MasukReina yang berada di dalam kamarnya kini baru saja selesai mengemasi barang-barangnya. Tidak semua ia bawa, hanya yang paling penting dan berharga saja. Kamar yang biasanya terasa luas, malam ini terasa sempit karena udara tegang yang masih tersisa dari pertengkaran barusan.
“Baru jam tujuh lewat lima belas menit…” Ia menatap jam dinding dengan napas terengah kecil. “Masih lama buat mereka pergi tidur,” gumamnya dengan suara lelah. Bahkan suaranya sendiri terasa asing di telinganya, seakan ia sudah kehabisan energi untuk marah atau menangis. Karena masih ada waktu, Reina memutuskan untuk beristirahat terlebih dulu di kasur empuknya itu. Kasur yang sejak kecil selalu menemaninya melewati hari-hari sulit. Dan untuk terakhir kalinya juga, mungkin. “Andai aja kalian nggak mempersulit keinginanku, aku nggak akan pergi dari rumah ini, Ma, Pa…” bisiknya lirih. Ucapan itu disertai air mata yang akhirnya menetes juga, membasahi bantalnya. “Iya, aku tau umurku baru dua puluh dua tahun,” lanjutnya bergetar. “Tapi apa salah kalau aku mau nikah muda dengan orang yang aku cintai?” Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. “Memang masih banyak laki-laki yang lebih baik daripada dia… tapi mereka tidak akan sama seperti Kalandra,” suaranya melemah, nyaris menghilang. “Dan aku hanya mau menikah sama dia, Pa, Ma…” Sesaat Reina terdiam. Seolah memberi ruang bagi hatinya sendiri untuk bicara. “Semoga setelah ini kalian mau berpikir terbuka. Dan suatu saat nanti, semoga kalian mau menerima kenyataan bahwa hanya Kalandra laki-laki yang aku cinta.” Karena lelah dengan pikirannya sendiri, akhirnya Reina memutuskan untuk tidur sebentar. Ia sengaja memasang alarm di jam sepuluh malam agar tidak ketiduran sampai pagi dan malah menggagalkan rencana kabur yang ia susun sejak dua minggu lalu di dalam diam. . Sekitar pukul delapan lewat empat puluh menit malam, akhirnya Iva yang mengantuk terlebih dahulu berpamitan kepada kedua orang tuanya. “Pa, Ma, aku udah ngantuk nih! Aku tidur duluan ya,” pamit Iva sambil berdiri dari duduknya. “Iya sayang, selamat malam,” jawab Hana lembut, tersenyum meski wajahnya masih menyimpan bekas ketegangan. “Malam Pa, Ma,” tambah Iva sebelum menghilang ke arah kamar. Aksa dan Hana hanya saling melirik. Tak perlu bicara pun mereka sama-sama tahu satu hal, perdebatan dengan Reina masih menggantung di kepala mereka. “Kita juga tidur yuk, Pa. Mama udah ngantuk,” ajak Hana sambil menguap kecil. “Iya, Ma. Ini juga sudah malam.” Aksa mematikan televisi. Suasana ruang keluarga langsung terasa sunyi, hanya terdengar detik jam dan angin dari pendingin ruangan. Keduanya kemudian berjalan menuju kamar mereka, melewati pintu kamar Reina yang tertutup rapat. Setelah seluruh anggota keluarga masuk ke kamar masing-masing, para pembantu rumah menutup semua pintu dan memastikan tak ada jendela yang terbuka. Rumah itu perlahan tenggelam dalam keheningan malam. . Saat semua orang tengah tertidur lelap, alarm yang dipasang Reina pun berbunyi, memecah keheningan kamar yang gelap. Reina menggeliat sebelum membuka mata sepenuhnya. Ia meraba sisi kasur untuk mencari ponselnya yang masih berdering nyaring. “Udah jam sepuluh ternyata,” gumamnya sambil menghela napas panjang. Ada rasa gugup dan sedih yang bercampur jadi satu. Tanpa berlama-lama lagi, Reina bangun dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya berkali-kali agar rasa kantuk hilang. Dinginnya air membuat pikirannya sedikit lebih jernih. Setelah tubuhnya cukup segar, ia berjalan menuju pintu kamar. Reina membuka pintu itu dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara, bahkan napasnya pun ia tahan beberapa detik. Gelap. Ruang lorong tampak gelap gulita, hanya diterangi lampu kecil dari pojok dinding, yang menandakan bahwa semua orang di rumah tersebut sudah terlelap. “Sepertinya udah nggak ada orang…” batinnya sembari melihat ke kanan dan kiri, memastikan situasi benar-benar aman. “Saatnya beraksi…” Ia kembali masuk ke kamar untuk mengambil dua koper besar yang telah ia siapkan. Sangat hati-hati ia menyeret koper itu, berusaha menghindari suara gesekan di lantai. Di punggungnya, tas ransel hitam yang berisi dokumen penting terasa berat. Untuk penerangan, ia menyalakan flashlight ponselnya dan mengalungkannya ke leher. Cahaya putih