Share

2. kabur

Penulis: Relisyaaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 11:17:25

Reina yang berada di dalam kamarnya kini baru saja selesai mengemasi barang-barangnya. Tidak semua ia bawa, hanya yang paling penting dan berharga saja. Kamar yang biasanya terasa luas, malam ini terasa sempit karena udara tegang yang masih tersisa dari pertengkaran barusan.

“Baru jam tujuh lewat lima belas menit…” Ia menatap jam dinding dengan napas terengah kecil.

“Masih lama buat mereka pergi tidur,” gumamnya dengan suara lelah. Bahkan suaranya sendiri terasa asing di telinganya, seakan ia sudah kehabisan energi untuk marah atau menangis.

Karena masih ada waktu, Reina memutuskan untuk beristirahat terlebih dulu di kasur empuknya itu. Kasur yang sejak kecil selalu menemaninya melewati hari-hari sulit. Dan untuk terakhir kalinya juga, mungkin.

“Andai aja kalian nggak mempersulit keinginanku, aku nggak akan pergi dari rumah ini, Ma, Pa…” bisiknya lirih. Ucapan itu disertai air mata yang akhirnya menetes juga, membasahi bantalnya.

“Iya, aku tau umurku baru dua puluh dua tahun,” lanjutnya bergetar.

“Tapi apa salah kalau aku mau nikah muda dengan orang yang aku cintai?”

Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Memang masih banyak laki-laki yang lebih baik daripada dia… tapi mereka tidak akan sama seperti Kalandra,” suaranya melemah, nyaris menghilang.

“Dan aku hanya mau menikah sama dia, Pa, Ma…”

Sesaat Reina terdiam. Seolah memberi ruang bagi hatinya sendiri untuk bicara.

“Semoga setelah ini kalian mau berpikir terbuka. Dan suatu saat nanti, semoga kalian mau menerima kenyataan bahwa hanya Kalandra laki-laki yang aku cinta.”

Karena lelah dengan pikirannya sendiri, akhirnya Reina memutuskan untuk tidur sebentar. Ia sengaja memasang alarm di jam sepuluh malam agar tidak ketiduran sampai pagi dan malah menggagalkan rencana kabur yang ia susun sejak dua minggu lalu di dalam diam.

.

Sekitar pukul delapan lewat empat puluh menit malam, akhirnya Iva yang mengantuk terlebih dahulu berpamitan kepada kedua orang tuanya.

“Pa, Ma, aku udah ngantuk nih! Aku tidur duluan ya,” pamit Iva sambil berdiri dari duduknya.

“Iya sayang, selamat malam,” jawab Hana lembut, tersenyum meski wajahnya masih menyimpan bekas ketegangan.

“Malam Pa, Ma,” tambah Iva sebelum menghilang ke arah kamar.

Aksa dan Hana hanya saling melirik. Tak perlu bicara pun mereka sama-sama tahu satu hal, perdebatan dengan Reina masih menggantung di kepala mereka.

“Kita juga tidur yuk, Pa. Mama udah ngantuk,” ajak Hana sambil menguap kecil.

“Iya, Ma. Ini juga sudah malam.”

Aksa mematikan televisi. Suasana ruang keluarga langsung terasa sunyi, hanya terdengar detik jam dan angin dari pendingin ruangan. Keduanya kemudian berjalan menuju kamar mereka, melewati pintu kamar Reina yang tertutup rapat.

Setelah seluruh anggota keluarga masuk ke kamar masing-masing, para pembantu rumah menutup semua pintu dan memastikan tak ada jendela yang terbuka. Rumah itu perlahan tenggelam dalam keheningan malam.

.

Saat semua orang tengah tertidur lelap, alarm yang dipasang Reina pun berbunyi, memecah keheningan kamar yang gelap.

Reina menggeliat sebelum membuka mata sepenuhnya. Ia meraba sisi kasur untuk mencari ponselnya yang masih berdering nyaring.

