Mag-log in“Mau ke mana kamu anak nakal? Apakah kamu tahu jika ada anak nakal yang berbuat salah dan tak mau mengakui kesalahan, orang tuanya akan menguncinya di ruangan yang sempit sampai dia mau mengakui kesalahannya,” ucap Christhoper yang membuat Amber semakin ketakutan.
Amber menggelengkan kepala sambil menyatukan kedua tangan di depan dada, memohon agar Christhoper tidak melakukan hal tersebut. Namun pria itu tak menghiraukan permohonannya. Christhoper tidak tahu jika dia memiliki trauma dan takut pada ruangan sempit dan gelap. Tanpa rasa kasihan, Christhoper menyeret dan memasukkannya ke ruangan sempit tersebut. Pria itu melemparkan tubuhnya ke atas ranjang bekas yang ada di sana. Amber mengira, Christhoper akan langsung meninggalkannya, tapi pria itu mendekatinya sambil membuka ikat pinggangnya. Melihat hal tersebut seketika dia merasa takut lalu beringsut ke ujung ranjang, menjauh dari jangkauan suaminya. “Karena kamu bukan anak kecil lagi dan kamu adalah istriku, jadi ada hukuman tambahan untukmu,” ucap Christhoper dengan seringai menakutkan. Amber menggelengkan menolak apa yang akan Christhoper lakukan padanya. Dia terus beringsut menjauh ketika pria itu mendekatinya, tapi terhenti ketika punggungnya tertahan dinding ruangan. Tanpa belas kasihan dan diliputi rasa marah, Christhoper menarik kakinya yang membuatnya jatuh terlentang di atas ranjang. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Christhoper, dia langsung menindih tubuh Amber. Tangannya menahan tangan Amber agar tidak bisa memberontak. Tahu jika tidak bisa berbuat apa-apa, air mata Amber mengalir deras membasahi pipi. Ketika Christhoper mendekatkan bibirnya, Amber sengaja memalingkan wajah sehingga Christhoper hanya bisa mengecup pipinya. Pemberontakannya membuat kemarahan pria itu semakin memuncak. Plaakkk Christhoper kembali menampar Amber hingga bibirnya berdarah. Isak tangisnya semakin keras, tapi tidak ada suara apa pun yang keluar dari mulutnya. Dengan kuat Christhoper mencengkeram dagunya, lalu mendekatkan wajahnya serta menggigit bibirnya hingga dia mengernyit kesakitan, tubuhnya semakin gemetar ketakutan menahan rasa sakit. “Buka mulutmu!” geram Christhoper karena dia terus mengatupkan mulutnya. Dengan patuh, Amber melakukan apa yang Christhoper perintahkan. Pria itu pun langsung melumat dan menjelajahi mulutnya serta menyapu semua yang ada di sana. Sadar jika pemberontakannya sia-sia dan hanya akan menyakiti dirinya, dia lagi-lagi hanya bisa diam ketika suaminya menyingkap rok yang dia pakai, lalu menurunkan paksa celana pelindungnya. Dengan air mata yang semakin deras mengalir, Amber langsung memejamkan mata melihat Christhoper membuka celana. Dia menggigit bibirnya sampai berdarah ketika sesuatu menekan miliknya. Rasanya sangat menyakitkan ketika pria itu menyatukan miliknya. “Cukup Christhoper! Hentikan!” perkataan itu hanya bisa Amber teriakkan dalam hati. Anak laki-laki yang dulu berjanji akan melindunginya, kini kembali melecehkannya. Rasa perih itu semakin menyengat ketika Christhoper menghentakkan dan menghujamkan miliknya ke dalam miliknya. Tubuhnya terus terlonjak dan bergerak seirama dengan gerakan pinggul suaminya. Gigitan Amber pada bibirnya semakin kuat ketika tubuhnya sendiri mengkhianatinya. Denyutan perih dan menyakitkan itu perlahan menghilang dan berganti menjadi denyutan nikmat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan tidak dia