dari ponsel menari-nari di dinding saat ia melangkah. Setelah tiba di depan pintu utama rumah, ia tersenyum tipis, senyum kemenangan bercampur ketakutan. “Akhirnya gue bisa bebas buat bersama orang yang gue cintai.” batinnya sambil mengambil kunci cadangan dari saku celananya. Kunci itu ia dapat diam-diam beberapa bulan lalu, saat ia pulang larut malam setelah bertemu Kalandra. Ia membuka pintu dengan sangat pelan, lalu menutup dan menguncinya lagi setelah berada di luar. Reina menaruh kedua kopernya di teras, lalu bergegas menuju garasi samping rumah untuk mengambil mobilnya. Butuh usaha ekstra untuk memindahkan kedua koper besar ke dalam bagasi. Nafasnya terengah ketika akhirnya koper itu masuk sepenuhnya, tapi ia tersenyum puas. Saat semua sudah siap, Reina masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin perlahan. Lampu kendaraan menyala lembut, menerangi halaman depan rumah yang kini terasa asing baginya. Namun masih ada satu masalah besar, satpam. Jika ingin keluar, ia harus berhadapan dengan pak satpam yang berjaga di pos depan. Reina paham benar dia tidak akan bisa lewat sambil tersenyum manis. Satu-satunya cara adalah membuat satpam itu ketakutan, lagi. Saat mobil Reina mendekat, pak satpam yang tadinya duduk santai sambil memegang secangkir kopi langsung berdiri dan keluar dari pos. “Mau pergi ke mana, Non, malam-malam begini?” tanya sang satpam. “Aduh! Jangan banyak tanya bisa nggak sih?!” bentak Reina dengan nada tinggi. “Buruan buka gerbangnya!” “Ta-tapi Non—” sang satpam terlihat enggan, namun juga ketakutan. “Buruan!!!” ucap Reina lebih keras lagi. Pak satpam menelan ludah dan langsung membuka gerbang. “I-iya, Non…” Begitu pintu gerbang sedikit terbuka, Reina langsung menancap gas, membuat mobil melesat keluar area rumah. Ia tak memberi kesempatan satpam itu bicara lagi ataupun curiga. Pak satpam mengernyit kaget melihat mobil itu melaju cepat. “Waduh! Gawat banget ini…” gerutunya panik sambil menutup gerbang kembali. “Pasti bos marah sama saya kalau tau Non Reina keluar larut malam begini…” Ia duduk di pos jaga sambil mengusap wajahnya kasar. “Saya juga nggak berani negur Non Reina lagi… apes dah besok kalau dimarahin bos…” Ia terus menggerutu, memikirkan nasibnya yang mungkin berakhir buruk besok pagi. Namun mau bagaimana lagi? Ia tahu benar betapa keras kepala gadis itu. Sama kerasnya dengan sang ayah. Malam itu, Reina melajukan mobilnya ke arah jalan besar, meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat ia tumbuh, dan kini menjadi tempat yang ingin ia lupakan.“Sebenarnya ada apa, Ma? Kenapa mama lari-larian seperti tadi?” lontar Aksa setelah melihat sang istri sedikit lebih tenang. Meski begitu, nada suaranya tidak sepenuhnya santai. Ada sesuatu di raut wajah Hana yang membuat dadanya ikut terasa tidak nyaman, seolah kepanikan itu belum benar-benar pergi.Hana menarik napas panjang, namun dadanya masih terasa sesak. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan jemarinya terus meremas ujung bajunya tanpa sadar.“Reina nggak ada di kamarnya, Pa!” seru Hana dengan paniknya.Kalimat itu keluar begitu saja, nyaris tanpa jeda. Seakan jika ia menahannya satu detik lebih lama, ia akan runtuh di tempat.“Kalo masalah itu sih papa udah tau, Ma. Tadi kan Iva juga sudah bilang,” ujar Aksa dengan santai, meski sebenarnya ia mulai merasa ada yang janggal.“Iya, masak mama lupa sih?” timpal Iva yang keheranan melihat reaksi ibunya yang tidak biasa. Ia terbiasa melihat Hana cemas, tapi tidak pernah sampai setegang ini.“Bukan itu!” suara Hana meninggi. Nafasnya me
“Bisa jadi sih, tapi nggak biasanya juga setelah bertengkar dia nggak ada,” gumam Iva sembari memegang dagunya sendiri.Ia mencoba mengingat-ingat kembali setiap pertengkaran yang pernah terjadi antara Reina dan papanya. Selalu ada drama, selalu ada bentakan, bahkan tak jarang tangis pecah di tengah rumah. Namun, satu hal yang pasti, Reina tidak pernah benar-benar pergi. Gadis itu mungkin keras kepala, tapi ia selalu kembali ke kamarnya, mengurung diri, dan menutup dunia dari balik pintu.Kali ini berbeda.Ada rasa asing yang mengendap di dada Iva. Perasaan tidak enak yang membuat napasnya terasa lebih pendek dari biasanya. Ia tidak tahu apa yang salah, tapi nalurinya berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres.Daripada terus berdiri di depan kamar kosong itu dan menebak-nebak hal buruk yang semakin memenuhi kepalanya, akhirnya Iva memutuskan untuk kembali ke ruang makan. Setidaknya, papa dan mamanya pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan..Begitu Iva sampai di ruang makan, Hana
