Share

Bab 4

"James ... K-kau akhirnya datang juga." Terdengar suara wanita memanggil nama James dengan gemetar.

"Masuklah James! Aku sudah menunggu mu." Wanita itu mengajak James masuk kedalam rumahnya.

"Aline ... Aku tidak punya banyak waktu. Jika ada yang penting, maka katakanlah sekarang!"

"James, aku tidak menyangka kau akan sesukses sekarang ini. Aku bahagia melihat nya." Aline menatap James dengan tatapan kagum, " James ... Aku sudah bercerai. Kau maukan kembali lagi padaku." James terkejut mendengar ucapan Aline.

"Apa kau sudah tidak waras? Kau meninggalkanku lalu sesuka hati mu meminta ku kembali?"

"James, aku tahu kau masih sangat mencintai ku. Aku juga masih mencintai mu James." Aline mendekat tubuhnya pada James, "ayo, kita rajut kembali jalinan cinta yang sudah sempat terputus! James. Kau sekarang bukan James yang dulu, aku tidak akan meninggalkan mu lagi."

"Sudahlah Aline! Masa lalu tidak mungkin diulang lagi. Kau yang memutuskan pergi karena aku miskinkan? Lalu setelah sekarang aku memiliki semuanya, kau mau kembali lagi pada ku?"

"Aline ... Dimana kau saat aku butuh dukungan mu? Apa kau membantuku berdiri ketika aku jatuh? Apa kau menemaniku mendaki tangga kesuksesan ini? Tidak Aline, kau tidak melakukan itu. Kau malah pergi dengan selingkuhan mu itu kan." Air mata menetes dari netra James. Sesak yang selama ini ia tanggung sendiri sudah mencapai batasnya.

"James ... Setiap orang memiliki kesalahan. Aku tahu, aku salah telah meninggal kan mu. James, kau juga belum bisa melupakan ku kan? Kau masih cinta padaku. Buktinya, sudah sepuluh tahun sejak kita berpisah, kau tidak punya wanita lain disisi mu."

"Aline, aku tidak mau seperti orang bodoh, mengulang kesalahan yang sama. Sejak malam itu, aku sudah tidak mencintai mu lagi. Dan, aku sudah memiliki tunangan. Jadi tolong, jangan ganggu aku lagi."

"Tunangan ...? Kau bercandakan? Itu hanya alasan mu saja."

"Tidak, untuk apa aku bercanda. Aku akan mengenalkannya padamu. Aku harus pergi Aline, aku tidak mau membuang waktu ku lebih banyak."

James melangkahkan kakinya keluar dari rumah Aline. Tatapannya kosong. Ekspresi wajahnya datar. James tidak pernah menyangka jika Aline akan memintanya kembali.

Setelah dibuang, dengan seenak hati ingin memungutnya kembali. 

*******

"Karen, apa kau yakin akan mengubah penampilan mu?" Risa menyakinkan Karen.

"Ya, aku ingin membuat Robin menyesal meninggalkan gadis yang tidak tahu fashion seperti ku." Karen menatap kaca disebuah salon dan tersenyum sinis.

Karen memutuskan untuk menyudahi kesedihannya. Ia mengubah penampilannya mulai dari gaya rambut hingga gaya berpakaiannya.

"Karen ... Lihat dirimu sekarang. Kau tidak terlihat seperti Karen yang dulu. Rambut hitam lurus yang selalu kau pertahankan, sekarang berwarna merah marun dan sedikit ikal. Alis yang begitu tegas serta bulu mata yang lentik. Pakaianmu juga menggambarkan seorang Karen yang lebih berani."

"Kau terlalu memujiku Risa, hahahaha." Karen menatap dengan lekat perubahannya. Tidak ada Karen yang dulu lemah gemulai dan kolot.

Karen menjelma menjadi gadis yang lebih fashionable. Setiap mata yang menatap, tidak akan menyangka jika ia adalah Karen Alexander.

Huh, aku terlalu cantik untuk menangisi mu Robin, bisik Karen pada dirinya sendiri.

"Kita harus merayakan ini Risa. Aku akan mentraktir mu minum malam ini." Karen tersenyum lalu menarik tangan Risa keluar dari salon.