rasakan ketika Christhoper melakukannya pertama kali. “Menikmatinya hmm ...?” sindir Christhoper sambil terus bergerak. Denyutan milik Amber pun datang dan meremas milik Christhoper, membuat pria itu mengerang merasakannya. Tetesan air matanya yang mulai mengering, menetes untuk terakhir kalinya ketika mendengar Christhoper mengerang keras dan meledak di dalamnya. Bahkan dia bisa merasakan ledakan Christhoper memenuhi dan menghangatkan rahimnya. Tubuh Christhoper ambruk di atas tubuh Amber dengan dengus nafas kasar dan terengah setelah mendapatkan kepuasan. Amber memalingkan wajah menghindari wajah suaminya tapi hal itu malah membuat wajah pria itu terbenam di ceruk lehernya. Dada Amber bergerak naik turun terisak dalam tangis, tapi dia hanya bisa menangis dalam kesunyian. Tubuh Christhoper mulai bergerak setelah tenaganya pulih kembali. Pria itu melepaskan penyatuannya lalu menjauh dari tubuhnya. Christhoper segera memakai celana sambil menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Tanpa berkata apa pun, pria itu berjalan keluar meninggalkannya. Jantung Amber seakan berhenti berdetak ketika Christhoper mengunci ruangan tersebut dan mematikan lampunya. Dia langsung bangun dari ranjang dan berlari tertatih ke arah pintu, menggedor pintu tersebut dengan ketakutan. Kini dia harus menghadapi ketakutan terbesar dalam hidupnya yaitu terkurung dalam ruangan yang sempit dan gelap. “Kamu akan tetap terkurung di sini sampai mau mengakui kesalahanmu,” terdengar suara Christhoper dari luar ruangan tersebut. “Lepaskan aku!” Amber terus menggedor pintu gudang, meskipun suaranya tak terdengar. “Christhoper, aku mohon lepaskan aku, aku takut!” mohon Amber yang tidak mungkin di dengar oleh siapapun. Untuk kesekian kalinya, Amber marah dengan kebisuan, marah dengan kekurangannya karena dia tidak pernah bisa meminta tolong pada siapapun. Suaranya yang hilang membuat semua orang tak pernah mengerti masalahnya. Bukan sekali ini saja, selama hidupnya ketika dia sangat membutuhkan pertolongan, banyak orang hanya menatapnya tak mengerti. Tubuh Amber terus gemetar, dia mulai sulit bernafas karena ruang sempit dan kegelapan yang menghimpitnya. Dengan sisa tenaga, dia terus menggedor pintu di depannya, berharap ada yang membukakan pintu dan menolongnya. Pelayan yang mendengar gedoran pintu menyedihkan itu, berdiri termangu dengan mata berkaca-kaca. Christhoper yang mengetahui pikiran pelayan itu, berjalan mendekatinya. “Jangan pernah berpikir untuk melepaskan Amber dari ruangan tersebut! Jika kamu berani melepaskannya, aku akan memecatmu dan seluruh keluargamu yang bekerja di rumah ini. Jangan juga memberi Amber makan dan minum sampai dia mengaku bersalah. Setiap kesalahan yang dilakukan setiap orang di rumah ini, harus menerima konsekuensinya,” perintah Christhoper yang tak berani dibantah oleh pelayan itu. “Baik Tuan,” ucap pelayan tersebut dengan patuh. “Christhoper...!” seru Delia ketika melihat pria itu masuk ke kamarnya. “Kamu dari mana saja? Kenapa kamu lama sekali meninggalkanku?” tanya Delia tampak curiga. “Aku baru saja memberi pelajaran pada wanita itu,” jawab Christhoper singkat tanpa menjelaskan secara detail tentang apa yang dia lakukan pada istrinya. “Aku tidak menyangka istrimu sanggup meracuniku, selama ini aku melihatnya sebagai wanita yang tulus dan polos. Tak tahunya dia wanita yang menakutkan seperti seorang psikopat,” Delia kembali memanasi hati Christhoper agar pria itu semakin membenci Amber. “Sudahlah, jangan membicarakan wanita itu lagi. Dia hanya membuat suasana hatiku menjadi buruk,” ujar Christhoper. “Sama, suasana hatiku juga buruk. Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan untuk menghilangkan suasana buruk ini? Aku butuh suasana baru,” ajak Delia. Christhoper mendekati Delia dan mengusap wajah wanita itu dengan lembut. “Apakah kamu sudah merasa sehat untuk jalan-jalan?” tanya Christhoper yang mengkhawatirkan kesehatan Delia. “Tentu saja, aku telah merasa sehat saat ini. Obat yang diberikan oleh dokter keluargamu sangat manjur,” jawab Delia yang sebenarnya dari awal sudah baik-baik saja. Mendengar jawaban tersebut, Christhoper mengiyakan ajakan Delia. Mereka kemudian meninggalkan rumah untuk pergi bersenang-senang. “Kamu mau ke mana?” tanya Christhoper sambil mengendarai mobilnya. “Bagaimana jika kita ke pantai,” jawab Delia. “Itu terlalu jauh, kita bisa pulang kemalaman,” tolak Christhoper. “Please, sebentar saja. Aku rindu aroma pantai dan debur ombaknya. Sudah lama kita tidak ke pantai. Dulu aku selalu bermimpi kita bertiga, aku, kamu dan anak kita bisa bermain di pantai sambil melihat matahari tenggelam. Namun semua itu kini tinggal mimpi,” kata Delia mempengaruhi Christhoper dengan raut wajah sedih dan mulai mengungkap kematian bayi mereka yang sebenarnya tidak pernah ada. “Baiklah kalau begitu, kita ke pantai sekarang,” ucap Christhoper yang di sambut sorak gembira oleh Delia. Entah berapa lama Amber terus menggedor pintu ruang sempit tempat dirinya di kurung. Ketakutan membuat dirinya bertindak di luar batas kesadaran. Ketika tenaganya habis, dia berusaha mencakar pintu tersebut sampai kukunya rusak dan berdarah. Air mata terus mengalir, tubuhnya gemetar ketika dirinya membalikkan tubuh menatap dinding yang gelap di depannya. Seakan-akan ada bayangan hitam yang mendatanginya dan ingin menangkapnya. “Pergi kamu! Dasar penculik jahat! Kamu telah mati, polisi telah menembakmu. Pergi kamu dariku!” teriak Amber tanpa ada suara yang keluar, rasanya tampak bodoh dan menyedihkan. Tangannya memukul ruang kosong yang gelap gulita, memastikan jika bayangan hitam itu tidak mendekatinya. Namun di pikiran Amber, bayangan yang sebenarnya tidak ada itu terus mendekat dan menekannya. “Aaaahhh ...” teriak Amber sambil memalingkan mukanya ketika bayangan itu menyerangnya. Rasa takut Amber membuat dirinya pingsan dan tergeletak di lantai gudang yang dingin. Entah berapa lama dia pingsan karena di dalam gudang itu dia tidak bisa melihat sinar matahari sehingga tidak bisa memperkirakan waktunya. Ketika matanya terbuka, dia seperti orang buta yang tidak melihat apa pun. Keadaan masih tetap gelap dan tidak berubah sama sekali. Tubuhnya terasa pegal dan sakit karena terlalu lama tergeletak di lantai yang keras dan dingin, tenggorokannya terasa kering dan haus. “Haus ...” bibirnya bergerak tanpa suara. “Aku butuh air,” ucap Amber yang pasti tidak ada yang mendengar. Dia berusaha untuk bangun dari tempatnya tergeletak, tapi kepalanya berputar dan berdenyut sakit. Seharian dia belum makan sama sekali, setetes air pun belum dia minum. Dehidrasi akut mulai melanda, suhu tubuhnya meningkat drastis dan dia menggigil karena demam. Kondisi tubuhnya membuat Amber mulai berhalusinasi. Ketika matanya terpejam, terasa tangan kecil yang hangat menyentuhnya. “Namamu siapa? Kamu tidak boleh tertidur, tetaplah