Short
Kabut di Balik Sepasang Mata yang Menyimpan Kesedihan

Kabut di Balik Sepasang Mata yang Menyimpan Kesedihan

By:  FifthCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
28Chapters
301views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Bu Leora, Anda telah berhasil memesan Memoar Kematian. Kami sudah mengatur seseorang untuk merekam Anda secara diam-diam kapan pun dan di mana pun. Mulai sekarang, ke mana pun Anda pergi dan apa pun yang Anda lakukan, setiap momen Anda akan direkam secara diam-diam hingga Anda meninggal." Petugas menyerahkan kontrak di tangannya kepada Leora untuk melakukan konfirmasi terakhir. Leora mengambil pena dan tanpa ragu menandatangani namanya. Alasan dia memesan Memoar Kematian ini adalah karena dia telah didiagnosis menderita kanker dan hidupnya paling lama hanya tersisa satu bulan.

View More

Chapter 1

Bab 1

Dia sudah berpesan kepada pihak lembaga agar setelah dia meninggal, Memoar Kematian miliknya diputar dan diperlihatkan kepada seluruh dunia. Dia hanya ingin orang tua kandungnya, tunangannya, Alden, serta teman masa kecilnya, Soren, melihat sendiri apa yang sebenarnya dia alami sebelum meninggal.

Setelah petugas itu pergi, Alden dan Soren tiba-tiba menerobos masuk dari luar. Dengan wajah tegang, mereka menarik Leora dan membawanya pergi.

"Leora, depresi Elise kambuh lagi dan dia mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya. Kamu harus ikut kami ke rumah sakit sekarang untuk mendonorkan darah!"

Ini sudah ketujuh kalinya Elise mencoba bunuh diri bulan ini. Setiap kali dia kehilangan banyak darah, setiap kali pula dia membutuhkan transfusi darah, dan setiap kali itu juga semua orang akan menyeret Leora untuk dijadikan donor darah baginya.

Kini, tak terhitung lagi banyaknya bekas tusukan jarum di tangan Leora. Semuanya karena Elise.

Begitu tiba di rumah sakit, bahkan sebelum sempat mencapai ruang rawat, dua tamparan keras sudah mendarat di wajah Leora.

Orang tua kandungnya bergegas menghampiri dengan tatapan penuh amarah dan tuduhan. "Apa lagi yang kamu bilang sampai membuat Elise terpicu? Kamu jelas-jelas tahu dia menderita depresi dan nggak boleh mendapat tekanan!"

Meskipun Alden dan Soren melindungi Leora, itu hanya karena mereka khawatir pertengkaran ini akan membuang waktu dan menghambat proses donor darah untuk Elise.

"Om, Tante, jangan pukul dia dulu. Yang terpenting sekarang adalah mendonorkan darah untuk Elise."

Leora ditarik masuk ke ruang donor darah. Ini adalah pertama kalinya semua orang menemani Leora menunggu hasil pemeriksaan. Namun, jelas sekali pikiran mereka sama sekali tidak tertuju kepadanya.

Mereka terus memandang ke arah pintu dengan tatapan gelisah, penuh kekhawatiran terhadap Elise yang sedang berada di ruang penyelamatan.

Leora yang sudah terbiasa dengan semua itu hanya menarik sudut bibirnya getir, lalu menundukkan kepala dengan hati pilu.

Tak lama kemudian, dokter datang membawa hasil pemeriksaan darah. "Leora, kamu menderita kanker. Bagaimana mungkin kamu masih mendonorkan darah? Ini benar-benar keterlaluan."

Semua orang langsung menoleh dengan ekspresi terkejut. Namun hanya sesaat kemudian, mereka seolah tersadar akan sesuatu.

Ayah dan ibu Leora menjadi orang pertama yang maju dan mengambil hasil pemeriksaan itu. Tanpa membacanya sedikit pun, mereka langsung merobeknya hingga berkeping-keping.

