Beranda / Romansa / Terpikat Pesona Ayah Temanku / 4. Informasi Sudah Didapatkan

Share

4. Informasi Sudah Didapatkan

Penulis: CeliiCaaca
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-08 12:04:24

Setibanya di taman belakang, Leonardo melepaskan genggaman itu dan menatap Alessia dengan tatapan datarnya.

“Alessia,” ucapnya dengan pelan, namun nada suaranya membawa getaran aneh di dada gadis itu.

“Mulai sekarang, berhati-hatilah terhadap Thomas. Aku khawatir dia akan melakukan apa pun untuk mempermalukanmu.”

Alessia mengerutkan kening, mencoba memahami maksud ucapan Leonardo tadi. 

“Mempermalukanku? Hanya karena penolakan semalam? Dia akan sejauh itu membalaskan dendamnya?” ucapnya seolah tak percaya Thomas akan melakukan hal gila seperti itu.

Leonardo mengangguk tanpa ragu. “Thomas bukan tipe yang mudah menerima penolakan. Apalagi di depan banyak orang. Harga dirinya terlalu tinggi untuk itu.”

Kening Alessia masih berkerut. “Maaf, aku belum paham, Paman.”

Leonardo menghela napas kasar. “Balas dendam, Alessia. Dia menganggap bahwa kau telah mempermalukannya di pesta semalam. Dan dia harus melakukan hal yang sama padanya.”

Barulah Alessia paham. Dia lalu menghela napasnya sambil menatap rerumputan di bawah kakinya. “Aku tidak menyangka dia akan sekejam itu,” gumamnya sambil geleng-geleng kepala. 

“Karena kau terlalu baik untuk mengira seseorang bisa bertindak seburuk itu,” balas Leonardo lembut. 

Gadis itu menatapnya heran, lalu terdiam beberapa saat. Namun, Leonardo tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dari saku jas. Dia menyalakan layar dan menyerahkannya pada Alessia tanpa sepatah kata.

Wajah Alessia langsung pucat. Di layar, tampak foto dirinya bersama Leonardo—diambil dari kejauhan, saat pria itu menggenggam pergelangan tangannya di depan perpustakaan.

Sudutnya jelas dan pencahayaannya tajam. Foto itu tampak seperti potret kedekatan yang intim.

Matanya membola lalu menatap Leonardo dengan raut wajah cemas. “Dari mana Paman mendapatkan foto ini?” tanyanya terbata.

Leonardo menoleh ke arah parkiran, di mana seorang pria berpakaian hitam berdiri di dekat mobil hitam mengilap. 

“Siapa dia?” tanya Alessia cepat. Namun, begitu menoleh pada mereka, pria itu tampak menunduk sopan seolah mengenal mereka berdua.

“Asistenku memperhatikan seseorang yang mencurigakan sejak kau keluar dari perpustakaan,” jelas Leonardo tenang.

“Dan dia melihat Thomas mengikutimu, menunggu dari jauh, lalu memotret kita diam-diam. Dia langsung mengirim rekamannya padaku begitu Thomas memotret kita.”

Alessia menutup mulutnya dengan tangan, sedikit terkejut karena ucapan Leonardo tadi.

“Jadi, dia benar-benar melakukannya,” ucapnya tak percaya. 

“Ya,” sahut Leonardo singkat. “Dan aku akan mengurus ini semua. Tidak lama lagi gosip itu akan lenyap.” 

Nada suaranya berubah menjadi dingin dan nyaris menakutkan. Tatapannya mengeras seperti batu granit.

“Sudah sejak lama aku ingin memberi pelajaran pada Thomas juga pada ayahnya,” katanya dengan pelan namun penuh tekanan.

Alessia menatapnya tak mengerti. “Maksud Paman? Apa hubungan ini semua dengan ayahnya?” tanyanya bingung. 

Leonardo tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap jauh ke arah pepohonan, seolah sedang mengingat sesuatu yang tidak ingin diulang.

