Home / Romansa / Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh / Bab 7. Rasa Bersalah Membuat Hati Luluh

Share

Bab 7. Rasa Bersalah Membuat Hati Luluh

Author: Dera Tresna
last update Huling Na-update: 2025-11-03 06:26:47

“Pergi dari rumahku sekarang juga. Aku juga bisa melaporkanmu pada polisi karena sudah masuk ke rumahku tanpa izin di saat aku sedang tidak berada di rumah,” Christhoper balik mengancam.

Rahang Aaron mengeras mendengar Christhoper yang mengusirnya. Tidak mau memperpanjang masalah yang nantinya malah akan merugikan wanita yang tergeletak lemah di ranjang itu karena tidak mendapat perawatan, Aaron berjalan mendekati Christhoper lalu berkata, “Rawat dan jaga dia! Aku akan mengawasimu Christhoper, jika sampai dia mati, kamu adalah orang pertama yang aku seret ke dalam penjara,” geram Aaron yang kemudian meninggalkan kamar dengan wajah memerah marah.

Sepeninggalan Aaron, Christhoper berjalan mendekati Amber. Hatinya mencelos dengan rasa bersalah yang menyesakkan dada melihat keadaan istrinya. Keadaan Amber memang sangat memprihatinkan, Christhoper menatap kuku Amber yang rusak dan berdarah. Dia tidak menyangka jika Amber akan mencakar pintu kayu itu dengan kuku-kukunya.

Ada apa dengan wanita itu? Apakah ruangan sempit dan gelap itu membuat Amber ketakutan berlebihan? Atau wanita itu hanya pura-pura dengan menyiksa dirinya sendiri untuk mendapatkan belas kasihan? Segala pertanyaan itu berkecamuk dalam diri Christhoper.

Lamunannya buyar ketika pelayannya masuk dan bersuara. “Tu-an, ini air bersih untuk Nyonya Amber,” kata pelayan Christhoper tampak gugup dan takut, suaranya terdengar gemetar.

Pelayan itu kemudian mendekati tempat Christhoper berdiri lalu menaruh air serta handuk bersih di meja di samping Amber terbaring lalu pergi. Tak lama kemudian, dia datang kembali dengan membawa minuman dan bubur yang Aaron pesan sebelumnya.

“Berikan minuman hangat itu padaku!” perintah Christhoper.

Tanpa diperintah dua kali, pelayan itu dengan patuh mengulurkan minuman yang dia bawa pada Christhoper. “Pergilah! Biarkan aku yang merawat Amber. Jika Delia menanyakan aku, bilang jika aku tidak sedang ingin diganggu,” ujar Christhoper.

“Baik Tuan,” jawab pelayan itu dengan patuh lalu segera meninggalkan kamar.

Setelah pintu kamar tertutup, Christhoper berjalan mendekati istrinya lalu duduk di samping wanita itu. Dengan perlahan, dia menyendokkan minuman dan meneteskannya sedikit demi sedikit ke bibir Amber yang terlihat kering dan pecah-pecah.

Seakan mendapat kesegaran baru, bibir Amber bergerak dengan lidah yang terjulur mengecap minuman yang suaminya berikan. Setelah mendapatkan cairan  tersebut, tubuhnya tiba-tiba menggigil hebat.

“Amber, ada apa denganmu?” tanya Christhoper sambil menepuk-nepuk pipi istrinya, tapi mata wanita itu tidak mau terbuka.

Tanpa pikir panjang, Christhoper langsung naik ke ranjang dan membawa Amber ke atas pangkuan lalu mendekap tubuh wanita itu. Rasa bersalah seketika menyesakkan hati, dia sadar jika apa yang telah dia lakukan pada istrinya sudah sangat keterlaluan.

Christhoper berusaha memberikan kehangatan tubuhnya untuk Amber, berharap wanita itu akan berhenti menggigil dan ternyata cara itu berhasil, tubuh Amber perlahan berhenti menggigil dan tenang kembali di dalam pelukannya.

