MasukPenolakan Amber membuat Christhoper kembali mengangkat tangan ingin menampar wanita yang dia anggap sebagai penyebab kematian anaknya. Amber menundukkan kepala dan melindungi wajahnya dengan kedua tangan, bersiap menerima pukulan Christhoper.
“Christhoper, cukup! Jangan membuatku bertambah sedih dengan kekacauan yang kamu buat,” teriak Delia membuat Christhoper mengurungkan niatnya memukul Amber. “Kamu dengar dia?! Bahkan Delia masih membelamu ketika keluargamu telah membunuh anak kami,” seru Christhoper sambil mendorong tubuh Amber sampai terjatuh di lantai rumah sakit yang keras. Amber hanya bisa menangis terisak di sana tanpa berniat untuk bangun dari tempatnya terjatuh. Dia sudah tidak mempunyai tenaga lagi untuk menanggapi sikap kasar Christhoper. “Ikut aku!” bentak Christhoper kepada wanita yang kini dibencinya itu. Amber menggeleng ketakutan, menolak ajakan suaminya, namun Christhoper memaksanya dengan menyeret tubuhnya. “Kamu mau ke mana?” tanya Delia yang khawatir jika Christhoper meninggalkannya sendiri. “Memberi wanita ini pelajaran. Aku akan pergi sebentar dan kembali untuk menemanimu,” ucap Christhoper yang membuat Delia merasa tenang sehingga mengizinkan kekasihnya pergi bersama Amber. Senyuman lebar terkembang di bibir Delia ketika melihat Christhoper menarik paksa tangan istrinya dan menyakiti wanita itu. “Mampus kamu, Amber. Aku tidak akan membiarkanmu merebut Christhoper dari tanganku. Boleh saja kamu menjadi istrinya, tapi tubuh dan hati Christhoper hanya milikku,” gumam Delia merasa puas dengan keberhasilan dramanya. Dengan kecepatan tinggi, Christhoper mengendarai mobilnya menuju rumah. Dia melempar tubuh istrinya dengan kasar ke atas ranjang. “Katakan jika kamu bersedia melayani Delia dan menyediakan apa yang dia butuhkan sampai dia sembuh?” perintah Christhoper yang ditanggapi gelengan kepala oleh Amber sebagai tanda penolakan. “Apakah kamu tidak mau mengakui kesalahan keluargamu yang tega membunuh janin tak bersalah? Dengar! Kesalahan keluargamu adalah kesalahanmu juga. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus memperbaiki kesalahan keluargamu,” geram Christhoper. “Aku tahu keluargaku bersalah, tapi bukan begini cara menyelesaikannya,” tangan Amber bergerak mencoba berkomunikasi dengan suaminya, tapi setiap kali dia memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu, kemarahan Christhoper malah semakin memuncak. Hal itu membuatnya ketakutan dan putus asa. “Aku tidak tahu apa yang kamu katakan, dasar wanita bisu merepotkan!” bentak Christhoper yang kalap karena rasa marahnya. Perkataan kasar itu membuat Amber semakin kehilangan rasa percaya dirinya. Air mata Amber langsung meleleh mendengar hal tersebut, anak kecil yang dulu sangat perhatian padanya dan berjanji akan menjadi pelindungnya kini telah berubah menjadi pria kasar yang terus menyakiti dirinya. Amber beringsut ke pinggir ranjang ketika melihat Christhoper tiba-tiba membuka celananya. “Apa yang akan kamu lakukan?” tangan Amber bergerak gugup. Seringai sinis terukir di bibir Christhoper. “Kamu akan merasakan bagaimana rasa sakit itu,” kata Christhoper dengan nada yang menakutkan bagi Amber. Merasa terancam, Amber berusaha menghindar dengan segera turun dari ranjang dan berlari ke arah pintu. Selangkah lagi dia menggapai pegangan pintu, Christhoper berhasil menangkap tubuhnya dengan melingkarkan tangan ke perutnya