Mag-log inTak terasa hari berganti begitu cepat, usia Nevan sudah 3 Minggu. Hari ini mereka mengadakan acara akikah. Yang di hadiri oleh kerabat dekat dan juga sahabat-sahabatnya."Ya ampun lucu banget ponakan gueee," heboh Rindi yang kesenangan melihat si bayi mungil Nevan di gendong Nabila."Kamu hutang penjelasan ya Rin, sama aku kok bisa berangkat bareng Kak Leo." Bisik Nabila yang tadi melihat Rindi datang bareng sepepu suaminya."Iya Nanti, gue jelasin sabar deh." Kata Rindi sambil menatap Nabila, Tria dan Diana bergantian."Sumpah asli hidup gue banyak banget plot twins setelah Ayah gue nikah sama sahabat gue sekarang masa sahabat gue lagi pdktan sama Om gue," cetus Diana yang menepuk jidatnyaNabila yang mendengar itu tertawa pelan."Tapi gue kalo jadi Rindi juga bakal milih Om Leo sih dari pada pacar toxic Lo itu Rin," timpal Tria."Om Leo kayanya udah kecintaan banget sama Rindi." Diana menatap Om nya dan Sahabatnya bergantian.Dari kejauhan Dewa melihat Nabila sedang asik mengobrol
Di dalam kamar yang kini hening, Dewa membelai lembut pipi Nabila. Nabila menyandarkan kepalanya di bahu Dewa, mengembuskan napas lega."Akhirnya ya, Mas... kita sampai rumah juga," bisik Nabila pelan."Iya, Sayang. Senang banget rasanya lihat kamu sama Nevan udah di rumah. Gimana, kamu masih ada yang kerasa nyeri nggak?" tanya Dewa perhatian, membetulkan posisi duduk Nabila agar lebih nyaman."Udah mendingan dibanding kemarin. Mas... makasih ya udah sabar banget nemenin aku dari kemarin-kemarin."Dewa tersenyum manis lalu mengecup lipatan jemari Nabila."Justru aku yang terima kasih sama kamu. Kamu hebat banget, sayang. Oh iya, Nevan mau ditaruh di kasur bareng kita apa tetap di box bayi?""Di box bayi dulu aja deh, Mas. Aku takut ketiduran terus ketindih," jawab Nabila ragu.Tiba-tiba, suara tangisan kecil terdengar dari dalam box bayi. Gerakan kaki Nevan yang menendang-nendang bedong membuat selimutnya terlepas."Tuh kan, baru aja dibicarain, jagonya Ayah udah bangun," goda Dewa be
Tak berselang lama, pintu ruang rawat terbuka lebar. Diana berjalan masuk sambil menjinjing dua kantong plastik berukuran sedang, mengekor di belakang Mama Saras dan Papa Wira."Nih, makanan buat Mama sama Ayah," seru Diana ceria sambil meletakkan kantong plastik tersebut di atas nakas sebelah ranjang."Wah, gercep banget kamu di," puji Dewa sambil merapikan meja dorong kecil agar bisa dipakai makan oleh Nabila.Mama Saras langsung mendekati box bayi, menatap cucunya yang masih terlelap damai."Duh, cucu Oma pules banget tidurnya. Tadi waktu nyusu gimana, Lancar, Bil?" tanya Mama Saras sambil melirik menantunya."Lancar kok, Mah. Cuma tadi sempet agak perih dikit karena perlekatannya kurang pas," jawab Nabila dengan suara pelan."Wajar banget itu di awal-awal, Bil. Nanti lama-lama juga terbiasa,""Oh iya, kalian udah kepikiran nama belum buat cucu ganteng ini?"timpal Papa Wira yang tersenyum hangat.Dewa langsung menoleh bangga ke arah kedua orang tuanya."Udah dong, Pa. Namanya Neva
Tak lama Dewa datang bersama dokter dan suster."Bu Nabila. Bagaimana, ada keluhan apa terkait bayinya atau proses menyusuinya?" tanya Dokter Rita membuka obrolan dengan senyum menenangkan.Nabila yang wajahnya masih merona malu langsung merapikan apron menyusuinya. Ia melirik sekilas ke arah Dewa sebelum menjawab dengan suara pelan."Ini, Dok... bagian puting terasa perih banget waktu bayi nyusu. Rasanya kayak disilet-silet, padahal bayinya udah mau nenen," adu Nabila dengan nada manja sekaligus menahan perih.Suster langsung mendekat sambil tersenyum pengertian."Wajar banget kok, Bu, di hari-hari pertama melahirkan. Biasanya itu karena perlekatan mulut bayi ke payudara belum sepenuhnya pas. Coba, Bu, dibantu rileks dulu, jangan tegang."Dewa yang berdiri di samping ranjang langsung sigap merapikan bantal di belakang punggung istrinya."Iya, sayang, rileks ya. Jangan tegang begitu bahunya."Dokter Rita tersenyum ramah melihat gerak-gerik si suami siaga di sebelah pasien."Boleh saya
