INICIAR SESIÓNBab 107 Malam pertama setelah kepulangan mereka ke Den Haag, diawali dengan kehangatan yang luar biasa. Aroma semur daging khas masakan Indonesia buatan Ratna, memenuhi seluruh penjuru apartemen mewah di tepi kanal tersebut. Di meja makan, suasana terasa begitu damai dan penuh dengan canda tawa keluarga yang utuh. "Arkan, pelan-pelan menyuapi Elang nya. Kamu ini menyuapi anak bayi atau sedang mendikte saksi di persidangan? Kaku sekali," goda Nara sambil memberikan mangkuk kecil berisi bubur tim kepada suaminya. Arkananta yang hanya mengenakan kaus hitam santai, tersenyum tipis. Tangannya memegang sendok kecil dengan sangat hati-hati di depan mulut bayi Elang. "Aku hanya melatih fokusnya sejak dini, Nyonya Dewangga. Lihat, dia bahkan tidak memalingkan matanya dari sendok ini, benar-benar pintar." Ratna yang duduk di sebelah Nara terkekeh pelan, sambil menepuk lengan menantunya dengan lembut. "Sudah, Arkan. Anak bayi itu butuh kelembutan, bukan tuntutan. Sini, biar Mama saja yan
Bab 106 Arkan hanya tersenyum mendengar perkataan Citra. "Aku hanya ingin memastikan keselamatan anak dan istriku, Citra." Citra mencibir ke arah Nara sambil berbisik, "Ra, suamimu ini benar-benar pria posesif tingkat akut ya. Tapi jujur, aku lega banget melihat kamu sehat, bayimu juga ganteng banget." Citra menyentuh jemari kecil Elang dengan gemas. Nara tersenyum sangat manis, menatap Arkan sekilas lalu kembali menatap sahabatnya. "Dia memang menyebalkan, Cit. Tapi sikap menyeramkan itu yang menyelamatkan bayiku kemarin." "Aku tau, Ra. Semua orang heboh saat mendengar kabar pergerakan tim keamanannya kemarin," Citra menghembuskan nafas panjang, lalu menggenggam tangan Nara dengan tulus. Matanya mulai berkaca-kaca. "Jaga dirimu baik-baik di tanah asing sana, ya. Jangan lupa untuk sering-sering menghubungi aku. Ingat, kamu itu Senior Partner terhebat yang pernah aku kenal, tapi di mataku kamu tetap Nara sahabat terbaikku yang hobi begadang demi draf ujian." Nara terharu, mem
Bba 105 Arkan berdiri tepat di depan Felicia yang tengah mengerang kesakitan di lantai. Matanya menatap tajam wajah Felicia, ia sengaja menginjak ujung gaun mahal Felicia. "Fakta bahwa aku ini anak adopsi atau nama besar Dewangga, bukan untuk konsumsi publik. Kamu tidak bisa sembarang menyentuhnya, Felicia. Malam ini, pelarianmu telah berakhir." Brak. Pintu depan gudang dibuka paksa dari luar, dan puluhan petugas kepolisian bersenjata lengkap masuk menerobos ke dalam, dipimpin oleh Thomas. Mereka langsung memborgol Felicia dan menyeretnya keluar dari gudang itu. Setelah suasana kembali kondusif, Arkan berbalik dan langsung merengkuh tubuh Nara beserta Elang ke dalam pelukannya. "Semua duri dan sisa masalah dari masa lalu, telah berakhir malam ini, Nara," bisik Arkan pelan. Nara mendongak, menatap langsung ke dalam mata gelap suaminya sambil tersenyum manis. "Aku tau, Suamiku. Dan mulai besok ... tidak akan ada lagi yang bisa mengusik ketenangan dan kedamaian keluarga kecil k
Bab 104 Malam terakhir di Jakarta seharusnya menjadi momen yang tenang di rumah Ratna. Namun, badai mendadak pecah dalam hitungan detik. Pintu kamar tidur bayi terbuka lebar, dan ranjang kecil tempat Elang tertidur sudah kosong. Hanya ada secarik kertas putih di atas bantal. Nara berdiri mematung di ambang pintu, wajahnya seketika pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. "Arkan ... Elang ... Elang tidak ada!" Arkananta yang berada tepat di belakangnya langsung menyambar kertas tersebut. Mata elangnya berkilat tajam, memancarkan amarah dan kekhawatiran. "Arkan, apa isinya? Katakan padaku!" tangis Nara pecah, ia mencengkeram kemeja hitam suaminya dengan sangat erat. "Salah satu musuh lama kita yang melakukan semua ini, Nara," jawab Arkan, suaranya merendah dan tatapannya menajam. Ia membaca tulisan di kertas itu dengan suara bergetar menahan amarah. "Jika ingin anakmu kembali dalam keadaan hidup, datanglah ke gudang tua di pelabuhan utara sendirian, Arkananta. Bawa surat rahasia
Bab 103 Pintu kedatangan internasional Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta begitu ramai siang itu. Udara khas Jakarta yang hangat langsung menyergap begitu Nara melangkah keluar sambil mendorong kereta bayi tempat Elang tertidur pulas. Di sampingnya, Arkan berjalan tegap dengan kemeja hitam santai dan kacamata hitam, sementara tangan kirinya merangkul pinggang Nara. Dua orang berbadan tegap yang ditugaskan untuk menjadi pengawal pribadi, berjalan beberapa langkah di belakang mereka untuk mengamankan perimeter. Di antara kerumunan penjemput, seorang wanita paruh baya dengan kebaya kasual berwajah teduh melambaikan tangannya dengan mata berkaca-kaca. "Nara! Anakku!" seru Ratna, suaranya bergetar menahan haru. Nara langsung mempercepat langkahnya, melepas pegangan kereta bayi, dan berlari ke dalam pelukan ibunya. "Mama ... Nara kangen banget sama Mama." "Mama juga kangen sekali, Nak. Akhirnya kamu pulang," ucap Ratna sambil mengusap punggung Nara dengan gerakan lembut. Setelah bebera
Bab 102 "Susu untukmu bisa menunggu, Nara. Tapi memeluk istriku di pagi hari adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Pria tegap itu justru mempererat kuncian lengannya, menundukkan wajahnya untuk mengecup bahu Nara yang terbuka dengan kecupan mesra. Nara tertawa kecil, memutar tubuhnya di dalam kekangan lengan Arkan agar bisa menghadap suaminya seutuhnya. "Kamu ini tidak berubah ya, Pak Pengawas. Selalu saja suka memaksakan kehendak." "Itu hanya berlaku khusus untukmu, sayang," bisik Arkan lembut tepat di depan bibir Nara. Baru saja Arkan hendak menundukkan wajahnya untuk mencium bibir Nara, suara tangisan bayi yang nyaring mendadak terdengar dari arah kamar sebelah lewat perangkat monitor bayi di meja rias. Oeeek ... Oeeek ... Nara seketika menahan dada bidang Arkan sambil tersenyum menggoda. "Nah, dengar itu? Pangeran kecilmu, Elang Arkananta Dewangga, sudah bangun. Tugas pengawas pribadiku sekarang adalah menggend