lalu menariknya. Dengan ringan pria itu menangkap dan membawa tubuhnya lalu kembali melemparkan tubuhnya dengan kasar ke ranjang. Amber berteriak merasakan sakit yang menyengat di punggungnya, tapi hanya mulutnya saja yang membuka tanpa suara apa pun yang keluar. Dia ketakutan ketika Christhoper menyobek pakaiannya dan menggunakan pakaian itu untuk mengikat tangannya ke tiang ranjang sehingga dia tidak bisa pergi ke mana-mana lagi. Dia berusaha berteriak minta tolong, tapi lagi-lagi tidak ada suara yang keluar. Lelehan panas air mata mulai membasahi pipi dan wajah Amber, tapi Christhoper sama sekali tidak merasa kasihan. Kakinya menedang apa pun di depannya untuk menjauhkan Christhoper dari tubuhnya, tapi pria itu langsung menindih kakinya dan menekannya. Amber kembali membuka mulut, menjerit tanpa suara ketika berat tubuh Christhoper melukai kakinya. Otot lututnya seakan tertarik karena beban berat Christhoper yang menimpanya, membuat kakinya terasa sangat sakit dan tak bisa digerakkan. Ketika dia tidak bisa melawan lagi, Christhoper dengan mudah menelanjanginya. Pria itu membuka celana dan tanpa rasa kasihan menyatukan miliknya ke dalam miliknya, tanpa menunggu dirinya siap atau belum menerimanya. Rasa menyengat menyakitkan dirasakannya di inti miliknya. Hatinya hancur berkeping-keping, suaminya sendiri melecehkannya dan dia tidak mempunyai suara untuk meminta tolong ataupun membela diri. Jika dia mempunyai suara, saat ini dia pasti sedang berteriak kesakitan. Namun tanpa suaranya, hanya ada raut wajah yang begitu menyedihkan dengan air mata yang menggenangi wajahnya. Betapa lemah dirinya, malam ini untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasa menjadi wanita paling lemah di dunia ini. Amber menggigit bibir hingga berdarah ketika Christhoper mulai menghentakkan miliknya berkali-kali hingga akhirnya terdengar erangan puas dari bibir pria itu. Pria itu meledak dan memenuhi rahimnya dengan ledakan gairah. Christhoper kemudian menyapukan tangan ke keningnya yang berkeringat karena aktifitas yang baru saja dia lakukan, lalu menjauh dari tubuh Amber. Dia menarik selimut lalu melemparkannya ke atas tubuh Amber untuk menutup ketertelanjangan wanita itu. Seringai jahat terlihat di wajah pria itu. “Itulah yang namanya rasa sakit! Apa yang kamu rasakan belum seberapa dibanding dengan apa yang Delia rasakan. Mulai detik ini, lakukan apa yang aku perintahkan padamu atau aku akan menyakitimu lebih dalam lagi,” kata Christhoper sambil mengancingkan celana. Pria itu meninggalkan Amber begitu saja di atas ranjang dengan tangan yang masih terikat di tiang ranjang. Dia kembali ke rumah sakit untuk menemani Delia. Amber masih menangis terisak tanpa suara selama beberapa jam setelah apa yang dia alami, tapi setelah itu tidak ada lagi air mata yang bisa keluar dari matanya, selain hati yang hancur dan rasa jijik di tubuhnya kerena kehormatan yang telah terambil dengan cara yang sangat menyakitkan. Hingga matahari terbit dan cahayanya masuk ke kamar, mata Amber tidak bisa terpejam. Dia hanya menatap kosong dinding kamar di depannya. “Oh... astaga,” teriak seorang pelayan yang masuk ke kamar berniat membersihkan kamar tersebut, tapi malah menemukan majikannya dengan keadaan menyedihkan. Pelayan itu segera berlari mendekati ranjang lalu melepas ikatan tangan Amber. Dia tidak tega melihat keadaan majikannya tersebut. Pipi