Mag-log in"Maaf, Nona. Anda dipanggil Bapak ke ruang kerjanya."
Seorang pria dengan tubuh tinggi kekar, dan kulit sawo matang, wajah tampan sedang menghampiri Sekarwangi Anindita, putri tunggal Presiden ke 10 Bapak Adi Bagus Hanenda dan Ibu Sophia Latif. Harinya menjadi berubah setelah sang ayah dilantik menjadi orang nomor satu di Indonesia. Hal yang tidak ingin dilakukan karena dia tidak bisa lagi bebas seperti sebelumnya. Geraknya akan diawasi, dia harus berhati-hati dengan tingkah lakunya di depan umum. Tutur bahasa bahkan kesenangnya akan menjadi sorotan saat dia melakukan kesalahan. "Aku sedang mengerjakan tugas, suruh mereka makan lebih dulu, aku masih kenyang." Dia enggan menemui orang tuanya karena merasa nyaman di kamar seorang diri dengan kegiatan yang sejak tadi dikerjakan. "Bapak ingin mengenalkan Ajudan baru beliau, Bapak harap kamu menemuinya sebentar, itu perintah Bapak." Pria tampan itu tidak menyerah, dia kembali mengatakan apa yang Presiden perintahkan. "Mas, tolonglah. Kepalaku sedikit sakit, jadi—" "Haruskah aku panggilkan Dokter untukmu, Mbak?" Wajahnya berubah khawatir mendengar keluhan wanita cantik itu. "Tidak, Mas. Bilang pada Bapak, aku sedang belajar, aku sudah meminta seseorang memberikan plester penurun panas dan meminum obatku. Bukankah aku memang sudah biasa seperti ini." Senyum manis Sekar meyakinkan pria di hadapannya percaya jika dirinya akan baik-baik saja. Bukan rahasia lagi jika Sekar memiliki penyakit bawaan, memang tidak berbahaya, namun tubuhnya mudah sekali lelah, dan berakhir dia akan demam. Dia memiliki penyakit Hipertiroid yang dikarenakan Anemia Pernisiosa, membuatnya harus lebih hati-hati. Namun, hal itu tidak membuatnya harus larut dalam kesedihan karena penyakit genetik yang Buyutnya derita, sekarang dia yang merasakan itu. Dia gadis ceria, dan juga baik. Meski dia tidak setuju dengan pencalonan ayahnya menjadi Presiden, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak apa yang menjadi keinginan orang tuanya. Kening Sekar sering tertempel plester penurun panas, seperti sudah biasa dia melakukan itu, jadi dia tidak merasa risih. Berjalan 6 bulan dan itu masih panjang jabatan ayahnya akan dia lalui menjadi seorang Presiden, ketika sebelumnya ayahnya sebagai Walikota yang terkenal dengan kredibilitasnya mengayomi masyarakat. * Matahari menjulang ketika Sekar mulai membuka mata, meski dia bilang baik-baik saja. Demam pada tubuhnya membuat harus terbangun siang karena alarm yang dia nyalakan. "Apa Ayah sudah berangkat?" Sekar terlihat sudah rapi meski plester itu masih di keningnya. Setelah mandi, dia menempelkan plester baru karena tubuhnya masih demam. Dia tetap ingin pergi kuliah hari ini dengan plester di keningnya. "Sudah, Mbak. Apa Anda akan berangkat dengan kondisi demam?" tanya salah satu asisten rumah dinas. "Ya, aku ada presentasi hari ini. Bagaimana aku tidak masuk saat aku bekerja keras untuk mengerjakannya." Hal seperti ini sering dialami, dia kadang hanya bertemu ibunya bahkan tidak bertemu mereka saat membuka mata. Apalagi sekarang ayahnya menjadi orang nomor 1 di Indonesia, dia jarang bertemu dengan mereka. "Oh! Mas Wira, kok kembali, apa ada yang tertinggal?" Suara pengurus rumah membuat Sekar