Share

04

Author: Nyemoetdz Kim
last update Last Updated: 2025-02-15 02:00:45

"Akh ... menyusahkan sekali," gerutu Sekar saat dia coba menaiki motor kesayangannya yang terlihat baret di bagian knalpot dan body karena jatuh kemarin. Kakinya malah sakit, padahal kemarin dia tidak merasakannya.

"Bisa saya bantu?"

Suara berat itu membuat Sekar menghentikan kegiatannya dan langsung mencari asal suara. Senyum mengembang ketika dia melihat Wira berada di sampingnya.

"Apa Mas Panji ikut Bapak hari ini?" Dia bertanya ragu dengan rasa sesak menguasai dirinya, bukan karena sakitnya melainkan menatap wajah tampan Wira.

"Iya, apa Mbak ingin berangkat ke kampus? Biar saya yang antar menggunakan mobil." Tawaran yang bagus, tidak mungkin Sekar menolaknya. Dia mengangguk kepala cepat menjawab tawaran pria di hadapannya.

Dengan kaki yang terpincang-pincang, Sekar berjalan ke arah mobil. Kalau bukan karena jam dosen killer, dia tidak mau pergi karena kakinya sedikit bengkak, padahal kemarin dia pikir hanya luka lecet saja. Mungkin karena tertimpa motor yang berat, makanya terasa sakit.

"Mau saya bantu ke dalam mobil?"

Pertanyaan Wira menghentikan langkah Sekar yang menatapnya bingung, dia sejak tadi fokus dengan punggung kekar pria tampan di depannya.

"Apa tidak istirahat saja di rumah, kalau kaki Mbak masih sakit." Setiap Wira bicara tatapan wanita cantik itu tidak lepas dari pria yang sudah membuat jantungnya berdegub kencang.

"Mbak—" panggil Wira saat tidak ada sautan dari wanita cantik itu.

"Ah iya, Mas." Entah apa yang di tanyakan, Sekar mengiyakan saja apa yang Wira tanyakan.

Tanpa banyak bicara lagi Wira berjalan mendekati Sekar yang hanya diam mematung dengan tatapan tidak lepas dari wajah tampan Ajudan ayahnya. Tak lama Wira membawa tubuh ringkih wanita cantik itu dalam gendongannya, ala bridge style.

"Maafkan saya," tuturnya lirih, dan langsung membuat Sekar mengalungkan tangan pada leher Wira karena dia juga terkejut tubuhnya kembali dalam gendongannya.

Perlahan langkah Wira berjalan ke arah mobil, dengan mata masih menatap pria tampan yang menggendongnya, jantung Sekar semakin berdegub kencang. Dia juga mengatur nafas karena rasa sesak yang di sebabkan oleh Wira.

"Ada apa, Mbak? Apa merasa sesak lagi? Biar saya ambilkan oksigen? Haruskah saya membawa Mbak masuk ke rumah saja?"

"Ti–dak, Mas. Aku tetap harus berangkat. Hanya—" Hanya dia terpesona dengan ketampanan dari Wira, itu yang Sekar ingin katakan, namun lidahnya seperti keluh untuk mengatakannya.

Dengan pelan-pelan Wira mendudukkan tubuh wanita yang dia gendong ke dalam mobil. "Terima kasih, Mas."

"Mbak yakin tetap akan berangkat ke kampus?" tanya Wira.

"Iya, Mas. Aku tidak bisa absen karena dosen killer itu akan menghukumku." Senyum manisnya mengembang dari bibir Sekar. Pasti yang melihatnya akan terpesona dengan senyuman itu, hanya saja tidak pada Wira. Dia tampak begitu serius dan juga tegas.

"Baiklah," sahut Wira. Dia menutup pelan pintu mobil itu dan berjalan ke tempat seseorang yang berjaga di rumah dinas Adi.

"Apa dia akan mengantarkanku? Jantungku tidak akan baik-baik saja saat aku terus di dekatnya, tapi ... dia sungguh candu." Di dalam mobil Sekar bicara seorang diri dengan mata yang masih menatap Wira di luar mobil.