Setelah semua proses melahirkan selesai Nabila dan bayinya di bawa langsung ke ruang rawat inap. Di sana sudah ramai karena Mama Saras, Papa Wira dan Diana terus menatap si bayi kecil yang baru lahir.Sedangkan Dewa masih tetap setia menemani istrinya."Mas jangan cium-cium terus ihh," protes Nabila yang risih suaminya terus mencium dahinya semenjak masuk ruang rawat inap."Ini bukti sayang dan terimakasih nya aku buat kamu.""Itu loh di lihat dulu anaknya malah kamu disini terus sama aku.""Kan udah tadi waktu baru lahir Mas adzanin dia sambil di lihatin terus, dia mirip aku banget loh sayang." "Iya, ihhh sebel banget padahal kan aku yang hamil sampe sembilan bulan,""Ya nanti kita bikin lagi biar ada yang mirip kamu deh,"Mendengar ucapan suaminya, wajah Nabila langsung merona merah. Ia melotot kecil sambil mencubit pinggang Dewa pelan."Sembarangan banget kalau ngomong!" cibir Nabila dengan suara berbisik, takut didengar mertuanya.Dewa justru terkekeh renyah sambil mengusap-usap
Jarum jam di dinding ruangan kini menunjukkan pukul 11 pagi. Keringat dingin tak henti-hentinya mengucur dari pelipis Nabila yang terus mengerang menahan sakit."Masih belum nambah bukaan nya, Bu? Ini udah jam sebelas," tanya Dewa dengan suara parau kepada bidan yang baru saja selesai memeriksa."Belum, Pak Dewa, masih di bukaan enam. Dinikmati dulu kontraksinya ya, Bu Nabila, jangan terlalu dibuat stres," jawab sang bidan ramah sebelum kembali keluar."Sabar ya, Sayang. Capek banget ya?" bisik Dewa sambil menyuapkan beberapa sendok air hangat ke bibir istrinya."Hah... haus, Mas... Tapi perut aku rasanya kayak mau copot," rintih Nabila lemah.Waktu terus merayap lambat. Pukul 12.00 siang, suasana kamar inap terasa semakin tegang. Diana yang duduk di kursi penunggu hanya bisa mondar-mandir karena ikut gelisah."Ma, mau makan roti dulu dikit biar ada tenaga?" tawar Diana sambil menyodorkan sebungkus roti sobek.Nabila menggeleng pelan dengan mata terpejam."Nggak usah, Di... Mual rasan
Jam digital menunjukkan pukul 21:00 saat Nabila terpaksa masuk ke mobil sedan mewah milik Dewa demi menghindari sorotan rekan kerjanya di lobi hotel.Suasana kabin terasa mencekam. Dewa membawa mobilnya menepi di area parkir sepi sebuah apotek 24 jam, lalu menyodorkan kantong berisi tiga merek test
Dua Minggu berlalu sejak malam itu. Nabila selalu mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa kuliah lalu di lanjut bekerja, namun tubuhnya seolah berkhianat.Setiap pagi, Nabila selalu di sambut mual yang hebat. Aroma kopi, parfum menyengat, Bahkan aroma kantin kampus yang biasanya ia sukai kini
Nabila terbangun dalam dekapan hangat Dewa yang mengunci tubuhnya dengan erat. Namun, rasa nyaman itu seketika sirna saat rasa mual luar biasa mendadak naik dari perutnya."Huekkk!" Nabila mendadak mual dan memuntahkan sisa makanan tepat di atas kemeja Dewa."Astaga, Nabila?! Kamu nggak apa-apa? Ma
Pintu kamar rawat inap VVIP itu tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang begitu mencekam di antara mereka berdua. Begitu perawat selesai memasang infus dan meninggalkan ruangan, Nabila langsung menatap Dewa dengan tatapan seolah ingin membunuhnya.Matanya yang sembap menyalang merah, menahan amara







