Share

Bab 99

Author: PUCHA
last update publish date: 2026-10-28 19:52:20

Bab 99

Dua jam berlalu dengan sangat mencekam di apartemen mereka dekat kanal. Arkananta berdiri di tengah ruang tengah dengan kemeja yang berantakan dan nafas yang memburu. Di atas meja kaca, tergeletak ponsel milik Nara beserta cincin berlian biru safir yang sengaja dilepaskan dari jari manis istrinya.

Nara menghilang tanpa jejak, semua sistem pelacakan digital yang biasanya diandalkan Arkan tidak berfungsi karena Nara dengan sengaja mematikan seluruh akses GPS rumah dan apartemen mengguna
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 100

    Bab 100 Wajah Felicia seketika pucat pasi, tangannya gemetar hebat karena tidak menyangka Nara yang sedang lemas di atas ranjang masih bisa melayangkan serangan balik yang sangat presisi dan mematikan. Menyadari dirinya kalah telak, Felicia menyambar tas mewahnya dan berbalik berlari cepat keluar dari kamar dengan rasa malu yang pekat. Setelah Felicia pergi, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Adrian menatap Nara dengan tatapan takjub. "Kamu benar-benar luar biasa, Nara. Bahkan dalam kondisi seperti ini." Nara perlahan menarik tangannya secara halus dari genggaman Adrian, menatap lurus ke dalam manik mata pria baik-baik itu dengan senyuman yang teramat manis. "Terima kasih, Adrian. Kamu adalah pria yang sangat baik, dan aku sangat menghargai bantuanmu hari ini. Tapi ... aku tidak bisa menerima tawaranmu untuk tinggal di sini," ucap Nara tegas. Adrian tertegun, matanya meredup karena kecewa. "Kenapa, Nara? Arkan sudah membuatmu terluka." "Karena sekeras apa pun Arkan mend

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 99

    Bab 99 Dua jam berlalu dengan sangat mencekam di apartemen mereka dekat kanal. Arkananta berdiri di tengah ruang tengah dengan kemeja yang berantakan dan nafas yang memburu. Di atas meja kaca, tergeletak ponsel milik Nara beserta cincin berlian biru safir yang sengaja dilepaskan dari jari manis istrinya. Nara menghilang tanpa jejak, semua sistem pelacakan digital yang biasanya diandalkan Arkan tidak berfungsi karena Nara dengan sengaja mematikan seluruh akses GPS rumah dan apartemen menggunakan keahlian digitalnya sendiri. Sang pengawas yang biasanya selalu bersikap percaya diri dan memiliki kendali penuh, kini benar-benar didera kebingungan dan ketakutan terbesar dalam hidupnya. Brak. Pintu depan terbuka, Thomas masuk dengan wajah pucat. "Mr.Dewangga! Tim keamanan sudah memeriksa seluruh stasiun dan bandara di Den Haag, tapi nama Nyonya Nara tidak terdaftar di mana pun!" "Cari lagi, Thomas!" bentak Arkan, suaranya meninggi karena frustrasi hingga urat-urat di lehernya menegan

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 98

    Bab 98 Felicia terkekeh pelan, melangkah satu kali lagi hingga jaraknya dengan Arkan terasa begitu tipis. "Tenang saja, aku ke sini justru untuk membersihkan nama baik keluargaku dari kebodohan Kevin. Aku profesional, Arkan. Dan kurasa ... aku bisa menjadi rekan kerja yang jauh lebih sepadan untukmu di Den Haag daripada mempertahankan analis yang sedang tidak produktif." Nara tertegun di balik pintu, pandangannya turun menatap gaun hamil longgarnya, lalu beralih pada sosok Felicia yang tampak begitu sempurna, langsing, dan memiliki kendali penuh atas karier internasionalnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Nara Anindita sang peraih nilai pleno tertinggi Oxford, merasa tidak percaya diri. Rasa mual di perutnya mendadak berganti menjadi rasa sesak yang menghimpit dada. Nara memilih mundur perlahan, namun langkah kakinya yang berat terdengar oleh Arkan. Klak. Pintu kaca langsung ditarik terbuka dari dalam, Arkan berdiri di ambang pintu, mata elangnya seketika menangk

