Masuk"Apa yang Mbak Sekar pikirkan sampai tidak fokus. Apa sakit, Mbak?" tanya Mbok Nanik yang coba mengobati luka di lutut Sekar.
Setelah mempresentasikan tugas yang dia kerjakan semalam, ditengah perjalanan, motor yang sudah menemani pulang pergi beberapa tahun ini tak sengaja di tabrak, hingga membuat lututnya terluka. Memang tidak parah, karena juga pengemudi itu tak sengaja menyenggol motor Sekar yang memang kurang fokus dengan jalan, otaknya sibuk memikirkan Wira. Dengan jalan tertatih karena lutut sebelah kirinya terluka hingga membuat celana yang dikenakan robek, dia menggerutu karena pengawal pribadinya langsung melaporkan kejadian itu pada Presiden, padahal dia tidak mau orang tuanya khawatir karena dirinya. Sesampainya di rumah dia berbaring dengan santainya, menutup wajahnya menggunakan bantal. Dia menangis dalam diam, terbiasa di tinggal bekerja orang tuanya, dia menjadi pribadi yang kuat, tapi juga ceria. Bukan berarti orang tuanya tidak sayang, karena setelah mendengar kabar putri semata wayang mereka terluka, Adi dan istrinya segera pulang. "Mana saja yang terluka." Suara Sophia terdengar, membuat Mbok Nanik menghentikan kegiatannya. "Ibu, hanya lututku saja yang terluka. Bukan luka yang serius," sahut Sekar, dia berusaha untuk duduk bersandar. Perjalanan kembali ke rumah dinas, orang tua Sekar dikabarkan putrinya kecelakaan, mereka langsung ingin pulang. "Ya Tuhan, Nak. Lihatlah luka ini, apa tidak perih?" Sophia menatap perih luka di lutut putrinya. "Makanya Ayah bilang menggunakan mobil saja. Ada sopir yang akan mengantarkanmu, kenapa susah sekali diberitahu." Kali ini Adi yang langsung duduk di samping putrinya. Lukanya sudah Nanik obati dan tinggallah mereka bertiga di kamar. "Makanya juga Sekar lebih baik tinggal di rumah Nenek saja daripada di sini. Ayah dan Ibu jadi mengkhawatirkan aku, padahal juga hanya luka kecil." "Memang gadis nakal. Orang tua pasti khawatir, saat putrinya terluka seperti ini," sahut Sophia sambil memukul pelan bahu putrinya karena gemas. "Ayah, apa ada Ajudan baru? Kenapa tidak di kenalkan padaku, jahat sekali." Ketika orang tuanya sedang khawatir, dia coba mengalihkan obrolan mereka dan menanyakan Wira, pria yang dia temui tadi pagi. "Sudah, lebih baik pejamkan mata dan tidur." Adi mengusap rambut putrinya dan berjalan pergi setelah memastikan putrinya tidak mengalami luka yang serius. "Ayah jahat sekali, aku—" Ucapan Sekar terhenti saat dadanya terasa tertekan, membuat nafasnya terasa berat. Langkah kaki Adi terhenti dan kembali menatap putrinya dengan wajah pucat. "Sayang, sebaiknya kita ke rumah sakit. Apa kepala kamu tidak sakit?" tanya Sophia khawatir. Bukannya menjawab, Sekar hanya diam sambil mengatur nafas. "Ke mana oksigenmu?" Adi yang melihat putrinya sedang merasa sesak segera mencarikan tabung oksigen milik putrinya, sampai dia menemukan di samping lemari. "Bahkan kamu tidak bilang jika oksigenmu habis semua. Sebenarnya ada apa denganmu, Nak." 3 tabung oksigen yang disimpan ternyata kosong. "Sekar ..." Sophia coba membuat putirnya menatap, namun tidak ada sautan. "Kita bawa ke rumah sakit, siapkan mobil." Dengan segera Adi mengendong putrinya keluar, untuk dibawa ke rumah sakit. Tubuh ringkih puterinya