Dari dalam mobil, terlihat Wira berjalan ke arah mobil dan membuka pintu kemudi. Itu artinya memang dia yang akan mengantarkan Sekar kuliah. Ada rasa senang, tapi dia juga merasa sesak karena dekat dengan pria idamannya. Hanya Wira yang membuatnya jatuh hati dari beberapa Ajudan ayahnya.

"Kata Panji hari ini hanya akan ada satu mata kuliah saja, apa benar, Mbak? Nanti setelah dari kampus, kita ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kaki Mbak. Ini perintah Bapak." Wira menjelaskan dengan fokus pada kemudi, sedangkan Sekar duduk di belakang sambil menatap sopir tampan yang membuat dirinya tidak bisa berkata-kata.

Entahlah hatinya sangat senang, meski kakinya sakit. Dia tidak peduli dengan itu. Menikmati mahakarya Tuhan yang sedang dilakukan sekarang.

*

Sesampainya di kampus, karena malu Sekar meminta bantuan Lastri untuk masuk kelas. Dia tidak mungkin mencari perhatian dengan membuat Wira menggendongnya lagi. Walau dia suka hal itu, tapi dia malu. Apalagi dia harus menjaga sikap karena menyandang nama besar ayahnya.

"Kau terus melamun. Ngomong-ngomong, sopirmu itu tampan juga," tutur Lastri.

Sekar menatapnya tajam ketika senyum Lastri mengembang mengingat Wira yang menjadi sopirnya. "Dia pria yang aku maksud, jaga pandanganmu karena dia miliku." Senyum Lastri seketika luntur ketika mendengar perkataan sahabatnya.

"Siapa yang tidak akan meliriknya kalau dia begitu tampan. Lihat saja tadi para wanita di sini menatap ke pria itu," sahut Lastri.

"Itu sebabnya aku sangat menyukainya, tapi aku seperti bisu saat bersamanya. Jantung ku tidak sehat apalagi aku merasa sesak. Apa aku merasakan phobia dekat dengannya, itu tidak mungkin kan," jawab Sekar.

"Ah, benar juga. Kau alergi dengannya." Tawa Lastri pecah mengejek sahabatnya itu dan langsung mendapatkan tatapan tajam.

"Apa kau tidak bisa mengecilkan suara tawamu itu, seorang wanita tertawa lebar seperti itu apa pantas." Semua mahasiswa yang ada di kelas langsung diam ketika dosen killer itu masuk. Kemalangan menimpa Lastri yang ditegur dosen itu.

Sekar hanya tersenyum tipis melihat Lastri seketika diam karena ucapan dosen mereka. Mata kuliah hari ini Sekar jalani dengan perasaan senang, karena diantar oleh Wira. Tidak ada pengawal pribadi yang biasa bersamanya, hanya ada Wira dan sekarang dia menunggu Sekar di mobil.

"Kita ke rumah sakit sekarang, Mbak?" tanya Wira saat melihat putri tuanya berjalan dibantu Lastri ke arah mobil.

"Iya," jawab Sekar dengan lembut.

"Kau manis juga saat bersikap seperti sekarang. Lihatlah wajahmu itu, jelas kau sedang jatuh hati," bisik Lastri.

"Diam kau! Kau hanya akan membuatku mati kutu. Sudah sana pulang, aku harus pulang juga. Haruskah Dosen killer tadi menegurmu lagi," ejek Sekar.

"Terus saja kau mengejekku. Dosen itu juga terus mengincarku sejak tadi. Untung aku membaca materinya, jika tidak malah aku dibuat malu oleh Dosen killer itu." Karena tertawa tadi membuat Lastri di tandai oleh Dokter killer, dan itu seperti karma untuknya setelah mengejek Sekar.

"Bisa kita pergi sekarang, Mbak? Janji temu dengan Dokter 10 menit lagi." Wira memotong obrolan mereka.

Sekar hanya mengangguk pelan. Setelah berpamitan, mereka kemudian pergi ke rumah sakit dengan Sekar yang banyak diam. Bukan karena apa, dia merasa tidak nyaman saja dengan rasa sakit di kakinya, namun malu untuk mengeluh pada Wira.

