanya Beni menghampiri Kia."Hakim kebangun, terus gak mau tidur lagi, Om. Padahal udah saya susui. Mungkin masih haus, makanya mau saya buatkan susu." "Oh, gitu. Ya sudah, biar Hakim saya gendong. Kamu buatkan dulu susunya." Kia bergegas memberikan Hakim pada Om Beni. Tangis itu pun perlahan reda, apalagi Beni sambil menimang Hakim."Maaf jadi merepotkan Om Beni," ucap Kia sambil membawa botol susu."Gak repot, kok. Sini, biar saya yang kasih susunya. Kamu mau tidur? Kalau ngantuk, tidur saja. Biar saya main sama Hakim.""Jangan, Om. Biar Hakim sama saya saja di kamar. Siapa tahu dikasih susu langsung tidur." Beni menga

  • Terpaksa jadi Pelakor, Ibu Mertua Kejam   48. Cerita Beni

    "Mama jangan cari perkara dulu. Inget kita pernah hampir berurusan dengan kantor polisi. Usaha Mama nanti yang kena kalau kita salah langkah. Lagian, Om Beni masih suami Mama dan Kia istri aku, gak mungkin mereka diam-diam saling suka."Lia tertawa di seberang panggilan."Kita bicarakan lagi di rumah nanti. Jika kamu gak mau Kia dan Beni dekat, bikin Kia hamil lagi. Cuma itu caranya. Udahlah, Mama lagi sibuk. Besok Mama balik."Panggilan terputus. Adrian kembali melihat kedetakan istrinya dengan suami mamanya. Ada rasa tak suka, tapi disatu sisi ia merasa begini lebih baik, sehingga ia tak perlu memberikan nafkah apapun pada Kia."Cemburu ya, Mas?" Mirna tiba-tiba muncul di samping Adrian. Dengan nekatnya ia menyandarkan kepala di lengan lelaki itu."Mm ... dibilang cemburu ... ya, gak juga, tapi aku gak nyaman aja." "Itu namanya cemburu! Masa bercintanya sama aku, cemburunya sama Kia? Ya, gak adil dong." Adrian berbalik. Kini keduanya salimg berhadapan."Terus kamu maunya gimana?" t

  • Terpaksa jadi Pelakor, Ibu Mertua Kejam   45. Om, Selingkuh, Yuk!

    "Hah, apa?!" Adrian menginjak rem tiba-tiba.Mobil berhenti di pinggir jalan. Wajah Adrian yang tadi santai langsung berubah pucat."Kamu serius?" tanyanya dengan suara tertahan. Mirna mengangguk pelan."Saya nggak bohong, Mas. Pak Beni melihat saya keluar dari kamar Mas waktu subuh."Adrian merem

  • Terpaksa jadi Pelakor, Ibu Mertua Kejam   8. Lia yang Cemburu

    Lia berdiri di ambang pintu dengan napas yang tertahan. Matanya membulat melihat pemandangan di depannya. Beni sedang menggendong Kia.Tangan Kia melingkar di lehernya.Kepala wanita itu bersandar lemah di bahu pria tersebut."Kia!"Suara Lia terdengar tajam seperti pisau.Beni langsung menoleh. Wa

  • Terpaksa jadi Pelakor, Ibu Mertua Kejam   2. Perhatian Ayah Mertua

    Lia melangkah pergi dengan wajah masam, meninggalkan Kia yang masih berdiri di dapur dengan Hakim dalam gendongannya. Bayi kecil itu kembali menggeliat pelan, lalu merengek lirih.Kia menatap punggung mertuanya yang menjauh. Dadanya terasa sesak. Ingin rasanya ia menjelaskan semuanya pada Beni tadi

  • Terpaksa jadi Pelakor, Ibu Mertua Kejam   1. Suami Baru Ibu Mertua

    "Suami Mama hari ini nginep di sini, jadi usahakan Hakim gak nangis terus malam hari. Suami Mama nanti gak bisa tidur nyenyak karena berisik!" Lia bicara pada pada Saskia saat menantunya tengah melipat pakaian di kamar. "Iya, Ma.""Udah tiga malam ini Hakim begadang terus, Ma. Asi Kia belum keluar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status