"Leora, hatimu benar-benar kejam. Sudah berkali-kali kamu menindas Elise, sekarang demi menarik perhatian kami, kamu bahkan menyuap dokter untuk memalsukan diagnosis kanker?"

Tatapan Alden bahkan sedingin es.

"Leora, sekalipun kamu nggak mau mendonorkan darah, kamu nggak seharusnya berbohong sama kami bahwa kamu menderita kanker. Kalau mau berpura-pura, lakukan saja di rumah. Kamu ini nggak pernah tahu kapan berhentinya ya?"

Soren bahkan mencibir dengan dingin.

"Sejak kecil sampai sekarang, kesehatanmu selalu yang paling baik. Kamu bahkan jarang terkena flu. Kalau mau mencari alasan, setidaknya carilah alasan yang lebih masuk akal."

Leora menatap orang-orang yang paling dikenalnya itu, tetapi kini terasa begitu asing baginya. Dia berkata perlahan, "Aku nggak berbohong. Aku benar-benar menderita kanker."

Namun, sama seperti setiap kejadian sebelumnya, tidak seorang pun memercayainya. Mereka malah memaksanya masuk ke ruang donor darah dan menyuruh perawat mengambil darahnya.

Jarum besar kembali menusuk kulitnya. Leora mengira dirinya sudah terbiasa, tetapi jantungnya tetap terasa nyeri luar biasa.

Terkadang Leora bahkan berpikir, kalau mereka memang begitu menyayangi Elise, seharusnya sejak awal mereka tidak perlu mengakuinya kembali sebagai putri mereka.

Leora bisa tetap menjadi putri seorang pengasuh, sementara Elise tetap menjadi Nona Besar Keluarga Salim. Setidaknya itu jauh lebih baik daripada keadaan mereka sekarang.

Hidup Leora memang terasa begitu tidak masuk akal sejak awal.

Ibu yang telah membesarkannya selama lebih dari 20 tahun tiba-tiba mengungkapkan sebuah rahasia sebelum meninggal. Dahulu, dia dan Nyonya Salim melahirkan anak perempuan pada hari yang sama. Demi membuat putri kandungnya sendiri menjalani kehidupan yang berkecukupan, dia sengaja menukar Leora dan Elise.

Jadi, Leora sebenarnya adalah putri kandung Keluarga Salim, sedangkan Elise hanyalah putri sang pengasuh.

Setelah mengungkapkan rahasia itu, wanita tersebut mengembuskan napas terakhir.

Namun saat itu, Elise sudah dibesarkan oleh Keluarga Salim selama lebih dari 20 tahun dan selalu dimanja bak seorang putri. Karena itu, meskipun mengetahui bahwa Elise bukan putri kandung mereka, ayah dan ibu Leora tetap bersikeras mempertahankannya di Keluarga Salim.

Sementara Leora, meskipun telah diakui kembali sebagai putri kandung mereka, justru menjadi sosok yang dianggap mengusik keharmonisan keluarga mereka.

Sebenarnya saat pertama kali mengetahui bahwa kedua anak itu tertukar, mereka juga sangat menyayangi Leora.

Mereka merasa pilu karena Leora telah menderita selama bertahun-tahun. Seharusnya dia tumbuh sebagai putri keluarga kaya, tetapi malah menghabiskan lebih dari 20 tahun hidupnya sebagai putri seorang pengasuh.

Mereka bersumpah akan memberikan segalanya kepada Leora. Bahkan pertunangan antara Keluarga Salim dan Keluarga Suranata pun dikembalikan kepada Leora.

Namun, Elise tidak terima dengan kenyataan bahwa dirinya hanyalah putri palsu. Dia pun mulai berkali-kali mengarang cerita bahwa Leora merundungnya.

Awalnya, dia menuduh Leora menamparnya dan mendorongnya jatuh dari tangga. Mereka semua memercayainya. Kemudian, dia mengarang cerita bahwa dirinya menderita depresi akibat terus-menerus dirundung Leora. Mereka juga memercayainya.