tidak membuat Adi kesulitan menggendong, terjadi kepanikan sesaat melihat Sekar mengalami sesak nafas. Dia syok setelah mengalami kecelakaan, namun dia membiarkan begitu saja. Dia pikir akan hilang sesampainya di rumah. "Ada apa, Pak?" Wira berjalan menghampiri Adi yang ada di halaman depan rumah dengan Sekar di gendongannya. "Kita bawa dia ke rumah sakit. Dia mengalami sesak nafas." "Ayah, Se–kar tidak apa-apa. Sudahlah, ti–dak perlu ke rumah sa–kit." Sekar menghentikan langkah Adi ketika akan masuk mobil. Adi mendudukkan tubuh puterinya di bangku belakang mobil saat Wira berhasil membuka pintunya. Sekar menatap pria yang sejak tadi membuat tidak fokus. Matanya tidak terkedip melihat Wira, padahal dia sedang mengalami sesak nafas. "Pak, gunakan tabung portabel ini." Salah satu Ajudan Adi datang dan membawakan tabung oksigen yang dibutuhkan. Dengan bantuan Sophia, Sekar menghirup udara dari tabung oksigen itu perlahan dengan mata yang masih menatap Wira. Pria tampan itu sedang mendengarkan Adi bicara, seperti sedikit menjelaskan kondisi Sekar pada Wira yang tidak tau. "Biar saya yang membantunya." Wira menawarkan diri untuk menggendong Sekar yang gagal pergi ke rumah sakit karena dia sudah mendapatkan oksigen. Perlahan Wira menyentuh tubuh wanita cantik yang tidak lepas menatapnya. Dia diam seribu bahasa tanpa penolakakan, entah karena tabung oksigen yang menutupi sebagaian wajahnya, atau dia sedang terpesona dengan wajah tampan pria yang menggendongnya. "Maaf jika saya lancang." Suaranya berat, pas dengan wajahnya yang tampan dan juga berwibawa. Sekar hanya mengangguk, dia hanya diam saat sebelumnya sangat ingin mengutarakan perasaan. Sampai di kamar Sekar masih diam. Perlahan Wira membaringkan tubuh putri tuannya, dengan mata Sekar terus memandang wajah tampan Ajudan bapaknya. "Terima kasih, Tuan." Suara Sekar lirih, namun masih terdengar dari balik masker oksigen yang dikenakan. "Kamu yakin tidak ingin pergi ke rumah sakit, Nak?" Pertanyaan Sophia mengalihkan pandangan Sekar pada pria tampan di hadapannya. Sekar menggeleng pelan. Syarat jika menolak akan apa yang ibunya tawarkan. "Oh ya, dia ini Wira, Ajudan baru Bapak." Wira menunduk sopan pada Sekar yang hanya tersenyum tipis. Rasa sesak terasa ketika dia terus menatap ketampanan pria bertubuh kekar dan tampan itu. Bukan hanya karena sakitnya, tapi ketampanan dari Wira. Setelahnya Wira berjalan pergi, dari tempatnya berbaring, mata Sekar terus menatap punggung kekar Wira yang perlahan meninggalkan kamar. Hingga dia tidak fokus dengan perkataan ayah dan ibunya. "Sayang, minum obatmu dan segera istirahat agar lebih enakan." "I–bu, apa Tuan Wira sudah menikah?" tanya Sekar. Entah pertanyaan apa itu, dia malah membahas Wira ketika kondisinya sedang tidak baik-baik saja. "Dia masih lajang. Kenapa memangnya? Di usianya sekarang, dia sudah menjadi Mayor, bukankah itu hebat," jelas Sophia. "Memang usia berapa dia, Bu?" tanya Sekar. Dia masih sempat memikirkan Wira saat kondisinya sedang tidak baik saja. "32 tahun." "Usia bukan penghalang untuk diriku yang masih 24 tahun ini," jawab Sekar. "Kamu itu bicara apa? Fokus dengan kondisimu. Jangan selalu menyembunyikan rasa sakitmu seorang diri, Nak. Bahkan tabung