Setelah beberapa lama dalam pelukan Christhoper, mata Amber perlahan terbuka. Tubuh wanita itu membeku sejenak ketika sadar jika dirinya berada di dalam pelukan suaminya. Dia berusaha untuk bangun, tapi pria itu menahannya sehingga dia tetap berada di tempatnya.

Tangan Amber bergerak di udara dan menanyakan sesuatu pada Christhoper. “Apakah kamu yang membawaku kemari dan menolongku dari ruangan sempit yang gelap dan menakutkan itu? Apakah aku tidak sedang bermimpi saat ini?” tanya Amber.

Tidak mengerti dengan apa yang Amber katakan, Christhoper menggenggam tangan istrinya lalu meletakkannya di dada. Tangannya kemudian terulur untuk menyentuh pipi Amber dengan lembut. Menelusuri garis wajah wanita itu dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Amber.

Saat itulah, tangis Amber pecah. Dia mengira apa yang Christhoper lakukan adalah sebagai bentuk jawaban jika pria itulah yang menolong dan mengeluarkannya dari kamar sempit dan gelap yang mengerikan itu. Tanpa suara, dia terisak di pelukan Christhoper. Dia membenamkan wajahnya di dada pria itu dan menangis di sana.

“Maafkan aku,” gumam Christhoper lirih sambil mendekap tubuh Amber dengan posesif.

Setelah Amber berhenti menangis, Christhoper menggendong wanita itu ke kamar mandi lalu mendudukkannya di atas kursi yang ada di sana. Dia menaruh kepala Amber di pinggiran wastafel lalu membasahi rambut istrinya dengan air hangat.

Perlahan dan telaten, Christhoper mencuci rambut Amber yang kotor karena debu gudang. Amber pun terus menatap wajah Christhoper dan mengaguminya karena perlakuan tersebut.

Setelah selesai mencuci rambut Amber, Christhoper kembali menggendong istrinya lalu mendudukkan wanita itu di pinggir ranjang. Tangannya terulur berniat melepas pakaian Amber tapi wanita itu langsung mencengkeram kuat pakaiannya. 

Tubuh Amber kembali gemetar teringat bagaimana suaminya melecehkannya. Dia ketakutan jika pria itu akan melecehkannya lagi dengan kasar.

“Tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu. Pakaianmu sangat kotor, aku harus menggantinya dengan yang bersih agar kamu merasa lebih nyaman,” kata Christhoper yang sadar akan ketakutan istrinya. Mendengar hal tersebut, Amber melepaskan cengkraman tangannya.

Melihat mendapat persetujuan dari, Christhoper membuka satu per satu pakaian istrinya. Matanya menatap nanar tubuh wanita itu ketika dia melihat banyak luka memar dan membiru di tubuh Amber.

“Apakah aku yang membuat semua luka ini di tubuhmu?” tanya Christhoper lirih sambil menelusuri luka tersebut. Tak mampu menjawab pertanyaan suaminya, Amber hanya bisa menangis tanpa suara yang keluar dari mulutnya.

Dengan gerakan lembut dan sangat hati-hati, Christhoper membersihkan tubuh Amber dengan handuk basah. Mengusapkannya perlahan dan memastikan jika istrinya tidak merasa kesakitan dengan apa yang dia lakukan. Dia kemudian mengeringkan dan menutup tubuh istrinya dengan jubah tidur yang lembut dan hangat.

“Apakah kamu haus?” tanya Christhoper, yang dijawab anggukan oleh Amber. Melihat jawaban tersebut, Christhoper mengambil air minum lalu menyendokkannya sedikit demi sedikit ke mulut Amber.

“Apakah kamu lapar?” tanya Christhoper lagi ketika air minum itu hampir habis dan Amber kembali menjawabnya dengan anggukan karena memang perutnya terasa sangat lapar.

Christhoper mengambil piring yang berisi bubur yang pelayannya siapkan. Dengan hati-hati, dia menyuapkan bubur tersebut. Baru saja satu suapan masuk ke dalam mulutnya, terlihat kening Amber mengernyit. Perutnya tiba-tiba terasa sangat perih ketika bubur itu meluncur masuk ke dalam tubuhnya.