“Hahhh?!!”Kalandra kembali dibuat terkejut oleh pernyataan yang baru saja keluar dari mulut sang kekasih. Bagaimana tidak, Reina seorang perempuan dengan begitu berani justru mengajaknya kawin lari. Sebuah keputusan yang terasa terbalik dari semua cerita yang pernah ia dengar. Biasanya, laki-lakilah yang memaksa, mendesak, atau mengajak. Bukan sebaliknya.Dugg…Untuk kedua kalinya, dahi Reina membentur dashboard mobil. Kali ini pun terjadi karena ucapannya sendiri. Kata-kata yang terlalu tiba-tiba, terlalu ekstrem, dan membuat Kalandra kehilangan kendali sesaat.“Kamu mau buat aku mati muda ya?!” lontar Reina, suaranya sedikit meninggi, jelas kesal.“M-maaf, sayang. Aku terkejut,” ucap Kalandra lirih. Rasa bersalah jelas terlihat di wajahnya, namun kali ini ia hanya diam. Tidak lagi berani memeriksa dahi Reina.“Ck! Gitu aja terkejut!” seru Reina sambil kembali membenarkan posisi duduknya, bersandar pada sandaran kursi dengan napas yang masih belum stabil.“Ayo, cepat jalan lagi! Jan
Setelah berada sedikit lebih jauh dari rumahnya, Reina menepikan mobil terlebih dahulu untuk menghubungi sang kekasih. Mesin mobil masih menyala pelan, sementara lampu jalan yang remang memantulkan bayangan wajah Reina di kaca depan. Tangannya sedikit bergetar saat meraih ponsel, bukan karena dingin, melainkan karena keputusan besar yang baru saja ia ambil. Keputusan yang mungkin tak bisa ia tarik kembali.Tuttt... Tuttt... Tuttt...Nada sambung itu terdengar begitu panjang di telinganya. Sekali dua kali, panggilannya belum dijawab oleh Kalandra. Hatinya semakin berdegup tidak karuan. Ada rasa takut yang menggerogoti, takut jika rencananya berantakan, takut jika semesta seolah menolaknya malam ini.Sampai pada panggilannya yang keempat, barulah laki-laki itu mengangkat teleponnya.“Halo sayang, ada apa malam-malah gini telepon?” lontar Kalandra dari seberang telepon, dengan suara serak khas bangun tidur.Reina menghela napas lega, meski kegelisahan itu belum sepenuhnya pergi.Ya, jam
Reina yang berada di dalam kamarnya kini baru saja selesai mengemasi barang-barangnya. Tidak semua ia bawa, hanya yang paling penting dan berharga saja. Kamar yang biasanya terasa luas, malam ini terasa sempit karena udara tegang yang masih tersisa dari pertengkaran barusan.“Baru jam tujuh lewat lima belas menit…” Ia menatap jam dinding dengan napas terengah kecil.“Masih lama buat mereka pergi tidur,” gumamnya dengan suara lelah. Bahkan suaranya sendiri terasa asing di telinganya, seakan ia sudah kehabisan energi untuk marah atau menangis.Karena masih ada waktu, Reina memutuskan untuk beristirahat terlebih dulu di kasur empuknya itu. Kasur yang sejak kecil selalu menemaninya melewati hari-hari sulit. Dan untuk terakhir kalinya juga, mungkin.“Andai aja kalian nggak mempersulit keinginanku, aku nggak akan pergi dari rumah ini, Ma, Pa…” bisiknya lirih. Ucapan itu disertai air mata yang akhirnya menetes juga, membasahi bantalnya.“Iya, aku tau umurku baru dua puluh dua tahun,” lanjutn
"Pokoknya kamu nggak boleh menikah dengan laki-laki itu!" tegas seorang lelaki paruh baya pada putrinya, suaranya menggema memenuhi ruang keluarga."Tapi yang aku mau cuma dia, Pa! Aku nggak mau menikah sama orang lain selain dia!" balas Reina, meninggikan suara. Pipinya memerah, bukan karena malu, tapi karena emosi yang menumpuk sejak sore tadi."Sudah, stop!" suara Hana, ibu Reina memotong pertikaian keduanya. Wanita itu berdiri di antara suami dan putrinya, seolah tubuh kurusnya mampu menghentikan pertikaian yang sudah berkali-kali terjadi.Malam yang tenang berubah panas di rumah keluarga Aksa. Bau wangi diffuser lavender yang biasanya menenangkan bahkan tidak mempan meredakan suasana. Ketegangan seperti asap pekat yang menempel di dinding, sulit hilang. Ini bukan pertama kalinya Reina Clarista dan ayahnya saling serang argumen. Keduanya sama-sama keras, sama-sama tidak mau kalah.Walaupun Hana mencoba menengahi, pertengkaran itu justru makin memanas. Reina melipat kedua tangan, m







