LOGINBukannya merasa kasihan, Christ malah tertawa mendengarnya. “Suami? Bahkan kamu masih sangat kecil untuk menikah. Jika kita selamat dan bisa keluar dari ruangan ini, apakah kamu mau menikah denganku?” tanya Christ.
Kini ganti Amber yang tertawa mendengar perkataan anak kecil itu. “Aku sudah mempunyai suami jadi mungkin aku menikah lagi, nama suamiku Christhoper.” “Hei ... itu namaku. Suamimu mengambil namaku,” protes Christ tidak terima. “Mungkin nama kalian sama,” ujar Amber. “Dia pasti sangat jahat hingga tega mengurungmu, seperti para penculik yang mengurungku.” “Dulu dia sangat baik sepertimu, tapi kekasihnya sangat jahat dan wanita itu selalu mempengaruhi suamiku dengan hal yang jahat, sehingga suamiku sering salah paham padaku.” “Apakah kamu mencintai suamimu?” tanya Christ dengan nada cemburu. Amber mengangguk, mengiyakan. “Aku sangat mencintainya, dia pria bermata hijau yang sangat tampan,” jawab Amber dengan tersenyum. “Mataku juga hijau. Suamimu sepertinya mirip denganku, tapi aku tidak akan pernah mengurungmu apalagi memiliki kekasih jika dewasa nanti. Aku akan menunggumu dan menikah denganmu. Tinggalkan saja dia dan menikahlah denganku!” tegas Christ. “Kita harus keluar dulu dari sini jika ingin menikah,” ujar Amber agar anak itu tidak terus mengajaknya menikah. “Aku punya cara, ikuti caraku. Buka matamu dan merangkaklah ke pintu. Terus gedor pintunya sampai seseorang membukakan pintu untukmu.” “Aku sudah mencobanya tapi tidak berhasil,” bantah Amber. “Cobalah sekali lagi, pasti bisa. Aku telah memanggil bantuan agar ada yang menolong kita.” Mendengar hal tersebut, Amber membuka mata. Seakan mempunyai kekuatan baru, dia merangkak ke pintu. “Christ ...?” panggilnya, tapi suaranya kembali menghilang. Menghiraukan hal tersebut, tangannya terulur dan kembali menggedor pintu di depannya, dia terus dan terus menggedornya. Kehadiran Chris membuat semangatnya kembali menyala sehingga bisa menggedor pintu dengan keras. Delia bergelayut manja di lengan Christhoper. Mereka berjalan menyusuri pantai sambil menikmati matahari terbenam. Suara ombak yang memecah karang, mengiringi langkah mereka. “Bisakah malam ini kita menginap di sini? Aku butuh udara segar untuk melupakan kesedihan dan rasa kehilanganku. Suara bising di kota membuatku stress dan tidak bisa tidur,” bujuk Delia yang selalu menempatkan dirinya sebagai korban untuk mengambil hati Christhoper. Christhoper memikirkan sejenak perkataan kekasihnya. Merasa hal itu baik untuk wanita itu, dia mengangguk setuju. Dia lupa jika meninggalkan Amber sendirian di gudang yang sempit dan gelap, tanpa makanan dan minuman serta meninggalkan istrinya begitu saja setelah melecehkannya. Delia yang mempunyai misi membawa Christhoper menjauh dari istrinya, sengaja membuat pria itu melupakan Amber dengan terus membuatnya sibuk. Setelah seharian membuat Christhoper kelelahan menghabiskan waktu di pantai, malamnya dia merayu Christhoper untuk menghabiskan malam panjang bersamanya. Matahari yang meninggi keesokan paginya membuat Christhoper membuka mata. Dia melihat Delia masih tidur pulas di sampingnya. Dia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya lalu turun dari ranjang. Dia berjalan ke lemari pendingin untuk mengambil minuman dan duduk di teras rumah, matanya menatap lurus ke ombak yang pecah setiap