Compartilhar

Bab 3

Autor: Meong
Keesokan harinya, Ziva bangun pagi-pagi dan mulai membereskan barang-barangnya.

Rumah ini dia tata sedikit demi sedikit dengan sepenuh hati. Setiap perabotan, setiap pajangan, bahkan warna tirainya, semuanya dipilih dengan cermat. Dulu, Ziva pernah mengira bahwa rumah ini akan menjadi rumahnya dan Felix untuk selamanya.

Namun, sekarang, dia akan pergi.

Setelah membereskan tiga koper besar, Ziva merasa tidak mungkin membawa semuanya, jadi dia mulai memilah dan mengurangi barang bawaannya.

Pakaian yang jarang dikenakan, dia sumbangkan.

Barang-barang rumah tangga yang sudah usang, dia buang.

Semua kenangan mereka, dia bakar.

Ketika akhirnya Ziva berhasil meringkas isi koper terakhir hingga hanya tersisa satu koper berukuran 24 inci, pintu kamar tidur terbuka.

Felix keluar dengan mengenakan baju tidur. Matanya masih mengantuk. Begitu melihat koper di ruang tamu dan keadaan rumah yang tampak telah dibereskan, dia tertegun sejenak.

"Kamu lagi ... melakukan apa?"

Gerakan Ziva terhenti sejenak. Namun, dia segera mengangkat kepala dengan ekspresi tenang, lalu tersenyum. "Nggak ada. Aku cuma merasa barang-barang di rumah terlalu banyak. Sudah lama juga nggak dibersihkan, jadi sekalian menyingkirkan barang-barang yang nggak diperlukan. Yang harus disumbangkan, disumbangkan. Yang harus dibuang, dibuang."

Felix menatap wajahnya yang tenang, lalu memandang barang-barang yang telah dipilah itu. Perasaan tidak enak yang tadi sempat muncul kembali mengusik hatinya.

Hanya ... menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan?

Saat Felix hendak bertanya lagi, ponselnya tiba-tiba berdering.

Nada dering khusus.

Ekspresi Felix berubah nyaris tidak kentara. Dia mengambil ponselnya, lalu berjalan ke balkon untuk menjawab panggilan itu.

"Ya, aku sudah bangun. Ada apa?"

Ziva kembali menundukkan kepala dan melanjutkan merapikan kopernya, seolah tidak mendengar apa pun.

Dari balkon, samar-samar terdengar suara Felix yang direndahkan. "Ski? Nggak usah. Aku dan Ziva sudah ada rencana lain hari ini."

"Aku sudah bilang nggak mau pergi. Kamu sudah membeli tiketnya, memangnya itu urusanku? Vira, kenapa kamu selalu bertindak sesukamu?"

Entah apa lagi yang dikatakan orang di seberang sana, Felix terdiam. Sesaat kemudian, dia menutup telepon dan kembali dengan ekspresi yang tampak sedikit rumit.

Ziva mengangkat kepala dan bertanya sambil tersenyum, "Ada apa? Ada masalah?"

Felix ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, "Vira ... dia bilang mau berterima kasih karena kita mengantarnya pulang kemarin. Dia bersikeras mau mengajak kita bermain ski. Tiketnya bahkan sudah dibeli. Aku sudah bilang nggak mau, tapi kamu juga tahu sifatnya. Dia keras kepala sekali."

Ziva menatapnya.

Meski mengucapkan kata-kata penolakan, jauh di dalam mata Felix sempat terlintas secercah harapan.

Dia menantikan ajakan Vira, menantikan pertemuannya dengan Vira.

Terkadang, Ziva benar-benar merasa dirinya cukup gagal.

Enam tahun. Lebih dari dua ribu hari dan malam yang dihabiskan untuk menemani dan mencurahkan segalanya, tetapi tetap tidak cukup untuk meluluhkan hati Felix dan mendapatkan cintanya sepenuh hati.

Cinta memang sesuatu yang ajaib, sekaligus kejam.

Dulu, ketika masih mencintainya, setiap kali menyadari hal ini, hati Ziva akan terasa begitu sakit hingga seolah tercabik-cabik dan membuatnya tidak bisa tidur sepanjang malam.

Namun, sekarang, dia sudah tidak mencintai Felix lagi.

Yang dia rasakan hanyalah sedikit getir, sedikit konyol, dan juga ... sedikit lega.

