MasukDi dalam Jaquzi yang diisi penuh oleh air hangat beraroma mawar bercampur manisnya vanila itu Jane berendam dengan wajah datar dan kedua mata yang menatap nanar ke arah jendela yang langsung menyuguhkan pemandangan hamparan daun maple yang memerah.
Sejenak Jane memejamkan kepalanya saat merasakan tangan maid mulain memijat kepalanya. Dia tak bohong kalau pijatan itu dan aroma terapi yang dituankan ke dalam air cukup menenangkan pikiran dan tubuhnya. Kemudian, dengan perlahan Jane pun kembali membuka matanya dan kembali menatap lekat-lekat sosok maid itu melalui cermin.
"Apa kau selalu bertugas melakukan semua pelayanan seperti ini pada setiap perempuan yang dibawa tuan Rex?" tanya Jane tanpa tedeng aling-aling. Dia bahkan tak peduli sekalipun maid itu berpeluang akan mengadukan pembicaraan ini pada Rex. Ini semua dia lakukan didasari oleh ketidak percayaannya pada cerita ironis yang dikatakan Rex pada pertemuan pertama mereka.
"Setiap perempuan?" cicit maid itu terdengar bingung.
"Maksudku kau terbiasa melayani perempuan-perempuan yang tuan Rex bawa ke tempat ini. Tuan Rex pasti tipe pria yang membawa wanita mainannya ke tempat ini untuk menyembunyikannya kan?" tegas Jane.
Saat itu bagi Jane, cerita Rex tentang istrinya yang menyimpang artinya adalah kesempatan besar bagi Rex agar bebas bergonta ganti perempuan.
"Tidak ada. Anda perempuan pertama yang tuan Rex bawa ke mansion," jawabnya tenang. "Ada apa nona, apa ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran anda?"
"Aku merasa kedinginan. Bisakah aku segera menyelesaikan sesi mandiku ini?" ujar Jane seraya bangkit berdiri dan mengambil handuknya. Sementara maid itu mengikuti Jane dari belakang.
Berulang kali Jane menghela napas kasar. Semua pelayanan maid yang berlebihan dalam melayaninya juga tempat tinggal yang mewah seperti ini sungguh dunia yang benar-benar asing untuknya.
"Menyedihkan... aku dilayani seperti seorang nyonya hanya untuk dijamah pria asing," gumam Jane sedih dengan nada yang sangat lirih tatkala maid begitu sibuk mendandaninya dengan pakaian-pakaian mahal nan indah yang tak pernah dilihatnya hanya agar dia pantas ditiduri oleh Rex.
***
"Apa kau nyaman berada di sini?" tanya Rex ditengah-tengah kegiatan makan malam mereka yang sedari tadi diliputi oleh kesunyian.
"Saya tidak tahu," jawab Jane datar.
Rex mengangguk-angguk mengerti lalu menyelesaikan sesi makannya. "Rumah ini akan jadi tempat tinggalmu selama kau terikat kontrak denganku. Kuharap kedepannya kau akan betah tinggal di sini," ujar Rex dengan nada tenang. Suaranya tak terdengar kasar atau pun sinis nan penuh amarah, tidak sama sekali.
Rex terlihat seperti pria baik ketika berbicara pada Jane, tapi tetap saja Jane merasa sangat takut. Bagi Jane air yang tenang bukan berarti tak menyimpan bahaya, sehingga ia begitu takut dan curiga pada tiap tingkah baik Rex.
"Jika sudah selesai, kau boleh ke kamarmu lebih dulu."
Jantung Jane sempat berhenti berdetak untuk beberapa saat mendengar ucapan Rex, sebelum kemudian mengangguk mengerti dan melenggang pergi menuju kamar di mansion ini yang kini menjadi kamar pribadinya. Tiba di dalam kamar jantung Jane benar-benar berdedebar kencang, dia merasa sangat gugup.
"Kau mulai seperti perempuan gila, Jane... karena memikirkan hal tak senonoh di waktu yang canggung ini." Jane menggerutu pada dirinya sendiri lalu dengan berat hati dia pun duduh di tengah tempat tidurnya dan merinding sendiri karena tingkahnya saat ini seperti tengah menunggu Rex dengan senang hati. Sehingga di detik berikutnya dia pun buru-buru mengubah posisinya dan berusaha bersikap setenang mungkin.