"Tunggu di sini, biar saya ambilkan kursi roda untuk Mbak."

Setelah mendapatkan kursi roda, Wira kembali menggendong Sekar ke kursi roda dan membawanya masuk karena sudah mendapatkan janji temu dengan Dokter ortopedi.

"Kamu membiarkan rasa sakit ini saat ada retak halus di pergelangan kakimu. Itu yang membuatmu kesakitan," jelas Dokter.

Sekar hanya diam sambil memejam mata menahan rasa sakit di kakinya. Dokter membalut dengan gips karena terjadi patah tulang walau tidak begitu parah. Tetap saja dia memerlukan pemulihan.

Di sisi berbeda ada Wira yang melihat dan mendengarkan penjelasan Dokter tentang kondisi Sekar yang menahan rasa sakitnya. Terlihat dia meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dengan mata tertutup.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpikat Mayor Ajudan Bapak   114 🩷

    "Kenapa kalian hanya diam ketika dia melakukan ini. Lihat sekarang yang terjadi. Tetap dia yang terluka."Gala tampak marah pada Samuel dan juga Ivan setelah tau kebenaran akan apa yang Wira lakukan. Sekar sendiri termenung menatap wajah pucat suaminya yang terbaring tidak berdaya di brankar rumah sakit."Tidak perlu memarahi mereka, ini semua keputusan Mas Wira, entah kenapa dia selalu keras kepala dengan dirinya. Jika memang mendonorkan, tidak kah mengantakan setelahnya, dia malah memforsir tubuhnya setelah tindakan itu. Apa kita berarti untukmu, Mas? Rasa khawatir yang kita rasakan tidak berguna, apa seperti itu?"Wira yang memang sudah sadarkan diri mulai membuka mata dan melihat Sekar yang sudah menangis di sampingnya dengan Asmaratungga digendongan. "Aku hanya tidak ingin dengan ibu yang terus ingin bertemu denganku lalu menjadi masalah. Apa kamu pikir saat masa kampanye seperti ini tidak akan menjadi sensitif.""Itu buka

  • Terpikat Mayor Ajudan Bapak   113 🩷

    Kondisi Wira malah menurun setelah proses biopsi. Dia terbaring lemah sekarang, tidak bisa ikut kegiatan kampanye. Dia tidak berani untuk bilang jika ini efek dia melakukan pengambilan cairan sumsum tulang belakang kemarin. Dia hanya memejamkan mata dan berharap segera membaik agar Sekar tidak curiga."Tubuhnya demam, Mas Wira memaksakan diri untuk membantu ayah padahal juga masih masa pemulihan. Dokter sudah ingatkan tentang luka di pundaknya, tapi dia tetap keras kepala saja," tutur Sekar pada ibunya."Tidak di bawa ke rumah sakit saja, Nak? Agar lebih tau keluhan apa yang di rasakan, apa tidak tentang tensinya turun atau lukanya yang kembali terasa sakit. Apalagi dia memiliki riwayat tensi rendah, jadi harus lebih menjaga.""Entahlah, Bu, dia itu memang keras kepala sekali."Setelah proses kemarin dia ikut melakukan kegiatan, padahal Dokter sudah ingatkan kan harus lebih menjaga diri karena memiliki efek."Titi

  • Terpikat Mayor Ajudan Bapak   112 🩷

    "Anda sudah siap?"Hari ini sebelum Kampanye, Wira mendapatkan hasil jika dia bisa melakukan Biopsi setelah mengecek kondisi tubuhnya, yang harus dilakukan selanjutnya, pengambilan sampel cairan dari sumsum tulang menggunakan spuit yang dipasang pada jarum. Proses yang panjang untuk Wira yang terburu-buru ingin segera menyelesaikan ini karena dia beralasan pergi ke Yonif untuk mengambil sesuatu."Setelah ini istirahat saja, jangan melakukan kegiatan berat sampai 2 hari ke depan. Jika merasa sakit atau terjadi perdarahan di bekas pengambilan cairan, segera pergi ke rumah sakit. Akan merasa tidak nyaman atau nyeri, jadi lebih baik istirahat."Setelah proses Biopsi, Wira harus menyusul Adi untuk kampanye, mana bisa dia istirahat. Setelah dari ruang tindakan, Wira berjalan keluar. Ada sedikit rasa nyeri di bekas pengambilan cairan, namun dia coba untuk membiarkan."Terima kasih, kamu menepati janji mendonorkan sumsum tulang belakan

