Mag-log inSetelah berada sedikit lebih jauh dari rumahnya, Reina menepikan mobil terlebih dahulu untuk menghubungi sang kekasih. Mesin mobil masih menyala pelan, sementara lampu jalan yang remang memantulkan bayangan wajah Reina di kaca depan. Tangannya sedikit bergetar saat meraih ponsel, bukan karena dingin, melainkan karena keputusan besar yang baru saja ia ambil. Keputusan yang mungkin tak bisa ia tarik kembali.
Tuttt... Tuttt... Tuttt... Nada sambung itu terdengar begitu panjang di telinganya. Sekali dua kali, panggilannya belum dijawab oleh Kalandra. Hatinya semakin berdegup tidak karuan. Ada rasa takut yang menggerogoti, takut jika rencananya berantakan, takut jika semesta seolah menolaknya malam ini. Sampai pada panggilannya yang keempat, barulah laki-laki itu mengangkat teleponnya. “Halo sayang, ada apa malam-malah gini telepon?” lontar Kalandra dari seberang telepon, dengan suara serak khas bangun tidur. Reina menghela napas lega, meski kegelisahan itu belum sepenuhnya pergi. Ya, jam segitu memang banyak orang yang sudah tidur. Apalagi jika esok hari masih harus bekerja, pasti mereka tidak akan tidur larut malam. Namun bagi Reina, malam ini bukan sekadar malam biasa. Ini adalah malam perpisahan, sekaligus awal dari ketidakpastian. “Sayang, kamu ada di kontrakan kan?” tanya Reina tak sabar, tanpa menjawab pertanyaan sang kekasih terlebih dahulu. Nada suaranya terdengar tegang, seolah ia sedang berpacu dengan waktu. “Iya lah yang, mau di mana lagi kalo nggak di sini? Tempatku kan cuma di sini, mau nongkrong juga nggak ada uangnya,” lontar Kalandra, yang kini sepertinya sudah terbangun sepenuhnya dari tidurnya. “Gajian masih lama,” sambung Kalandra lagi. Reina yang mendengarnya pun tersenyum bahagia. Senyum yang bercampur getir. “Yaudah, kalo gitu lebih baik sekarang kamu beresin semua barang-barang kamu!” “Aku jemput kamu sekarang juga!” imbuhnya lagi, suaranya terdengar tegas, nyaris tanpa memberi celah untuk menolak. “Memangnya kita mau ke mana yang? Kenapa aku harus bawa semua barang-barangku?” tanya Kalandra yang tidak mengerti apa yang dimau sang kekasih. Ada nada heran sekaligus khawatir di suaranya. “Nanti aku jelaskan kalo kita udah ketemu,” jawab Reina singkat. “Sekarang lebih baik kamu cepat beresin semua barang-barang kamu. Aku udah di jalan.” Imbuh Reina lagi yang langsung mengakhiri telepon secara sepihak. Ponsel itu ia turunkan perlahan. Jantungnya berdetak kencang. Tak ada jalan mundur sekarang. Setelah mengakhiri panggilan itu, Reina kembali melajukan mobilnya menuju ke kontrakan sang kekasih yang jaraknya cukup dekat dengan lokasinya saat ini. Jalanan malam terasa sunyi, seolah ikut menyembunyikan pelarian mereka dari dunia yang akan mereka tinggalkan. . Sedangkan Kalandra yang sedang terduduk di tempat tidurnya merasa kebingungan, karena tidak mendapatkan penjelasan dari Reina. Tatapannya kosong menatap dinding kamar yang sudah begitu akrab baginya. “Mau ke mana sih? Misterius banget.” Ada rasa cemas yang menyelinap, namun juga ada kepercayaan. Karena jika Reina yang meminta, ia selalu merasa sulit untuk menolak. Karena tidak mau membuat sang kekasih kecewa, akhirnya Kalandra pun menuruti permintaannya. Untung saja barang-barangnya tidak banyak, sehingga hanya membutuhkan sedikit waktu untuk mengemasi semua barangnya ke dalam tas dan koper yang pernah Reina belikan dulu. Tangannya bergerak cepat, meski pikirannya masih penuh tanda tanya. . Lima belas menit kemudian, akhirnya Reina sudah sampai di depan rumah kontrakan yang ditempati oleh Kalandra. Rumah yang cukup luas dan nyaman, karena dia lah yang menyewakan. Lampu teras menyala temaram, menjadi saksi bisu pertemuan dua insan yang akan melangkah terlalu jauh malam ini. Tokkk... Tokkk... Tokkk... Reina