“Udah jam sepuluh ternyata,” gumamnya sambil menghela napas panjang. Ada rasa gugup dan sedih yang bercampur jadi satu.

Tanpa berlama-lama lagi, Reina bangun dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya berkali-kali agar rasa kantuk hilang. Dinginnya air membuat pikirannya sedikit lebih jernih.

Setelah tubuhnya cukup segar, ia berjalan menuju pintu kamar. Reina membuka pintu itu dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara, bahkan napasnya pun ia tahan beberapa detik.

Gelap. Ruang lorong tampak gelap gulita, hanya diterangi lampu kecil dari pojok dinding, yang menandakan bahwa semua orang di rumah tersebut sudah terlelap.

“Sepertinya udah nggak ada orang…” batinnya sembari melihat ke kanan dan kiri, memastikan situasi benar-benar aman.

“Saatnya beraksi…”

Ia kembali masuk ke kamar untuk mengambil dua koper besar yang telah ia siapkan. Sangat hati-hati ia menyeret koper itu, berusaha menghindari suara gesekan di lantai. Di punggungnya, tas ransel hitam yang berisi dokumen penting terasa berat.

Untuk penerangan, ia menyalakan flashlight ponselnya dan mengalungkannya ke leher. Cahaya putih dari ponsel menari-nari di dinding saat ia melangkah.

Setelah tiba di depan pintu utama rumah, ia tersenyum tipis, senyum kemenangan bercampur ketakutan.

“Akhirnya gue bisa bebas buat bersama orang yang gue cintai.” batinnya sambil mengambil kunci cadangan dari saku celananya.

Kunci itu ia dapat diam-diam beberapa bulan lalu, saat ia pulang larut malam setelah bertemu Kalandra.

Ia membuka pintu dengan sangat pelan, lalu menutup dan menguncinya lagi setelah berada di luar. Reina menaruh kedua kopernya di teras, lalu bergegas menuju garasi samping rumah untuk mengambil mobilnya.

Butuh usaha ekstra untuk memindahkan kedua koper besar ke dalam bagasi. Nafasnya terengah ketika akhirnya koper itu masuk sepenuhnya, tapi ia tersenyum puas.

Saat semua sudah siap, Reina masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin perlahan. Lampu kendaraan menyala lembut, menerangi halaman depan rumah yang kini terasa asing baginya.

Namun masih ada satu masalah besar, satpam.

Jika ingin keluar, ia harus berhadapan dengan pak satpam yang berjaga di pos depan. Reina paham benar dia tidak akan bisa lewat sambil tersenyum manis. Satu-satunya cara adalah membuat satpam itu ketakutan, lagi.

Saat mobil Reina mendekat, pak satpam yang tadinya duduk santai sambil memegang secangkir kopi langsung berdiri dan keluar dari pos.

“Mau pergi ke mana, Non, malam-malam begini?” tanya sang satpam.

“Aduh! Jangan banyak tanya bisa nggak sih?!” bentak Reina dengan nada tinggi.

“Buruan buka gerbangnya!”

“Ta-tapi Non—” sang satpam terlihat enggan, namun juga ketakutan.

“Buruan!!!” ucap Reina lebih keras lagi.

Pak satpam menelan ludah dan langsung membuka gerbang.

“I-iya, Non…”

Begitu pintu gerbang sedikit terbuka, Reina langsung menancap gas, membuat mobil melesat keluar area rumah. Ia tak memberi kesempatan satpam itu bicara lagi ataupun curiga.

Pak satpam mengernyit kaget melihat mobil itu melaju cepat.

“Waduh! Gawat banget ini…” gerutunya panik sambil menutup gerbang kembali.

“Pasti bos marah sama saya kalau tau Non Reina keluar larut malam begini…”

Ia duduk di pos jaga sambil mengusap wajahnya kasar.

“Saya juga nggak berani negur Non Reina lagi… apes dah besok kalau dimarahin bos…”

Ia terus menggerutu, memikirkan nasibnya yang mungkin berakhir buruk besok pagi. Namun mau bagaimana lagi? Ia tahu benar betapa keras kepala gadis itu. Sama kerasnya dengan sang ayah.