“Itu urusan lama,” ujarnya akhirnya. “Persaingan bisnis yang kotor. Sudah bertahun-tahun berlalu, tapi luka dari permainan mereka belum sepenuhnya hilang.”

Alessia menatap pria itu dalam diam. Kata persaingan bisnis itu menggema di kepalanya dan mengingatkannya pada sesuatu yang jauh lebih pribadi.

Ayahnya.

Ia menelan ludahnya lalu berkata pelan, “Ternyata persaingan bisnis yang tidak adil itu masih berlangsung hingga kini.”

Leonardo menatapnya cepat lalu mengangguk. “Aku tahu,” bisiknya. “Dan mungkin karena itu, aku tidak ingin hal serupa menimpa dirimu.”

Hening sejenak. Hanya suara dedaunan yang bergesekan di antara mereka. Alessia tak berani menatap Leonardo terlalu lama, khawatir perasaannya semakin tidak karuan karena aura pria itu yang benar-benar membuatnya terpana.

Kemudian Leonardo berbicara lagi. “Thomas mungkin juga merasa cemburu padaku,” ucapnya datar. 

Alessia menatapnya dengan tatapan terkejut. “Cemburu? Pada Paman?” ucapnya pelan.

Leonardo mengangguk pelan. “Ya. Dia melihatku mengantarmu pulang semalam. Dan bagi pria muda seperti dia, itu cukup untuk membuatnya kehilangan kendali.”

Alessia tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. “Mana mungkin, Paman. Thomas hanya tidak suka ditolak. Itu saja.”

Leonardo menatapnya serius. “Itu artinya dia menyukaimu.”

Ucapan itu menghentikan tawa Alessia seketika. Ia terdiam dan ingin mencoba membantah, tetapi tidak menemukan kata-kata.

Lalu, entah karena canggung atau gugup, dia menundukkan kepalanya menatap tanah basah di bawah kakinya.

Leonardo lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka kini hanya beberapa jengkal.

“Kalau kau tidak nyaman, aku akan bantu agar Thomas berhenti mengganggumu,” katanya seraya menatap lekat wajah Alessia.

Dia lalu mengulurkan tangan perlahan dan menyentuh bahu Alessia. Sentuhan itu begitu ringan, namun membuat napas gadis itu tercekat.

Kehangatan dari jemari pria itu merambat ke kulitnya dan membuat jantungnya berdebar tak karuan.

Ketika dia menatap ke atas, kedua bola matanya bertemu dengan tatapan Leonardo. Tatapan yang selalu membuat debar jantung Aleesia tak karuan. 

Dia akhirnya memilih untuk membuang pandangan itu ke arah lain sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin. 

“Alessia,” bisik Leonardo nyaris tak terdengar. “Beritahu aku jika dia berbuat macam-macam padamu.”

Suara itu terdengar rendah, dalam, dan menggetarkan. Alessia menatapnya tanpa berkedip. Napasnya tertahan di tenggorokan, seolah dunia di sekitarnya berhenti berputar.

Ia ingin menjawab, tapi kalimat yang dia ucapkan seakan menolak keluar. Yang terdengar hanyalah degup jantungnya sendiri—keras, cepat, dan tak beraturan.

Leonardo masih menatapnya dan untuk sesaat waktu seolah membeku. Angin berhembus pelan dan membuat helaian rambut Alessia menyentuh wajahnya.

Tanpa sadar, Leonardo mengangkat tangan dan menyibakkannya perlahan.

Sentuhan itu begitu lembut, nyaris seperti bisikan.

“Paman,” bisik Alessia dengan suara bergetar. “Aku … aku akan berhati-hati.”

Leonardo mengangguk pelan, tapi matanya belum melepaskan pandangannya darinya. “Bagus,” katanya akhirnya. “Dan ingat, kau tidak sendirian.”

Dia lalu berbalik dan berjalan perlahan meninggalkan taman dan Alessia seorang diri.