yang takut sang kekasih kembali tertidur pun menggedor pintu cukup kuat, “Sayang, cepat!!” Ceklekk... Saat pintu terbuka, terlihatlah seorang pria yang cukup tampan, tinggi dan memiliki tubuh yang kekar. Kulitnya pun kuning langsat, dan cukup untuk memikat para wanita. Namun malam ini, wajah itu dipenuhi tanda tanya. “Kita mau ke mana?” tanya Kalandra yang sudah tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya. “Udah jangan banyak tanya!” seru Reina yang terkesan terburu-buru, matanya terus melirik ke kanan dan kiri, seolah takut ada yang memperhatikan. “Mana barang-barang kamu?” imbuhnya lagi. “Itu,” jawab Kalandra sembari sedikit menyingkir dari pintu, untuk memperlihatkan sebuah koper dan tas punggung yang ada di samping meja yang ada di dalam. Reina tersenyum, senyum yang penuh tekad, “Yaudah, lebih baik kita pergi sekarang juga!” “Kamu yang bawa mobilnya,” Reina memberikan kunci mobilnya ke depan sang kekasih. Kalandra pun tersenyum dan menerima kunci tersebut, “Siap sayang!” “Kamu tunggu di depan ya, aku mau taruh barang-barangku di bagasi dulu,” tambah Kalandra. “Iya sayang.” Reina kembali berjalan menuju ke dalam mobilnya, sedangkan Kalandra masuk ke dalam rumah untuk membawa barang-barangnya dan mengunci pintu. Ia menatap sekilas ruangan itu, seolah berpamitan tanpa kata. Untuk kunci rumah kontrakannya, Kalandra meletakkan di bawah pot bunga yang ada di teras tersebut. Setelah itu ia bergegas pergi ke bagian belakang mobil sang kekasih. Ketika bagasi mobil sudah terbuka, Kalandra terkejut saat melihat dua buah koper besar beserta sebuah tas punggung yang sudah terisi penuh terletak di sana. “Buset!!!” “Mau ke mana nih anak?” batin Kalandra. “Kayak mau pindahan aja.” Batinnya lagi. Ada firasat aneh yang menusuk dadanya, namun ia memilih mengabaikannya. Karena tidak mau membuat Reina menunggu terlalu lama, Kalandra bergegas menyelesaikan aktivitasnya itu. Lalu ia pun segera menyusul Reina yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil. “Sudah yang?” lontar Reina, sembari menoleh ke arah Kalandra yang baru saja masuk ke dalam mobilnya. “Sudah,” jawab Kalandra yang masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. “Kita mau ke mana?” lontar Kalandra saat setelah menutup pintu mobil, dan sedang memakai sabuk pengaman. “Jalan aja dulu, yang penting kita akan keluar kota,” ucap Reina yang sudah siap sedari tadi. Suaranya dingin, penuh kepastian. “Siap sayang.” Walaupun belum sepenuhnya mengetahui tujuan yang akan mereka datangi, Kalandra tetap melajukan mobil itu. Lampu kota perlahan tertinggal di belakang mereka. Sedangkan Reina masih terlihat memikirkan tempat yang kiranya pas untuk mereka tinggali, tanpa berdiskusi ataupun memberi tahu Kalandra terlebih dahulu. Pikirannya dipenuhi bayangan masa depan yang belum tentu ramah. Di dalam perjalanan, Kalandra tak sengaja melihat Reina yang menguap dan terlihat menahan kantuknya. “Ngantuk yang?” lontar Kalandra sembari menoleh sekilas ke arah Reina. “Sedikit, tapi nggak papa kok! Aku tadi udah tidur,” jawab Reina yang berusaha menghilangkan kantuknya dengan cara memakan beberapa camilan yang ia bawa dari rumah. “Kalo ngantuk tidur aja nggak papa sayang, jangan ditahan,” ucap Kalandra penuh perhatian kepada sang kekasih. “Enggak deh yang, aku mau temani kamu aja,” tolak Reina secepatnya. “Nggak usah sayang. Nanti aja kalo udah sampe aku bangunin kamu,” pinta Kalandra, walaupun sebenarnya ia belum tau ke mana tujuan mereka sebenarnya. “Emangnya kamu udah tau kita mau pergi ke mana?” lontar Reina dengan nada mengejek, sembari menatap sang kekasih. Kalandra yang memang tidak mengetahuinya pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal menggunakan salah satu tangannya, sembari tersenyum kikuk, “Mana