Dengan gerakan tangannya, Amber berkata, “Aku tidak bisa memakannya. Perutku terasa perih dan sakit.”

“Satu suap lagi agar perutmu terisi sesuatu,” paksa Christhoper yang tidak mungkin membiarkan Amber tidur dengan perut kosong. Amber akhirnya membuka mulutnya lalu kembali memakan buburnya dengan menahan rasa perih di perutnya.

Sambil meletakkan piringnya ke meja, Christhoper beranjak dari ranjang tempat dia duduk. Ada raut kekecewaan dalam wajah Amber karena tahu jika suaminya akan meninggalkanya. Namun hal tak terduga terjadi, Christhoper mengecup keningnya lalu berbisik, “Tunggu sebentar, aku akan segera kembali.”

Seperti apa yang Christhoper katakan, pria itu datang kembali dengan kotak obat di tangannya. Dia kembali duduk di pinggir ranjang lalu menarik tangan Amber. Dilihatnya kuku istrinya yang rusak dan berdarah. Dia mengambil gunting kuku lalu merapikan kuku istrinya, mengobati jari Amber yang terluka.

Semua perlakukan yang Christhoper lakukan membuat hati Amber berbunga. Matanya terus menatap suaminya tanpa berkedip. “Apakah Christhoper telah mengingatku sebagai gadis kecil yang ingin dia lindungi?” batin Amber. 

Perasaan cinta Amber pun semakin besar pada pria itu, bahkan dia melupakan semua sikap kasar dan jahat yang pernah dilakukan padanya.

Malamnya ketika mata Amber mulai berat dan terlelap, dia dikejutkan oleh pintu kamar yang terbuka. Dia langsung terduduk dan menaikkan selimutnya menutupi dada, seolah selimut itu bisa melindunginya. Meskipun Christhoper telah bersikap lembut dan baik padanya seharian ini, tapi traumanya belum sepenuhnya hilang. Dia takut jika Christhoper datang ke kamar lalu bersikap kasar dan melecehkannya lagi.

“Tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu,” kata Christhoper menenangkan istrinya.

Tanpa diduga, pria itu naik ke ranjangnya dan berbisik, “Tidurlah!”

Dengan sedikit rasa takut, Amber berbaring dengan posisi memunggungi suaminya. 

Christhoper melingkarkan tangan ke pinggang Amber yang ramping lalu mendekapnya posesif. Dia membenamkan wajah di tengkuk Amber, membuat wanita itu harus menahan nafas karena hembusan halus nafas suaminya yang menggodanya.

Baru kali ini, dia merasa beruntung menjadi wanita bisu karena ketika desahan keluar dari bibirnya, Christhoper tidak mendengarnya. Malam itu untuk pertama kalinya mereka tidur bersama.

Christhoper terlelap dengan Amber yang berada di pelukan. Kehangatan dan aroma tubuh wanita itu menenangkannya sehingga dia tidur dengan nyenyak.

Amber tersenyum ketika tidur dalam pelukan hangat Christhoper. Rasanya hari ini menjadi hari terindah sepanjang dia dilahirkan ke dalam dunia ini.

Di kamar lain, Delia gusar selama seharian karena tidak melihat Christhoper, bahkan pria itu sama sekali tidak menemuinya setelah mereka pulang dari pantai. Setiap kali dia ingin menemui Christhoper, pelayan mengatakan jika pria itu sedang sibuk dan tidak mau diganggu. Bahkan ketika malam hari dia berharap Christhoper datang ke kamarnya, hal itu menjadi harapan kosong karena Christhoper tidak mendatanginya.

Delia mengakui jika Amber memang bisu dan cacat, tetapi wanita itu lahir dari keluarga kaya raya dengan paras yang cantik. Bisa saja dengan mudah Christhoper jatuh hati pada wanita tersebut. Kenyataannya malam ini Christhoper tidak datang ke kamarnya, ke mana lagi dia akan tidur jika tidak bersama wanita bisu itu?