kali mencapai pantai. “Kenapa aku merasa gelisah dan tidak nyaman? Percintaan semalam dengan Delia adalah percintaan terburuk sepanjang hidupku,” gumam Christhoper sambil menenggak minuman yang dipegangnya, tangannya mengusap wajahnya sendiri yang tampak frustasi dengan apa yang dirasakan. “Apakah karena aku baru saja kehilangan anakku sehingga semua perasaan ini menggangguku?” batin Christhoper. Dia kemudian melirik ke kamar di mana Delia masih tertidur, entah kenapa gairahnya pada wanita itu tiba-tiba menghilang. Tanpa Christhoper sadari jika perubahan pada dirinya terjadi setelah dia menyentuh Amber. Entah kenapa wanita itu membuat dirinya tidak menginginkan Delia seperti dulu lagi, tapi sebaliknya dia mendapatkan candu baru yaitu tubuh istrinya yang selalu bisa memuaskannya dan membuat dirinya meledak. *** “Selamat siang Tuan Aaron,” sapa pelayan Christhoper ketika melihat teman Tuannya yang sudah lama tidak terlihat datang berkunjung. “Siang. Di mana Christhoper? Tumben sekali rumah tampak sepi?” tanya Aaron pada pelayan yang menyapanya. “Tuan Christhoper sedang pergi dari kemarin dan belum pulang. Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan Christhoper dengan ramah. “Apakah kamu pernah melihat kaset film action yang dulu sering aku tonton bersama dengan Christhoper? Sepupuku ingin melihat film itu,” kata Aaron. “Ya saya ingat film itu karena Anda dan Tuan Christhoper berkali-kali melihatnya tanpa rasa bosan. Kalau tidak salah, Tuan Christhoper menaruhnya di gudang bawah karena sudah jarang dilihat lagi semenjak Anda pergi,” jelas pelayan tersebut. “Aku akan mengambilnya kalau begitu,” ucap Aaron berlalu begitu saja dari hadapan pelayan tersebut. Pelayan itu pun mengangguk mengiyakan, tapi beberapa menit kemudian, tubuhnya membeku mengingat jika Amber berada di sana. “Tuan tunggu! Biar saya yang mengambilkannya untuk Anda,” seru pelayan tersebut, tapi terlambat karena Aaron sudah tidak terlihat lagi. Pelayan itu langsung berlari menyusul Aaron ke gudang bawah. Aaron yang sudah lama berteman dengan Christhoper dan sudah terbiasa keluar masuk rumah pria itu, tanpa canggung langsung berjalan ke gudang bawah. Dia menyalakan lampu dan mulai mengedarkan pandangannya, mencari kaset yang dia inginkan. Awalnya tidak ada yang mencurigakan dengan gudang tersebut. Konsentrasi Aaron tertuju pada pencarian kasetnya. Namun dirinya terkejut ketika mendengar suara kuku seseorang seperti sedang mencakar pintu kayu hingga menimbulkan suara yang menakutkan. Aaron merasa dirinya seperti sedang berada di film horor, tapi dia bukan pria penakut yang lari karena suara tersebut. Aaron malah merasa penasaran dan mencari sumber suara yang dia dengar. Dia menemukan jika suara itu berasal dari ruangan kecil yang terkunci yang terletak di ujung gudang. Dia pun segera mendekati ruangan tersebut dan mencoba membuka pintu itu tapi tidak berhasil. “Apakah ada orang di dalam?” tanya Aaron sambil menempelkan telinganya di pintu, tapi tidak ada menjawab dari dalam ruangan tersebut. Mengira hanya salah dengar, Aaron berniat meninggalkan tempat itu, tapi bunyi cakaran itu terdengar kembali. Hal itu membuatnya yakin jika ada seseorang yang terkunci di dalam kamar kecil tersebut. “Siapa pun yang berada di dalam, menjauhlah dari pintu!” teriak Aaron untuk menghindari orang yang