oksigenmu habis, kamu tidak peduli. Alergi mu jika tidak hati-hati akan mengancam jiwamu. Ibu tidak merasa terbebani, Ibu malah merasa bersalah saat membiarkanmu. Kamu banyak mengalah karena kesibukan kami, jadi maafkan Ayah dan Ibu, Nak." "Ibu bicara apa. Sekar mengerti kok, tidak perlu mengatakan hal seperti itu. Apa ibu pikir Sekar anak yang lemah? Walau penyakit ini menjadi kelemahan ku, tapi aku tetap ingin bersikap baik-baik saja. Sekarang akan lebih menjaga diri. Ibu jangan menyalahkan diri, aku baik-baik saja," jelas Sekar. Ibu mana yang tidak bersedih ketika putri semata wayang mereka kurang kasih sayang karena kesibukan. Sekarang ketika Adi baru di pilih menjadi presiden, Sophia ingin Sekar bersama mereka, tidak lagi dengan Nenek Sekar. "Kamu memang gadis manis. Ibu sayang padamu, Nak.""Kenapa kalian hanya diam ketika dia melakukan ini. Lihat sekarang yang terjadi. Tetap dia yang terluka."Gala tampak marah pada Samuel dan juga Ivan setelah tau kebenaran akan apa yang Wira lakukan. Sekar sendiri termenung menatap wajah pucat suaminya yang terbaring tidak berdaya di brankar rumah sakit."Tidak perlu memarahi mereka, ini semua keputusan Mas Wira, entah kenapa dia selalu keras kepala dengan dirinya. Jika memang mendonorkan, tidak kah mengantakan setelahnya, dia malah memforsir tubuhnya setelah tindakan itu. Apa kita berarti untukmu, Mas? Rasa khawatir yang kita rasakan tidak berguna, apa seperti itu?"Wira yang memang sudah sadarkan diri mulai membuka mata dan melihat Sekar yang sudah menangis di sampingnya dengan Asmaratungga digendongan. "Aku hanya tidak ingin dengan ibu yang terus ingin bertemu denganku lalu menjadi masalah. Apa kamu pikir saat masa kampanye seperti ini tidak akan menjadi sensitif.""Itu buka
Kondisi Wira malah menurun setelah proses biopsi. Dia terbaring lemah sekarang, tidak bisa ikut kegiatan kampanye. Dia tidak berani untuk bilang jika ini efek dia melakukan pengambilan cairan sumsum tulang belakang kemarin. Dia hanya memejamkan mata dan berharap segera membaik agar Sekar tidak curiga."Tubuhnya demam, Mas Wira memaksakan diri untuk membantu ayah padahal juga masih masa pemulihan. Dokter sudah ingatkan tentang luka di pundaknya, tapi dia tetap keras kepala saja," tutur Sekar pada ibunya."Tidak di bawa ke rumah sakit saja, Nak? Agar lebih tau keluhan apa yang di rasakan, apa tidak tentang tensinya turun atau lukanya yang kembali terasa sakit. Apalagi dia memiliki riwayat tensi rendah, jadi harus lebih menjaga.""Entahlah, Bu, dia itu memang keras kepala sekali."Setelah proses kemarin dia ikut melakukan kegiatan, padahal Dokter sudah ingatkan kan harus lebih menjaga diri karena memiliki efek."Titi
"Anda sudah siap?"Hari ini sebelum Kampanye, Wira mendapatkan hasil jika dia bisa melakukan Biopsi setelah mengecek kondisi tubuhnya, yang harus dilakukan selanjutnya, pengambilan sampel cairan dari sumsum tulang menggunakan spuit yang dipasang pada jarum. Proses yang panjang untuk Wira yang terburu-buru ingin segera menyelesaikan ini karena dia beralasan pergi ke Yonif untuk mengambil sesuatu."Setelah ini istirahat saja, jangan melakukan kegiatan berat sampai 2 hari ke depan. Jika merasa sakit atau terjadi perdarahan di bekas pengambilan cairan, segera pergi ke rumah sakit. Akan merasa tidak nyaman atau nyeri, jadi lebih baik istirahat."Setelah proses Biopsi, Wira harus menyusul Adi untuk kampanye, mana bisa dia istirahat. Setelah dari ruang tindakan, Wira berjalan keluar. Ada sedikit rasa nyeri di bekas pengambilan cairan, namun dia coba untuk membiarkan."Terima kasih, kamu menepati janji mendonorkan sumsum tulang belakan
