Accueil / Romansa / Terpikat Hasrat CEO Dingin / Tentang Rasanya Kehilangan

Partager

Tentang Rasanya Kehilangan

Auteur: Purplexyiii
last update Date de publication: 2025-03-13 17:00:48

"Jangan temui dia lagi, Seraphina. Atau kau akan menyesal."

Lucian mengatakannya dengan nada datar, tetapi ketegangan dalam suaranya terlalu jelas untuk diabaikan. Matanya menatapku tajam, seolah memberi peringatan yang lebih serius daripada sekadar kata-kata.

Saat itu, aku hanya mengangguk. Aku tidak ingin berdebat dengannya.

Aku tahu dia tidak sepenuhnya mempercayaiku. Dan aku juga tahu bahwa peringatan itu bukan sekadar rasa cemburu yang buta.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Selalu Jadi Miliknya

    Aku mengeringkan rambut sambil duduk di sisi kolam, kaki masih terendam di air yang mulai terasa dingin. Lucian baru saja muncul dari permukaan, mengibaskan rambutnya seperti anjing laut tampan yang menyebalkan, lalu menggeser posisinya duduk di sebelahku. Bahunya yang lebar sedikit menyentuh pundakku. Kulirik tubuhnya yang masih basah, dan entah kenapa aku seperti lupa cara bernapas. "Seharusnya kita renang begini tiap malam," ucapnya dengan mata penuh menggoda. "Kau terlihat bahagia. Aku senang Melihatmu yang seperti ini." Aku mengangguk, menyeka leherku yang dingin dengan handuk kecil. "Setidaknya malam ini tidak ada panggilan bisnis yang menculikmu, tidak ada tumpukan laporan, tidak ada Liora yang tiba-tiba menangis." Lucian menoleh dan menyeringai. "Jadi selama ini aku dicuri banyak orang, ya?" "Setiap hari," sahutku cepat. "Tapi aku terlalu baik untuk komplain." Dia tertawa pelan, lalu berdiri dan menju

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Tidak Bisa Menahan

    Aku tak pernah menyangka suara tawa kecil bisa menciptakan kehangatan sedalam ini. Taman bermain itu tidak terlalu ramai malam ini, hanya beberapa keluarga yang tampaknya juga ingin membiarkan anak-anak mereka menikmati udara segar sebelum tidur. Lampu-lampu temaram memantul di permukaan perosotan logam, dan aroma manis dari jajanan kaki lima bercampur dengan wangi rumput basah menyelimuti suasana. “Papa! Ayun ... Liora mau ayun ....” Suara cempreng putri kecil kami, Liora, memecah pikiranku. Dengan dua gigi mungil yang menyembul di senyumnya, dia menunjuk ke arah ayunan sambil melompat-lompat kecil. Lucian menunduk, mengangkat Liora dengan cekatan lalu menggendongnya tinggi di udara sebelum menurunkannya ke ayunan. “Siap terbang, Putri Kecil?” “Iya yang tinggi yaa!” Liora berseru. Aku duduk di bangku tak jauh dari mereka, mengenakan jaket panjang dan syal tipis. Tangan memeluk termos kecil berisi cokelat pan

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Ketakutan Terasa Kecil

    Jalanan ibu kota tampak bersahabat malam itu. Lampu-lampu gedung memantulkan kilauan lembut ke permukaan mobil yang meluncur perlahan melewati trotoar-trotoar berisi pejalan kaki yang masih ramai meski waktu sudah mendekati malam. Aku menyandarkan kepala ke jendela, membiarkan embun tipis yang menempel di kaca sedikit menyejukkan kulitku. Lucian mengemudi dengan satu tangan di setir, satu lagi menggenggam tanganku tanpa melepaskan sedetik pun. "Ayah dan Ibu pasti sudah tertidur," gumamku sambil tersenyum kecil. Lucian melirikku sekilas, "Kau yakin mereka tidak kerepotan dengan anak kita?" "Ibu sudah bilang dia senang bisa menghabiskan waktu dengan cucunya. Dan Ayah bahkan bilang mereka merasa muda kembali karena rumah jadi ramai." Lucian tertawa pendek. "Kalau begitu kita harus sering-sering menitipkannya." Aku menyipitkan mata. "Lucian ...." "Berlebihan, ya?" Dia tersenyum bers