berada di dalam terkena pintu yang akan didobraknya. Setelah itu, Aaron mendobrak pintu tersebut dan menemukan seorang wanita tergeletak di lantai dengan kondisi memprihatinkan. Seorang wanita terbaring tak berdaya di atas lantai yang kotor dan keras. Bibir wanita itu tampak pucat dan mengeluarkan darah, pipi dan lengannya tampak lebam dan membiru. Tanpa pikir panjang, dia langsung mendekati wanita itu lalu membawanya ke dalam gendongan. “Tu-tuan,” ucap pelayan yang tampak gugup dan ketakutan melihat Aaron menggendong istri Tuannya. “Siapa dia? Kenapa dia tergeletak di lantai?” geram Aaron dengan nada dingin. “Dia Nyonya Amber, istri Tuan Christhoper. Nyonya Amber melakukan kesalahan yang membuat Tuan Christhoper marah sehingga Tuan menghukumnya. Kami tidak boleh mengeluarkannya dari sana sampai Nyonya mengakui kesalahannya,” jawab pelayan itu sesuai dengan apa yang Christhoper katakan. “Dengan membiarkan dia ketakutan, kelaparan dan kehausan seperti ini? Sangat keterlaluan, dia bisa mati,” geram Aaron marah. Dia tidak menyangka jika Christhoper bisa setega itu memperlakukan istrinya. “Tuan, sebaiknya Anda membawa Nyonya ke kamar itu kembali. Saya takut Tuan Christhoper memecat saya jika tahu ada yang mengeluarkan Nyonya dari sana,” pinta sang pelayan. Mata Aaron langsung menatap dingin pelayan tersebut. “Apakah kamu ingin membunuhnya? Lihat saja keadaannya. Dia bisa mati membeku di ruangan ini. Siapkan kamar yang layak untuknya! Aku yang bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan,” perintah Aaron tanpa bisa dibantah lagi. Pelayan itu kemudian menunjukkan kamar yang biasa Amber pakai. Aaron membaringkannya di ranjang dengan hati-hati, matanya menatap tidak tega ke arah Amber dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Bibir wanita itu pecah-pecah, sangat terlihat jika Amber tidak minum dan dehidrasi. Keringat dingin membasahi tubuhnya, rambutnya kotor dan berantakan, yang lebih menyedihkan lagi ketika dia melihat kuku Amber, keadaannya rusak dan berdarah karena wanita itu menggunakan kukunya untuk terus mencakar pintu kayu yang terkunci. “Siapkan air hangat dan handuk bersih! Ambilkan juga air minum hangat dan bubur yang sangat lembut sehingga tidak melukai perutnya yang kosong,” perintah Aaron kepada pelayan yang berdiri di belakangnya. “Baik Tuan,” jawab pelayan itu dengan patuh lalu pergi meninggalkan kamar Amber. “Kasihan sekali dirimu, kesalahan apa yang telah kamu perbuat hingga Christhoper tega memperlakukan kamu seperti ini?” gumam Aaron sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Amber. Deg... Tiba-tiba jantung Aaron seakan berhenti berdetak, menatap betapa cantik wanita yang sedang terbaring lemah di depannya tersebut. Namun kekaguman Aaron tidaklah lama karena ketika tangannya menyentuh kening Amber, kening itu terasa sangat panas. Dia kemudian memeriksa tubuh Amber dan keadaannya sama, suhu tubuh wanita itu sangat tinggi. “Astaga, suhu tubuhmu tinggi sekali,” seru Aaron dengan nada khawatir. Aaron langsung menyingkap selimut yang tadinya dia tutupkan ke tubuh Amber. Tangannya terulur untuk membuka kancing baju wanita itu agar suhu tubuh Amber bisa turun dan aliran oksigennya lebih lancar. Namun tangan Aaron tertahan ketika terdengar suara bariton yang berat dan dingin menegurnya. “Apa yang sedang kamu lakukan pada