Suara langkah kaki kemudian terdengar mendekat, membuat debar jantung Jane semakin menggila. Dia memilih mengambil ponselnya dan menyibukan dirinya dengan menggulir layar ponsel untuk melihat portal berita, walau sebenarnya ia tak benar-benar bisa fokus.
Pintu kemudian terbuka dengan Rex yang melangkah masuk dan kembali menutup pintu kamar rapat-rapat. Demi Tuhan... saat itu jantung Jane benar-benar hampir meledak karena debar jantungnya yang tak terkendali.
"Aku akan mandi terlebih dahulu," ujar Rex yang lagi-lagi bicara santai dengan nada lembut yang bagi Jane justru terdengar sangat mengerikan.
Saat itu rasanya jantung Jane benar-benar meledak.
Sialan memang.
Dengan sikap tenangnya itu, Rex terlebih dahulu menyimpan tas kerjanya ke dalam lemari baru kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Sepeninggalnya Rex, Jane menatap plafon kamar dengan tatapan nyalang. "Kenapa pria sepertinya begitu mudah berbicara setenang itu pada perempuan asing yang hendak ditidurinya. Dia benar-benar membuatku takut..."
***
Aroma maskulin itu menguar saat Rex keluar dari kamar mandi. Pria itu terlihat segar dan terlihat... seksi dalam balutan piyama warna hitam yang dikenakannya.
"Kau belum tidur rupanya," ujarnya.
"Saya menunggu anda."
"Begitu," sahut Rex santai lalu berjalan menghampiri ranjang dan tanpa kata berbaring di sisi kiri tempat tidur tepat di samping Jane. "Aku merasa lelah karena pekerjaan hari ini terasa lebih berat dari biasanya. Aku bertemu orang-orang menyebalkan hari ini, jadi maaf Jane jika aku menemuimu terlalu cepat padahal hari ini adalah hari pertama kau datang kemari. Aku ingin menenangkan pikiranku dan beristirahat di sini."
Jane diam. Jantungnya mencelus dan untuk beberapa saat dia merasa bingung antara harus merasa lega atau malah semakin takut, situasi saat ini benar-benar membingungkan.
"Apa aku membuatmu tak nyaman, Jane?" tanya Rex yang tiba-tiba saja beringsut mengubah posisi tidurnya jadi menghadap Jane dan menatap perempuan itu lekat-lekat.
Jane sampai harus menelan ludahnya dengan susah payah untuk mengumpulkan keberaniannya sebelum akhirnya bisa balik memandang Rex dan memberikan jawabannya, "Saya tak punya hak untuk merasa seperti itu. Anda bisa datang kapan pun anda menginginkannya, tentu saja."
Garis bibir Rex melengkung membuat senyuman manis di wajah tampannya. Lesung pipinya terlihat jelas di pipi kanannya dan matanya sedikit menyipit karena senyuman itu. "Syukurlah. Aku merasa lebih baik setelah mendengar ucapanmu, terima kasih, Jane."
Detik itu pula Jane tertegun. Dia benar-benar tak tahu harus bereaksi seperti apa setelah melihat senyuman Rex di kali kedua pertemuan mereka, tentu Jane tak bisa mengelak dari fakta bahwa dia sedikit terganggu dengan ketampanan Rex yang baru dia sadari pada detik ini.
"Anda berkata kalau anda merasa lelah, apa anda tidak masalah jika harus berada di dalam satu ruangan yang sama dengan orang asing seperti saya?" kali ini entah atas alasan apa tapi Jane perlahan mulai bisa bicara santai pada Rex tanpa merasa canggung ataupun gugup.
"Karena aku merasa tenang berada di sini, terlebih lagi kini ada kau. Rumah mendiang ibuku terasa hangat, tak sedingin dan sesunyi biasanya," kata Rex yang kemudian memejamkan matanya yang terasa berat oleh rasa kantuk.
Perlahan Jane mendengar napas Rex mulai teratur, menjadi tanda bahwa pria itu sudah mulai lelap dalam tidurnya. Pada momen itu pun Jane hanya bisa memandangi wajah tenang Rex ketika tidur, padahal ada yang mengganjal di hatinya setelah mendengar ucapan pria itu. Dia ingin bertanya pada Rex, tapi mau tidak mau dia harus mengurungkan niatnya. Ini pertama kalinya dia menatap wajah pria itu dengan jelas di situasi yang lebih tenang, sehingga ia baru menyadari bahwa Rex adalah pria yang tampan dan terlihat lembut dan... teduh.
