Beranda / Romansa / Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh / Bab 1. Pertemuan Dua Keluarga Membahas Pernikahan

Share

Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh
Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh
Penulis: Dera Tresna

Bab 1. Pertemuan Dua Keluarga Membahas Pernikahan

Penulis: Dera Tresna
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-01 20:02:48

“Malu, Papa punya putri sepertimu, Amber! Sudah berapa banyak uang yang Papa keluarkan untuk biaya pengobatanmu? Puluhan tahun Papa dan Mama bersabar untukmu, berharap agar kamu bisa mengeluarkan suara. Kenapa kamu tidak bisa berjuang lebih keras untuk bisa berbicara?” tegur seorang pria setengah baya bernama Jackob pada putrinya yang tertunduk sambil menangis.

Wanita itu ingin sekali membela diri, tapi dia sadar tidak mampu melakukannya karena tidak memiliki suara untuk berbicara. Semenjak penculikan yang dia alami waktu kecil, Amber menderita trauma akut yang membuatnya bisu.

Bukan hanya itu, dirinya yang disekap di ruangan gelap dan sempit, membuat Amber juga mengidap Nyctophobia yaitu ketakutan berlebihan ketika berada di ruang gelap serta Claustrophobia yaitu ketakutan di ruang sempit dan tertutup.

“Mama juga malu. Teman-teman Mama sudah banyak yang punya cucu. Setiap berkumpul, mereka selalu menanyakan kapan kamu menikah? Kapan kamu akan memberi Mama seorang cucu?” seru Ny. Jackob menyambung perkataan suaminya semakin menekan putrinya.

Bibir Amber bergetar ingin mengungkapkan segala isi hati, tapi tidak mampu dia lakukan. Siapa yang menginginkan istri bisu dan cacat seperti dirinya? 

Ingin dia berontak, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, hanya air mata yang membasahi pipi.

“Umurmu sudah 28 tahun, keluarlah dari duniamu yang sempit! Jangan terus berdiam diri! Apa kamu tidak mau seperti teman-teman seangkatanmu yang mempunyai suami tampan dan kaya serta masa depan yang cerah? Apa yang harus Papa lakukan untukmu agar kamu menjadi kebanggaan keluarga?” suara Papanya kembali terdengar, menambah luka di hatinya.

“Kamu hanya anak pembawa sial dan pembuat malu di keluarga ini. Mama menyesal melahirkanmu di dunia ini,” seru Mamanya membuat Amber tersentak dan menatap Mamanya dengan tatapan sedih. 

Hatinya seperti diremas dan rasanya sangat menyakitkan. Dia merasa menjadi anak yang paling menyedihkan di dunia ini karena tertolak oleh orang tuanya sendiri.

Amber menggerakkan tangan untuk berkata dalam bahasa isyarat merespon perkataan papa dan mamanya. 

“Aku juga ingin menikah tapi siapa pria yang mau menikah denganku?” tanya Amber sambil menangis terisak, sayangnya tidak ada suara sedikit pun yang keluar dari mulutnya.

Pertengkaran orang tua dan anak itu terhenti ketika ponsel Jackob berbunyi. Pria itu mengangkat tangan ke depan muka Amber merentangkan kelima jari sebagai isyarat agar putrinya berhenti bicara dengan bahasanya. 

Amber seketika berhenti lalu kembali tertunduk sambil meremas tangan, menahan segala emosi yang tidak bisa dia keluarkan. Kemarahan, kesedihan, kekecewaan dan segala macam emosi yang tak pernah bisa dia sampaikan pada satu orang pun di dunia ini.

“Halo Frank, apa kabar?”

“Jadi ke tempatku?”

“Putramu setuju?”

“Aku senang sekali, kapan mau ke sini?”

“Besok malam? Kabar yang bagus. Kami akan menyambut keluargamu dengan penuh sukacita. Istriku akan memasak masakan yang lezat untuk menyambut kedatangan kalian.”

“Ya ... ya ... aku tunggu kedatangan kalian,” tandas Jackob sambil tertawa ramah, lalu menutup telepon. Tawa itu terhenti ketika dia menatap putrinya, lalu berjalan mendekatinya.

“Angkat kepalamu!” perintah Jackob, membuat Amber menegakkan kepala dan menatap wajah Papanya.

“Kamu ingin menikah bukan? Papa sudah mencarikan calon suami untukmu. Teman Papa yang dulu pernah Papa tolong, bersedia menikahkan putranya. Papa sudah mengatur semuanya, jangan sampai kamu menghancurkan apa yang Papa lakukan untukmu! Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus menikah dengan putra teman Papa dan Papa tidak ingin mendengar penolakan. Mengerti?!” seru Jackob pada putrinya.