menoleh ke arah seorang pria tampan, betubuh tinggi, gagah, dan terlihat berwibawa sedang berjalan masuk dengan sedikit tergesah-gesah. Mata Sekar terbelalak dengan siapa yang dia lihat. Pria yang dia temui di Mall waktu itu ada di depan matanya sekarang. Dia bahkan terus menatap pria yang menunduk hormat menyapa Sekar. Mulut Sekar seakan keluh untuk bertanya siapa pria tampan itu. "Berkas Bapak tertinggal, aku akan mengambilnya," jelas Wira, pria tampan yang membuat Sekar tidak mengedipkan mata. "Di mana? Biar Mbok bantu cari. Tadi memang terburu-buru, sampai lupa," sahut Mbok Nanik. Sekar masih saja diam, dia menatap Wira yang berjalan mengikuti Mbok Nanik untuk membantunya berkas. Hari pertama bekerja, dia melupakan berkas Presiden. Walau tidak penting, tapi dia tetap merasa bersalah. "Terima kasih, Mbok." Tak lama mereka kembali dengan Wira memegang berkas yang dia cari. Dia segera pergi setelah menunduk hormat pada putri Presiden yang masih di tempat yang sama tanpa mengenalkan diri. "Mbak ... ada apa?" Mbok Nanik memegang lengan Sekar yang hanya diam menatap Wira pergi meninggilakan rumah dinas. "Tampan ... oh, maksudku. Siapa dia, Mbok?" tanya Sekar mengalihkan ucapannya karena otaknya terus memikirkan pria itu. "Mas Wira, Ajudan baru Bapak. Bukannya semalam ... oh, iya, kan Mbak Sekar tidak ikut makan malam." "Mbak, mobilnya sudah siap," sahut pria paruh baya yang juga salah satu pengurus rumah. "Aku naik motor kesayanganku saja. Gak mau menggunakan mobil." Sikap rendah hatinya dicontoh dari sang ayah. Meski dia putri orang nomor satu, dia tetap pergi dengan motor matic kesayangannya. "Tapi, Bapak bilang—" "Aku tidak mau tau. Sebaiknya aku pergi, apalagi jam kuliahku sangat mepet," timpa Sekar yang segera beranjak dan berjalan menenteng tas dan helmet kesayangannya. Meski membawa motor sendiri, Sekar tetap di temani dengan pengawal pribadinya. Hal itu wajib dia dapatkan karena ayahnya seorang Presiden. Meski awalnya dia risih, dan harus bersembunyi untuk pergi sendiri, namun sekarang dia terbiasa. Menikmati jalanan kota menuju kampus, dia memikirkan pria yang dia lihat tadi. Kalau dia tau ayahnya akan mengenalkan Ajudan yang dimaksud tadi, mungkin saja Sekar akan ikut makan malam bersama mereka. Penyesalan itu yang dia gerutui dalam hatinya. Dia merasa bodoh karena tidak makan malam bersama mereka. "Apa kau akan diam di atas motormu seperti itu terus, Sekar?" Tepukan pada bahu membuat Sekar menatap temannya. Dia malah terdiam dengan pemikirannya sejak keluar dari rumah. "Kau menggagetkanku saja." "Mulutku hampir sobek karena sejak tadi memanggilmu, dan kau malah termenung di sini. Makanya kalau ke kampus, plester ini dibuka." Lastri, salah satu sahabat Sekar yang satu kampus. "Ah ... aku baru menempelnya," gerutu Sekar menatap tak terima ketika Lastri melepas plester dikeningnya. "Kau hanya akan menurunkan standart mu saat kau mengenakan itu. Kau itu ada-ada saja. Wajah cantikmu itu menjadi fokus para laki-laki di sini. Seperti ini jauh lebih cantik." Tak ingin mendengarkan pujian sahabatnya, Sekar berjalan pergi meninggalkan Lastri yang masih bicara banyak hal. "Kau malah meninggalkanku, dan sekarang malah melamun lagi. Kalau kurang enak badan, harusnya