Sementara Alessia masih berdiri mematung di sana, masih merasakan hangat di bahunya—bekas sentuhan yang terlalu sulit untuk diabaikan.

Dia tahu pria itu berbahaya, bukan karena kekuasaannya, melainkan karena caranya membuat segala sesuatu terasa lebih dalam daripada seharusnya.

Hingga tiba di parkiran, Anthony—asisten pribadi Leonardo memberikan sebuah dokumen padanya.

“Saya sudah menemukan data tentang Benny. Dan benar, Benny memiliki anak, satu-satunya, seorang gadis berusia dua puluh satu tahun.” 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   173. Pengakuan yang Menjengkelkan

    Begitu pintu besar vila berbahan kayu jati itu tertutup rapat, suasana liburan yang tenang seketika berubah menjadi ruang sidang yang amat pengap bagi Leonardo.Gabriella langsung memutar tubuhnya dan menatap ayahnya dengan mata yang membola sempurna dan ekspresi yang seolah baru saja menemukan bukti konspirasi tingkat tinggi.“Papa ... jadi wanita tadi itu bukan sekadar kenalan bisnis?” tanya Gabby dengan nada penuh selidik.“Kencan buta? Di Paris? Lima tahun yang lalu? Kenapa aku baru tahu sekarang kalau Papa pernah melakukan hal semacam itu?”Leonardo meletakkan tas-tas yang dia bawa ke lantai dengan napas yang mulai terasa berat.Dia tahu badai besar sedang menuju ke arahnya. “Gabby, itu bukan kencan buta dalam arti yang sebenarnya. Aku menutupi hal itu karena memang tidak ada yang perlu diceritakan. Itu murni urusan diplomasi bisnis.”“Diplomasi bisnis sampai dia mengingat wajahmu dengan begitu detail dan memujimu lebih gagah?” Alessia menyela, suaranya terdengar manis namun meng

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   172. Seseorang di Masa Lalu

    Deru mesin jet pribadi baru saja menghilang, digantikan oleh suara deburan ombak yang tenang dan kicauan burung laut yang menyambut kedatangan keluarga Deveroux di pulau pribadi milik keluarga.Sejauh mata memandang, hamparan pasir putih yang halus tampak berkilau di bawah sengatan matahari tropis yang hangat.Begitu kaki mereka memijak dermaga kayu, Gabriella dan Alessia seolah langsung melupakan beban pikiran mereka di kota.Keduanya berlari kecil menuju tepian pantai, saling menggoda dan tertawa lepas.Mereka benar-benar sibuk dengan dunia mereka sendiri, sibuk mengagumi kejernihan air laut yang berwarna gradasi biru toska, hingga mengabaikan Leonardo yang berjalan di belakang mereka.Pria itu tampak sibuk membawa tas perlengkapan Alessia di bahu kanan dan menenteng topi pantai di tangan kiri, dia benar-benar beralih fungsi dari seorang CEO menjadi asisten pribadi bagi dua wanita kesayangannya.Leonardo menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku mereka.Namun, saat melihat Al

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   171. Usul untuk Pergi Liburan

    Sinar lampu gantung di ruang tengah membiaskan cahaya keemasan yang hangat, menciptakan suasana domestik yang harmonis namun sedikit menggelitik bagi siapa pun yang melihatnya.Leonardo, pria yang biasanya duduk di kursi direktur dengan setelan jas puluhan juta rupiah, kini justru duduk bersimpuh di atas karpet bulu, dengan telaten memijat telapak kaki Alessia yang disandarkan di atas pangkuannya.Gabriella, yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah dengan menjinjing tas kerjanya, menghentikan langkah tepat di ambang ruang tengah.Dia menaikkan sebelah alisnya, bibirnya membentuk senyum jahil saat menyaksikan pemandangan langka tersebut.“Wah, wah. Lihatlah pemandangan ini,” celetuk Gabby sambil berjalan mendekat. Dia lalu meletakkan tasnya di atas meja kecil dan melipat tangan di dada.“Sebuah usaha keras untuk membuat Alessia luluh lagi dan membatalkan hukuman 'puasa' itu, huh, Pa?”Leonardo tidak segera menjawab. Ia menekan titik pijat di tumit istrinya dengan jempolnya yang ku