aku tau yang, orang kamu aja belum kasih tau aku,” “Kita akan pergi ke kota B sayang,” jawab Reina setelah mendapatkan tempat yang cocok untuk mereka. “Hah?!” Cittt... Kalandra yang terkejut pun mengerem mendadak. Untung saja jalanan malam ini cukup sepi, sehingga tidak mengakibatkan kecelakaan. Dugg... “Aduhh...” Sedangkan Reina yang tidak siap dengan kondisi itu pun sedikit terjungkal ke depan. Bahkan dahinya sedikit membentur dashboard mobil. “Sayang!!! Sakit tau!!!” seru Reina sembari mengusap-usap dahinya. “Maaf sayang, maaf,” ucap Kalandra yang merasa bersalah. Dia pun segera melihat dahi sang kekasih, dan mengusapnya dengan lembut. “Udah deh, lanjutin aja jalannya! Biar cepet sampe! Perjalanan kita masih jauh tau!” pinta Reina sembari menepis tangan Kalandra yang memegang kepalanya. “Iya sayang.” Kalandra pun kembali melanjutkan perjalanan yang masih panjang itu. Hatinya dipenuhi kecemasan yang tak terucap. Dia masih belum begitu paham dengan tujuan sang kekasih yang begitu jauh, sehingga ia pun menanyakannya kembali setelah mobil melaju beberapa meter ke depan. “Untuk apa kita pergi ke sana sayang? Itu kan jauh banget,” lontar Kalandra. “Emang kamu juga nggak takut dimarahin papa kamu? Apalagi perginya sama aku kan?” imbuh Kalandra lagi. Reina yang mendapat pertanyaan seperti itu pun menghembuskan napasnya kasar. Rahangnya mengeras, suaranya bergetar oleh emosi yang ia tahan sejak tadi. “Aku mau ajak kamu menikah di sana sayang!!” “Hahhh?!!”“Sebenarnya ada apa, Ma? Kenapa mama lari-larian seperti tadi?” lontar Aksa setelah melihat sang istri sedikit lebih tenang. Meski begitu, nada suaranya tidak sepenuhnya santai. Ada sesuatu di raut wajah Hana yang membuat dadanya ikut terasa tidak nyaman, seolah kepanikan itu belum benar-benar pergi.Hana menarik napas panjang, namun dadanya masih terasa sesak. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan jemarinya terus meremas ujung bajunya tanpa sadar.“Reina nggak ada di kamarnya, Pa!” seru Hana dengan paniknya.Kalimat itu keluar begitu saja, nyaris tanpa jeda. Seakan jika ia menahannya satu detik lebih lama, ia akan runtuh di tempat.“Kalo masalah itu sih papa udah tau, Ma. Tadi kan Iva juga sudah bilang,” ujar Aksa dengan santai, meski sebenarnya ia mulai merasa ada yang janggal.“Iya, masak mama lupa sih?” timpal Iva yang keheranan melihat reaksi ibunya yang tidak biasa. Ia terbiasa melihat Hana cemas, tapi tidak pernah sampai setegang ini.“Bukan itu!” suara Hana meninggi. Nafasnya me
“Bisa jadi sih, tapi nggak biasanya juga setelah bertengkar dia nggak ada,” gumam Iva sembari memegang dagunya sendiri.Ia mencoba mengingat-ingat kembali setiap pertengkaran yang pernah terjadi antara Reina dan papanya. Selalu ada drama, selalu ada bentakan, bahkan tak jarang tangis pecah di tengah rumah. Namun, satu hal yang pasti, Reina tidak pernah benar-benar pergi. Gadis itu mungkin keras kepala, tapi ia selalu kembali ke kamarnya, mengurung diri, dan menutup dunia dari balik pintu.Kali ini berbeda.Ada rasa asing yang mengendap di dada Iva. Perasaan tidak enak yang membuat napasnya terasa lebih pendek dari biasanya. Ia tidak tahu apa yang salah, tapi nalurinya berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres.Daripada terus berdiri di depan kamar kosong itu dan menebak-nebak hal buruk yang semakin memenuhi kepalanya, akhirnya Iva memutuskan untuk kembali ke ruang makan. Setidaknya, papa dan mamanya pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan..Begitu Iva sampai di ruang makan, Hana
