Home / Romansa / Terpikat Pesona Ayah Temanku / 10. Ajakan Tinggal di Rumah Leonardo

Share

10. Ajakan Tinggal di Rumah Leonardo

Author: CeliiCaaca
last update Last Updated: 2025-10-16 14:48:51

“Apa yang akan Anda lakukan setelah ini, Tuan?”

Pertanyaan itu keluar dari bibir Anthony pelan, nyaris seperti bisikan di tengah kabin mobil yang sunyi.

Leonardo duduk bersandar di kursinya dengan tatapan kosong menembus kaca depan. Tangannya bertumpu pada dagu, wajahnya tampak letih, seperti seseorang yang sedang memikul beban bertahun-tahun di bahunya.

Dia tidak langsung menjawab. Hanya menggeleng pelan lalu menghela napas berat, seolah ada sesuatu di dalam dadanya yang sulit untuk dilepaskan.

“Entahlah,” ucapnya dengan lirih. “Aku hanya khawatir pertemanan mereka jadi renggang jika tahu ayah Alessia meninggal karena ulah keluargaku.”

Anthony menoleh singkat menatap wajah tuannya melalui pantulan kaca spion. Nada suara itu terdengar penuh penyesalan, tapi juga ketakutan.

Ketakutan seorang ayah yang menyadari bahwa rahasia masa lalunya bisa menghancurkan pertemanan anaknya sendiri.

Leonardo terdiam sejenak, membiarkan pikirannya kembali ke masa lima tahun lalu — malam yang hingga kin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   173. Pengakuan yang Menjengkelkan

    Begitu pintu besar vila berbahan kayu jati itu tertutup rapat, suasana liburan yang tenang seketika berubah menjadi ruang sidang yang amat pengap bagi Leonardo.Gabriella langsung memutar tubuhnya dan menatap ayahnya dengan mata yang membola sempurna dan ekspresi yang seolah baru saja menemukan bukti konspirasi tingkat tinggi.“Papa ... jadi wanita tadi itu bukan sekadar kenalan bisnis?” tanya Gabby dengan nada penuh selidik.“Kencan buta? Di Paris? Lima tahun yang lalu? Kenapa aku baru tahu sekarang kalau Papa pernah melakukan hal semacam itu?”Leonardo meletakkan tas-tas yang dia bawa ke lantai dengan napas yang mulai terasa berat.Dia tahu badai besar sedang menuju ke arahnya. “Gabby, itu bukan kencan buta dalam arti yang sebenarnya. Aku menutupi hal itu karena memang tidak ada yang perlu diceritakan. Itu murni urusan diplomasi bisnis.”“Diplomasi bisnis sampai dia mengingat wajahmu dengan begitu detail dan memujimu lebih gagah?” Alessia menyela, suaranya terdengar manis namun meng

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   172. Seseorang di Masa Lalu

    Deru mesin jet pribadi baru saja menghilang, digantikan oleh suara deburan ombak yang tenang dan kicauan burung laut yang menyambut kedatangan keluarga Deveroux di pulau pribadi milik keluarga.Sejauh mata memandang, hamparan pasir putih yang halus tampak berkilau di bawah sengatan matahari tropis yang hangat.Begitu kaki mereka memijak dermaga kayu, Gabriella dan Alessia seolah langsung melupakan beban pikiran mereka di kota.Keduanya berlari kecil menuju tepian pantai, saling menggoda dan tertawa lepas.Mereka benar-benar sibuk dengan dunia mereka sendiri, sibuk mengagumi kejernihan air laut yang berwarna gradasi biru toska, hingga mengabaikan Leonardo yang berjalan di belakang mereka.Pria itu tampak sibuk membawa tas perlengkapan Alessia di bahu kanan dan menenteng topi pantai di tangan kiri, dia benar-benar beralih fungsi dari seorang CEO menjadi asisten pribadi bagi dua wanita kesayangannya.Leonardo menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku mereka.Namun, saat melihat Al

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   171. Usul untuk Pergi Liburan