"Baiklah." Ziva tersenyum kecil dengan nada santai. "Kebetulan aku juga sudah lama nggak bermain ski. Ayo."

Felix tampaknya tidak menyangka Ziva akan menyetujuinya dengan begitu mudah. Dia sempat tertegun, lalu mengembuskan napas lega. Senyum tipis pun muncul di wajahnya. "Kalau begitu, baiklah. Aku ganti baju dulu. Sebentar lagi kita berangkat."

Sesampainya di arena ski, Felix dan Ziva baru menyadari bahwa acara ini bukanlah jamuan untuk berterima kasih, melainkan lebih mirip kencan berempat.

Vira ternyata tidak datang sendirian. Dia juga membawa seorang pria.

Pria itu mengenakan pakaian ski profesional. Tubuhnya tinggi dan tegap, wajahnya juga cukup tampan. Dari sikapnya, terlihat jelas bahwa dia sangat perhatian kepada Vira.

"Felix, Ziva, kalian datang!" Vira tersenyum sambil menghampiri mereka. Dia mengaitkan lengannya pada lengan pria di sampingnya dengan mesra. "Kenalkan, ini kakak tingkatku waktu kuliah, Sena Faresta. Kak Sena, ini Felix yang pernah kuceritakan, dan ini pacarnya, Ziva."

"Halo." Ziva mengangguk sopan sebagai salam.

Namun, wajah Felix langsung berubah muram saat melihat Vira mengaitkan lengannya pada lengan Sena.

Namun, di depan semua orang, dirinya masih berstatus sebagai pacar Ziva, jadi dia tidak bisa meluapkan emosinya.

Felix hanya mengangguk dingin kepada Sena, lalu berbalik dan mulai menunjukkan perhatian kepada Ziva.

"Dingin? Pakai sarung tanganmu yang benar."

"Pemanasan dulu. Kalau nggak, ototmu bisa mudah cedera."

"Aku ajari. Rendahkan pusat gravitasi, lalu tekuk lutut sedikit ...."

Felix mengajari Ziva dengan sangat sabar dan gerakannya pun lembut. Namun, Ziva bisa melihat bahwa pikirannya sama sekali tidak tertuju kepadanya.

Tatapan Felix selalu tanpa sadar melirik ke arah Vira dan Sena yang berada tidak jauh dari mereka.

Setiap kali melihat Vira tersenyum sambil berbicara dengan Sena, melihat Sena dengan telaten membantu menyesuaikan papan ski milik Vira, atau melihat mereka meluncur berdampingan dengan begitu mesra ... tatapan Felix pun makin muram dan suasana di sekelilingnya terasa makin mencekam.

Bahkan ketika suatu kali Vira tampak kehilangan keseimbangan dan jatuh ke pelukan Sena sambil tertawa, tangan Felix yang menggenggam tongkat ski seketika mengerat.

Krek!

Terdengar bunyi patahan kecil. Tongkat ski yang keras itu ternyata dipatahkannya dengan tangan kosong. Ujung kayu yang patah dan tajam menancap ke telapak tangannya, membuat darah langsung mengalir deras.

"Felix." Ziva memanggilnya.

Barulah Felix tersadar. Saat melihat telapak tangannya yang berdarah, wajahnya makin buruk.

"Nggak apa-apa." Suaranya serak. Dia mengibaskan tangannya. "Aku nggak sengaja mematahkannya. Aku ke sana sebentar buat mengobati lukanya."

Felix buru-buru berjalan menuju area istirahat. Punggungnya menunjukkan amarah yang tertahan sekaligus kegugupan yang berusaha disembunyikannya.

Ziva berdiri di tempat dan menatap punggungnya. Kemudian, dia melihat Vira yang sedang dibantu berdiri oleh Sena tidak jauh dari sana, dengan senyum merekah di wajahnya. Hati Ziva tetap tenang. Bahkan, dia merasa semua ini sedikit membosankan.

Dia tak ingin terlibat dalam persaingan memperebutkan seorang pria, apalagi dijadikan alat dalam permainan perasaan mereka.

Ziva mengenakan kembali kacamata pelindungnya dan bersiap mencari lereng yang landai untuk bermain ski sendirian.

"Ziva."

Namun, Vira meluncur ke arahnya dan berhenti tepat di hadapannya. Dia melepas kacamata ski dan memperlihatkan senyum cerah, tetapi sorot matanya tidak menyembunyikan sedikit pun rasa mengamati sekaligus menantang.