kau itu diam di rumah. Apa harus aku katakan pada pengawal pribadimu agar membawamu pulang." Sesampainya di kelas, Sekar banyak diam. Dia masih mengingat wajah tampan Wira, Ajudan ayahnya yang baru. "Aku bertemu dengan pria yang membantuku waktu di Mall waktu itu. Pria tampan itu ada di depan mataku sekarang. Sungguh tampan." Bukannya peduli dengan ucapan Lastri, dia malah menceritakan tentang Wira. "Kau masih saja memikirkan pria itu. Apa spesialnya," sahut Lastri. "Kau akan terpesona padanya nanti saat bertemu, tapi jangan ... dia milikku. Aku merasa senang jika dia menjadi Ajudan ayah, aku bisa sering bertemu dengannya. Haruskah aku mengutarakan perasaanku?" Raut wajahnya tampak bahagia mengatakan itu, Sekar terpesona dengan Wira. "Apa ini namanya cinta pada pandangan pertama?""Kenapa kalian hanya diam ketika dia melakukan ini. Lihat sekarang yang terjadi. Tetap dia yang terluka."Gala tampak marah pada Samuel dan juga Ivan setelah tau kebenaran akan apa yang Wira lakukan. Sekar sendiri termenung menatap wajah pucat suaminya yang terbaring tidak berdaya di brankar rumah sakit."Tidak perlu memarahi mereka, ini semua keputusan Mas Wira, entah kenapa dia selalu keras kepala dengan dirinya. Jika memang mendonorkan, tidak kah mengantakan setelahnya, dia malah memforsir tubuhnya setelah tindakan itu. Apa kita berarti untukmu, Mas? Rasa khawatir yang kita rasakan tidak berguna, apa seperti itu?"Wira yang memang sudah sadarkan diri mulai membuka mata dan melihat Sekar yang sudah menangis di sampingnya dengan Asmaratungga digendongan. "Aku hanya tidak ingin dengan ibu yang terus ingin bertemu denganku lalu menjadi masalah. Apa kamu pikir saat masa kampanye seperti ini tidak akan menjadi sensitif.""Itu buka
Kondisi Wira malah menurun setelah proses biopsi. Dia terbaring lemah sekarang, tidak bisa ikut kegiatan kampanye. Dia tidak berani untuk bilang jika ini efek dia melakukan pengambilan cairan sumsum tulang belakang kemarin. Dia hanya memejamkan mata dan berharap segera membaik agar Sekar tidak curiga."Tubuhnya demam, Mas Wira memaksakan diri untuk membantu ayah padahal juga masih masa pemulihan. Dokter sudah ingatkan tentang luka di pundaknya, tapi dia tetap keras kepala saja," tutur Sekar pada ibunya."Tidak di bawa ke rumah sakit saja, Nak? Agar lebih tau keluhan apa yang di rasakan, apa tidak tentang tensinya turun atau lukanya yang kembali terasa sakit. Apalagi dia memiliki riwayat tensi rendah, jadi harus lebih menjaga.""Entahlah, Bu, dia itu memang keras kepala sekali."Setelah proses kemarin dia ikut melakukan kegiatan, padahal Dokter sudah ingatkan kan harus lebih menjaga diri karena memiliki efek."Titi
"Anda sudah siap?"Hari ini sebelum Kampanye, Wira mendapatkan hasil jika dia bisa melakukan Biopsi setelah mengecek kondisi tubuhnya, yang harus dilakukan selanjutnya, pengambilan sampel cairan dari sumsum tulang menggunakan spuit yang dipasang pada jarum. Proses yang panjang untuk Wira yang terburu-buru ingin segera menyelesaikan ini karena dia beralasan pergi ke Yonif untuk mengambil sesuatu."Setelah ini istirahat saja, jangan melakukan kegiatan berat sampai 2 hari ke depan. Jika merasa sakit atau terjadi perdarahan di bekas pengambilan cairan, segera pergi ke rumah sakit. Akan merasa tidak nyaman atau nyeri, jadi lebih baik istirahat."Setelah proses Biopsi, Wira harus menyusul Adi untuk kampanye, mana bisa dia istirahat. Setelah dari ruang tindakan, Wira berjalan keluar. Ada sedikit rasa nyeri di bekas pengambilan cairan, namun dia coba untuk membiarkan."Terima kasih, kamu menepati janji mendonorkan sumsum tulang belakan