“Hahhh?!!”Kalandra kembali dibuat terkejut oleh pernyataan yang baru saja keluar dari mulut sang kekasih. Bagaimana tidak, Reina seorang perempuan dengan begitu berani justru mengajaknya kawin lari. Sebuah keputusan yang terasa terbalik dari semua cerita yang pernah ia dengar. Biasanya, laki-lakilah yang memaksa, mendesak, atau mengajak. Bukan sebaliknya.Dugg…Untuk kedua kalinya, dahi Reina membentur dashboard mobil. Kali ini pun terjadi karena ucapannya sendiri. Kata-kata yang terlalu tiba-tiba, terlalu ekstrem, dan membuat Kalandra kehilangan kendali sesaat.“Kamu mau buat aku mati muda ya?!” lontar Reina, suaranya sedikit meninggi, jelas kesal.“M-maaf, sayang. Aku terkejut,” ucap Kalandra lirih. Rasa bersalah jelas terlihat di wajahnya, namun kali ini ia hanya diam. Tidak lagi berani memeriksa dahi Reina.“Ck! Gitu aja terkejut!” seru Reina sambil kembali membenarkan posisi duduknya, bersandar pada sandaran kursi dengan napas yang masih belum stabil.“Ayo, cepat jalan lagi! Jan
Setelah berada sedikit lebih jauh dari rumahnya, Reina menepikan mobil terlebih dahulu untuk menghubungi sang kekasih. Mesin mobil masih menyala pelan, sementara lampu jalan yang remang memantulkan bayangan wajah Reina di kaca depan. Tangannya sedikit bergetar saat meraih ponsel, bukan karena dingin, melainkan karena keputusan besar yang baru saja ia ambil. Keputusan yang mungkin tak bisa ia tarik kembali.Tuttt... Tuttt... Tuttt...Nada sambung itu terdengar begitu panjang di telinganya. Sekali dua kali, panggilannya belum dijawab oleh Kalandra. Hatinya semakin berdegup tidak karuan. Ada rasa takut yang menggerogoti, takut jika rencananya berantakan, takut jika semesta seolah menolaknya malam ini.Sampai pada panggilannya yang keempat, barulah laki-laki itu mengangkat teleponnya.“Halo sayang, ada apa malam-malah gini telepon?” lontar Kalandra dari seberang telepon, dengan suara serak khas bangun tidur.Reina menghela napas lega, meski kegelisahan itu belum sepenuhnya pergi.Ya, jam
Reina yang berada di dalam kamarnya kini baru saja selesai mengemasi barang-barangnya. Tidak semua ia bawa, hanya yang paling penting dan berharga saja. Kamar yang biasanya terasa luas, malam ini terasa sempit karena udara tegang yang masih tersisa dari pertengkaran barusan.“Baru jam tujuh lewat lima belas menit…” Ia menatap jam dinding dengan napas terengah kecil.“Masih lama buat mereka pergi tidur,” gumamnya dengan suara lelah. Bahkan suaranya sendiri terasa asing di telinganya, seakan ia sudah kehabisan energi untuk marah atau menangis.Karena masih ada waktu, Reina memutuskan untuk beristirahat terlebih dulu di kasur empuknya itu. Kasur yang sejak kecil selalu menemaninya melewati hari-hari sulit. Dan untuk terakhir kalinya juga, mungkin.“Andai aja kalian nggak mempersulit keinginanku, aku nggak akan pergi dari rumah ini, Ma, Pa…” bisiknya lirih. Ucapan itu disertai air mata yang akhirnya menetes juga, membasahi bantalnya.“Iya, aku tau umurku baru dua puluh dua tahun,” lanjutn
"Pokoknya kamu nggak boleh menikah dengan laki-laki itu!" tegas seorang lelaki paruh baya pada putrinya, suaranya menggema memenuhi ruang keluarga."Tapi yang aku mau cuma dia, Pa! Aku nggak mau menikah sama orang lain selain dia!" balas Reina, meninggikan suara. Pipinya memerah, bukan karena malu, tapi karena emosi yang menumpuk sejak sore tadi."Sudah, stop!" suara Hana, ibu Reina memotong pertikaian keduanya. Wanita itu berdiri di antara suami dan putrinya, seolah tubuh kurusnya mampu menghentikan pertikaian yang sudah berkali-kali terjadi.Malam yang tenang berubah panas di rumah keluarga Aksa. Bau wangi diffuser lavender yang biasanya menenangkan bahkan tidak mempan meredakan suasana. Ketegangan seperti asap pekat yang menempel di dinding, sulit hilang. Ini bukan pertama kalinya Reina Clarista dan ayahnya saling serang argumen. Keduanya sama-sama keras, sama-sama tidak mau kalah.Walaupun Hana mencoba menengahi, pertengkaran itu justru makin memanas. Reina melipat kedua tangan, m