"Ada apa ini, kenapa saat tidur setenang ini kau justru terlihat seperti manusia paling kesepian dan bernasib buruk. Padahal kau punya segalanya," gumam Jane pelan. Sangat pelan sampai-sampai terdengar seperti sebuah bisikan. Saat itu dia menatap iba pada Rex.
"Tidak kah kau sadar kau telah berbuat sangat kejam pada orang lain, Claire?" suara bariton milik Rex itu terdengar menggema saat dia memasuki kantor Claire. "Kau membawanya ke kehidupan kita, mengeksploitasinya demi memenuhi keinginanmu untuk punya anak dan melancarkan rencanamu demi warisan sialan itu, tapi kau juga yang berkhianat dan sengaja menghancurkan hidupnya!" bentaknya lanjut menegur.Claire terbelalak mendengar bentakan itu. Alih-alih menerima kesalahannya, Claire justru balik menatap Rex dengan tatapan tak kalah marah. "Apa pelacur itu mengadu padamu bahwa aku telah melakukan hal jahat padanya, ha?!" teriak Claire balas membentak. "Aku tidak melakukan apapun. Berani-beraninya jalang itu mengarang cerita sialan untuk mengadu kepadamu."Mendengar kalimat bengis yang keluar dari mulut Claire itu, Rex hanya bisa mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sesaat dia mengusap kasar wajahnya sebelum kemudian menatap Claire dengan ekspresi campuran antara lelah d
Rex merasa andai saja takdir bisa diubah, dia ingin mengubah pertemuannya dengan Jane. Dia ingin bertemu Jane lebih awal, ingin jatuh cinta dengannya dan menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencintainya saja. Namun, pengandaian itu tak ubahnya sebuah dongeng sebelum tidur. Kenyataanya, hidup memang butuh sebuah pelajaran untuk diingat sebagai pengalaman hidup. Rex harus lebih dulu jatuh cinta secara sepihak pada Claire, baru kemudian merayakan cinta yang baru pada Jane yang tak pernah diduganya. "Ruby..." Rex memanggil lembut nama itu sembari menatap Jane dengan sedih. Dia merasa sangat terluka, sudut hatinya terasa nyeri menyaksikan Jane menangis pilu seperti ini. Terlebih lagi, Jane menangisi pria yang dicintainya. Sebegitu dalamnya cinta Jane pada Dante sampai-sampai kehadiran Rex dan semua hal yang telah mereka lewati tak sekalipun membuat goyah hati Jane untuk berpaling. Ah, lagi-lagi Rex jatuh cinta sendirian. "Apa artinya aku menjalani semua hal gila ini jika Dante
"Dante, jangan pergi. Kumohon..." kalimat itu hanya meluncur lirih dari bibir Jane yang gemetar menahan isak tangisnya. Sementara air mata terus berderai. Seharusnya Jane berteriak lebih keras, seharusnya Jane berlari mengejar dan menarik tangan Dante kuat-kuat agar pria terkasihnya itu berhenti menjauh. Namun, yang bisa Jane lakukan hanyalah diam bergeming dengan segala sakit yang menghantam dadanya. Kedua kakinya seolah dipaku pada lantai, dia tak kuasa untuk sekedar berlari dan menjelaskan semuanya pada pria yang di cintainya bahwa situasi ini tak seperti yang Dante bayangkan. "Aku tak pernah berkhianat, sayangku, Dante..." cicit Jane dengan suara tercekat. Hatinya begitu nelangsa. Melihat kemarahan, kekecewaan dan kesedihan di wajah pria yang selalu menatapnya dengan teduh itu adalah sebuah hukuman paling mengerikan yang tak pernah Jane bayangkan. Bukan kehidupan seperti ini yang Jane rencanakan. Jane hanya ingin hidup bahagia dengan pria yang dicintainya, tapi kemiskinan me