Malam itu, Reina melajukan mobilnya ke arah jalan besar, meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat ia tumbuh, dan kini menjadi tempat yang ingin ia lupakan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   18. cukup dekat

    Pukul dua belas malam, pesawat yang membawa Devano akhirnya mendarat di Bandara Kota B. Roda pesawat menyentuh landasan dengan hentakan ringan, menandai dimulainya sesuatu yang sudah lama ia rencanakan.Devano melangkah keluar bersama arus penumpang lain. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, tapi matanya bergerak cepat, mengamati sekitar. Kota ini terasa asing, tapi justru itu yang membuatnya nyaman.Ia berhenti sejenak di depan pintu kedatangan, mengeluarkan ponsel untuk memberi kabar kepada Aksa. Setelahnya, ia kembali memasukkan ponsel tersebut ke saku celananya.“ Tunggu gue, Reina,” gumamnya pelan, hampir seperti janji untuk dirinya sendiri.“Gue udah siapin rencana yang sempurna buat lo.”Devano melangkah ke tepi jalan dan menghentikan sebuah taksi. Tanpa banyak bicara, ia menyebutkan tujuan.Mobil itu melaju, meninggalkan bandara yang perlahan tenggelam di belakang mereka.Di dalam taksi, Devano kembali membuka ponselnya. Jemarinya bergerak cepat. Ia memesan sebuah kamar hot

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   17. pilihan sunyi

    Saat ini, Reina dan Kalandra berjalan santai menyusuri kota setelah membeli nomor baru. Nomor yang sunyi, tak tercatat di ingatan siapa pun, tak terhubung ke masa lalu mana pun.Reina melirik ke arah Kalandra yang tengah fokus menyetir. Lampu-lampu jalan memantul lembut di kaca mobil.“Kamu belum aktifin ponsel kamu kan, yang?” tanya Reina pelan.“Belum,” jawab Kalandra tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, “Sejak semalam malah belum aku sentuh sama sekali.”Reina tersenyum kecil. Berbeda dengannya yang sudah menyalakan ponsel, mencari arah, membaca kota, menyesuaikan diri dengan tempat baru. Kalandra memilih diam dari dunia luar.“Bagus deh,” ucap Reina lirih, “Nanti aktifin kalau nomornya udah ke pasangan aja sekalian,”“Iya, sayang.”Jawaban itu disertai gerakan kecil. Kalandra meraih tangan Reina, menggenggamnya hangat. Tidak erat, tidak menuntut, cukup untuk mengatakan “aku di sini”.Reina membiarkan genggaman itu. Jarinya membalas pelan, seolah menguatkan ikatan yang terasa am

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   16. dalam genggaman

    “Aku kepikiran…” Reina menelan ludah susah payah, “Takutnya itu orang suruhan Papa.”Kalandra menangkap gelisah di wajah Reina. Ia tak ingin kecemasan itu tumbuh lebih jauh. Tangannya meraih tangan Reina, menggenggamnya pelan, seolah ingin menahan pikirannya agar tak ke mana-mana.“Jangan terlalu banyak mikir, ya? Nggak mungkin itu orang dari Papa kamu.” Ucap Kalandra lembut, untuk menenangkan sang kekasih.Reina menoleh, ragu. Matanya mencari wajah Kalandra, seolah berharap menemukan sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya. Keraguan itu masih jelas tergambar di sorot matanya.“Kamu pergi dari rumah dalam keadaan bertengkar,” lanjut Kalandra tenang, suaranya stabil, meyakinkan.“Kalau pun Papa kamu mau hubungi kamu, harusnya dari tadi. Bukan sekarang, dan bukan pakai nomor aneh,”“Tapi… masa iya salah kirim?” Reina masih belum sepenuhnya yakin.“Kemungkinannya banyak, sayang.” Kalandra mengusap punggung tangan Reina dengan ibu jarinya.“Bisa aja nomor yang mau dia hubungi cuma beda s