Sejak saat itu, mereka menganggap Leora sebagai orang yang kejam dan menjijikkan. Bahkan sedikit rasa iba yang masih tersisa untuknya pun lenyap.

Terlebih lagi Alden, tunangannya.

Meskipun pertunangan antara kedua keluarga akhirnya diberikan kepada Leora sebagai putri kandung yang sebenarnya. Alden dan Elise sudah tumbuh bersama sejak kecil. Sejak awal, di mata dan hati Alden hanya ada Elise.

Orang tuanya tidak menyayanginya. Tunangannya juga tidak mencintainya. Leora sudah menerima semua itu.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah dia mengerti.

Mengapa Soren, teman masa kecil yang tumbuh bersamanya sejak kecil, entah bagaimana juga berubah menjadi kesatria yang selalu melindungi Elise?

Padahal dahulu, Soren adalah orang yang paling membenci Elise.

Soren juga merupakan putra seorang pelayan. Ketika masih kecil, Elise selalu memanfaatkan statusnya sebagai putri Keluarga Salim untuk menindas mereka. Saat itu, Soren selalu mengobati luka Leora dengan mata memerah karena marah.

"Leora, tunggu aku. Suatu hari nanti, aku pasti akan menjadi orang sukses dan memberikan yang terbaik untukmu. Aku akan membuatmu bisa menginjak-injak dia. Leora-ku yang seharusnya pantas mendapatkan semua yang terbaik."

Kini, Soren benar-benar telah meraih kesuksesan, tetapi janji itu sudah lama dia lupakan.

Di matanya sudah tidak ada lagi Leora. Tatapannya beralih kepada Elise. Dia justru jatuh cinta kepada Elise, orang yang telah menindas mereka selama lebih dari 20 tahun.

Setelah selesai mendonorkan darah, seluruh tubuh Leora terasa lemas. Dia berjalan sempoyongan ke depan tanpa memperhatikan orang di depannya dan nyaris terjatuh ke lantai.

Dari belakang terdengar keluhan tidak senang dari ibu Leora. "Lihat, dia sengaja bersikap seperti itu. Apa dia ingin membuat seluruh dunia mengira kita menindasnya? Pintar sekali berpura-pura!"

Leora tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menyeret kedua kakinya yang terasa berat dan terus berjalan selangkah demi selangkah.

Saat itu, pintu ruang penyelamatan terbuka. Orang-orang di belakangnya langsung bergegas menghampiri dan mengerumuni ranjang Elise, menanyakan keadaannya dengan penuh perhatian.

Soren berkata, "Elise, gimana keadaanmu? Sudah merasa lebih baik?"

Alden berkata, "Elise, apa pun yang kamu inginkan akan kuberikan. Jangan mencoba mengakhiri hidupmu lagi, ya?"

Ayah dan ibu Leora berkata, "Anak bodoh, jangan takut-takutin Ayah dan Ibu begini. Mau gimana lagi kita bisa hidup kalau terjadi sesuatu sama kamu? Mulai sekarang, kamu nggak boleh melakukan hal bodoh seperti ini lagi. Mengerti?"

Setelah selesai menghibur Elise, kedua orang tua Leora langsung memasang ekspresi berbeda saat menatap Leora.

"Kenapa masih pura-pura lemas? Cepat pulang dan buatkan sup bergizi, lalu antarkan ke rumah sakit agar Elise bisa memulihkan kondisinya. Anggap saja itu sebagai permintaan maafmu karena kali ini kamu membuat Elise terpicu sampai mencoba bunuh diri. Mengerti?"

Leora tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berbalik dan berjalan pulang.

Kilatan kamera yang tersembunyi tidak jauh dari sana terpantul di pupil Leora. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum getir.

Begitu Memoar Kematian itu diputar nanti, mereka semua akan tahu siapa sebenarnya yang selama ini berpura-pura.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Chairunnisa
Chairunnisa
bagus banget cerpennya...dr awal cerita smpai akhir menguras air mata...lanjutkan karyanya ,Thor..mg makin sukses
2026-08-11 21:55:21
0
0
28 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status