Mag-log inBukannya membersihkan diri, dia malah terduduk di pinggir bathtub sambil merenung, memikirkan semua yang terjadi di hari ini. Baru tadi pagi dia masih bergumul dengan kotoran dan pakan sapi, dengan bau yang tidak sedap, sekarang dirinya berada di istana dengan fasilitas yang serba mewah. Malu dengan keadaan tubuhnya dan pakaian sederhana yang dia pakai, dia segera masuk ke bawah pancuran, membuka semua pakaiannya dan membersihkan tubuhnya dengan sabun mewah yang ada di sana. Dia keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandi yang tersedia di sana. Ketika membuka pintu hendak keluar dari kamar mandi, Tanisa melihat Ricky telah berbaring di ranjang dengan menopangkan lengan menutupi kening dan matanya. Pria itu bahkan berbaring tanpa selimut dan masih dengan sepatu di kakinya. Tanisa mendekati pria itu dan mendengar dengkuran halus keluar dari bibir Ricky. Ricky terlihat sangat kelelahan, seharian dia mengendarai mobil tanpa berhenti. Tanisa menatap pria itu dengan tatapan yang t
“Tidak ada kata terlambat dalam memperjuangkan cintamu. Pergilah dan bawa Tanisa kembali, aku akan membatalkan semua kontrakku dengan Tanisa. Dia tidak akan mendapatkan masalah jika kamu membawanya kembali,” ujar Aaron. Ricky tersenyum dan keluar begitu saja dari ruangan Aaron tanpa mengucapkan terima kasih. Fokusnya kini hanya tertuju untuk membawa Tanisa pulang bersamanya. “Nona Tanisa ...!” “Nona Tanisa ...!” “Ada apa kamu berteriak seperti itu?” tegur Tanisa pada pengasuhnya yang berlari menyusulnya ke peternakan. “Kenapa kamu ke sini? Di mana Ewald? Apakah kamu meninggalkannya sendiri di rumah?” cecar Tanisa penuh kekhawatiran. “Tuan Ricky, dia datang,” ucap pengasuh itu dengan nafas terengah. “Mau apa lagi dia datang ke desa ini?” “Dia bilang ingin membawa Ewald pergi bersamanya.” “APAAA...?” Tanisa segera menghentikan kegiatannya di peternakan dan berlari pulang untuk mencegah apa yang akan Ricky lakukan pada putranya. “APA YANG KAMU LAKUKAN ...? BERIKAN EWALD PADAKU
Jauh dari pandangan Tanisa dan Fabio, rahang Ricky mengeras menatap kedua orang tersebut saling berpelukan. Tangan Ricky mengepal merasakan kemarahan yang menghentakkan dadanya. Dia berbalik memunggungi pemandangan yang menyakitkan tersebut. “Apakah kini tidak ada kesempatan lagi baginya untuk mendapatkan hati Tanisa?” Menjauh dari pemandangan tersebut, Ricky berjalan menuju rumah Tanisa dan masuk ke sana, celoteh Ewald mengalihkan perhatiannya. Dia mendekati anak itu dan bercanda dengan Ewald. Bermain bersama anak itu membuat hatinya dingin kembali, Ewald selalu bisa meredam kemarahannya. “Tuan, apakah saya bisa pergi ke belakang sebentar?” tanya pengasuh Ewald menitipkan anak tersebut pada Ricky. “Biarkan aku yang menjaga Ewald, pergilah!” ujar Ricky mengizinkan. Baru saja pengasuh itu menghilang dari pandangan Ricky, Ewald yang lepas dari pengawasan pria itu berjalan mengambil gelas berisi air minum dan menumpahkan semua isinya ke baju yang dia pakai. Bukannya merasa bersalah,
Seperti terhipnotis, Tanisa melangkah mendekati Ricky. Dia mendengar dengkuran halus dari mulut pria itu yang setengah terbuka, terlihat sekali jika Ricky tidur sangat nyenyak. Dia tidak tahu jika semalam Ricky sama sekali tidak tidur karena mengawasinya dari jauh, mengira dia bercinta dengan Fabio. Tangan Tanisa terulur untuk menarik selimut miliknya agar menutupi perut dan dada pria itu karena dia takut tidak bisa mengendalikan diri menatap pemandangan menggoda tersebut. Fokusnya teralihkan ketika melihat perban yang tertempel seadanya di atas luka Ricky. Bahkan perban itu tidak menutup seluruh lukanya. Pria itu pasti menutup lukanya sendiri dengan sembarangan. Tidak tega melihat hal tersebut, dia mengambil kotak obat dan mengobati luka di punggung tangan dan muka Ricky serta memperbaiki ikatan perban yang Ricky buat. Selesai dengan hal tersebut, dia masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk makan siang. Dirinya terkejut ketika membuka pintu kamar mandi dan me
Hujan begitu lebat dengan petir yang menggelegar selalu membuat Ewald tidak bisa tidur. Tanisa sudah bersiap untuk terjaga malam ini dan itu akan menjadi hari yang melelahkan besok pagi. Belum lagi dia harus mengurus peternakan, itu artinya dia tidak akan tidur lebih dari 30 jam. Fabio yang tahu jika Ewald akan gelisah dengan cuaca buruk, memutuskan untuk datang ke rumah Tanisa dan membantu wanita itu menjaga Ewald. Ketika Tanisa membuka pintu rumah, senyum lebar menyambut kedatangan Fabio, dia memeluk Fabio dengan hangat setelah pria itu melepas mantel hujannya. “Aku selalu merepotkanmu,” ucap Tanisa melihat kedatangan Fabio. “Dan aku akan mendapatkan makan malam yang hangat,” balas Fabio. “Masuklah! Ewald masih bermain dan belum bisa tidur karena hujan yang deras.” “Aku akan membantumu menjaga Ewald agar kamu bisa beristirahat. Aku tahu kamu punya banyak pekerjaan besok pagi,” kata Fabio sambil mendekati Ewald yang masih sibuk bermain. “Kamu pria yang sangat baik Fabio. Aku ti
Mendengar perkataan tersebut, tubuh Ricky seketika membeku. Anak yang ada di dalam gedongannya tersebut ternyata anak yang kemarin dia lihat bersama Tanisa dan seorang pria yang tidak dikenalnya. Menatap mata anak itu, tiba-tiba darah Ricky berdesir, seakan ada sesuatu yang mengalir hangat ke dalam hatinya. Apalagi ketika Ewald menyentuh pipinya dan berceloteh riang, dia menanggapi dengan gurauan yang menghibur anak itu. Sungguh anak yang tampan dengan pesona yang tidak bisa dia abaikan. Ricky mengusap-usapkan wajahnya ke perut Ewald membuat anak itu tertawa terkikik geli. Aroma Ewald menjadi candu baru untuknya. Untuk sesaat dia tenggelam dalam candaan menyenangkan bersama dengan Ewald. Tanisa yang baru saja keluar dari rumah seketika terkejut melihat kebersamaan Ricky dengan Ewald. Matanya seketika berkabut dengan hati yang berkecamuk gelisah. Tangannya yang gemetar disembunyikannya di bawah pakaian yang dia bawa. Dengan wajah pucat dan mulut mengering, Tanisa menguatkan diri un