Amber membiru dengan bekas tangan yang tampak jelas. Terlihat darah di pinggir bibirnya karena bekas gigitannya sendiri menahan rasa sakit ketika Christhoper melecehkannya. Lengannya membiru bekas cengkeram Christhoper. Ketika pelayan itu ingin memindahkan tubuhnya, dia meringis kesakitan, pelayan itu tersentak melihat punggungnya yang membiru dan lututnya yang bengkak tak bisa digerakkan. Tidak tahan melihat keadaan Amber, pelayan itu berkata, “Tunggu sebentar Nyonya, saya akan mengambil air hangat untuk membersihkan tubuh Anda.” Pelayan itu pergi sambil meneteskan air mata tidak tega melihat majikannya diperlakukan dengan keji tapi dia tidak mampu melawan Tuannya. Pelayan itu kembali dengan mata yang masih memerah sambil membawa handuk bersih dan air hangat. Tangisannya pecah kembali ketika melihat noda merah mengotori sprei putih di bawah tubuh Amber. Sedangkan Amber hanya menunjukkan ekspresi datar seolah-olah tidak terjadi apa pun dengan dirinya. Begitulah cara Amber mengatasi rasa sakit dan traumanya. Dengan hati-hati pelayan itu memakaikan pakaian ke tubuh Amber dan mengganti seprai yang ternoda. Khawatir akan lutut Amber yang membengkak, pelayan itu memberanikan diri untuk menelepon Tuannya. “Ada apa?” tanya Christhoper kesal karena tidak ingin diganggu jika sedang bersama Delia. “Tuan, lutut Nyonya membengkak dan tidak bisa digerakkan, apakah saya boleh memanggil dokter?” tanya pelayan tersebut. “Biarkan saja seperti itu, jangan sampai kamu berani memanggil dokter untuknya. Itulah hukumannya jika menjadi istri yang tidak mau menuruti perintah suami,” jawab Christhoper dengan sadis karena tega membiarkan istrinya kesakitan. Christhoper sendiri sebenarnya tidak tahu, luka seperti apa yang Amber alami, dia mengira Amber hanya bersikap manja. Sadar jika dia tidak mampu melawan Tuannya, pelayan itu kemudian menjawab dengan pasrah. “Baik Tuan.” Baru saja Christhoper menutup telepon, dokter datang ke kamar Delia dirawat. Dia mengabarkan jika keadaan Delia sudah cukup membaik. Besok Delia sudah bisa dibawa pulang, dengan catatan Delia harus cukup istirahat dan tidak melakukan kegiatan berat terlebih dahulu. “Aku tidak bisa cukup istirahat jika di apartemen sendiri. Tidak ada yang membantu dan mengurusku,” ucap Delia ketika dokter tersebut telah pergi. “Tenanglah, untuk sementara kamu akan tinggal bersamaku,” kata Christhoper menenangkan. Senyum Delia terkembang di bibirnya mendengar hal tersebut. Itu artinya dia bisa membuat Amber menjauh dari Christhoper. Saat Amber melihat Christhoper membawa Delia pulang, dia menolak hal tersebut. “Kamu tidak bisa membawa Delia ke rumah ini. Aku istrimu, Christhoper. Seharusnya kamu menghargaiku sebagai istrimu.” Amber menggerakkan tangan mencoba memberi pengertian pada suaminya. “Minggir, wanita bisu! Aku tidak tahu apa yang kamu katakan,” kata Christhoper sambil menyingkirkan tubuh Amber yang menghalangi pintu masuk rumahnya dan merangkul Delia membawanya masuk ke rumah. Amber mengejar mereka dengan kaki terpincang karena baru saja sembuh dari perlakuan kasar suaminya. “Kamu tidak bisa berbuat seperti ini padaku. Jika keluarga kita melihat apa yang kamu lakukan, mereka akan marah dan kecewa padamu.” Amber berusaha menjelaskan dengan bahasa bibir sambil menggerakan tangan berharap suaminya mengerti apa yang dia katakan. Christhoper yang sama sekali tidak mengerti apa yang