"Aku sangat senang melihat perubahan mu Karen, ini baru sahabat ku. Cheers ...." Karen dan Risa mengangkat gelas mereka, setelah itu mereka minum lalu tertawa bersama.

"Uh ... Kau tahu Risa, aku hampir saja kehilangan hidupku yang sangat berharga."

"Ya, benar Karen. Lupakan saja Robin! Masih banyak pria yang lebih baik daripada Robin yang tidak tahu malu itu."

"Aku akan memberinya sedikit pelajaran. Supaya dia tidak sesuka hatinya mempermainkan perasaan."

"Terserah mu Karen. Lakukan apa yang membuat mu bahagia. Ayo minum lagi!"

Karen dan Risa menikmati suasana didalam bar. Tidak ada lagi kesedihan di wajah Karen.

Tawa dari kedua wanita itu terdengar sangat nyaring. Sebelum akhirnya Karen melihat sosok pria yang tidak asing baginya. Pria itu sedang mabuk dan duduk sendiri.

"James, apa itu kau?"

James tidak dapat mendengar suara Karen. Musik yang sangat keras serta lampu kelap kelip yang sedikit redup membuat James susah mengenali Karen. Ditambah lagi, netranya yang sudah sangat berat karena mabuk.

"Karen, apa kau mengenal pria ini?" Karen mengangguk, dan mengatakan pada Risa bahwa James lah yang menolongnya saat mabuk dulu.

Mereka membawa James keluar dari Bar. Karen masih mengingat betul alamat rumah James dan bergegas membawa James pulang.

Risa tidak ikuta menemani Karen. Karena, ia ada urusan penting dan berpamitan pada Karen.

Sesampainya di rumah James, Karen membawa James ke kamarnya. Kemudian, mengganti pakaian James.

Aku sangat suka melihat wajah mu saat tidur, bahkan saat mabuk pun kau terlihat sangat tenang dan tampan, batin Karen.

Karen memutuskan untuk pulang setelah selesai mengganti pakaian James. Namun, James menarik tangan Karen, membuat Karen semakin dekat dalam pelukan James.

Karen yang juga masih dalam pengaruh minuman tidak kuasa melawan James. Ia mendekat semakin dalam di pelukan James.

******

Cuaca pagi ini mendung. Hujan turun dengan sangat lebat. Hawa dingin terasa sangat menusuk tulang. Selimut tebal pun tidak mampu menangkal hawa nya.

Karen yang kedinginan menarik selimut menutupi tubuhnya, tangan nya memeluk sesuatu yang  sangat dapat dirasakan bentuknya.

Karen membuka mata, menatap orang yang masih tidur di sampingnya. Ia mengagumi pria itu. Tidak sekedar kagum, namun juga sudah candu pada wajah pria itu.

Apa aku terlalu mengaguminya? Sampai-sampai dia masuk dalam mimpiku?, batin Karen .

Ia menyangka dirinya saat ini sedang bermimpi. Pria yang ada disampingnya adalah James. Orang yang ditolongnya semalam.

Kenapa kau bisa masuk ke mimpiku?, Karen menyentuh lembut wajah James.

Tapi kenapa dia terasa seperti nyata, gumam Karen. 

Tak henti-hentinya Karen memandang wajah pria itu. Sesekali Karen tersenyum melihat wajah didepannya.

Sempurna. Aku sangat menyukai bulu-bulu halus di wajah mu, batin Karen sambil mempermainkan bulu halus diwajah James.

Duar.... Suara petir menyadarkan Karen.

Ia sadar sekarang, bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. James benar-benar sedang tertidur disampingnya.

"Aaahhhhh ...." Karen berteriak, membuat James terbangun.

Kedua mata Karen terbelalak, seperti ingin keluar. Ia menarik tubuhnya menjauh dari James. Kedua tangan Karen menutup tubuhnya, seolah James baru saja bercinta dengan nya.

"K-kau ... Kenapa kau ada dikamar ku?" Karen menatap James dengan tatapan seolah ingin menerkam, "apa yang sudah kau lakukan padaku, hah."

"Apa aku tidak salah dengar? Ini kamar ku! Aku yang harusnya bertanya padamu. Kenapa kau bisa tidur dikamar ku?" James menatap Karen yang berdiri disamping ranjangnya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status