Di dalam lorong rumah sakit yang dingin dan berbau antiseptik, Claire baru saja menghubungi Rex dengan kalimat yang tegas seperti biasanya dia berkomunikasi dengan suaminya itu. Dia terlalu dominan, terkesan memberi perintah dan Rex mau tak mau harus selalu menurutinya. "Jemput aku jam dua belas siang, Rex. Aku tak mau tahu kau harus menjemputku di kantor, kita pergi berdua dengan mobilmu." Nada suaranya tak memberi ruang untuk bantahan. Lantas Claire pun memutus sambungan telepon secara sepihak tanpa aba-aba. Claire merapikan mantel tipisnya sebelum melangkah ke meja perawat jaga. Senyum ramah langsung terukir di wajahnya, begitu hangat hingga siapa pun akan mengira ia membawa kabar baik. "Selamat pagi," sapa Claire lembut. "Aku ingin memastikan satu hal tentang keluargaku yang dirawat di kamar 406." Perawat itu menoleh, membalas dengan senyum profesional. "Ada yang bisa kami bantu, Nona?" "Pasien atas nama Dante," ucap Claire sambil menyebut nama itu dengan tenang. "Apakah benar
Kesalahan terbesar Jane di kehidupan ini adalah terlahir miskin. Di perjalanan pulang itu, Jane hanya bisa melamun dengan pikiran yang melayang jauh entah kemana. Yang terus menerus terngiang dibenaknya saat itu adalah andai saja dia terlahir kaya raya seeperti kehidupan Rex dan Claire, pasti dia tak akan mengalami kehidupan yang menyedihkan seperti ini."Ruby," suara lembut Rex terdengar memanggil. Beberapa kali dia melirik Jane dengan tatapan khawatir. Jane melirik Rex dengan tatapan sayu. "Iya Rex?""Apa kau ingin menemui tunanganmu lagi? aku tak masalah jika harus memutar balik arah."Seketika Jane pun menggeleng pelan menolak tawaran Rex yang sangat mengkhawatirkannya itu. "Tidak, Rex. Hari ini sudah lebih dari cukup, aku tak ingin berlama-lama di sekitar Dante ... " suara Jane tercekat karena gelombang sedih yang tiba-tiba kembali menderanya. "Aku tak ingin Dante melihatku dalam keadaan ini.""Baiklah."Suasana di antara mereka pun kembali hening. Jane diam melamun selama perja
"Fany, apa Jane baik-baik saja?" Dante bertanya dengan risau pada Fany yang saat itu datang mengunjunginya membawakan sup ayam yang masih panas.Fany terdiam sesaat setelah mendapat pertanyaan itu. Tentu dia sangat kebingungan harus menjawab apa karena sama halnya dengan Dante, dia pun tak tahu bagaimana keadaan Jane dan di mana wanita itu berada. Yang Fany tahu, Jane hanya bekerja untuk orang kaya."Jane? Ah dia sedang sibuk bekerja, kau tak perlu khawatir Dante. Jane tentu baik-baik saja," jawab Fany. Senyuman terukir di wajahnya untuk menenangkan kekhawatiran Dante terhadap kekasihnya.Sejenak, Dante terlihat ragu dengan jawaban Fany. Dia menatap Fany lekat-lekat, kentara sekali bahwa dia sedang mencari kebohongan di kedua mata Fany lalu kemudian dia pun menghela napas berat."Aku tak bisa mengetahui apakah kau sedang berbohong atau sedang berkata jujur, Fany. Aku harap Jane benar-benar dalam keadaan baik-baik saja," ucapnya pelan lalu memilih me
"Dari mana saja kau Rex kenapa kau baru pulang sepagi ini, berada di mana kau kemarin?" tanya Claire sinis sambil menyesap teh hangatnya.Rex yang pagi itu baru pulang ke rumahnya hanya melirik sebentar ke arah istrinya dan kemudian melangkah pergi menuju kamarnya. "Ini masih pagi dan aku lelah, C
Rex ingin berbalik pergi, tapi tiba-tiba saja Jane bangkit dan mencekal pergelangan tangan Rex. "Aku mohon tuan... jangan pergi. Nyonya itu sudah berjanji akan membayar saya dengan nominal yang besar."Apa kau gila? Lepaskan tanganku!" bentaknya menepis kasar cekalan tangan Jane padanya. "Apa kau t
Ruby Jane, Perempuan muda berusia awal 20an itu tengah duduk berselonjor kaki di gudang pengap disebuah swalayan tempatnya bekerja. Keringat bercucuran di keningnya dan napasnya terenga-engah karena kelelahan selepas mengangkut dan menyusun puluhan box barang dan menyusunnya pada rak-rak tinggi di
Jane mendapatkan sejumlah uang dari istri Rex. Dengan tangan gemetar, dia memasukkan gepokan uang itu ke dalam tasnya. Matanya berair, air mata perlahan jatuh membasahi pipinya. Dia keluar dari klub malam itu, berjalan dengan langkah berat dan penuh beban. Sambil menangis, Jane memeluk tasnya erat-