Amber katakan, mendorong tubuh istrinya hingga terjatuh. “Ingat Amber, hubungan kita sebagai suami istri hanyalah status di atas kertas semata, agar Papaku tidak berhutang budi lagi pada Papamu, sekarang urusan mereka sudah impas. Hutang itu sekarang berpindah di pundakmu. Berhubung keluargamu telah mencelakai Delia, maka kamu harus melayaninya sampai Delia sembuh,” geram Christhoper yang kemudian meninggalkan Amber terjatuh di lantai begitu saja tanpa rasa kasihan. Delia hanya pura-pura diam mendengar pertengkaran suami istri tersebut, tapi dalam hati dia bersorak senang. Dia merasa yakin telah memenangkan persaingan dirinya dengan Amber. Ketika Amber menatap mereka dengan tatapan terluka, Delia sengaja meletakkan kepala di dada Christhoper sehingga pria itu memelukkan.Jauh dari pandangan Tanisa dan Fabio, rahang Ricky mengeras menatap kedua orang tersebut saling berpelukan. Tangan Ricky mengepal merasakan kemarahan yang menghentakkan dadanya. Dia berbalik memunggungi pemandangan yang menyakitkan tersebut. “Apakah kini tidak ada kesempatan lagi baginya untuk mendapatkan hati Tanisa?” Menjauh dari pemandangan tersebut, Ricky berjalan menuju rumah Tanisa dan masuk ke sana, celoteh Ewald mengalihkan perhatiannya. Dia mendekati anak itu dan bercanda dengan Ewald. Bermain bersama anak itu membuat hatinya dingin kembali, Ewald selalu bisa meredam kemarahannya. “Tuan, apakah saya bisa pergi ke belakang sebentar?” tanya pengasuh Ewald menitipkan anak tersebut pada Ricky. “Biarkan aku yang menjaga Ewald, pergilah!” ujar Ricky mengizinkan. Baru saja pengasuh itu menghilang dari pandangan Ricky, Ewald yang lepas dari pengawasan pria itu berjalan mengambil gelas berisi air minum dan menumpahkan semua isinya ke baju yang dia pakai. Bukannya merasa bersalah,
Seperti terhipnotis, Tanisa melangkah mendekati Ricky. Dia mendengar dengkuran halus dari mulut pria itu yang setengah terbuka, terlihat sekali jika Ricky tidur sangat nyenyak. Dia tidak tahu jika semalam Ricky sama sekali tidak tidur karena mengawasinya dari jauh, mengira dia bercinta dengan Fabio. Tangan Tanisa terulur untuk menarik selimut miliknya agar menutupi perut dan dada pria itu karena dia takut tidak bisa mengendalikan diri menatap pemandangan menggoda tersebut. Fokusnya teralihkan ketika melihat perban yang tertempel seadanya di atas luka Ricky. Bahkan perban itu tidak menutup seluruh lukanya. Pria itu pasti menutup lukanya sendiri dengan sembarangan. Tidak tega melihat hal tersebut, dia mengambil kotak obat dan mengobati luka di punggung tangan dan muka Ricky serta memperbaiki ikatan perban yang Ricky buat. Selesai dengan hal tersebut, dia masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk makan siang. Dirinya terkejut ketika membuka pintu kamar mandi dan me
Hujan begitu lebat dengan petir yang menggelegar selalu membuat Ewald tidak bisa tidur. Tanisa sudah bersiap untuk terjaga malam ini dan itu akan menjadi hari yang melelahkan besok pagi. Belum lagi dia harus mengurus peternakan, itu artinya dia tidak akan tidur lebih dari 30 jam. Fabio yang tahu jika Ewald akan gelisah dengan cuaca buruk, memutuskan untuk datang ke rumah Tanisa dan membantu wanita itu menjaga Ewald. Ketika Tanisa membuka pintu rumah, senyum lebar menyambut kedatangan Fabio, dia memeluk Fabio dengan hangat setelah pria itu melepas mantel hujannya. “Aku selalu merepotkanmu,” ucap Tanisa melihat kedatangan Fabio. “Dan aku akan mendapatkan makan malam yang hangat,” balas Fabio. “Masuklah! Ewald masih bermain dan belum bisa tidur karena hujan yang deras.” “Aku akan membantumu menjaga Ewald agar kamu bisa beristirahat. Aku tahu kamu punya banyak pekerjaan besok pagi,” kata Fabio sambil mendekati Ewald yang masih sibuk bermain. “Kamu pria yang sangat baik Fabio. Aku ti