Dia harus mempunyai rencana baru agar Christhoper dan Amber bisa terpisah. Bagaimana pun caramya, dia harus bisa menyingkirkan Amber, dia tidak akan membiarkan siapa pun mengancam statusnya.

Kekesalan Delia semakin besar ketika pagi harinya dia melihat Amber sedang menyirami tanaman dengan senyum terkembang di bibir. Senyum yang tidak pernah dia lihat selama ini. Hal itu membuatnya semakin yakin jika sikap Christhoper mulai melunak pada wanita bisu itu. Rahangnya pun mengeras marah menyadari hal tersebut.

“Di mana Christhoper?” tanya Delia pada pelayan yang lewat di sampingnya.

“Tuan Christhoper sudah berangkat bekerja, Nona,” jawab pelayan itu yang kemudian pergi setelah Delia mengusirnya dari hadapannya.

Dengan langkah penuh percaya diri, Delia mendekati Amber. “Sepertinya ada yang sedang bahagia pagi ini,” suara Delia mengagetkan Amber dan membuat senyuman di bibir wanita itu menghilang seketika.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 260. Wanita Baru Dibawa ke Rumah

    Nafas Bride tercekat melihatnya, berbeda ketika tadi dirinya melihat pria tampan yang ingin menggodanya. Meski keduanya sama-sama memperlihatkan dada mereka, tapi ketika Wiston yang melakukannya, dia tidak merasa jijik, tubuhnya seketika merasa panas dan inti miliknya melembab basah. Bride menahan nafasnya, melihat Wiston membuka ikat pinggang dan kancing celananya. Tanpa rasa malu, pria itu menurunkan begitu sana celana tersebut. Bukan hanya celana panjangnya tapi juga menurunkan pelindung terakhir dari aset berharganya. Tak mampu menahan gairahnya yang tersulut, Bride menggigit bibir agar dirinya tidak mendesah melihat aset berharga suaminya. Bride berpikir Wiston akan ikut naik ke ranjang dan mendekatinya, tapi dia terkejut dan kecewa ketika seorang wanita yang menggunakan celana dalam dan penutup dada yang ketat, masuk ke kamar itu. Dia berjalan dengan gerakan menggoda, ekspresinya sungguh menjijikkan. Tangannya meremas

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 259. Tempat Baru yang Tidak Seharusnya

    “Saya sudah mendapatkan apa yang Anda minta, Catelyn sudah berada di tangan saya. Apa yang harus saya lakukan?” ucap anak buah Wiston meminta petunjuk. “Kamu berada di mana sekarang? Aku akan menemuimu,” tegas Wiston. Dia terdiam mendengarkan sejenak perkataan anak buahnya saat memberikan alamat tempatnya berada. Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Wiston mematikan ponselnya. Dia mengambil dan mengumpulkan pakaiannya lalu memakainya dengan cepat. Sebelum pergi, Wiston juga mengambil pakaian Bride lalu melemparkannya ke pangkuan wanita itu. “Cepat pakai pakaianmu sebelum para pelayan datang ke sini dan melihatmu telanjang,” ujar Wiston lalu berbalik meninggalkan istrinya begitu saja. Bride meremas pakaian yang ada di pangkuannya dan menatap tajam kepergian Wiston. Setelah pria itu tidak terlihat lagi dari pandangannya, tangis Bride pecah. Hinaan apalagi yang harus dia terima dari

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 258. Pelampiasan Rasa Marah