Dengan ketakutan, Amber mengangguk setuju, air matanya terus mengalir tapi Jackob dan istrinya tidak peduli. Mereka sudah terlalu sering melihat tangisan putri mereka dan menganggap hal itu adalah hal biasa.

Kedua orang tua itu tidak pernah mau mengerti perasaan putrinya, mereka malah lebih sering merendahkan Amber karena kelemahan yang diderita putri mereka, membuat Amber tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri karena menganggap dirinya cacat dan memalukan keluarga.

Hari yang Jackob bicarakan tiba, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Keluarga Frank yang sudah dinanti oleh Jackob turun dan disambut ramah oleh tuan rumah.

“Ini Christhoper? Tampan sekali. Sudah lama kita tidak bertemu dan kamu tumbuh menjadi pria hebat,” puji Jackob yang merasa bangga dan tidak salah mencari calon menantu.

“Ya, saya Christhoper. Terima kasih atas pujiannya,” balas Christhoper dengan sopan.

“Dia sudah memiliki perusahaan sendiri dan pisah dengan perusahaanku. Sampai aku bingung siapa yang akan meneruskan kerja kerasku,” kata Frank membanggakan putranya, membuat Jackob semakin yakin jika Christhoper akan menjadi menantu terbaik.

Mereka kemudian berpindah ke ruang tengah untuk melanjutkan obrolan. “Di mana putrimu?” tanya Frank.

“Masih bersiap, sebentar lagi juga selesai. Wanita memang selalu lama jika berdandan,” jawab Jackob sambil terkekeh.

“Aku akan memanggilnya,” kata Mama Amber yang kemudian beranjak dari tempat duduk lalu berjalan ke kamar putrinya.

Malam itu, Amber berdandan sangat cantik, mengikuti apa yang Mamanya suruh. Gaun panjang berwarna magenta yaitu campuran antara biru dan merah dipadu dengan make up natural, menonjolkan kecantikan alami wanita itu. Setelah melihat bayangannya di cermin, Amber pun puas dengan penampilannya.

“Amber, keluarlah! Calon suamimu sudah datang,” seru mamanya. 

Amber berjalan cepat menuju pintu kamar dan membukanya. Mamanya menatap penampilannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Tidak mengecewakan, cepat turun dan temui calon suamimu. Bersikaplah yang sopan dan jangan membuat malu!” ujar mamanya.

Amber mengangguk patuh dan mengikuti langkah mamanya. Dia meremas tangan cemas serta gugup, bukan masalah dia akan suka atau tidak suka dengan calon suaminya, tapi sebaliknya. Bagaimana jika calon suaminya yang tidak suka padanya karena keadaannya yang bisu lalu menolaknya? Papa dan mamanya akan semakin malu dengan keberadaannya.

“Nah ini dia putriku, namanya Amber,” seru Jackob ketika melihat putrinya datang bersama istrinya.

“Cantik sekali,” seru Ny. Frank ketika melihat Amber. Amber menganggukkan kepala dan tersenyum sebagai tanda terima kasih mendengar pujian tersebut.

“Dia memang sangat cantik, tapi Amber mempunyai satu kekurangan yaitu tidak bisa bicara. Waktu kecil dia mengalami trauma akut yang menyebabkan kehilangan suara, tapi jangan khawatir karena Amber rutin ikut terapi, kami yakin suatu hari nanti dia akan bisa berbicara,” jelas Jackob.

Mendengar penjelasan tersebut, suami istri Frank saling menatap, meski tidak menolak tapi terlihat jelas keraguan di mata mereka. Amber sangat tahu arti tatapan itu, dia sudah sering menerima tatapan seperti itu yaitu tatapan penolakan. 

Namun karena Frank mempunyai hutang budi terhadap Jackob dan tidak ingin merusak kepercayaan pria itu, dia pun berkata, “Semua orang pasti memiliki kelemahan, kami rasa kami bisa menerima kelemahan Amber apalagi masih ada harapan Amber bisa berbicara lagi. Kami sudah tidak sabar menjadikan Amber sebagai menantu kami. Bukan begitu Christhoper?”

Pertanyaan Frank pada putranya membuat Amber menoleh pada pria yang bernama Christhoper tersebut. Mata mereka pun saling menatap. 

Amber sempat melihat sekelebat tatapan kekaguman dari mata pria itu, tapi kemudian hanya tatapan dingin yang dia terima. Hal itu membuatnya ragu dengan kesan pertama yang dia dapatkan dari Christhoper, mungkin itu hanya khayalannya saja. Tidak mungkin pria tampan itu tertarik pada wanita bisu sepertinya.