"Bukannya membosankan kalau bermain ski sendirian? Felix juga keterlaluan. Bagaimana bisa dia meninggalkanmu begitu saja?" Nada suara Vira terdengar penuh penyesalan, tetapi matanya justru melirik ke arah area istirahat. "Tapi kalau dipikir-pikir, itu juga nggak aneh. Dia memang selalu paling memedulikanku. Melihatku bersama pria lain, tentu saja dia merasa nggak nyaman. Sudah bertahun-tahun berlalu, tapi dia masih seperti itu. Nggak berubah sedikit pun."

Ziva juga melepas kacamata ski dan menatap Vira tanpa ekspresi.

Vira lanjut berbicara, "Ngomong-ngomong, aku juga harus berterima kasih padamu, Ziva. Selama enam tahun ini, berkat kamu yang selalu berada di sisi Felix dan merawatnya, dia jadi nggak terlalu kesepian. Tapi sekarang ... aku sudah kembali. Ada beberapa hal yang memang sudah waktunya dikembalikan kepada pemiliknya. Bukankah begitu?"

"Lihat saja. Bahkan ketika terluka, dia nggak memedulikanmu. Dia cuma sibuk melampiaskan kemarahannya. Di dalam hatinya, sejak dulu cuma ada aku."

Ziva mendengarkan dalam diam. Setelah itu, perlahan muncul senyum di wajahnya, seolah menyetujui ucapan Vira.

"Kamu benar. Kamu memang hebat."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 21

    Api harapan itu mendadak membeku."Aku nggak bakal kembali bersamamu cuma karena merasa berutang budi. Itu nggak adil buatmu. Buatku, itu juga merupakan penghinaan." Ziva menggeleng pelan.Warna di wajah Felix memudar dengan kecepatan yang terlihat jelas, bahkan lebih pucat daripada setelah menjalani operasi.Dia membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun."Cintamu." Ziva menatapnya dengan tatapan tenang dan jauh, seolah sedang memandang masa lalu yang tidak lagi ada kaitannya dengan dirinya. "Datang terlalu terlambat dan terlalu berat. Aku nggak sanggup menerimanya, dan aku juga nggak mau menerimanya lagi.""Kali ini, kamu sudah menyelamatkanku. Jadi, kita impas." Ziva menarik napas perlahan, seolah akhirnya melepaskan beban yang selama ini dipikulnya. "Selama enam tahun terakhir, semua kebaikan yang kuberikan kepadamu dan luka yang kamu terima demi menyelamatkanku sudah lunas. Mulai sekarang, kita nggak lagi saling berutang."Ziva ber

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 20

    Phares, sebuah rumah sakit swasta.Aroma dingin disinfektan memenuhi udara.Koridor begitu sunyi, hanya sesekali terdengar bunyi monoton dari alat-alat medis.Ziva duduk di bangku panjang di luar ruang operasi. Dia masih mengenakan kostum pertunjukan yang telah basah kuyup oleh darah dan kini sudah mengering serta mengeras.Riasan panggungnya yang semula begitu sempurna sudah lama luntur oleh air mata. Bercampur dengan debu dan noda darah, wajahnya kini tampak sangat berantakan.Pikirannya kosong, hanya dipenuhi dengungan. Adegan mendebarkan itu terus terbayang di depan matanya, kilatan dingin, teriakan, sosoknya yang berlari menghampiri, suara tumpul saat belati menembus tubuhnya, wajahnya yang pucat, dan kalimat pelannya, akhirnya, kali ini benar.Setiap kali adegan itu terputar kembali, tubuh Ziva terasa dingin seolah terjatuh ke dalam jurang es.Ziva pernah membencinya, menyalahkannya, bahkan bertekad untuk melupakannya sepenuhnya.Namun, ketika pisau itu benar-benar mengarah kepad