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   170. Satu Taktik lagi

    Matahari siang menyengat aspal jalanan, namun di dalam kabin Bentley yang kedap suara, suhu terasa begitu sejuk sekaligus tegang.Leonardo melirik Alessia yang duduk di sampingnya. Istrinya itu sejak tadi hanya menatap lurus ke kaca depan, pura-pura asyik memperhatikan deretan ruko yang lewat, seolah-olah trotoar lebih menarik daripada suaminya yang sudah berdandan maksimal.“Kau tahu, Alessia,” Leonardo memulai dengan nada suara yang sengaja dibuat berat.“Sofa di ruang santai itu ternyata memiliki sudut kemiringan yang sangat tidak ergonomis. Aku bangun pagi ini dengan perasaan seolah-olah baru saja kalah dalam pertandingan gulat dengan beruang.”Alessia tidak menoleh, tapi sudut bibirnya sedikit berkedut. “Oh, benarkah? Mungkin itu adalah cara sofa tersebut bersimpati padaku. Dia ingin kau merasakan sedikit penderitaan yang aku rasakan saat kau membentakku malam itu. Anggap saja itu terapi tulang belakang yang gratis.”Leonardo mendehem, sedikit terusik dengan ketajaman lidah istri

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   169. Serangan Gerliya Leonardo

    Pagi menyingsing di kantor pusat Deveroux Group dengan suasana yang sedikit berbeda.Leonardo, yang biasanya tampil dengan aura yang begitu tajam dan intimidatif, pagi ini terlihat lebih sering menyandarkan punggungnya ke kursi kerja dengan gurat kelelahan yang nyata di bawah matanya.Anthony, yang masuk membawakan tablet berisi agenda harian, langsung menyadari perubahan energi pada bosnya itu.“Selamat pagi, Tuan Leonardo,” sapa Anthony dengan nada formal namun terselip sedikit rasa ingin tahu.“Jika saya boleh bertanya, apakah Nyonya Alessia dan Nona Gabby sudah memberikan tanda-tanda gencatan senjata? Maksud saya, apakah mereka sudah tidak marah lagi pada Anda?”Leonardo menguap sebentar, mencoba mengusir rasa kantuk yang menggelayut. Ia menggelengkan kepalanya dengan lesu.“Tidak sepenuhnya, Anthony. Aku memang sudah bicara dengan Alessia, tapi aku mendapatkan hukuman yang benar-benar membuat tidurku tidak nyenyak.”Anthony menaikkan alisnya, rasa penasaran mulai menguasai diriny

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   168. Hukuman tetap Berlaku

    “Kita harus melakukan sesuatu.”Leonardo langsung menghentikan kegiatannya meninjau laporan di tablet pribadinya dan menoleh ke arah Alessia yang baru saja menyuarakan pemikirannya.Mereka sedang berada di ruang santai lantai dua, tempat favorit Alessia sejak kandungannya mulai membesar karena sofa di sana jauh lebih nyaman.“Sesuatu apa, Sayang?” tanya Leonardo dengan nada lembut, berusaha tetap tenang meskipun ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.Alessia membetulkan posisi duduknya, wajahnya menunjukkan keseriusan yang nyata.“Aku ingin Gabby tidak memikirkan Rafael lagi. Benar-benar berhenti mengharapkan pria itu. Setelah aku pikirkan kembali, Rafael itu terlalu lemah untuknya.“Dia tidak pantas bersanding dengan Gabby yang sangat ceria, selalu berpikir positif, dan terkadang sangat cerewet. Aku merindukan Gabby yang dulu, Leo. Aku tidak tahan melihatnya hanya terdiam di restoran atau melamun di meja makan.”Alessia menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku tidak mau ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status