"Aku datang tidak ingin Ibu membuat kegaduhan ketika mertuaku sedang melakukan Kampanye. Aku menjaga itu dan melakukannya dengan sangat hati-hati. Dengan datang ke istana kepresidenan seperti itu, Ibu hanya akan memancing mereka ingin tau.""Istrimu melarang untuk bertemu, jadi—""Itu karena dia khawatir padaku. Gala bahkan akan sangat marah jika tau aku bertemu dengan ibu. Tapi kembali lagi, aku tidak ingin dengan tindakan Ibu akan membuat masalah untuk mertuaku. Aku akan melakukan tes kecocokan itu, jika aku bisa menjadi pendonor, maka aku donorkan. Tapi aku mohon untuk tidak membuat keributan."Wira hanya tidak ingin Sutanto tau tentang ibunya, dan menjadikan kelemahan untuk Adi. Jika Wira menuruti sang ibu, setidaknya akan membuat ibunya tenang dan mengikuti permainannya."Aku harap Ibu tidak perlu bicara pada Gala ataupun istriku. Cukup kita saja, apalagi pada siapapun yang coba membuat hubungan kita akan menjadi masalah.
"Tanyakan pada Janggala, apa dia membolehkan Anda bertemu dengan kakaknya atau tidak. Apa yang Anda berikan pada Mas Wira sudah keterlaluan. Anda berharap dia mati, ketika dia berjuang untuk adiknya. Dia tidak menyerah meski harus meneteskan keringat darah, tapi apa yang dia dapat dari Anda. Penolakan karena hal yang tidak dia lakukan. Anak mana yang membenci ibunya, Mas Wira tidak pernah berbicara buruk tentang Anda. Sedikit pun tidak pernah.""Iya, aku yang bersalah, tapi tolong pertemukan aku dengannya. Aku mohon." Triana sampai berlutut di hadapan Sekar yang mundur 2 langkah karena tidak ingin mertuanya itu berlutut."Berdirilah, aku tetap tidak bisa memberikan jawaban untuk itu ketika Gala melarang. Dia begitu marah, karena dia tau kakaknya akan tetap mau melakukan apa yang ibunya minta meski balasan yang dia dapat cacian dan kebencian. Sebaiknya Anda pulang, aku tidak bisa membuat Anda bertemu dengan Mas Wira.""Aku mohon!" Triana berh
"Mas tidak apa-apa?"Sekar menghampiri suaminya yang hanya melamun di ruang tengah. "Tidak, aku hanya memikirkan Gala semarah itu. Aku tidak ingin dia bersikap seperti itu apalagi karena diriku.""Itu hal wajar Mas, tidak masuk akal saja saat ibu kalian datang untuk mencari keuntungan. Maaf aku bicara seperti ini, karena aku sendiri juga kecewa. Awalnya aku pikir ada alasan yang membuat ibu kalian seperti ini, namun setelah dengar dengan telingaku sendiri, aku jadi paham. Luka hati yang Mas rasakan begitu dalam, dan hebatnya Mas hanya diam tanpa ingin membalas atau berkata buruk pada ibu kalian.""Jujur aku marah, tapi aku tidak bisa meluapkan itu. Aku tidak bisa seperti Gala, diam hal yang aku lakukan ketika itu terlalu menyakitkan. Maaf jika itu membuatmu tidak nyaman.""Berhenti meminta maaf, Mas, karena maaf tidak bisa mengobati hatimu yang terluka." Sekar tidak ingin lagi melihat Wira meluapkan emosinya seperti kemarin, di