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Sesuatu Tak Ternilai

    Begitu pintu utama terbuka, aroma makanan lezat segera memenuhi seluruh ruangan. Aku bahkan belum melihat siapa yang datang, tapi aroma ayam panggang madu dan jamur krim itu jelas tidak salah lagi. Aku buru-buru berjalan ke arah pintu, dan begitu melihat Lucian berdiri di sana, lengkap dengan setumpuk kantong makanan dan ekspresi lelah yang terlukis samar di wajahnya, aku langsung tersenyum lebar. Tanpa pikir panjang, aku melingkarkan lenganku ke pinggangnya dan menyandarkan kepalaku ke dadanya. "Aku kangen," ucapku pelan, menyembunyikan wajahku di balik jas kerjanya yang dingin. Lucian menunduk, mencium pelipisku singkat. "Aku juga. Maaf, baru pulang sekarang. Tadi ada rapat tambahan. Tapi aku bawa pulang semua makanan favoritmu." "Kak, serius deh! Ini anakmu seharian tidak mau tidur, dan tadi muntah di bajuku!" Veronica menyusul keluar dari kamar dengan ekspresi jengkel, rambut diikat seenaknya dan mengenakan kaos kebesa

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Dalam Segala Lelah

    Tidur malam menjadi kemewahan. Bayi kecil kami—yang baru saja menginjak usia tiga minggu—menguasai segalanya. Dari waktu, emosi, hingga batas kesabaran yang tak pernah kutahu ternyata begitu lentur. Lucian sedang berusaha memasang popok. Lagi. Ini sudah kelima kalinya malam ini. Matanya merah, rambutnya acak-acakan, dan kemejanya terlipat tak karuan seolah habis diremas mesin cuci. Tapi dia tetap teguh, seolah sedang memimpin pertemuan direksi. "Aku rasa ... bagian ini ke depan?" gumamnya, menatap popok seperti menatap dokumen merger yang tak dia pahami. "Bukan. Itu bagian belakang." Aku menahan senyum, menyodorkan tisu basah. "Kau sudah salah tiga kali. Mau aku bantu?" "Jangan, ini soal harga diri," balasnya serius. Aku tertawa pelan sambil menyandarkan punggung ke dinding, menggendong bayi kami yang baru saja selesai menyusu. Lucian mungkin terlihat konyol sekarang, tapi hanya aku yang tahu betapa cepatnya

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Menatap Keajaiban Kecil

    Punggungku terasa pegal sejak tadi, tapi aku tak begitu memperhatikannya. Kupikir hanya karena duduk terlalu lama saat menyortir dokumen dari yayasan. Tapi ketika nyeri itu merambat ke perut dan membuatku sedikit meringis, aku mulai curiga.Lucian sedang duduk di seberang meja, menatap layar tablet dengan mata serius. Dahi pria itu berkerut, namun tetap sesekali mencuri pandang ke arahku. Ia memang akhir-akhir ini terlalu protektif, terlebih setelah dokter berkata usia kehamilanku sudah cukup matang.Kupaksakan tersenyum padanya, walau tubuh ini terasa seperti akan meledak dari dalam.“Lucian,” panggilku pelan, menutup map di tanganku. “Kau sibuk?”Tatapan kelamnya langsung berpindah padaku. “Tidak. Kenapa?”Aku menarik napas perlahan. “Perutku … agak nyeri. Tapi bukan seperti kontraksi hebat. Mungkin cuma karena terlalu banyak duduk.”Lucian langsung berdiri, menarik kursinya hingga berderit. “Sakitnya seperti apa? Tajam? Menusu

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Sudahkah Malam Pertama?

    "Aku serius. Jangan mencium lagi, Lucian. Aku harus segera berangkat." Namun, Lucian tidak peduli. Tangannya tetap melingkar di pinggangku, kepalanya menunduk, mencium pelipisku sekali, dua kali, lalu turun ke pipi. Aku memiringkan wajah, berusaha menghindar, tapi dia justru menahan daguku erat.

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-27
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Godaan Halus Darinya

    “Meskipun ini hanya sementara, kau tetap tanggung jawabku,” lanjutnya dengan nada datar. “Jadi kau bisa meminta apa pun. Aku tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan, tapi kau juga harus tetap sempurna di depan publik.” Aku membuka mulut untuk membantah, tapi dia lebih dulu

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-21
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Bisa Bangkit Lagi

    Lift terbuka, dan begitu aku dan Lucian masuk, aku nyaris menghela napas lega—sampai aku melihat seseorang berdiri di dalam. Veronica. Lucian masih memeluk pinggangku, dan aku bisa merasakan tubuhnya tetap rileks, seolah kehadiran adiknya bukan masalah besar. Tapi aku bisa melihat jelas bagaimana

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-21
  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Tidur Satu Kamar

    Aku menatapnya dengan mata melebar, otakku berusaha mencerna kata-katanya. Bolehkah aku masuk? Aku tidak tahu bagian mana yang lebih mengejutkan—fakta bahwa Lucian datang mengetuk pintuku tengah malam, atau keberaniannya mengajukan permintaan yang begitu

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-20
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status