LOGINMobil Gloria yang menjemputnya dari bandara membawanya menuju ke sebuah rumah besar yang berada di atas bukit. Ke rumah keponakannya yang bernama Vincent, yang besok akan bertunangan. Rumah itu lebih mirip sebuah kastil, dibanding rumah biasa pada umumnya. Ada dua menara tinggi di sebelang kanan dan kiri bangunan dengan atap lancip. Pintu gerbangnya begitu tinggi dan tidak sembarangan orang yang bisa memasukinya. Ketika Gloria memasuki rumah besar itu, seorang wanita cantik dan ramah menyambut Gloria. “Selamat siang Nyonya Gloria. Perkenalkan nama saya Faine, saya asisten rumah tangga di sini yang menangani semua kebutuhan di rumah ini, khususnya kebutuhan Tuan Vincent,” ujar wanita itu memperkenalkan diri. “Kamu gadis yang sangat ramah. Senang berkenalan denganmu,” balas Gloria. “Terima kasih Nyonya,” ucap Faine dengan senyum mengembang lebar di pipinya. “Apakah aku bisa menemui Vincent?” tanya Gloria sambil melepas kacamata hitamnya. “Keadaan Tuan Vincent sedang tidak begitu b
Karina terdiam mendengar informasi yang Drew berikan. Dia merasa, Drew sepertinya sangat ingin agar dirinya memahami karakter atasannya tersebut, tapi dia tidak tahu maksud tersembunyi dari pria itu. Langkahnya terhenti ketika dirinya dan Drew sampai di depan pintu sebuah ruangan. “Masuklah! Tuan Vincent sudah menunggumu di dalam,” ujar Drew. “Kamu akan meninggalkanku?” tanya Karina yang tiba-tiba merasa takut. “Aku ada di sini menunggumu. Tuan Vincent tidak akan melukaimu. Tenanglah!” ujar Drew. Karina pun mengangguk, mengiyakan. Derit pintu yang terbuka terdengar di telinga Karina, membuatnya semakin gugup. Aura mencekam seketika terasa olehnya. Ketika dia masuk ke dalam ruangan tersebut, pintu pun ditutup oleh Drew, membuatnya menggigil karena membayangkan hal yang tidak baik terjadi pada dirinya. “Kenapa aku harus percaya pada orang asing? Betapa bodohnya diriku,” batin Karina yang mengira Drew telah menjebaknya. “Permisi,” ucap Karina dengan nada bergetar, matanya menangkap
“Pergi dari sini jika kamu tidak mempunyai uang untuk membayar sewanya,” teriak seorang wanita setengah baya di depan wajah Karina. “Aku sedang mencari pekerjaan, aku berjanji akan segera membayar uang sewanya jika sudah mendapatkan pekerjaan,” mohon Karina. “Aku juga butuh uang untuk makan. Aku menyewakan kamar ini untuk mendapatkan uang bukan untuk menampung gelandangan seperti dirimu. Bayar sekarang juga! Atau keluar dari kamar ini,” teriak wanita. “Maafkan aku, aku belum bisa membayarnya. Bisakah kamu memberiku sedikit tambahan waktu lagi?” pinta Karina. “Tidak ada tambahan waktu untukmu. Keluar sekarang juga dari kamar ini!” teriak orang itu lalu melemparkan semua barang milik Karina keluar dari kamar, lalu membanting pintu kamar tersebut untuk menutupnya. Karina hanya menatap kosong semua barang di depannya yang berantakan di lantai. Tidak ada air mata yang keluar dari matanya. Dia hanya berdiri terdiam, merasakan betapa terhinanya dirinya. Setelah yakin dirinya terusir, di
Amber dan Catelyn membuka kamar Tanisa dan berteriak kencang sambil memeluk calon pengantin wanita dengan penuh semangat. “Ada apa ini? Aku yang menikah tapi kalian yang bersemangat,” ucap Tanisa yang terkejut dengan sikap kedua wanita yang sedang memeluknya. Persiapan pernikahan Tanisa yang dibantu oleh Amber dan Catelyn, membuat ketiganya akrab satu sama lain. Seperti para suami mereka, para wanita pun menjalin pertemanan yang erat. “Kami sangat bahagia hari ini. Selain karena pernikahanmu, karena ini ...” seru Amber sambil menarik tangan Tanisa ke jendela kamarnya. “Lihatlah! Setelah sekian tahun, kini aku bisa melihat hal yang dulu terasa mustahil tapi hari ini terjadi,” lanjut Amber. Tanisa tersenyum dengan mata berkabut melihat Ricky bisa akrab kembali bersama Christhoper dan Aaron, bahkan kini mereka sedang asyik bercerita dengan tawa di wajah ketiganya. Tampak sekali jika Christhoper dan Aaron sedang menggoda Ricky. “Akulah awal dari pertikaian mereka,” gumam Amber dengan
Pernikahan Christhoper dan Amber berjalan tanpa kendala yang berarti. Setelah menidurkan kedua anaknya Marcelo dan Jenifer, Amber sengaja memakai pakaian lingerie yang Christhoper belikan sebagai kado ulang tahun pernikahan mereka. Amber membuka pintu kamar mandi dan bergaya bak model. Christhoper yang menatap istrinya seketika membuang ponsel yang sedang dia gunakan untuk mengurus pekerjaannya. “Sempurna,” gumam Christhoper menatap istrinya. Lingerie mahal itu bahkan tidak mampu menutupi keindahan tubuh istrinya. Christhoper merasa heran, kenapa ada toko yang menjual pakaian cukup mahal padahal benang yang mereka gunakan sangat sedikit, bahkan tak mampu menutupi tubuh pemakainya dan dia yakin Amber hanya akan memakai lingerienya tidak sampai lima menit karena dirinya akan segera melucutinya. Amber yang sudah ahli dalam menggoda suaminya, berjalan perlahan mendekati pria itu. Christhoper seketika menggosokkan tangan yang terasa gatal untuk menyentuh tubuh istrinya. “Cepatlah Saya
Kepala Tanisa menengadah ke belakang ketika Ricky bergerak berulang kali menghentakkan miliknya. Ricky mengerang, merasakan kehangatan dan kelembutan Tanisa yang mengetat. Leher jenjang dan dada Tanisa terpampang di depannya menjadi sajian yang sangat lezat. Tanpa ragu, dia melahap apa yang tersaji tersebut. Desahan Tanisa terdengar menggema di tengah danau ketika Ricky mengecap bahu dan puncak dadanya yang mengeras. Bunyi kecipak air di sekitar mereka akibat dari gerakan tubuh keduanya menjadi suara yang menyatu dengan alam, bersahutan dengan suara desahan Tanisa. Danau tersembunyi itu kini menjadi tempat penuh kenangan bagi Ricky dan Tanisa. Suka dan duka yang keduanya lewati, terekam oleh danau tersebut. Keduanya berharap danau kecil itu selamanya akan tetap menjadi milik mereka berdua. Pekikkan tertahan dari bibir Tanisa terdengar bersamaan dengan erangan keras Ricky. Tangan Tanisa mencengkeram kuat bahu pria itu ketika denyutannya datang. Bibir mereka saling menyatu, meredam