istriku? Jauhkan tanganmu darinya!” tegur Christhoper dengan nada dingin. Aaron menoleh ke sumber suara tersebut dan melihat Christhoper sedang menatapnya dengan tatapan dingin dan membunuh, tapi dia tidak merasa terintimidasi. Dia membalas tatapan Christhoper dengan tidak kalah dingin. “Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Bagaimana bisa kamu berada di kamar kami?” tanya Christhoper ketika Aaron masih tetap membisu di pinggir ranjang. “Apakah kamu sudah gila Christhoper? Bagaimana bisa kamu begitu tega mengurung istrimu sendiri di gudang yang sempit dan gelap? Istrimu hampir mati jika aku tidak cepat menolongnya,” ucap Aaron dengan nada marah. “Itu bukan urusanmu dan jangan pernah ikut campur dengan masalah rumah tanggaku. Kamu tidak mempunyai hak untuk itu,” geram Christhoper. “Aku berhak melakukan apa pun jika hal itu sudah menyangkut nyawa seseorang. Tidak peduli dia istrimu atau pelayanmu atau siapa pun, keselamatan adalah hal utama yang perlu diperhatikan. Jika aku tahu ada seseorang yang memperlakukan sesamanya dengan tidak pantas, membuatnya kelaparan, kehausan dan ketakutan, aku bisa menuntut orang itu meskipun orang itu adalah temanku sendiri,” ancam Aaron.Nafas Bride tercekat melihatnya, berbeda ketika tadi dirinya melihat pria tampan yang ingin menggodanya. Meski keduanya sama-sama memperlihatkan dada mereka, tapi ketika Wiston yang melakukannya, dia tidak merasa jijik, tubuhnya seketika merasa panas dan inti miliknya melembab basah. Bride menahan nafasnya, melihat Wiston membuka ikat pinggang dan kancing celananya. Tanpa rasa malu, pria itu menurunkan begitu sana celana tersebut. Bukan hanya celana panjangnya tapi juga menurunkan pelindung terakhir dari aset berharganya. Tak mampu menahan gairahnya yang tersulut, Bride menggigit bibir agar dirinya tidak mendesah melihat aset berharga suaminya. Bride berpikir Wiston akan ikut naik ke ranjang dan mendekatinya, tapi dia terkejut dan kecewa ketika seorang wanita yang menggunakan celana dalam dan penutup dada yang ketat, masuk ke kamar itu. Dia berjalan dengan gerakan menggoda, ekspresinya sungguh menjijikkan. Tangannya meremas
“Saya sudah mendapatkan apa yang Anda minta, Catelyn sudah berada di tangan saya. Apa yang harus saya lakukan?” ucap anak buah Wiston meminta petunjuk. “Kamu berada di mana sekarang? Aku akan menemuimu,” tegas Wiston. Dia terdiam mendengarkan sejenak perkataan anak buahnya saat memberikan alamat tempatnya berada. Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Wiston mematikan ponselnya. Dia mengambil dan mengumpulkan pakaiannya lalu memakainya dengan cepat. Sebelum pergi, Wiston juga mengambil pakaian Bride lalu melemparkannya ke pangkuan wanita itu. “Cepat pakai pakaianmu sebelum para pelayan datang ke sini dan melihatmu telanjang,” ujar Wiston lalu berbalik meninggalkan istrinya begitu saja. Bride meremas pakaian yang ada di pangkuannya dan menatap tajam kepergian Wiston. Setelah pria itu tidak terlihat lagi dari pandangannya, tangis Bride pecah. Hinaan apalagi yang harus dia terima dari