    “Apakah kamu sudah mengikuti kegiatan Catelyn? Cari kesempatan agar kamu bisa membawa wanita itu padaku,” ucap Wiston pada anak buahnya. “Setiap hari Catelyn mengantar anaknya ke sekolah tanpa Aaron bersamanya. Namun dia tidak pernah turun dari mobil, sangat susah untuk mendapatkannya,” tutur pria di depan Wiston. “Akan selalu ada kesempatan untuk mendapatkannya. Ikuti terus kegiatan Catelyn, jika dia turun dari mobil untuk belanja atau melakukan kegiatan lain, langsung bawa wanita itu padaku. Aku ingin melihat wanita itu bunuh diri di depanku sama seperti Papa yang mati di depan mataku,” geram Wiston. “Baik Tuan, saya akan terus mengikuti Catelyn. Jika ada kabar terbaru, saya akan langsung mengabarkannya pada Anda.” Pulang dari pekerjaan, hati Wiston penuh dengan kekesalan karena anak buahnya belum bisa mendapatkan Catelyn. Dia membanting pintu rumah dan berjalan menuju kamar, tapi dia ingat jika dia ti

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 257. Sedikit Merasakan Kebebasan

    Lagi-lagi air mata Bride meleleh keluar karena tidak bisa menghindari penyatuan pria itu. Setiap hentakan yang Wiston lakukan, membuatnya merasa jijik pada dirinya sendiri. Dia semakin marah ketika tubuhnya tidak bisa menolak pria itu, tapi malah menikmati setiap gerakannya. Bride kembali menggigit bibir agar Wiston tidak mendengar isak tangisnya. Setiap hujaman dan hentakan pria itu, meneteskan air mata yang meleleh panas. Wiston yang tidak tahu isi hati Bride terus bergerak menikmati celah sempit yang hangat dan lembut milik istrinya. Erangan Wiston mulai terdengar di telinga Bride, sebagai tanda jika pria itu sangat menikmati gerakannya. Ingin sekali dia menutup telinga karena erangan pria itu menandakan jika dirinya memberi kenikmatan pada pria yang semena-mena terhadapnya. Namun hal itu tidak bisa dia lakukan karena tangan Wiston menggenggam tangannya dan menempelkannya di dinding kamar mandi, terlentang di sebelah ka

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 256. Mulai Mengenal Ekspresinya

    Wiston menunda pertemuan pentingnya karena tiba-tiba dia ingin pulang, memeriksa keadaan Bride. Bukan karena dia peduli dengan wanita itu, tapi dia ingin memastikan jika Bride mengikuti aturannya. Makan minum dengan baik dan istirahat yang cukup agar wanita itu cepat hamil. “Sedang apa dia?” tanya Wiston pada pelayannya setelah sampai rumah. “Sedang mandi Tuan, saya juga sudah membawakan makanannya untuk Nona Bride,” jawab pelayan tersebut. Wiston kemudian pergi ke kamar, tapi merasa aneh karena keadaannya begitu sepi. “Bride ...!” panggil Wiston, tapi tidak ada jawaban. “Bride ...!” panggilnya lagi. Wiston mendekati pintu kamar mandi dan menggedornya tapi tidak ada tanda-tanda Bride akan membuka pintunya. “Bride! Buka pintunya atau aku akan mendobraknya sekarang!” seru Wiston. Dia menunggu untuk beberapa

  • Terperangkap Jerat Suami Dominan dan Angkuh   Bab 255. Kehormatan Terenggut

    Dinding tipis yang menjaga kehormatannya selama ini, runtuh seketika. Inti milik Wiston yang menghantamnya seperti bom meluluh lantahkan dinding itu. Bercak merah menodai sprei sutra berwarna putih yang menjadi alas kedua tubuh yang sedang menyatu itu. Rasa jijik menelusup dalam diri Bride ketika pria itu berhasil mengambil kehormatannya. Dia membuang muka menghindari tatapan Wiston dengan milik pria itu yang masih menyatu di dalam inti miliknya, tubuh kekar pria itu menindihnya membuatnya tak mampu menghindar. Tahu jika Bride menatapnya dengan jijik, Wiston mencengkram rahang wanita itu dan memaksa Bride untuk menatapnya. “Lihat aku! Aku suamimu, kamu tidak punya hak untuk menolakku. Mengerti kamu?” geram Wiston dengan segala kemarahan dalam dirinya. Bride mengangguk takut sambil mencucurkan air mata, menatap pria itu. Tubuhnya bergerak di bawah kungkungan tubuh Wiston ketika pri

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status