Mag-log in“Ingat, Anthony. Jangan pernah satu kata pun soal kecelakaan ini sampai ke telinga Gabby. Aku tidak bercanda,” desis Leonardo dengan suara rendah yang ditekan, matanya melirik waspada ke arah dermaga.“Dia baru saja mulai tersenyum kembali. Jika dia tahu Rafael kritis, dia akan langsung terbang kembali ke Jakarta dan menghancurkan dirinya sendiri dalam rasa bersalah.“Biarkan itu jadi urusan keluarganya sendiri. Kabari aku terus setiap ada perkembangan sampai anak itu siuman, tapi lakukan lewat jalur pribadi. Mengerti?”Anthony memberikan konfirmasi patuh sebelum Leonardo memutus sambungan telepon dengan gerakan kasar.Dia mengantongi ponselnya dan berdiri mematung sejenak, menatap deburan ombak dengan rahang yang mengeras.“Bodoh,” gerutu Leonardo lirih. “Benar-benar ceroboh.”Hatinya dipenuhi kejengkelan yang bercampur dengan sedikit rasa kasihan yang enggan ia akui.Di mata Leonardo, Rafael adalah gambaran pria yang tidak bisa menguasai emosinya sendiri.Leonardo tahu bagaimana ras
Sambil mengunyah sepotong roti panggangnya, Gabby menatap Alessia yang sedang asyik menyesap teh herbal hangatnya.“Ngomong-omong, Ale,” mulai Gabby dengan nada santai namun penuh selidik, “tentang wine yang dibawakan si Tante Giselle semalam... apa masih kau simpan? Atau benar-benar sudah kau siram ke tanaman belakang seperti ancamanmu tadi malam?”Alessia hampir saja tersedak tehnya. Ia memutar bola matanya dengan gerakan dramatis, menatap Gabby dengan pandangan tidak percaya.“Astaga, Gabby. Ini bahkan belum jam sembilan pagi dan kau sudah menanyakan soal wine? Fokuslah pada pemandangan pantai yang bersih ini dan nikmati sarapanmu. Setelah ini kita harus bermain air dan berjemur, bukan mabuk-mabukan.”Gabby menghela napas panjang, meletakkan garpunya dengan bunyi denting pelan.“Aku hanya bertanya, Ale. Jangan berpikiran negatif dulu. Kalau memang wine itu rasanya seenak yang dia pamerkan semalam, aku berpikir untuk membawanya ke restoran.“Aku akan mencicipinya sedikit, dan jika k
Lampu kamar yang temaram seolah menjadi saksi bisu betapa panasnya atmosfer yang tercipta di antara mereka.Leonardo tidak lagi memberikan ruang bagi udara untuk masuk di antara tubuh mereka.Setelah sekian waktu menahan diri dalam jeruji hukuman “puasa” yang menyiksa, sang singa Deveroux akhirnya benar-benar lepas dari kandangnya.Hasrat yang tertimbun selama beberapa hari terakhir kini meluap bagaikan bendungan yang pecah, tumpah tanpa sisa ke arah wanita yang menjadi pusat dunianya.Leonardo menekan tubuh Alessia ke atas kasur empuk, menopang berat badannya dengan kedua lengan yang berurat, menatap istrinya dengan tatapan yang sangat gelap dan penuh rasa lapar.“Kau tidak tahu seberapa besar siksaan yang kau berikan padaku, Alessia,” bisik Leonardo dengan suara serak yang berat, tepat di depan bibir Alessia.“Melihatmu setiap detik namun tidak bisa menyentuhmu ... itu jauh lebih buruk daripada kehilangan seluruh aset perusahaanku.”Alessia mendesah pelan, jemarinya masuk ke sela-se
Suasana di dalam kamar utama vila itu mendadak diselimuti kecanggungan yang unik setelah Alessia membawa Leonardo masuk.Udara dingin dari pendingin ruangan kontras dengan kehangatan yang perlahan merayap di antara mereka.Leonardo sudah melepaskan kemeja mahalnya, kini ia hanya mengenakan celana pendek santai, memperlihatkan tubuh atletisnya yang tetap terjaga meski usianya tak lagi muda.Sementara itu, Alessia masih duduk di depan meja rias, jemarinya perlahan menggerakkan sisir kayu melalui helai rambut panjangnya yang berkilau.Melalui pantulan cermin, Alessia sesekali melirik suaminya. Ia mendapati Leonardo sedang bersandar di kepala ranjang dengan sebuah majalah properti di tangannya, namun pria itu tidak benar-benar membaca.Ada senyum-senyum simpul yang tersungging di bibirnya, sebuah ekspresi lega yang sangat kentara karena akhirnya ia diizinkan kembali ke “wilayah kekuasaannya”.Alessia mendeham pelan, memecah kesunyian yang mulai terasa menggelitik. Dia meletakkan sisirnya
Giselle ternganga, sementara wajahnya memerah karena malu dan marah. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah yang dihentak-hentakkan ke atas dek kayu.Leonardo menelan ludah, menatap pintu yang tertutup rapat, lalu menoleh ke arah Alessia. “Sayang, aku bersumpah aku tidak menyuruhnya datang ….”Alessia menatap makanan mewah di atas nampan, lalu menatap Leonardo. “Makanannya masuk ke dalam kamar. Kau? Kau tidur di luar pintu vila malam ini!”Gabby tertawa puas sambil membawa nampan lobster masuk ke kamar. “Kasihan sekali, Papa. Sepertinya 'nostalgia Paris' itu harganya sangat mahal, ya?”Leonardo hanya bisa menghela napas pasrah, menatap pintu kamarnya yang kembali tertutup rapat, menyadari bahwa makanan favorit pun tidak akan cukup untuk menyelamatkannya dari amarah wanita yang sedang cemburu.**Malam semakin larut di pulau pribadi itu, namun ketegangan di dalam vila justru semakin memuncak dalam keheningan.Alessia berdiri di balik tirai tipis jendela
Malam di pulau pribadi itu seharusnya menjadi ajang rekonsiliasi bagi Leonardo, namun yang terjadi justru adalah perang urat syaraf yang dibalut aroma kuliner kelas atas.Di depan pintu kamar utama yang tertutup rapat, Leonardo berdiri bersama dua orang pelayan yang membawa nampan perak berukuran besar.Aroma Truffle Risotto yang gurih, Grilled Wagyu dengan tingkat kematangan medium rare, serta Lobster Thermidor yang masih mengepulkan uap panas meruap di udara, sengaja ia arahkan agar menyelinap masuk melalui celah bawah pintu.Di dalam kamar, Alessia yang sedang merebahkan diri sambil mengusap perut buncitnya mendadak mengendus udara dengan tajam.Pupil matanya melebar. Dia mengenali aroma itu; itu adalah hidangan favoritnya dari koki terbaik yang dimiliki resor ini.“Gabby ... apa kau mencium itu?” bisik Alessia bahkan air liurnya hampir menetes. “Itu aroma mentega dan truffle. Papamu benar-benar tahu bagaimana cara menyerang titik lemahku.”Gabby yang sedang asyik memakai masker wa