“Apakah kamu sudah mengikuti kegiatan Catelyn? Cari kesempatan agar kamu bisa membawa wanita itu padaku,” ucap Wiston pada anak buahnya. “Setiap hari Catelyn mengantar anaknya ke sekolah tanpa Aaron bersamanya. Namun dia tidak pernah turun dari mobil, sangat susah untuk mendapatkannya,” tutur pria di depan Wiston. “Akan selalu ada kesempatan untuk mendapatkannya. Ikuti terus kegiatan Catelyn, jika dia turun dari mobil untuk belanja atau melakukan kegiatan lain, langsung bawa wanita itu padaku. Aku ingin melihat wanita itu bunuh diri di depanku sama seperti Papa yang mati di depan mataku,” geram Wiston. “Baik Tuan, saya akan terus mengikuti Catelyn. Jika ada kabar terbaru, saya akan langsung mengabarkannya pada Anda.” Pulang dari pekerjaan, hati Wiston penuh dengan kekesalan karena anak buahnya belum bisa mendapatkan Catelyn. Dia membanting pintu rumah dan berjalan menuju kamar, tapi dia ingat jika dia ti
Lagi-lagi air mata Bride meleleh keluar karena tidak bisa menghindari penyatuan pria itu. Setiap hentakan yang Wiston lakukan, membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri. Dia semakin marah ketika tubuhnya tidak bisa menolak pria itu, tapi malah menikmati setiap gerakannya. Bride kembali menggigit bibir agar Wiston tidak mendengar isak tangisnya. Setiap hujaman dan hentakan pria itu, meneteskan air mata yang meleleh panas. Wiston yang tidak tahu isi hati Bride terus bergerak menikmati celah sempit yang hangat dan lembut milik istrinya. Erangan Wiston mulai terdengar di telinga Bride, sebagai tanda jika pria itu sangat menikmati gerakannya. Ingin sekali dia menutup telinga karena erangan pria itu menandakan jika dirinya memberi kenikmatan pada pria yang semena-mena terhadapnya. Namun hal itu tidak bisa dia lakukan karena tangan Wiston menggenggam tangannya dan menempelkannya di dinding kamar mandi, terlentang di sebelah ka
Wiston menunda pertemuan pentingnya karena tiba-tiba dia ingin pulang, memeriksa keadaan Bride. Bukan karena dia peduli dengan wanita itu, tapi dia ingin memastikan jika Bride mengikuti aturannya. Makan minum dengan baik dan istirahat yang cukup agar wanita itu cepat hamil. “Sedang apa dia?” tanya Wiston pada pelayannya setelah sampai rumah. “Sedang mandi Tuan, saya juga sudah membawakan makanannya untuk Nona Bride,” jawab pelayan tersebut. Wiston kemudian pergi ke kamar, tapi merasa aneh karena keadaannya begitu sepi. “Bride ...!” panggil Wiston, tapi tidak ada jawaban. “Bride ...!” panggilnya lagi. Wiston mendekati pintu kamar mandi dan menggedornya tapi tidak ada tanda-tanda Bride akan membuka pintunya. “Bride! Buka pintunya atau aku akan mendobraknya sekarang!” seru Wiston. Dia menunggu untuk beberapa
Dinding tipis yang menjaga kehormatannya selama ini, runtuh seketika. Inti milik Wiston yang menghantamnya seperti bom meluluh lantahkan dinding itu. Bercak merah menodai sprei sutra berwarna putih yang menjadi alas kedua tubuh yang sedang menyatu itu. Rasa jijik menelusup dalam diri Bride ketika pria itu berhasil mengambil kehormatannya. Dia membuang muka menghindari tatapan Wiston dengan milik pria itu yang masih menyatu di dalam inti miliknya, tubuh kekar pria itu menindihnya membuatnya tak mampu menghindar. Tahu jika Bride menatapnya dengan jijik, Wiston mencengkram rahang wanita itu dan memaksa Bride untuk menatapnya. “Lihat aku! Aku suamimu, kamu tidak punya hak untuk menolakku. Mengerti kamu?” geram Wiston dengan segala kemarahan dalam dirinya. Bride mengangguk takut sambil mencucurkan air mata, menatap pria itu. Tubuhnya bergerak di bawah kungkungan tubuh Wiston ketika pri