Christhoper memang melebihi ekspektasinya, wajah pria itu sangat tampan, rahangnya kokoh dan tegas dengan rambut tipis menghiasinya, hidung mancung, rambut hitam, kulit yang bersih dan mata tajam yang indah. Matanya unik berwarna hijau seperti keturunan Irlandia atau Skotlandia.

“Mata hijau ...?”

Deg...

Jantung Amber seakan berhenti berdetak. Dia menatap wajah Christhoper dengan lebih teliti dan benar tebakannya, pria itu adalah anak laki-laki yang terkurung bersamanya saat dulu mereka diculik.

Amber bisa mengenalinya dari warna mata yang hanya dimiliki kurang dari dua persen penduduk di dunia ini. Dalam hati, Amber bersorak girang, dulu anak laki-laki itu berjanji akan selalu melindunginya, dia tidak menyangka jika pria itu akan menjadi suaminya.

Seulas senyum tipis terlukis di bibir Amber, untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasakan kebahagiaan. Anak laki-laki yang dia cintai sudah tumbuh menjadi seorang pria tampan dan sebentar lagi akan menjadi suaminya. Dia sangat berharap Christhoper akan mengenalinya dan mereka akan kembali saling menjaga.

Namun kebahagian Amber sirna ketika mendengar jawaban dingin dari pria di depannya. 

“Jika Papa sudah bersedia, apakah aku masih bisa menolaknya?” sindir Christhoper dengan nada yang jauh dari kata ramah.

Mendengar nada terpaksa dari pria itu membuat Amber langsung tertunduk dengan kepercayaan diri yang runtuh. Christhoper tidak mengenalinya, bahkan dia yakin jika pria itu tidak setuju dengan pernikahan mereka.

Jawaban Christhoper membuat suasana dua keluarga tersebut menjadi tegang. Semua terdiam, tapi Frank segera mengalihkan keadaan. “Kenapa jadi tegang begini? Christhoper suka bercanda, tentu saja dia sudah tidak sabar menikah dengan Amber. Amber juga setuju untuk menikah dengan Christhoper bukan?” tanya Fank sambil menatap Amber, menuntut jawaban.

Dengan mengangguk lemah, Amber mengiyakan, dia tidak mungkin menolak apa yang papa dan mamanya perintahkan meski tahu jika Christhoper tidak sepenuhnya setuju dengan pernikahan tersebut.

Jackob menanggapi perkataan Frank dengan tawa senang. “Baiklah kalau begitu, bagaimana jika mereka menikah di akhir bulan ini?” usul Jackob.

“Ide bagus, aku setuju dengan hal itu,” jawab Frank.

Kedua keluarga itu kemudian melanjutkan acara dengan makan bersama, sedangkan Amber dan Christhoper hanya saling diam karena Christhoper tidak tahu cara berkomunikasi dengan Amber sedangkan Amber tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengajak Christhoper berbicara dengan bahasa isyaratnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 258. Pelampiasan Rasa Marah

    “Apakah kamu sudah mengikuti kegiatan Catelyn? Cari kesempatan agar kamu bisa membawa wanita itu padaku,” ucap Wiston pada anak buahnya. “Setiap hari Catelyn mengantar anaknya ke sekolah tanpa Aaron bersamanya. Namun dia tidak pernah turun dari mobil, sangat susah untuk mendapatkannya,” tutur pria di depan Wiston. “Akan selalu ada kesempatan untuk mendapatkannya. Ikuti terus kegiatan Catelyn, jika dia turun dari mobil untuk belanja atau melakukan kegiatan lain, langsung bawa wanita itu padaku. Aku ingin melihat wanita itu bunuh diri di depanku sama seperti Papa yang mati di depan mataku,” geram Wiston. “Baik Tuan, saya akan terus mengikuti Catelyn. Jika ada kabar terbaru, saya akan langsung mengabarkannya pada Anda.” Pulang dari pekerjaan, hati Wiston penuh dengan kekesalan karena anak buahnya belum bisa mendapatkan Catelyn. Dia membanting pintu rumah dan berjalan menuju kamar, tapi dia ingat jika dia ti

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 257. Sedikit Merasakan Kebebasan

    Lagi-lagi air mata Bride meleleh keluar karena tidak bisa menghindari penyatuan pria itu. Setiap hentakan yang Wiston lakukan, membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri. Dia semakin marah ketika tubuhnya tidak bisa menolak pria itu, tapi malah menikmati setiap gerakannya. Bride kembali menggigit bibir agar Wiston tidak mendengar isak tangisnya. Setiap hujaman dan hentakan pria itu, meneteskan air mata yang meleleh panas. Wiston yang tidak tahu isi hati Bride terus bergerak menikmati celah sempit yang hangat dan lembut milik istrinya. Erangan Wiston mulai terdengar di telinga Bride, sebagai tanda jika pria itu sangat menikmati gerakannya. Ingin sekali dia menutup telinga karena erangan pria itu menandakan jika dirinya memberi kenikmatan pada pria yang semena-mena terhadapnya. Namun hal itu tidak bisa dia lakukan karena tangan Wiston menggenggam tangannya dan menempelkannya di dinding kamar mandi, terlentang di sebelah ka