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 19

    Tur keliling itu terus berlanjut, dari Neo Yark ke Ludon, lalu ke Phares, kota yang romantis.Pertunjukan Ziva selalu dipadati penonton dan mendapat sambutan hangat.Di atas panggung, dia bersinar dan mencurahkan seluruh kemampuannya, memerankan dengan sangat sempurna sosok perempuan yang penuh semangat hidup, telah melalui berbagai cobaan, lalu bangkit dan menemukan kembali kehidupan barunya. Setiap kali pertunjukan berakhir, tepuk tangan penonton selalu bergemuruh tanpa henti.Felix tetap mengikutinya seperti bayangan. Dia seperti bayangan yang telah memudar, tetapi keras kepala, terus membuntuti di tepian dunia Ziva yang gemerlap. Keberadaannya terasa begitu tidak pada tempatnya dan mengganggu, tetapi tidak kunjung bisa disingkirkan.Pertunjukan terakhir di Phares merupakan pentas amal terbuka yang digelar di sebuah alun-alun bersejarah yang terkenal, dengan tujuan menggalang dana untuk sebuah teater anak-anak setempat.Tempat duduk penonton ditata di alun-alun, sementara panggungny

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 18

    Felix tidak meninggalkan Neo Yark.Dia seperti hantu yang kehilangan jiwanya, tetap tinggal di kota itu dengan keras kepala dan penuh obsesi.Ketika rombongan teater keliling meninggalkan hotel dan menuju tempat latihan berikutnya, dia pun mengikuti mereka ke kota selanjutnya.Felix tahu dirinya tampak seperti lelucon, seperti penguntit, tetapi dia tidak mampu mengendalikan diri.Dia membeli tiket untuk setiap pertunjukan terbuka Ziva, selalu memilih tempat duduk paling depan dan tepat di tengah.Setiap kali pertunjukan usai, dia selalu mengirimkan karangan bunga berukuran sangat besar hingga nyaris memenuhi seluruh panggung.Kartu yang tersemat pada buket bunga itu dipenuhi penyesalan dan permohonan maafnya yang kikuk dan tidak terucap dengan jelas.Namun, tidak satu pun dari bunga-bunga itu pernah sampai ke tangan Ziva. Bunga-bunga itu entah ditolak dengan sopan, tetapi tegas oleh staf rombongan teater, atau dibagikan kepada staf lain dan para penonton.Felix mencoba membuka jalan de

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 17

    Ziva tidak meronta. Dia hanya menunduk dan melirik tangan Felix yang mencengkeram erat lengan bawahnya. Cengkeraman itu membuatnya sedikit mengernyit.Kemudian, dia mengangkat pandangannya dan menatap mata Felix yang dipenuhi gurat-gurat merah serta dilanda keputusasaan. Tidak ada keterharuan ataupun kepuasan di matanya, hanya seulas emosi yang begitu samar hingga nyaris bisa disebut belas kasihan.Ziva mengangkat tangan satunya, lalu dengan lembut, tetapi sangat tegas, membuka jari-jari Felix yang dingin dan kaku satu per satu."Felix." Suaranya tetap tenang, terdengar jelas dan dingin di tengah angin senja. "Kita sudah lama putus. Mana ada lagi yang namanya rumah?""Nggak! Kita nggak putus! Aku tidak setuju!" Setelah tangannya berhasil dilepaskan oleh Ziva, Felix seolah kehilangan penopang terakhirnya. Emosinya makin meluap. "Aku tahu aku bajingan! Aku buta! Tapi sekarang aku sudah melihat dengan jelas! Di hatiku cuma ada kamu, dari dulu cuma kamu! Aku sudah menjelaskan semuanya kepa

  • Tersembunyi di Bawah Mimpi yang Transparan   Bab 16

    "Nggak mau diganggu oleh siapa pun, terutama oleh Anda."Kalimat itu menghantam Felix seperti palu godam hingga pandangannya menghitam.Ziva sudah menduga dia akan datang. Bahkan, dia telah memberi tahu pihak hotel sebelumnya dan menutup semua jalan baginya.Felix yang selalu bangga dengan dirinya sendiri, untuk pertama kalinya merasakan bahwa kekuasaan dan uang pun ada kalanya tidak berdaya.Dia seperti binatang yang terperangkap, berputar-putar tanpa tujuan di kota yang asing.Felix menyewa detektif swasta dengan bayaran tinggi, tetapi hanya mendapat informasi bahwa rombongan teater itu mungkin sedang berlatih di beberapa teater. Lokasi pastinya tidak dapat dipastikan.Dia hanya bisa menunggu dengan sabar.Felix mondar-mandir di luar teater yang diduga menjadi tempat latihan dan menunggu berjam-jam di lobi beberapa hotel yang kemungkinan menjadi tempat rombongan itu menginap.Dia tidak tidur dan tidak beristirahat. Matanya dipenuhi urat merah, jas mahal yang dikenakannya telah kusut,

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status