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 97

    Bab 97 "Aku hanya bisa tenang jika kamu dan anak kita berada di bawah perlindunganku, Cantik," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Nara. "Katakan padaku, Nyonya Dewangga ... siapa pemilik hatimu sekarang?" Nara tersenyum dengan manis, lalu menyentuh ujung hidung suaminya. "Kamu, Arkananta. Hanya kamu yang memegang kendali atas hidup dan matiku," ucap Nara. Pagi harinya di dapur rumah milik Nara, sinar matahari menembus jendela kaca, menerangi cangkir teh kamomil yang masih mengepulkan uap panas. Nara sedang berada di kamar mandi untuk mengatasi mual paginya. Di meja makan, ponsel Nara bergetar pendek. Arkan yang sedang mengancingkan kemeja hitamnya, langsung melirik ponsel tersebut. Mata elangnya menyipit tajam, tanpa ragu tangan kokohnya menyambar benda itu. Layar ponsel Nara menampilkan ruang obrolan dari Adrian Vance. Dengan raut wajah kesalnya, ia mengetuk layar dan mengetikkan balasan dengan gerakan yang cepat menggu

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 96

    Bab 96 Tiba-tiba, layar panggilan video Thomas bergoyang. Sosok Thomas tergeser dan digantikan oleh wajah tegas Arkananta Dewangga yang baru saja mendobrak masuk ke ruang rapat kantor London. Mata elangnya menatap lurus ke arah kamera dengan kilat amarah dan kekhawatiran yang sangat pekat. "Nara Anindita! Apa yang sedang kamu lakukan dengan laptop itu?" bentak Arkan, suara baritonnya terdengar bergetar karena rasa khawatir yang luar biasa di seberang telepon. "Aku sudah menyuruhmu tetap di bawah selimut!" Nara tidak gentar sedikit pun, ia justru menatap mata gelap suaminya dengan binar bahagia. "Tenang dulu, Pengawas Arkananta. Dari pada kamu menghabiskan waktu dengan mengobrak abrik kantor untuk mencari mata-mata, lebih baik kamu dengarkan analisis istri itumu ini." Arkan menarik nafas pendek, rahang tegasnya mengeras, namun ia terpaksa menahan emosinya demi mendengarkan Nara. "Katakan, sebelum aku menyuruh supir menjemput laptop itu dari tanganmu." "Pelakunya bersembunyi d

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 95

    Bab 95 Pagi hari sebuah rumah yang terletak di pinggiran London yang biasanya tenang, mendadak diselimuti kecemasan. Di dalam kamar utama yang hangat, Nara terbaring lemas di atas ranjang dengan wajah yang sangat pucat. Usia kehamilannya baru memasuki bulan ketiga, namun morning sickness yang ekstrem membuatnya tidak bisa menjaga asupan makanan sedikit pun sejak subuh. Arkan duduk di tepi ranjang dengan kemeja hitam yang berantakan. Pria yang biasanya selalu tenang di ruang sidang itu, kini tampak sangat panik. Mata elangnya menatap lurus ke arah Nara dengan tatapan penuh ketakutan. "Minum air hangatnya sedikit saja, Nara. Kumohon," bisik Arkan pelan, suara baritonnya bergetar lembut saat ia menyodorkan cangkir ke bibir istrinya. Nara mencoba meminumnya satu teguk, namun sedetik kemudian ia memalingkan wajahnya sambil memegangi perutnya yang mual. "Maaf, Arkan ... perutku menolaknya lagi, rasanya sangat sesak." Arkan meletakkan cangkir itu ke meja dengan sentakan yang sediki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status