sadar agar kamu tidak mati.” Seorang anak laki-laki menanyai Amber. “Amber,” ucapnya terkejut ketika dia mendengar suaranya sendiri. Apakah kini dia sudah bisa berbicara? “Namaku Christ, tetaplah buka matamu dan teruslah mengobrol denganku,” kata anak kecil itu memperkenalkan dirinya. “Christ, aku takut dan kedinginan,” kata Amber. “Kemarilah! Aku akan memeluk agar kamu merasa hangat dan tidak takut lagi,” ucap Christ yang kemudian menarik tubuh Amber dan mendekapnya. “Apakah aku tidak berat?” tanya Amber yang merasa dirinya telah dewasa sedangkan Christ masih anak kecil. “Tentu saja tidak, tubuhmu sangat ringan. Kamu tidak perlu takut dengan para penculik itu, aku akan melindungimu,” ujar Christ. “Diculik? Aku tidak sedang diculik, aku dikurung oleh suamiku sendiri karena dituduh meracuni kekasihnya,” terang Amber.Bukannya mendengarkan perkataan Tanisa, Ricky malah meletakkan Ewald yang tertidur di atas ranjang besar di tengah kamar tersebut. “Aku lelah menggendong Ewald, biarkan Ewald tidur di sini sebentar,” jawab Ricky dengan santai. “Jangan bersikap seenaknya di rumah orang, sini biar aku yang menggendong Ewald.” Tanisa yang geram berniat mengambil Ewald dari atas ranjang tapi tangan Ricky langsung menahannya dan memeluk Tanisa dari belakang. “Ricky, lepaskan! Bagaimana jika pemilik rumah ini tahu jika kita masuk ke kamarnya tanpa izin?” Tanisa semakin kesal dengan sikap Ricky yang seenaknya. “Apakah kamu menyukai kamarnya? Bagaimana jika kamar ini menjadi kamar kita?” tanya Ricky. “Jangan gila, bahkan kita belum tahu apakah pemilik rumah ini setuju atau tidak untuk menjaul rumahnya,” balas Tanisa. “Bagaimana jika pemilik rumahnya setuju? Apakah kamu mau jika kamar ini menjadi kamar kita?” cecar Ricky. “Lebih baik kita keluar sekarang dan hentikan omong kosongmu itu.” Tanisa berusaha
“Manja sekali dirimu,” gumam Tanisa sambil masih terus mengeringkan rambut Ricky. “Aku ingat perkataan Aaron ketika aku masih sakit hati kehilangan Catelyn, dia bilang jika setiap pria akan dipertemukan dengan wanita yang terbaik untuk dirinya dan kini aku telah menemukannya. Kamu adalah wanita yang terbaik untukku, Tanisa.” Tanisa terdiam mendengarkan perkataan Ricky, tapi terkembang senyum di bibirnya. Ricky menghentikan kegiatan Tanisa dan menarik tubuh wanita itu hingga jatuh menindih dirinya. “Apakah kamu merasa bahagia? Dadaku terasa ingin meledak merasakan kebahagiaan ini, menyadari ada dirimu di sampingku,” tanya Ricky. “Aku juga merasa sangat bahagia,” gumam Tanisa lalu meletakkan kepala di dada telanjang pria itu. Tangan Ricky kemudian melucuti pakaian Tanisa dan juga melepas selembar handuk yang menempel di tubuhnya, ketika keduanya sama-sama telanjang, Ricky membawa tubuh Tanisa ke atas ranjang dengan posisi yang nyaman. Menarik selimut yang ada dia bawah kakinya dan m
Tanisa jatuh di pelukan Ricky dengan tubuh lunglai seakan tak bertulang. Nafasnya menderu kasar tak beraturan seperti baru saja lari puluhan km. Tak berbeda jauh, Ricky mendekap erat tubuh Tanisa dengan jantung berdetak tidak karuan. Matanya berkunang dengan kepala pening akibat ledakannya. Sungguh kenikmatan yang luar biasa yang baru pertama kali ini dirasakan oleh Ricky dan juga Tanisa. Keduanya kemudian tertidur dengan tubuh telanjang penuh dengan keringat dan ledakan percintaan mereka. Tenaga keduanya terkuras habis, mereka bahkan tidak mampu bergerak hanya untuk menarik selimut. Yang mereka butuhkan saat ini adalah tidur dan memulihkan tenaga. Tanisa terbangun ketika cahaya matahari masuk ke kamar dari celah gorden yang menutupi dinding kaca dan jendela rumah. Dia mengusap wajahnya dan sadar jika dirinya bangun kesiangan, hal yang tidak pernah terjadi dalam hidupnya. Baru kali ini dia bangun ketika matahari sudah meninggi. Ketika dia mencari Ricky, pria itu sudah tidak ada di
“Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita,” janji Ricky yang kemudian menggendong Tanisa dan membaringkannya ke atas ranjang besar mereka. Tidak ingin kehilangan Tanisa, Ricky langsung menindih wanita itu. “Terima kasih,” gumam Ricky sambil menatap kedalaman mata Tanisa. “Untuk apa?” tanya Tanisa tidak mengerti arti kata terima kasih yang Ricky katakan. “Karena hanya aku yang kamu izinkan untuk menyentuhmu,” ujar Ricky sambil mengusap pipi Tanisa lalu bergerak ke leher dan bahu telanjang wanita itu, membuat Tanisa menelan ludah merasakan geleyar aneh di permukaan tubuhnya. Tanisa tiba-tiba merasa perlu mengungkapkan perasaannya pada pria itu karena dia tidak ingin kehilangan Ricky. Persetan dengan rasa malunya karena rasa itu tidak membuatnya bahagia. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi aku harap itu tidak membuatmu takut atau menjauh dariku,” ungkap Tanisa memberanikan diri untuk meraih kebahagiaannya. “Apa yang bisa membuatku menjauh darimu?” tutur Ricky.
“Izinkan aku melihatnya,” pinta Ricky dengan lembut, membuat Tanisa perlahan membuka tangan dan memperlihatkan harta karunnya. Mata Ricky tak berkedip melihatnya. Jarinya terulur dan mengusap lembut, menggoda puncaknya dan memberi rangsang pada Tanisa. Tanpa sadar desahan pelan terdengar dari bibir Tanisa, membuat matanya menatap wajah wanita itu. Tanisa tersenyum malu, membuat senyum Ricky terkembang. Mereka terkikik bersama dengan suara yang menggema di kamar mandi. Suara itu terhenti ketika Ricky melumat bibir Tanisa, gairah yang sempat tersulut membuat keduanya larut dalam tarian bibir yang tercipta indah. Tanisa tidak merasa malu lagi ketika Ricky menarik turun pakaian bagian bawah miliknya. Bahkan tangan dia menelusuri dada bidang Ricky ketika pria itu melucuti satu persatu pakaiannya. Ricky mendorong tubuh Tanisa dan menghimpitnya ke dinding kamar mandi, mengecap leher jenjangnya dan bergerak turun ke kedua bukit Tanisa yang meneggang dengan puncaknya yang mengeras. Mulutnya
Ricky yang melihat sikap Tanisa yang semakin hari semakin tak bisa dia mengerti, menghantam tembok dengan keras lalu pergi dengan membanti pintu untuk melampiaskan kemarahan. Dia benar-benar harus pergi dari rumah untuk mendinginkan pikiran. Tanisa yang berada di kamar Ewald, meletakkan putranya ke ranjang dan menatap kepergian Ricky dari jendela kamar. Air matanya jatuh membasahi pipi, tak mampu lagi untuk dibendung. Kenapa rasanya sangat berat untuk bisa berada di samping Ricky di saat pria itu hanya membutuhkannya sebagai ibu dari anaknya, bukan wanita yang diinginkannya? Tidak bisakah dirinya merasakan sebagai wanita yang dicintai? Belum juga beberapa menit Ricky pergi dari gerbang rumah, suara petir terdengar menggelegar, disertai hujan yang turun dengan sangat deras seperti air yang ditumpahkan begitu saja dari langit. Keadaan itu mengingatkan Tanisa pada kejadian di mana dirinya dan seluruh keluarganya mengalami kecelakaan. Sikap Ricky sama persis seperti sikap Karina ketik