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   15. panggilan sunyi

    Aksa mengantarkan Devano sampai ke area keberangkatan. Ia berjalan di samping pemuda itu lebih lama dari yang perlu, seolah masih ingin memastikan sesuatu, atau mungkin menunda perpisahan.“Hati-hati ya, Dev,” ucap Aksa akhirnya. Suaranya melemah, lelahnya tak lagi ia sembunyikan, “Om titip Reina,”Devano berhenti sejenak. Ia menoleh, menatap Aksa dengan wajah serius namun tenang, “Iya, Om. Sebisa mungkin, aku bakal jaga dia.”Tatapannya sempat menyapu sekeliling. Deretan penumpang sudah mulai mengantre, suara pengumuman menggema samar di udara bandara. Waktu tak menunggu siapa pun.“Aku berangkat dulu ya, Om,” pamit Devano.Aksa menatapnya sesaat lebih lama, lalu mengangguk kecil, “Iya, Dev. Hati-hati.”Devano melangkah maju. Langkahnya tegap, tanpa ragu. Ia ikut mengantre bersama penumpang lain, membaur di antara wajah-wajah asing dan kali ini, ia tak menoleh ke belakang.Aksa tetap berdiri di tempatnya. Pandangannya tak lepas ke arah punggung Devano hingga sosok itu perlahan menghi

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   14. sore itu

    “Restoran sebagus ini kenapa sepi pengunjung ya, yang?” Reina menoleh ke sekeliling begitu mobil mereka berhenti. Dari luar, restoran itu tampak hangat dan nyaman, lampu temaram, kaca besar, dan dekorasi yang terlihat terawat. Tempat yang seharusnya ramai, setidaknya cukup untuk disebut hidup. Kalandra mengedikkan bahu santai, “Mungkin karena terlalu tenang, Yang. Orang-orang sekarang lebih suka tempat rame, yang viral, atau minimal ada spot foto,” Reina mengangguk pelan, “Hmm… bisa jadi sih,” Reina membuka pintu mobil lebih dulu, “Yaudah, daripada nebak-nebak terus, mending masuk aja. Aku udah laper!” Tanpa menunggu jawaban, Reina melangkah turun. Begitu Kalandra menyusul, ia langsung menarik tangan kekasihnya, seolah tak sabar menyingkirkan rasa laparnya. Begitu masuk, pandangan Reina menyapu seluruh ruangan. Beberapa meja terisi, tapi selebihnya kosong. Suasana hening, hanya diisi alunan musik pelan dan suara alat makan sesekali beradu. “Kita duduk di mana, yang?” tany

  • Terperangkap Dalam Pilihan Yang Salah   13. di tempat yang terlalu tenang

    “Ayo, sayang!”Suara Reina menggema dari arah tangga. Nada suaranya jelas tidak sabar, sedikit manja, sedikit memerintah.Di ruang keluarga dekat tangga, Kalandra mendengarnya dengan sangat jelas. Namun alih-alih segera menghampiri, ia tetap duduk santai, punggungnya bersandar ke sofa, pandangannya lurus menatap pintu ruangan seolah menunggu sesuatu.Reina muncul dengan tangan berkacak pinggang. Bibirnya sedikit manyun ketika melihat Kalandra belum juga bergerak.Bukannya merasa bersalah, Kalandra justru tersenyum kecil. Tingkah Reina terlihat menggemaskan di matanya.“Ada apa, sayang?” tanyanya santai.“Kenapa kamu masih di situ aja?!” protes Reina ketus, “Aku udah panggil kamu, tau!”Kalandra tertawa pelan. Ia akhirnya berdiri, melangkah perlahan ke arah Reina, seolah sengaja membuat gadis itu menunggu sedikit lebih lama.“Hehehe… emangnya kita mau ke mana? Kamu kan nggak bilang apa-apa. Aku nggak bisa baca pikiran kamu,” kata Kalandra ringan.“Ya cari makan lah!” balas Reina cepat,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status