Mendengar perkataan tersebut, tubuh Ricky seketika membeku. Anak yang ada di dalam gedongannya tersebut ternyata anak yang kemarin dia lihat bersama Tanisa dan seorang pria yang tidak dikenalnya. Menatap mata anak itu, tiba-tiba darah Ricky berdesir, seakan ada sesuatu yang mengalir hangat ke dalam hatinya. Apalagi ketika Ewald menyentuh pipinya dan berceloteh riang, dia menanggapi dengan gurauan yang menghibur anak itu. Sungguh anak yang tampan dengan pesona yang tidak bisa dia abaikan. Ricky mengusap-usapkan wajahnya ke perut Ewald membuat anak itu tertawa terkikik geli. Aroma Ewald menjadi candu baru untuknya. Untuk sesaat dia tenggelam dalam candaan menyenangkan bersama dengan Ewald. Tanisa yang baru saja keluar dari rumah seketika terkejut melihat kebersamaan Ricky dengan Ewald. Matanya seketika berkabut dengan hati yang berkecamuk gelisah. Tangannya yang gemetar disembunyikannya di bawah pakaian yang dia bawa. Dengan wajah pucat dan mulut mengering, Tanisa menguatkan diri un
“Aku sudah mencoba menghubunginya tapi pemiliknya sangat susah ditemui. Terakhir, aku titip pesan pada penjaga rumah itu dan dia berkata jika pemiliknya tidak ingin menjual tanah dan rumahnya,” cerita Tanisa dengan sedikit rasa sedih. “Jangan khawatir, ada saatnya nanti pemiliknya butuh uang dan kamu bisa membelinya,” Fabio menenangkan Tanisa. “Ya, aku juga berpikir seperti itu. Aku sudah memberikan nomor ponselku dan jika sewaktu-waktu pemiliknya ingin menjualnya, dia bisa menghubungiku.” “Apakah kamu mempunyai opsi lain? Dengan membeli tanah yang dekat dengan warisan papamu di desa misalnya? Sehingga kamu tetap bisa tinggal di desa meski tanpa rumah dan tanah warisan papamu.” “Itu juga sempat aku pikirkan tapi itu akan menjadi opsi terakhirku. Yang pasti saat ini aku masih ingin fokus mengembangkan peternakan di sini dan menyelesaikan tugas dari Aaron untuk membayar kerugian yang Karina sebabkan.” “Kenapa kamu tetap saja peduli dengan wanita itu? Dia bukan siapa-siapamu,” ujar
"Aku sudah mengirimkan alamatnya ke ponselmu,” seru Catelyn sebelum Ricky benar-benar menghilang. “Terima kasih,” kata Ricky sambil membuka handle pintu rumah mereka. “Ricky ...!” panggil Aaron menghentikan langkah temannya. Ricky menoleh menatap Aaron. “Hati-hati di jalan! Semoga semua urusanmu berhasil,” ucap Aaron dengan tulus. Ricky mengangguk mengiyakan lalu menghilang dengan cepat ke balik pintu utama rumah itu. Aaron dan Catelyn seketika saling pandang melihat tingkah Ricky. Mereka yakin ada sesuatu di antara Ricky dan Tanisa. “Apakah kamu tahu sesuatu?” tanya Catelyn. “Aku tidak tahu apa-apa. Ricky tidak pernah bercerita tentang Tanisa. Aku malah mengira Ricky tidak menyukai wanita itu. Alasan Karina mengusir Tanisa dari rumahnya karena Ricky menyuruh Karina lepas dari kekangan kakaknya. Alasan Karina menghilang pun karena Tanisa yang mengungkapkan kebenaran jika Ricky dan Karina adalah saudara kandung. Aku rasa tidak ada alasan bagi Ricky untuk menyukai wanita itu,” jaw