    Sinar lampu gantung di ruang tengah membiaskan cahaya keemasan yang hangat, menciptakan suasana domestik yang harmonis namun sedikit menggelitik bagi siapa pun yang melihatnya.Leonardo, pria yang biasanya duduk di kursi direktur dengan setelan jas puluhan juta rupiah, kini justru duduk bersimpuh di atas karpet bulu, dengan telaten memijat telapak kaki Alessia yang disandarkan di atas pangkuannya.Gabriella, yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah dengan menjinjing tas kerjanya, menghentikan langkah tepat di ambang ruang tengah.Dia menaikkan sebelah alisnya, bibirnya membentuk senyum jahil saat menyaksikan pemandangan langka tersebut.“Wah, wah. Lihatlah pemandangan ini,” celetuk Gabby sambil berjalan mendekat. Dia lalu meletakkan tasnya di atas meja kecil dan melipat tangan di dada.“Sebuah usaha keras untuk membuat Alessia luluh lagi dan membatalkan hukuman 'puasa' itu, huh, Pa?”Leonardo tidak segera menjawab. Ia menekan titik pijat di tumit istrinya dengan jempolnya yang ku

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   170. Satu Taktik lagi

    Matahari siang menyengat aspal jalanan, namun di dalam kabin Bentley yang kedap suara, suhu terasa begitu sejuk sekaligus tegang.Leonardo melirik Alessia yang duduk di sampingnya. Istrinya itu sejak tadi hanya menatap lurus ke kaca depan, pura-pura asyik memperhatikan deretan ruko yang lewat, seolah-olah trotoar lebih menarik daripada suaminya yang sudah berdandan maksimal.“Kau tahu, Alessia,” Leonardo memulai dengan nada suara yang sengaja dibuat berat.“Sofa di ruang santai itu ternyata memiliki sudut kemiringan yang sangat tidak ergonomis. Aku bangun pagi ini dengan perasaan seolah-olah baru saja kalah dalam pertandingan gulat dengan beruang.”Alessia tidak menoleh, tapi sudut bibirnya sedikit berkedut. “Oh, benarkah? Mungkin itu adalah cara sofa tersebut bersimpati padaku. Dia ingin kau merasakan sedikit penderitaan yang aku rasakan saat kau membentakku malam itu. Anggap saja itu terapi tulang belakang yang gratis.”Leonardo mendehem, sedikit terusik dengan ketajaman lidah istri

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   169. Serangan Gerliya Leonardo

    Pagi menyingsing di kantor pusat Deveroux Group dengan suasana yang sedikit berbeda.Leonardo, yang biasanya tampil dengan aura yang begitu tajam dan intimidatif, pagi ini terlihat lebih sering menyandarkan punggungnya ke kursi kerja dengan gurat kelelahan yang nyata di bawah matanya.Anthony, yang masuk membawakan tablet berisi agenda harian, langsung menyadari perubahan energi pada bosnya itu.“Selamat pagi, Tuan Leonardo,” sapa Anthony dengan nada formal namun terselip sedikit rasa ingin tahu.“Jika saya boleh bertanya, apakah Nyonya Alessia dan Nona Gabby sudah memberikan tanda-tanda gencatan senjata? Maksud saya, apakah mereka sudah tidak marah lagi pada Anda?”Leonardo menguap sebentar, mencoba mengusir rasa kantuk yang menggelayut. Ia menggelengkan kepalanya dengan lesu.“Tidak sepenuhnya, Anthony. Aku memang sudah bicara dengan Alessia, tapi aku mendapatkan hukuman yang benar-benar membuat tidurku tidak nyenyak.”Anthony menaikkan alisnya, rasa penasaran mulai menguasai diriny

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   168. Hukuman tetap Berlaku

    “Kita harus melakukan sesuatu.”Leonardo langsung menghentikan kegiatannya meninjau laporan di tablet pribadinya dan menoleh ke arah Alessia yang baru saja menyuarakan pemikirannya.Mereka sedang berada di ruang santai lantai dua, tempat favorit Alessia sejak kandungannya mulai membesar karena sofa di sana jauh lebih nyaman.“Sesuatu apa, Sayang?” tanya Leonardo dengan nada lembut, berusaha tetap tenang meskipun ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.Alessia membetulkan posisi duduknya, wajahnya menunjukkan keseriusan yang nyata.“Aku ingin Gabby tidak memikirkan Rafael lagi. Benar-benar berhenti mengharapkan pria itu. Setelah aku pikirkan kembali, Rafael itu terlalu lemah untuknya.“Dia tidak pantas bersanding dengan Gabby yang sangat ceria, selalu berpikir positif, dan terkadang sangat cerewet. Aku merindukan Gabby yang dulu, Leo. Aku tidak tahan melihatnya hanya terdiam di restoran atau melamun di meja makan.”Alessia menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku tidak mau ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status