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 256. Mulai Mengenal Ekspresinya

    Wiston menunda pertemuan pentingnya karena tiba-tiba dia ingin pulang, memeriksa keadaan Bride. Bukan karena dia peduli dengan wanita itu, tapi dia ingin memastikan jika Bride mengikuti aturannya. Makan minum dengan baik dan istirahat yang cukup agar wanita itu cepat hamil. “Sedang apa dia?” tanya Wiston pada pelayannya setelah sampai rumah. “Sedang mandi Tuan, saya juga sudah membawakan makanannya untuk Nona Bride,” jawab pelayan tersebut. Wiston kemudian pergi ke kamar, tapi merasa aneh karena keadaannya begitu sepi. “Bride ...!” panggil Wiston, tapi tidak ada jawaban. “Bride ...!” panggilnya lagi. Wiston mendekati pintu kamar mandi dan menggedornya tapi tidak ada tanda-tanda Bride akan membuka pintunya. “Bride! Buka pintunya atau aku akan mendobraknya sekarang!” seru Wiston. Dia menunggu untuk beberapa

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 255. Kehormatan Terenggut

    Dinding tipis yang menjaga kehormatannya selama ini, runtuh seketika. Inti milik Wiston yang menghantamnya seperti bom meluluh lantahkan dinding itu. Bercak merah menodai sprei sutra berwarna putih yang menjadi alas kedua tubuh yang sedang menyatu itu. Rasa jijik menelusup dalam diri Bride ketika pria itu berhasil mengambil kehormatannya. Dia membuang muka menghindari tatapan Wiston dengan milik pria itu yang masih menyatu di dalam inti miliknya, tubuh kekar pria itu menindihnya membuatnya tak mampu menghindar. Tahu jika Bride menatapnya dengan jijik, Wiston mencengkram rahang wanita itu dan memaksa Bride untuk menatapnya. “Lihat aku! Aku suamimu, kamu tidak punya hak untuk menolakku. Mengerti kamu?” geram Wiston dengan segala kemarahan dalam dirinya. Bride mengangguk takut sambil mencucurkan air mata, menatap pria itu. Tubuhnya bergerak di bawah kungkungan tubuh Wiston ketika pri

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 254. Jangan Membuatku Marah

    “Tapi aku sudah mendaftar untuk melanjutkan semesterku tahun ajaran ini, tidak mungkin aku membatalkannya.” Air mata Bride mengalir dari pelupuk matanya. “Papa sudah menandatangani surat persetujuan jika Papa sebagai wali telah setuju jika kamu menikah dengan Tuan Wiston, jadi ikuti saja apa yang Tuan Wiston katakan.” “Tapi Pa ...” Belum sempat Bride menyelesaikan pembicaraannya dengan papanya, Wiston telah merebut ponsel itu dan mematikan panggilannya. Dia kemudian menyerahkan ponsel itu pada pelayannya. “Sekarang ikut aku!” ujar Wiston mencengkeram lengan Bride dan menyeret wanita itu untuk duduk di tempat duduk yang telah disediakan. Di depannya terdapat dokumen yang harus dia tandatangani. Wiston mengambil pena dari kantong baju dan meletakkannya di hadapan Bride. “Tanda tangani ini!” perintah Wiston. “Tidak ...! Aku tidak ingin menikah denganmu,” seru Bride m

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 253. Alat Ganti Rugi

    “Di mana wanita itu?” Suara bariton seorang pria menggema di ruang tengah rumahnya. “Masih dalam perjalan, Tuan. Apakah Tuan akan istirahat lebih dulu? Mengingat Tuan baru saja datang dari perjalanan yang cukup melelahkan,” tanya seorang pelayan kepercayaannya. “Rasa lelahku terobati dengan berita kematian Nolan. Sangat disayangkan, aku tidak bisa membalas langsung perbuatan pria berengsek itu. Aku masih mempunyai anak perempuannya untuk dihancurkan,” jawab pria tersebut. Sang pelayan yang tampak kurang setuju dengan usul majikannya itu hanya terdiam tanpa berani menanggapi. “Aku akan ke kamarku. Beritahukan aku jika wanita itu sudah datang,” kata pria itu. “Baik Tuan,” ucap pelayan itu patuh. “Apakah semua sudah siap? Pastikan dia tidak sedang hamil dan dalam keadaan bersih! Aku ingin memastikan jika wanita itu mengandung anakku,” tegasnya. “Se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status