"Aku datang tidak ingin Ibu membuat kegaduhan ketika mertuaku sedang melakukan Kampanye. Aku menjaga itu dan melakukannya dengan sangat hati-hati. Dengan datang ke istana kepresidenan seperti itu, Ibu hanya akan memancing mereka ingin tau.""Istrimu melarang untuk bertemu, jadi—""Itu karena dia khawatir padaku. Gala bahkan akan sangat marah jika tau aku bertemu dengan ibu. Tapi kembali lagi, aku tidak ingin dengan tindakan Ibu akan membuat masalah untuk mertuaku. Aku akan melakukan tes kecocokan itu, jika aku bisa menjadi pendonor, maka aku donorkan. Tapi aku mohon untuk tidak membuat keributan."Wira hanya tidak ingin Sutanto tau tentang ibunya, dan menjadikan kelemahan untuk Adi. Jika Wira menuruti sang ibu, setidaknya akan membuat ibunya tenang dan mengikuti permainannya."Aku harap Ibu tidak perlu bicara pada Gala ataupun istriku. Cukup kita saja, apalagi pada siapapun yang coba membuat hubungan kita akan menjadi masalah.
"Tanyakan pada Janggala, apa dia membolehkan Anda bertemu dengan kakaknya atau tidak. Apa yang Anda berikan pada Mas Wira sudah keterlaluan. Anda berharap dia mati, ketika dia berjuang untuk adiknya. Dia tidak menyerah meski harus meneteskan keringat darah, tapi apa yang dia dapat dari Anda. Penolakan karena hal yang tidak dia lakukan. Anak mana yang membenci ibunya, Mas Wira tidak pernah berbicara buruk tentang Anda. Sedikit pun tidak pernah.""Iya, aku yang bersalah, tapi tolong pertemukan aku dengannya. Aku mohon." Triana sampai berlutut di hadapan Sekar yang mundur 2 langkah karena tidak ingin mertuanya itu berlutut."Berdirilah, aku tetap tidak bisa memberikan jawaban untuk itu ketika Gala melarang. Dia begitu marah, karena dia tau kakaknya akan tetap mau melakukan apa yang ibunya minta meski balasan yang dia dapat cacian dan kebencian. Sebaiknya Anda pulang, aku tidak bisa membuat Anda bertemu dengan Mas Wira.""Aku mohon!" Triana berh
"Mas tidak apa-apa?"Sekar menghampiri suaminya yang hanya melamun di ruang tengah. "Tidak, aku hanya memikirkan Gala semarah itu. Aku tidak ingin dia bersikap seperti itu apalagi karena diriku.""Itu hal wajar Mas, tidak masuk akal saja saat ibu kalian datang untuk mencari keuntungan. Maaf aku bicara seperti ini, karena aku sendiri juga kecewa. Awalnya aku pikir ada alasan yang membuat ibu kalian seperti ini, namun setelah dengar dengan telingaku sendiri, aku jadi paham. Luka hati yang Mas rasakan begitu dalam, dan hebatnya Mas hanya diam tanpa ingin membalas atau berkata buruk pada ibu kalian.""Jujur aku marah, tapi aku tidak bisa meluapkan itu. Aku tidak bisa seperti Gala, diam hal yang aku lakukan ketika itu terlalu menyakitkan. Maaf jika itu membuatmu tidak nyaman.""Berhenti meminta maaf, Mas, karena maaf tidak bisa mengobati hatimu yang terluka." Sekar tidak ingin lagi melihat Wira meluapkan emosinya seperti kemarin, di