  • Terpikat Mayor Ajudan Bapak   111 🩷

    "Aku datang tidak ingin Ibu membuat kegaduhan ketika mertuaku sedang melakukan Kampanye. Aku menjaga itu dan melakukannya dengan sangat hati-hati. Dengan datang ke istana kepresidenan seperti itu, Ibu hanya akan memancing mereka ingin tau.""Istrimu melarang untuk bertemu, jadi—""Itu karena dia khawatir padaku. Gala bahkan akan sangat marah jika tau aku bertemu dengan ibu. Tapi kembali lagi, aku tidak ingin dengan tindakan Ibu akan membuat masalah untuk mertuaku. Aku akan melakukan tes kecocokan itu, jika aku bisa menjadi pendonor, maka aku donorkan. Tapi aku mohon untuk tidak membuat keributan."Wira hanya tidak ingin Sutanto tau tentang ibunya, dan menjadikan kelemahan untuk Adi. Jika Wira menuruti sang ibu, setidaknya akan membuat ibunya tenang dan mengikuti permainannya."Aku harap Ibu tidak perlu bicara pada Gala ataupun istriku. Cukup kita saja, apalagi pada siapapun yang coba membuat hubungan kita akan menjadi masalah.

  • Terpikat Mayor Ajudan Bapak   110 🩷

    "Tanyakan pada Janggala, apa dia membolehkan Anda bertemu dengan kakaknya atau tidak. Apa yang Anda berikan pada Mas Wira sudah keterlaluan. Anda berharap dia mati, ketika dia berjuang untuk adiknya. Dia tidak menyerah meski harus meneteskan keringat darah, tapi apa yang dia dapat dari Anda. Penolakan karena hal yang tidak dia lakukan. Anak mana yang membenci ibunya, Mas Wira tidak pernah berbicara buruk tentang Anda. Sedikit pun tidak pernah.""Iya, aku yang bersalah, tapi tolong pertemukan aku dengannya. Aku mohon." Triana sampai berlutut di hadapan Sekar yang mundur 2 langkah karena tidak ingin mertuanya itu berlutut."Berdirilah, aku tetap tidak bisa memberikan jawaban untuk itu ketika Gala melarang. Dia begitu marah, karena dia tau kakaknya akan tetap mau melakukan apa yang ibunya minta meski balasan yang dia dapat cacian dan kebencian. Sebaiknya Anda pulang, aku tidak bisa membuat Anda bertemu dengan Mas Wira.""Aku mohon!" Triana berh

  • Terpikat Mayor Ajudan Bapak   109 🩷

    "Mas tidak apa-apa?"Sekar menghampiri suaminya yang hanya melamun di ruang tengah. "Tidak, aku hanya memikirkan Gala semarah itu. Aku tidak ingin dia bersikap seperti itu apalagi karena diriku.""Itu hal wajar Mas, tidak masuk akal saja saat ibu kalian datang untuk mencari keuntungan. Maaf aku bicara seperti ini, karena aku sendiri juga kecewa. Awalnya aku pikir ada alasan yang membuat ibu kalian seperti ini, namun setelah dengar dengan telingaku sendiri, aku jadi paham. Luka hati yang Mas rasakan begitu dalam, dan hebatnya Mas hanya diam tanpa ingin membalas atau berkata buruk pada ibu kalian.""Jujur aku marah, tapi aku tidak bisa meluapkan itu. Aku tidak bisa seperti Gala, diam hal yang aku lakukan ketika itu terlalu menyakitkan. Maaf jika itu membuatmu tidak nyaman.""Berhenti meminta maaf, Mas, karena maaf tidak bisa mengobati hatimu yang terluka." Sekar tidak ingin lagi melihat Wira meluapkan emosinya seperti kemarin, di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status